Wednesday, September 22, 2010

Visa & Imigrasi edisi 2010 (Bagian 2): Kisah sebuah HP






Pagi2 jam 9 kurang saya & J sudah mulai jalan kaki dari hotel menuju konsulat yang ternyata hanya 10-15 menit saja jaraknya. Untung ada J, kalau tidak saya bisa gempor bawa berkas petisi visa O-1 saya yang tebalnya lebih dari 1000 halaman. Walaupun di petunjuk visa application dibilang tak wajib dibawa, saya tidak mau ambil resiko mengingat waktu di Calgary staff konsulat si bapak Sangar berulah dan mau lihat seluruh berkas sebelum memberikan visa stamp.

Sampai di konsulat, antrian tak panjang. Mbak Filipina yang jaga counter cukup baik. J tidak boleh ikut masuk, karena yang boleh masuk cuma applicant saja. Di depan si mbak ini kami janjian jam berapa kami akan telepon2an untuk bertemu kembali. Si Mbak malah kasih tahu kalau proses-nya akan sekitar 1 jam 45 menit. Karena HP si J charge-nya dah hampir habis kami setuju kalau HP dia baru akan nyala sekitar 1.5-2 jam setelah saya masuk ruangan, untuk mengirit charge.

Setelah saying goodbye sama J, saya masuk ruang pemeriksaan. Satpam yang periksa ada 2. Satunya Filipino dan satunya India. Dua-duanya sebetulnya tidak sangar tapi berusaha sangar. Bapak India ngeyel. Dia tanya, "Where is your appointment letter?" Lalu saya tunjukkan confirmation letter -- ya tentu menunjukkan konfirmasi appointment saya. Dia bilang, "Don't you understand? I asked for appointment letter not confirmation letter." Padahal yang wajib dibawa di list-nya itu adalah appointment confirmation letter dan itulah yang saya tunjukkan. Dan jenisnya memang berbeda dari letter2 sebelumnya karena sejak 1 September sistem visa US di Kanada berubah menjadi seluruhnya electronic. Tapi daripada berdebat -- saya sudah sangat familiar dengan kelakuan orang2 di 'border area' yang tipikal -- saya tunjukkan berkas lain yang ada kata 'appointment' yang lebih besar dan si bapak ini puas. 

Tapi lalu bapak satpam Filipina menemukan HP di tas saya. Bapak ini tadinya ramah karena dia pikir saya Filipina, tapi ternyata passport saya Indonesia, jadi berkuranglah keramahannya. Langsung pak India bilang, "No cellphone allowed, get out and come back without cellphone. Don't come back until you get rid out of it." Dan disuruhlah saya keluar dari situ.

Wah, puyeng saya musti lempar HP kemana. Saat saya keluar waktu sudah menunjukkan pukul 9:20 pagi. Cuma 10 menit lagi waktu saya. Kalau sampai tidak bisa kembali tepat waktu saya harus bikin janji lagi dan susah sekali untuk mendapatkan slot di sini. Saya bisa terjebak di Kanada.

Saya tanya si mbak Filipina dan dia bilang,”Not my problem, you should have known that cellphone isn’t allowed in the building.” Pengalaman saya di konsulat2 US yang lain (Jakarta, Amsterdam, Bangkok, Calgary, Saigon), hp memang tidak boleh dibawa masuk ke dalam tapi ada meja penitipan. Lagian tadi si mbak kan lihat kalau saya bawa2 HP ke dalam. Dia malah nimbrung pembicaraan saya soal telepon2an dengan J. Tapi ya sudahlah, saya tidak berminat untuk berdebat kusir.

Saya langsung coba telepon2 si J, tapi masuk mailbox terus. Aih, HP dia udah dimatikan. Saya sempat cari2 mungkin aja dia ada dekat2 konsulat. Ternyata sejauh saya memandang tak terlihat ada cowo tinggi besar pakai jaket kulit hitam. Aduh. Saya berpikir keras apa yang harus saya lakukan dengan HP ini. Ini HP bulukan yang sebetulnya tak berharga secara fisik. Hanya saja data2nya berharga toh. Sempat terlintas ide untuk gali lobang kecil di depan konsulat untuk mengubur HP saya selama 2 jam. Atau ditaruh di semak2 gitu. Sayangnya si mbak dan satpam bangunan konsulat memperhatikan gerak-gerik saya. Lagian nanti kalau dikencingin orang, atau anjing, gimana coba? Apa saya lempar ke tong sampah aja? Terus nanti korek2? Iiiih jijay ya. Saya juga kepikir untuk titip sama satpam bangunan lain. Tapi di dunia barat orang suspicious sekali soal titip menitip ini.  Coba ada warung rokok, urusan pasti beres.

Tak lama ternyata ada seorang mas2 India yang juga memiliki masalah yang mirip. Dia harus kembali tanpa backpack. Dia sempat mau geletakan backpack-nya di teras tapi langsung dibentak bapak satpam India. “Don’t leave your stuff around here!!!”.  Kami terus berdua lari ke Starbuck di sebelah dan orang2 situ tidak mau menerima titipan kami. Tapi satu orang barista memberikan kami informasi berharga. “Perhaps the guy at the smoke shop across the street will do it for you.”

Smoke shop! Warung rokok! Ya itu yang saya cari. Kami berdua menyebrang jalan dan sampai di sana saya langsung jelaskan permasalahan dan tanya apa saya bisa titip HP saya. Si mas di smoke shop itu, kayaknya sih orang China, langsung mau. Dia bilang, “Three dollars!” (Dan sempat protes karena saya salah kasih koin, yang ternyata cuma $2.25). Mas India sih kena charge $5 untuk backpack-nya.

Dengan lega kami kembali ke konsulat. Tentu saja kali ini boleh masuk dengan serta merta. Terimakasih untuk mas warung rokok! (Dia juga dapat duit semena2 ya).

Oh ya, waktu saya ngantri kembali, ada satu pelamar visa yang bawa backpack gede kebingungan. Dengan bangga saya bisiki dia, “Go to a smoke shop across the street, the guy there will take your backpack for five bucks.” Dia melihat saya dengan terheran2 & terkagum2, lalu bilang terimakasih. Mungkin dia pikir ini cewe preman banget sampai bergaul sama mas2 dari smoke shop segala. Hehehe….

No comments: