Tuesday, September 29, 2015

Tentang si helem (1)

Saya bersepeda secara rutin baik ke kantor/kampus maupun tempat2 lainnya selama 12 tahun terakhir. Iya, cuma ini pengaruh (tinggal di) Belanda yang melekat, saya sangat tidak ke-Walanda2-an walaupun ada seiprit darah Londo mengalir di tubuh saya. Nah, selama ini saya ngga pake helem, tapi setahun belakangan akhirnya saya pake, gara2 suami saya si J memaksa.
Untuk meyakinkan saya, dia suka mengutip statistik dan fakta2 saintifik tentang gunanya helem. Dia juga  bilang, "But more importantly, we need to protect this beautiful oversized head of yours from any further damage, even though we both know that it's been permanently damaged in some ways. Also, as a Canada Research Chair, your brain is a valuable asset. We don't want to turn you into a Canada Research Couch, oh well, between us, we know you already are, we just don't want it to be publicly known."
Dasar pintar bersilat kata, akhirnya saya menyerah. Dan memang berguna sih helem itu walaupun juga bikin repot. Berguna karena pagi ini saja saya sudah menjedukkan kepala ke pintu garasi 2 kali padahal cuma berdiri di samping sepeda. Sepertinya barang2 tak bergerak pun suka berkonspirasi untuk menyerang saya. Untung pake helem! Repotnya, minggu ini saya si helem ini sudah ketinggalan di 3 tempat -- di supermarket, di kedai kopi, dan di tukang baklava. Dalam tiga kejadian ini, saya baru ingat bahwa helem ketinggalan setelah jalan --- untung helem-nya ngga kemana2 dan ga bisa jalan. 

No comments: