Tuesday, September 21, 2010

Visa & Imigrasi edisi 2010 (Bagian 1): Kembali ke Kanada

Seperti de-javu deh rasanya berada di Kanada untuk urusan visa. Masih ingat 4 tahun lalu? Dengan kejadian Bapak Sangar, beli printer & kaus kaki bau yang berbaur dengan kejelimetan urusan visa? (Bisa di baca di "Calgary: Bukan hanya sekedar penantian" & "Calgary & akhir petualangan")

Nah, tahun ini saya kembali ke Kanada untuk urusan yang sama. Mengambil visa stamp u/ petisi perpanjangan visa O-1 (yang sudah disetujui). Sebetulnya untuk tinggal di US saya tak butuh si visa stamp ini, yang penting kan petisi-nya sudah disetuju. Cuma saya harus ke Jerman bulan November nanti, jadi saya butuh visa stamp US untuk keluar masuk US.

Yang jelimet si visa stamp ini cuma bisa diambil di Indonesia atau di Meksiko atau di Canada. Pas kemarin balik ke Indonesia sayangnya hasil petisi belum keluar, jadi terpaksa ambil di Kanada. Tapi masalahnya, untuk dapat visa Kanada (dari konsulat Kanada di US) butuh visa stamp US yang masih berlaku. Kalau tidak punya, saya harus apply dari home-country, Indonesia. Nah lho, gimana tuh? Kayak lingkaran setan ya?

Untunglah dengan kelihaian (cieee, hihihi) saya menulis surat pengantar (maklum dan puluhan kali apply visa di mana2, saya bisa buka konsultan imigrasi!), saya bisa dapat visa Kanada tanpa punya visa US yang valid :)

Nah sekarang saya ada di Vancouver untuk apply si visa O-1 tadi. Bedanya dengan kisah visa/imigrasi 2006, kali ini saya ditemani seseorang. Si Kang J ini menjabat sebagai body-guard, asisten, alarm, penghibur, teman makan, pendengar keluhan (ttg kejelimetan si visa), dan tentunya kekasih... duduiiiii.

Sejauh ini saya merasa beruntung. Dapat hotel asik yang ternyata dekat dengan segala macam keramaian dan juga cuma 10 menit jalan kaki dari Konsulat US. Kejadian agak seru terjadi kemarin malam ketika kami tidur tahu2 ada fire alarm bunyi. J & saya langsung pakai jeans & coat dan saya tak lupa menyambar backpack+laptop dan keluar. Di lorong hotel kami lihat nenek2 kakek2 pada pakai bathrobes dan piyama ... jalan pelan2 dengan tampang panik. Ternyata satu hotel ini isinya manula... Kasihan deh, subuh2 pada kebangun.... terseok2 cari jalan exit. Kami berdua lari cepat ke bawah (di lt 2) dan cek ke frontdesk. Ternyata false alarm. Langsung lah J balik ke lantai kami dan memberitahu nenek2/kakek2 yang pada panik tadi. Kalau sampai kebakaran beneran, gile deh, nenek2/kakek2 yang umurnya pada 100 tahun ini bakal sulit untuk dievakuasi.

Pagi ini appointment saya jam 9:30. Mudah2an lancar ya.
Begitu dulu ya, saya lanjut di post berikutnya untuk kisah selanjutnya.

No comments: