Saturday, November 26, 2011

Telinga anti-imigrasi

Dua bulan lalu pas singgah di Jakarta, saya menyediakan waktu untuk ambil stiker visa di kedutaan Amerika. Sehari sebelumnya saya ke jalan Sabang untuk difoto khusus untuk visa US.

Saya sudah sadar bahwa telinga saya yg kecil dan cenderung menyamping alias kurang menyaplang atau menspok bakal mengalami modifikasi agar kedua telinga bisa kelihatan. Beberapa tahun lalu terpaksa harus diganjal styrofoam. 

Tahun-tahun berikutnya saya pakai foto yang saya jepret sendiri dengan posisi agak menyamping sehingga salah satu telinga sangat terlihat dan kemudian saya photoshop telinga yang lain supaya sama2 kelihatan. Dipakai 2 tahun dan berhasil! Sayang hasil cetak foto tsb sudah habis dan saya ngga sempat nyetak lagi (file-nya lenyap bersama hilangnya laptop saya).

Kali ini, begitu masuk dan disuruh duduk, mas tukang foto ngga protes soal telinga. Dia sibuk mengomandoi... "kiri dikit...kanan dikit.... angkat dagu..." Tahu2 dia berhenti dan mengerutkan kening. "Wah, gelagatnya telinga saya bakal dimodifikasi lagi,"gerutu saya dalam hati. Benar saja, tak lama Mas-nya langsung berjalan ke meja kerja dia, mengambil kertas dan melipat2 lalu memotong selotip..... Diselipkanlah lipatan kertas itu di belakang telinga saya dan diselotip supaya nempel. Dengan tekun si Mas melakukan aksi yang sama untuk telinga yang lain.

"Nah, sekarang sudah pas!"
Jepret!!!

Aih, memang telinga saya anti-imigrasi.

Wednesday, November 02, 2011

Mimikri palsu

Ini menyambung cerita mimikri 1 dan mimikri 2.

Jakarta, 5 Oktober 2011

Untuk menuju hotel dari bandara Sukarno-Hatta, saya memutuskan untuk memakai jasa taxi yang 'formal' yang ditawarkan di kios-kios di dalam bandara. Saya cape banget, kurang tidur selama 2 minggu, demam, dan merasa ngga keruan. Jadi ya jasa kayak gini lebih praktis. Lagian receipt-nya lebih ringkes, cuma 1 lembar saja sudah mencakup tol, tips, dll. 

Dengan cepat transaksi dilakukan. Tentu saja saya melakukannya dalam bahasa Indonesia.

Mas yang menjaga loket menawarkan diri untuk mengantar saya sampai ke taxi-nya. Menuju ke taxi, mas-nya bertanya:

"Mbak, aslinya asalnya dari mana ya? Bahasa Indonesia-nya bagus." 

Saya bengong, lalu menjawab,"Dayeuhkolot, mas."

Giliran mas-nya deh yang bengong :)

Friday, October 21, 2011

Mimikri atau untung!

Menyambung kisah miskin2 kaya yang lalu, berikut ini adalah kisah yang merupakan bukti lain dari kemampuan saya untuk mimikri :D atau sekedar untung aja sih :)

Jogja, 18 Sept 2011

Setibanya di Jogja (terbang dari Singapore), saya langsung mengantri di bagian imigrasi yang ternyata dibagi 3 baris/loket: Visa on arrival, Indonesian passports & foreign passports. Sebelnya, yang melayani Indonesian passports cuma 1 loket, padahal jumlah manusia yang mengantri panjang banget, mungkin 10x lebih banyak dari dua loket yang lain. Panjang antrian sampai keluar2 gedung. Ngga adil, pikirku.

Setelah agak lama mengantri dan bosan, saya terus pindah ke antrian foreign passports yang memang pendek banget. Yang antri sebelum saya semuanya bule, kecuali satu orang yang kulitnya coklat dan rambutnya hitam. Pas si mbak yang bukan bule ini kena giliran, dia ternyata ditegur mas jaga (yang menyuruh/memberi tanda orang2 untuk menuju loket). 

Mas-nya bilang, "Mbak, koq antri di situ? Harusnya di sini" 
Ternyata mas-nya pikir mbak ini orang Indonesia. Emang tampangnya mirip Indonesia sih.

Mbaknya bingung dan bilang, "Pardon?" Terus dia mengacungkan passport-nya.... ternyata buatan Pilipinas...!
Nah lho!!!

Setelah si mbak ini, terus ada bule... bule... bule...

Sementara itu saya agak deg-deg-an. Jangan2 si mas ini bakal nyuruh saya pindah. Tapi saya langsung bergaya cuek. Badan tegak santai, melihat cuma ke depan, dan pura2 ngga bisa dengar/ngerti percakapan2 sekitar (ngga bereaksi). Giliran saya..... mas-nya melihat gitu... dan saya ngga bilang apa-apa, cuma menganggukkan kepala.

Mas-nya terus membungkuk sedikit dan bilang, "Please" sambil mengarahkan saya ke loket foreign passport. 

Saya mengangguk dan terus mengacungkan jempol tanda berterimakasih.

Selamat deh :) Menghemat waktu ngantri! 
Mungkin mas-nya takut salah lagi kayak waktu si mbak Filipina :) 

m

Sunday, September 18, 2011

Miskin2 kaya.... Kaya2 miskin...

Jaman dulu, waktu saya masih mahasiswa kalau saya ngantri di jalur ‘elite’ atau ‘preferred member’ pasti saya di cek, harus nunjukkin kartu. Mungkin karena tampangnya kurang elite, kurang kaya. Sekarang2 ini, dengan santainya saya lewat jalur2 ‘elite’ terutama kalau sedang buru2 dan hampir ketinggalan pesawat. Padahal kadang2 saya ngga qualified untuk pakai jalur tsb. Mungkin sekarang ini tampang saya meyakinkan. Tampang elite, tampang kaya, hahaha. Barusan aja, terbang dari Phoenix sampai Singapore, saya terus2an lewat jalur istimewa tanpa harus menunjukkan bukti (boarding pass atau kartu), padahal saya terbang pakai tiket ekonomi. Untunglah bisa lancar, soalnya hampir saja saya ketinggalan pesawat di LA.

Tapi saya juga bisa kelihatan miskin. Sering saya dimaafkan begitu saya kalau ngga punya duit untuk bayar makanan/kopi (biasanya sih karena lupa bawa dompet, seperti kisah kopi dan kisah ayam ini misalnya). Pagi ini misalnya. Saya transit di Changi dan beli roti kaya + yuan yang (kopi campur the) pakai kartu kredit yang ternyata ngga berhasil transaksinya (kayaknya diproteksi deh). Totalnya hanya $3.30 saja.

Saya bilang sama mas2 di konter, "No problem, I have cash" dan segera menggeladah tas untuk cari uang dollar Singapur yang kertas. Eh ternyata ngga ada…. Untung saya punya sekantung koin yang campuran antara Aus$, Rp & Sin$). Setelah taruh semua koin di atas meja…. ternyata ngga cukup untuk bayar. Waduh!

Si mas konter memandang saya dan berkata, “It's okay, it's okay... no worry... I take whatever you have..." 
"Really?" saya membalas.
"Yes, it is okay..." si mas menjawab.
Saya beri dia semua koin… $3.00 dollar...

Saat berjalan ke meja saya, orang2 di kafe itu--yang kebanyakan adalah pegawai bandara (dari seragamnya kelihatannya begitu)—memandang saya dengan pandangan tertentu…. Mungkin saya kelihatan seperti turis gembel miskin hihi…

Ternyata saya memang memiliki 2 persona :D

Tuesday, April 12, 2011

Si Mobil Ancur

Udah lama banget ya ngga cerita2 di sini. Bukannya ngga ada cerita sih.... hanya ngga sempat!
Ya sudah... ini saya nyicil cerita satu ya :) Silakan dinikmati.

: : :

Malam itu suami saja si J masih belum pulang dari Pantai Timur America. Dia baru akan pulang keesokan harinya dan saya ingin menyiapkan makan malam istimewa untuk kami berdua. Jadi malam itu saya pergi ke super market, nyetir pake mobil suami, untuk beli bahan2.

Seperti biasa, saya pergi ke SunFlower, supermarket langganan, dan parkir di tempat biasa. Setelah sekitar 1 jam, belanja selesai dan saya mendorong kereta belanjaan ke mobil.

Klik, klik, saya buka pintu mobil. Saya coba buka pintu belakang tapi koq susah. Terus saya pindah ke pintu depan dan memang terbuka.

Ya ampun!!!!! Saya hampir teriak saking kagetnya melihat pemandangan interior mobil. Belatakan sekali. Beberapa kaleng bir kosong bergeletakan di lantai. Ada beberapa kaleng yang belum dibuka di jok mobil. Di dashboard ada 1 pak rokok yang sudah terbuka. Bau asap rokok gila-gilaan. Belum lagi banyak jejak rokok di sekujur jok mobil.

Saya langsung panik.

Mana mungkin si mobil langsung berubah jadi ancur begini hanya dalam 1 jam?
Apa ada orang yang begitu saja mabuk2an dan merokok gila2an di dalam mobil ketika saya belanja?
Apa saya kena amnesia? 
Mungkinkah saya ini sebetulnya seorang alkoholik dan perokok yang tidak sadar? 
Ya ampun!!!!

Saya berusaha menenangkan diri, menutup pintu mobil dan hanya menatap putus asa. Setelah beberapa saat, saya baru sadar kalau mobil itu, walaupun warnanya mirip, tapi tampak agak berbeda. Saya coba cek mereknya, "Oh, ternyata bukan Lincoln Continental!" Ternyata setelah dipikir-pikir lagi, kecuali warna-nya, si mobil ancur sama sekali ngga mirip sama mobilnya si J, hihihi.

Yah begitulah.... mobil yang sebetulnya dengan aman dan tentram memarkir diri di tempat bisa.... :D