Ini menyambung cerita mimikri 1 dan mimikri 2.
Jakarta, 5 Oktober 2011
Untuk menuju hotel dari bandara Sukarno-Hatta, saya memutuskan untuk memakai jasa taxi yang 'formal' yang ditawarkan di kios-kios di dalam bandara. Saya cape banget, kurang tidur selama 2 minggu, demam, dan merasa ngga keruan. Jadi ya jasa kayak gini lebih praktis. Lagian receipt-nya lebih ringkes, cuma 1 lembar saja sudah mencakup tol, tips, dll.
Dengan cepat transaksi dilakukan. Tentu saja saya melakukannya dalam bahasa Indonesia.
Mas yang menjaga loket menawarkan diri untuk mengantar saya sampai ke taxi-nya. Menuju ke taxi, mas-nya bertanya:
"Mbak, aslinya asalnya dari mana ya? Bahasa Indonesia-nya bagus."
Saya bengong, lalu menjawab,"Dayeuhkolot, mas."
Giliran mas-nya deh yang bengong :)
2 comments:
hohoho, bengongnya kayanya karena berusaha memetakan dayeuhkolot di negara lain, bukan di peta jawa barat ;)
qq: hihi... pulang2 dia langsung google-map kali ya... haha.
Post a Comment