Sunday, September 18, 2011

Miskin2 kaya.... Kaya2 miskin...

Jaman dulu, waktu saya masih mahasiswa kalau saya ngantri di jalur ‘elite’ atau ‘preferred member’ pasti saya di cek, harus nunjukkin kartu. Mungkin karena tampangnya kurang elite, kurang kaya. Sekarang2 ini, dengan santainya saya lewat jalur2 ‘elite’ terutama kalau sedang buru2 dan hampir ketinggalan pesawat. Padahal kadang2 saya ngga qualified untuk pakai jalur tsb. Mungkin sekarang ini tampang saya meyakinkan. Tampang elite, tampang kaya, hahaha. Barusan aja, terbang dari Phoenix sampai Singapore, saya terus2an lewat jalur istimewa tanpa harus menunjukkan bukti (boarding pass atau kartu), padahal saya terbang pakai tiket ekonomi. Untunglah bisa lancar, soalnya hampir saja saya ketinggalan pesawat di LA.

Tapi saya juga bisa kelihatan miskin. Sering saya dimaafkan begitu saya kalau ngga punya duit untuk bayar makanan/kopi (biasanya sih karena lupa bawa dompet, seperti kisah kopi dan kisah ayam ini misalnya). Pagi ini misalnya. Saya transit di Changi dan beli roti kaya + yuan yang (kopi campur the) pakai kartu kredit yang ternyata ngga berhasil transaksinya (kayaknya diproteksi deh). Totalnya hanya $3.30 saja.

Saya bilang sama mas2 di konter, "No problem, I have cash" dan segera menggeladah tas untuk cari uang dollar Singapur yang kertas. Eh ternyata ngga ada…. Untung saya punya sekantung koin yang campuran antara Aus$, Rp & Sin$). Setelah taruh semua koin di atas meja…. ternyata ngga cukup untuk bayar. Waduh!

Si mas konter memandang saya dan berkata, “It's okay, it's okay... no worry... I take whatever you have..." 
"Really?" saya membalas.
"Yes, it is okay..." si mas menjawab.
Saya beri dia semua koin… $3.00 dollar...

Saat berjalan ke meja saya, orang2 di kafe itu--yang kebanyakan adalah pegawai bandara (dari seragamnya kelihatannya begitu)—memandang saya dengan pandangan tertentu…. Mungkin saya kelihatan seperti turis gembel miskin hihi…

Ternyata saya memang memiliki 2 persona :D