Tuesday, August 05, 2014

Asal usul "Black Campaign"

Selain si "real count" ada istilah bahasa asing (Inggris) lain yang juga lahir di Indonesia, yakni "black campaign". Walaupun terdengar alami, "black campaign" bukanlah istilah yang lumrah digunakan di negara2 berbahasa Inggris. 

Di negara2 tersebut, istilah yang digunakan untuk taktik kampanye yang menggunakan berita bohong untuk menjatuhkan lawan biasa disebut "smear campaign". "(To) smear" sendiri bisa diartikan "merusak", merujuk pada perbuatan yang merusak reputasi seseorang dengan memberitakan tuduhan palsu atau fitnah.

Ada pula istilah "black propaganda", yakni informasi palsu yang dibuat seolah-olah berasal dari satu pihak tertentu tapi sebenarnya berasal dari pihak lain (lawan).

Nah kalau "black campaign" darimana asalnya?

Setelah melalui penelitian yang sepenuhnya subyektip dan hanya mengandalkan selotip, bisa disimpulkan bahwa istilah ini datang dari tatar Sunda. Syahdan, sejak diperkenalkannya sebuah wadah yang terbuat dari seng yang dinamakan "blek", banyak sekali penggemar krupuk yang terkecoh. Bagaimana tidak, sejak pindah dari toples yang transparan ke blek yang tertutup misterius, krupuk jengkol bisa disangka krupuk udang. Si jengkol tentunya tak sudi disamakan dengan udang (eh sebaliknya ya?). Krupuk aci bisa mengaku krupuk tenggiri Palembang. Dan yang paling klasik adalah rangginang yang mengaku biskuit Khong Guan. Saya sendiri sih mendambakan terkecoh oleh krupuk gurilem mak Icih yang menyamar dalam blek Nissin atau dorokdok kulit yang diam2 disembunyikan bapakku di dalam blek bundar biskuit Monde.

Nah pengecohan2 seperti ini lah yang disebut "blek campaign". Untunglah dalam perkembangannya blek-blek seng tadi berkembang menjadi blek yang agak transparan yang menggunakan kaca, sehingga fitnah antar krupuk bisa dikurangi. Walaupun ya krupuk bantat atau melempem sih tetap saja bisa mengelabui mata, apalagi jika dijual oleh warung-warung yang tidak kredibel.

Lama-lama dengan terjadinya kerenisasi bahasa, maka istilah "blek campaign" berubahlah ejaannya menjadi "black campaign".

Sekian.

Catatan kaki:
*intel kami di Londo menemukan data bahwa istilah blek krupuk (kerupuk, kurupuk, keroepoek) ini adalah pengaruh antek asing. Kata 'blek' disinyalir berasal dari kata 'blik' dalam bahasa Belanda yang artinya wadah kaleng. Sebaliknya kita juga sudah melakukan blek campaign yang baik sehingga istilah "keroepoek blik" merasuki masyarakat Londo sana. 

4 comments:

cynthia chaniago said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Cia ling said...
This comment has been removed by a blog administrator.
qq said...

Hohohoho, membaca tulisan ini jauh setelah urusan pilpres selesai teteup membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Negara ini emang kaya dengan istilah, yang cukup bikin saya pusing saat membahas satu istilah dengan bos saya, karena saya sendiri juga ga terlalu ahli dalam berbahasa :( #pembelaan

Merlyna Lim said...

eh ada qq.... ternyata masih jalan2 ke sini..... iya, negara kita kaya istilah seenak2 dewa. top pokoknya!