Thursday, September 23, 2010

Visa & Imigrasi Edisi 2010 (Bag 3 - habis): Foto-foto dulu deh


Setelah sukses melewati sekuriti, saya harus melewati meja pengecekan dokumen. Kali ini untuk pertamakalinya saya apply visa US secara otomatis (electronically) dimana foto-nya sudah diupload dan dicek online sebelum datang ke konsulat. Sewaktu mengisi aplikasi online, foto saya yang diupload sudah dapat konfirmasi OK, jadi tidak diharuskan membawa pasfoto (yang untuk visa US ukurannya aneh, 5x5cm). Juga tidak ada hard-copy aplikasi yang musti dibawa. Semuanya sudah online.

Mbak di meja pengecekan cukup baik. Begitu dia konfirmasi jenis visa-nya, mbak-nya tambah baik. Tapi dia bilang, "I'm so sorry there's a problem according to database." Mbak-nya bilang kalau background foto yang saya submit online itu terlalu gelap, jadi dia tanya apakah saya bawa foto yang backgroundnya terang. Untung sekali ternyata di dalam dompet saya punya pasfoto yang saya pakai apply visa di Jakarta tahun lalu. Background terang (bukan putih sih) dan ukuran 5x5cm. Ini foto saya bikin dengan telinga yang kelihatan dua2nya, serupa dan sebangun (karena saya copy-paste pake photoshop :D). Mbak-nya puas dan dia bilang ini pasti diterima deh. Dia bilang akan coba masukkan dengan foto baru.

Saya duduk2 nunggu giliran. Satu gedung ternyata penuh orang India. Satpam India, mbak di cek dokumen juga India, pelamar visa juga kebanyakan India. Saya merasa saya berada di New Delhi deh (padahal belum pernah ke sana lho). 

Ternyata cepat sekali bergeser dari satu nomor ke nomor lainnya. Begitu nomor 40-an muncul di layar, eh nomor saya dipanggil. 062! Saya pikir, koq cepat banget ya. 

Ternyata mbak cek dokumen manggil. Dia minta maaf menyusahkan, karena ternyata foto dengan background agak terang pun dianggap kurang pas. Yaaaa…. Saya musti bikin foto dengan background yang terang banget. Tapi untung, ngga kayak di konsul US Jakarta yang mbak-nya nyuruh saya pergi ke jalan Sabang karena foto saya telinganya kurang kelihatan. Di sini saya tinggal pergi ke booth di ruang tunggu yang bisa moto sendiri dalam waktu 5 detik jadi. Harganya pun murah, lebih murah daripada harus bikin foto di toko biasa di Kanada.

Masuklah saya ke dalam booth yang sudah ada frame dan lingkaran muka-nya, supaya pas muka di tengah2. Susah ternyata untuk dapat foto yang pas. Kalau ngga meleng kiri, meleng kanan, atau telinganya kelihatan sebelah.  Lagian telinga saya ini kan kecil dan minggir gitu posisinya jadi kalau dari depan kelihatan cuma dikit. Sampe-sampe dulu itu abang tukang potret di jalan Sabang harus ganjel telinga saya pake styrofoam, coba! Untunglah setelah coba 3 kali ada 1 yang lumayan. Ceklek-ceklek… akhirnya foto jadi. Dapat 6 biji. Background-nya memang terang sekali, putih creng deh.

Pas mbak-nya lihat, dia bilang, “Great, this one is good to go. I only need one, you can have the rest. Thank you very much for your help.”

Yaaa… lega deh.

Seterusnya sih lancar. Begitu giliran saya, ngga ada masalah. Wawancara lancar. Saya dapat pewawancara mbak Amerika yang ramah. Malah mbak-nya terkagum2 dengan visa saya, hehehe. Jadi cuma ditanya satu pertanyaan yaitu tentang spesialisasi yang bikin saya dapat O1. Udah gitu aja. Dan besok visa + passport saya bisa diambil jam 2 siang! Hore!!! Makan2 yuk??? :)

Wednesday, September 22, 2010

Visa & Imigrasi edisi 2010 (Bagian 2): Kisah sebuah HP






Pagi2 jam 9 kurang saya & J sudah mulai jalan kaki dari hotel menuju konsulat yang ternyata hanya 10-15 menit saja jaraknya. Untung ada J, kalau tidak saya bisa gempor bawa berkas petisi visa O-1 saya yang tebalnya lebih dari 1000 halaman. Walaupun di petunjuk visa application dibilang tak wajib dibawa, saya tidak mau ambil resiko mengingat waktu di Calgary staff konsulat si bapak Sangar berulah dan mau lihat seluruh berkas sebelum memberikan visa stamp.

Sampai di konsulat, antrian tak panjang. Mbak Filipina yang jaga counter cukup baik. J tidak boleh ikut masuk, karena yang boleh masuk cuma applicant saja. Di depan si mbak ini kami janjian jam berapa kami akan telepon2an untuk bertemu kembali. Si Mbak malah kasih tahu kalau proses-nya akan sekitar 1 jam 45 menit. Karena HP si J charge-nya dah hampir habis kami setuju kalau HP dia baru akan nyala sekitar 1.5-2 jam setelah saya masuk ruangan, untuk mengirit charge.

Setelah saying goodbye sama J, saya masuk ruang pemeriksaan. Satpam yang periksa ada 2. Satunya Filipino dan satunya India. Dua-duanya sebetulnya tidak sangar tapi berusaha sangar. Bapak India ngeyel. Dia tanya, "Where is your appointment letter?" Lalu saya tunjukkan confirmation letter -- ya tentu menunjukkan konfirmasi appointment saya. Dia bilang, "Don't you understand? I asked for appointment letter not confirmation letter." Padahal yang wajib dibawa di list-nya itu adalah appointment confirmation letter dan itulah yang saya tunjukkan. Dan jenisnya memang berbeda dari letter2 sebelumnya karena sejak 1 September sistem visa US di Kanada berubah menjadi seluruhnya electronic. Tapi daripada berdebat -- saya sudah sangat familiar dengan kelakuan orang2 di 'border area' yang tipikal -- saya tunjukkan berkas lain yang ada kata 'appointment' yang lebih besar dan si bapak ini puas. 

Tapi lalu bapak satpam Filipina menemukan HP di tas saya. Bapak ini tadinya ramah karena dia pikir saya Filipina, tapi ternyata passport saya Indonesia, jadi berkuranglah keramahannya. Langsung pak India bilang, "No cellphone allowed, get out and come back without cellphone. Don't come back until you get rid out of it." Dan disuruhlah saya keluar dari situ.

Wah, puyeng saya musti lempar HP kemana. Saat saya keluar waktu sudah menunjukkan pukul 9:20 pagi. Cuma 10 menit lagi waktu saya. Kalau sampai tidak bisa kembali tepat waktu saya harus bikin janji lagi dan susah sekali untuk mendapatkan slot di sini. Saya bisa terjebak di Kanada.

Saya tanya si mbak Filipina dan dia bilang,”Not my problem, you should have known that cellphone isn’t allowed in the building.” Pengalaman saya di konsulat2 US yang lain (Jakarta, Amsterdam, Bangkok, Calgary, Saigon), hp memang tidak boleh dibawa masuk ke dalam tapi ada meja penitipan. Lagian tadi si mbak kan lihat kalau saya bawa2 HP ke dalam. Dia malah nimbrung pembicaraan saya soal telepon2an dengan J. Tapi ya sudahlah, saya tidak berminat untuk berdebat kusir.

Saya langsung coba telepon2 si J, tapi masuk mailbox terus. Aih, HP dia udah dimatikan. Saya sempat cari2 mungkin aja dia ada dekat2 konsulat. Ternyata sejauh saya memandang tak terlihat ada cowo tinggi besar pakai jaket kulit hitam. Aduh. Saya berpikir keras apa yang harus saya lakukan dengan HP ini. Ini HP bulukan yang sebetulnya tak berharga secara fisik. Hanya saja data2nya berharga toh. Sempat terlintas ide untuk gali lobang kecil di depan konsulat untuk mengubur HP saya selama 2 jam. Atau ditaruh di semak2 gitu. Sayangnya si mbak dan satpam bangunan konsulat memperhatikan gerak-gerik saya. Lagian nanti kalau dikencingin orang, atau anjing, gimana coba? Apa saya lempar ke tong sampah aja? Terus nanti korek2? Iiiih jijay ya. Saya juga kepikir untuk titip sama satpam bangunan lain. Tapi di dunia barat orang suspicious sekali soal titip menitip ini.  Coba ada warung rokok, urusan pasti beres.

Tak lama ternyata ada seorang mas2 India yang juga memiliki masalah yang mirip. Dia harus kembali tanpa backpack. Dia sempat mau geletakan backpack-nya di teras tapi langsung dibentak bapak satpam India. “Don’t leave your stuff around here!!!”.  Kami terus berdua lari ke Starbuck di sebelah dan orang2 situ tidak mau menerima titipan kami. Tapi satu orang barista memberikan kami informasi berharga. “Perhaps the guy at the smoke shop across the street will do it for you.”

Smoke shop! Warung rokok! Ya itu yang saya cari. Kami berdua menyebrang jalan dan sampai di sana saya langsung jelaskan permasalahan dan tanya apa saya bisa titip HP saya. Si mas di smoke shop itu, kayaknya sih orang China, langsung mau. Dia bilang, “Three dollars!” (Dan sempat protes karena saya salah kasih koin, yang ternyata cuma $2.25). Mas India sih kena charge $5 untuk backpack-nya.

Dengan lega kami kembali ke konsulat. Tentu saja kali ini boleh masuk dengan serta merta. Terimakasih untuk mas warung rokok! (Dia juga dapat duit semena2 ya).

Oh ya, waktu saya ngantri kembali, ada satu pelamar visa yang bawa backpack gede kebingungan. Dengan bangga saya bisiki dia, “Go to a smoke shop across the street, the guy there will take your backpack for five bucks.” Dia melihat saya dengan terheran2 & terkagum2, lalu bilang terimakasih. Mungkin dia pikir ini cewe preman banget sampai bergaul sama mas2 dari smoke shop segala. Hehehe….

Tuesday, September 21, 2010

Visa & Imigrasi edisi 2010 (Bagian 1): Kembali ke Kanada

Seperti de-javu deh rasanya berada di Kanada untuk urusan visa. Masih ingat 4 tahun lalu? Dengan kejadian Bapak Sangar, beli printer & kaus kaki bau yang berbaur dengan kejelimetan urusan visa? (Bisa di baca di "Calgary: Bukan hanya sekedar penantian" & "Calgary & akhir petualangan")

Nah, tahun ini saya kembali ke Kanada untuk urusan yang sama. Mengambil visa stamp u/ petisi perpanjangan visa O-1 (yang sudah disetujui). Sebetulnya untuk tinggal di US saya tak butuh si visa stamp ini, yang penting kan petisi-nya sudah disetuju. Cuma saya harus ke Jerman bulan November nanti, jadi saya butuh visa stamp US untuk keluar masuk US.

Yang jelimet si visa stamp ini cuma bisa diambil di Indonesia atau di Meksiko atau di Canada. Pas kemarin balik ke Indonesia sayangnya hasil petisi belum keluar, jadi terpaksa ambil di Kanada. Tapi masalahnya, untuk dapat visa Kanada (dari konsulat Kanada di US) butuh visa stamp US yang masih berlaku. Kalau tidak punya, saya harus apply dari home-country, Indonesia. Nah lho, gimana tuh? Kayak lingkaran setan ya?

Untunglah dengan kelihaian (cieee, hihihi) saya menulis surat pengantar (maklum dan puluhan kali apply visa di mana2, saya bisa buka konsultan imigrasi!), saya bisa dapat visa Kanada tanpa punya visa US yang valid :)

Nah sekarang saya ada di Vancouver untuk apply si visa O-1 tadi. Bedanya dengan kisah visa/imigrasi 2006, kali ini saya ditemani seseorang. Si Kang J ini menjabat sebagai body-guard, asisten, alarm, penghibur, teman makan, pendengar keluhan (ttg kejelimetan si visa), dan tentunya kekasih... duduiiiii.

Sejauh ini saya merasa beruntung. Dapat hotel asik yang ternyata dekat dengan segala macam keramaian dan juga cuma 10 menit jalan kaki dari Konsulat US. Kejadian agak seru terjadi kemarin malam ketika kami tidur tahu2 ada fire alarm bunyi. J & saya langsung pakai jeans & coat dan saya tak lupa menyambar backpack+laptop dan keluar. Di lorong hotel kami lihat nenek2 kakek2 pada pakai bathrobes dan piyama ... jalan pelan2 dengan tampang panik. Ternyata satu hotel ini isinya manula... Kasihan deh, subuh2 pada kebangun.... terseok2 cari jalan exit. Kami berdua lari cepat ke bawah (di lt 2) dan cek ke frontdesk. Ternyata false alarm. Langsung lah J balik ke lantai kami dan memberitahu nenek2/kakek2 yang pada panik tadi. Kalau sampai kebakaran beneran, gile deh, nenek2/kakek2 yang umurnya pada 100 tahun ini bakal sulit untuk dievakuasi.

Pagi ini appointment saya jam 9:30. Mudah2an lancar ya.
Begitu dulu ya, saya lanjut di post berikutnya untuk kisah selanjutnya.