Thursday, September 23, 2010

Visa & Imigrasi Edisi 2010 (Bag 3 - habis): Foto-foto dulu deh


Setelah sukses melewati sekuriti, saya harus melewati meja pengecekan dokumen. Kali ini untuk pertamakalinya saya apply visa US secara otomatis (electronically) dimana foto-nya sudah diupload dan dicek online sebelum datang ke konsulat. Sewaktu mengisi aplikasi online, foto saya yang diupload sudah dapat konfirmasi OK, jadi tidak diharuskan membawa pasfoto (yang untuk visa US ukurannya aneh, 5x5cm). Juga tidak ada hard-copy aplikasi yang musti dibawa. Semuanya sudah online.

Mbak di meja pengecekan cukup baik. Begitu dia konfirmasi jenis visa-nya, mbak-nya tambah baik. Tapi dia bilang, "I'm so sorry there's a problem according to database." Mbak-nya bilang kalau background foto yang saya submit online itu terlalu gelap, jadi dia tanya apakah saya bawa foto yang backgroundnya terang. Untung sekali ternyata di dalam dompet saya punya pasfoto yang saya pakai apply visa di Jakarta tahun lalu. Background terang (bukan putih sih) dan ukuran 5x5cm. Ini foto saya bikin dengan telinga yang kelihatan dua2nya, serupa dan sebangun (karena saya copy-paste pake photoshop :D). Mbak-nya puas dan dia bilang ini pasti diterima deh. Dia bilang akan coba masukkan dengan foto baru.

Saya duduk2 nunggu giliran. Satu gedung ternyata penuh orang India. Satpam India, mbak di cek dokumen juga India, pelamar visa juga kebanyakan India. Saya merasa saya berada di New Delhi deh (padahal belum pernah ke sana lho). 

Ternyata cepat sekali bergeser dari satu nomor ke nomor lainnya. Begitu nomor 40-an muncul di layar, eh nomor saya dipanggil. 062! Saya pikir, koq cepat banget ya. 

Ternyata mbak cek dokumen manggil. Dia minta maaf menyusahkan, karena ternyata foto dengan background agak terang pun dianggap kurang pas. Yaaaa…. Saya musti bikin foto dengan background yang terang banget. Tapi untung, ngga kayak di konsul US Jakarta yang mbak-nya nyuruh saya pergi ke jalan Sabang karena foto saya telinganya kurang kelihatan. Di sini saya tinggal pergi ke booth di ruang tunggu yang bisa moto sendiri dalam waktu 5 detik jadi. Harganya pun murah, lebih murah daripada harus bikin foto di toko biasa di Kanada.

Masuklah saya ke dalam booth yang sudah ada frame dan lingkaran muka-nya, supaya pas muka di tengah2. Susah ternyata untuk dapat foto yang pas. Kalau ngga meleng kiri, meleng kanan, atau telinganya kelihatan sebelah.  Lagian telinga saya ini kan kecil dan minggir gitu posisinya jadi kalau dari depan kelihatan cuma dikit. Sampe-sampe dulu itu abang tukang potret di jalan Sabang harus ganjel telinga saya pake styrofoam, coba! Untunglah setelah coba 3 kali ada 1 yang lumayan. Ceklek-ceklek… akhirnya foto jadi. Dapat 6 biji. Background-nya memang terang sekali, putih creng deh.

Pas mbak-nya lihat, dia bilang, “Great, this one is good to go. I only need one, you can have the rest. Thank you very much for your help.”

Yaaa… lega deh.

Seterusnya sih lancar. Begitu giliran saya, ngga ada masalah. Wawancara lancar. Saya dapat pewawancara mbak Amerika yang ramah. Malah mbak-nya terkagum2 dengan visa saya, hehehe. Jadi cuma ditanya satu pertanyaan yaitu tentang spesialisasi yang bikin saya dapat O1. Udah gitu aja. Dan besok visa + passport saya bisa diambil jam 2 siang! Hore!!! Makan2 yuk??? :)

Wednesday, September 22, 2010

Visa & Imigrasi edisi 2010 (Bagian 2): Kisah sebuah HP






Pagi2 jam 9 kurang saya & J sudah mulai jalan kaki dari hotel menuju konsulat yang ternyata hanya 10-15 menit saja jaraknya. Untung ada J, kalau tidak saya bisa gempor bawa berkas petisi visa O-1 saya yang tebalnya lebih dari 1000 halaman. Walaupun di petunjuk visa application dibilang tak wajib dibawa, saya tidak mau ambil resiko mengingat waktu di Calgary staff konsulat si bapak Sangar berulah dan mau lihat seluruh berkas sebelum memberikan visa stamp.

Sampai di konsulat, antrian tak panjang. Mbak Filipina yang jaga counter cukup baik. J tidak boleh ikut masuk, karena yang boleh masuk cuma applicant saja. Di depan si mbak ini kami janjian jam berapa kami akan telepon2an untuk bertemu kembali. Si Mbak malah kasih tahu kalau proses-nya akan sekitar 1 jam 45 menit. Karena HP si J charge-nya dah hampir habis kami setuju kalau HP dia baru akan nyala sekitar 1.5-2 jam setelah saya masuk ruangan, untuk mengirit charge.

Setelah saying goodbye sama J, saya masuk ruang pemeriksaan. Satpam yang periksa ada 2. Satunya Filipino dan satunya India. Dua-duanya sebetulnya tidak sangar tapi berusaha sangar. Bapak India ngeyel. Dia tanya, "Where is your appointment letter?" Lalu saya tunjukkan confirmation letter -- ya tentu menunjukkan konfirmasi appointment saya. Dia bilang, "Don't you understand? I asked for appointment letter not confirmation letter." Padahal yang wajib dibawa di list-nya itu adalah appointment confirmation letter dan itulah yang saya tunjukkan. Dan jenisnya memang berbeda dari letter2 sebelumnya karena sejak 1 September sistem visa US di Kanada berubah menjadi seluruhnya electronic. Tapi daripada berdebat -- saya sudah sangat familiar dengan kelakuan orang2 di 'border area' yang tipikal -- saya tunjukkan berkas lain yang ada kata 'appointment' yang lebih besar dan si bapak ini puas. 

Tapi lalu bapak satpam Filipina menemukan HP di tas saya. Bapak ini tadinya ramah karena dia pikir saya Filipina, tapi ternyata passport saya Indonesia, jadi berkuranglah keramahannya. Langsung pak India bilang, "No cellphone allowed, get out and come back without cellphone. Don't come back until you get rid out of it." Dan disuruhlah saya keluar dari situ.

Wah, puyeng saya musti lempar HP kemana. Saat saya keluar waktu sudah menunjukkan pukul 9:20 pagi. Cuma 10 menit lagi waktu saya. Kalau sampai tidak bisa kembali tepat waktu saya harus bikin janji lagi dan susah sekali untuk mendapatkan slot di sini. Saya bisa terjebak di Kanada.

Saya tanya si mbak Filipina dan dia bilang,”Not my problem, you should have known that cellphone isn’t allowed in the building.” Pengalaman saya di konsulat2 US yang lain (Jakarta, Amsterdam, Bangkok, Calgary, Saigon), hp memang tidak boleh dibawa masuk ke dalam tapi ada meja penitipan. Lagian tadi si mbak kan lihat kalau saya bawa2 HP ke dalam. Dia malah nimbrung pembicaraan saya soal telepon2an dengan J. Tapi ya sudahlah, saya tidak berminat untuk berdebat kusir.

Saya langsung coba telepon2 si J, tapi masuk mailbox terus. Aih, HP dia udah dimatikan. Saya sempat cari2 mungkin aja dia ada dekat2 konsulat. Ternyata sejauh saya memandang tak terlihat ada cowo tinggi besar pakai jaket kulit hitam. Aduh. Saya berpikir keras apa yang harus saya lakukan dengan HP ini. Ini HP bulukan yang sebetulnya tak berharga secara fisik. Hanya saja data2nya berharga toh. Sempat terlintas ide untuk gali lobang kecil di depan konsulat untuk mengubur HP saya selama 2 jam. Atau ditaruh di semak2 gitu. Sayangnya si mbak dan satpam bangunan konsulat memperhatikan gerak-gerik saya. Lagian nanti kalau dikencingin orang, atau anjing, gimana coba? Apa saya lempar ke tong sampah aja? Terus nanti korek2? Iiiih jijay ya. Saya juga kepikir untuk titip sama satpam bangunan lain. Tapi di dunia barat orang suspicious sekali soal titip menitip ini.  Coba ada warung rokok, urusan pasti beres.

Tak lama ternyata ada seorang mas2 India yang juga memiliki masalah yang mirip. Dia harus kembali tanpa backpack. Dia sempat mau geletakan backpack-nya di teras tapi langsung dibentak bapak satpam India. “Don’t leave your stuff around here!!!”.  Kami terus berdua lari ke Starbuck di sebelah dan orang2 situ tidak mau menerima titipan kami. Tapi satu orang barista memberikan kami informasi berharga. “Perhaps the guy at the smoke shop across the street will do it for you.”

Smoke shop! Warung rokok! Ya itu yang saya cari. Kami berdua menyebrang jalan dan sampai di sana saya langsung jelaskan permasalahan dan tanya apa saya bisa titip HP saya. Si mas di smoke shop itu, kayaknya sih orang China, langsung mau. Dia bilang, “Three dollars!” (Dan sempat protes karena saya salah kasih koin, yang ternyata cuma $2.25). Mas India sih kena charge $5 untuk backpack-nya.

Dengan lega kami kembali ke konsulat. Tentu saja kali ini boleh masuk dengan serta merta. Terimakasih untuk mas warung rokok! (Dia juga dapat duit semena2 ya).

Oh ya, waktu saya ngantri kembali, ada satu pelamar visa yang bawa backpack gede kebingungan. Dengan bangga saya bisiki dia, “Go to a smoke shop across the street, the guy there will take your backpack for five bucks.” Dia melihat saya dengan terheran2 & terkagum2, lalu bilang terimakasih. Mungkin dia pikir ini cewe preman banget sampai bergaul sama mas2 dari smoke shop segala. Hehehe….

Tuesday, September 21, 2010

Visa & Imigrasi edisi 2010 (Bagian 1): Kembali ke Kanada

Seperti de-javu deh rasanya berada di Kanada untuk urusan visa. Masih ingat 4 tahun lalu? Dengan kejadian Bapak Sangar, beli printer & kaus kaki bau yang berbaur dengan kejelimetan urusan visa? (Bisa di baca di "Calgary: Bukan hanya sekedar penantian" & "Calgary & akhir petualangan")

Nah, tahun ini saya kembali ke Kanada untuk urusan yang sama. Mengambil visa stamp u/ petisi perpanjangan visa O-1 (yang sudah disetujui). Sebetulnya untuk tinggal di US saya tak butuh si visa stamp ini, yang penting kan petisi-nya sudah disetuju. Cuma saya harus ke Jerman bulan November nanti, jadi saya butuh visa stamp US untuk keluar masuk US.

Yang jelimet si visa stamp ini cuma bisa diambil di Indonesia atau di Meksiko atau di Canada. Pas kemarin balik ke Indonesia sayangnya hasil petisi belum keluar, jadi terpaksa ambil di Kanada. Tapi masalahnya, untuk dapat visa Kanada (dari konsulat Kanada di US) butuh visa stamp US yang masih berlaku. Kalau tidak punya, saya harus apply dari home-country, Indonesia. Nah lho, gimana tuh? Kayak lingkaran setan ya?

Untunglah dengan kelihaian (cieee, hihihi) saya menulis surat pengantar (maklum dan puluhan kali apply visa di mana2, saya bisa buka konsultan imigrasi!), saya bisa dapat visa Kanada tanpa punya visa US yang valid :)

Nah sekarang saya ada di Vancouver untuk apply si visa O-1 tadi. Bedanya dengan kisah visa/imigrasi 2006, kali ini saya ditemani seseorang. Si Kang J ini menjabat sebagai body-guard, asisten, alarm, penghibur, teman makan, pendengar keluhan (ttg kejelimetan si visa), dan tentunya kekasih... duduiiiii.

Sejauh ini saya merasa beruntung. Dapat hotel asik yang ternyata dekat dengan segala macam keramaian dan juga cuma 10 menit jalan kaki dari Konsulat US. Kejadian agak seru terjadi kemarin malam ketika kami tidur tahu2 ada fire alarm bunyi. J & saya langsung pakai jeans & coat dan saya tak lupa menyambar backpack+laptop dan keluar. Di lorong hotel kami lihat nenek2 kakek2 pada pakai bathrobes dan piyama ... jalan pelan2 dengan tampang panik. Ternyata satu hotel ini isinya manula... Kasihan deh, subuh2 pada kebangun.... terseok2 cari jalan exit. Kami berdua lari cepat ke bawah (di lt 2) dan cek ke frontdesk. Ternyata false alarm. Langsung lah J balik ke lantai kami dan memberitahu nenek2/kakek2 yang pada panik tadi. Kalau sampai kebakaran beneran, gile deh, nenek2/kakek2 yang umurnya pada 100 tahun ini bakal sulit untuk dievakuasi.

Pagi ini appointment saya jam 9:30. Mudah2an lancar ya.
Begitu dulu ya, saya lanjut di post berikutnya untuk kisah selanjutnya.

Saturday, August 28, 2010

Lambat2 jangan cepat2

Hari Rabu malam saya mengajar untuk pertama kalinya di semester ini. Kelas metologi lanjut dengan judul "Creative Methods". Ada 11 mahasiswa PhD yang berasal dari berbagai negara di dunia (US, Canada, Lebanon, Japan, and China). Kelas malam itu cukup menyenangkan. Satu2nya yang bikin saya agak menyesal adalah tertinggalnya kabel laptop yang masih tertancap di tembok.

Setelah berusaha mengingatkan diri saya berkali2, bahkan di dalam mimpi sekalipun, saya ingat untuk kembali ke kelas tsb pagi harinya. Ternyata ada kelas di dalamnya. Ada seorang professor agak sepuh dengan mahasiswa2 sekitar 20 orang. Mereka kayaknya asik berdiskusi. Jadinya saya canggung untuk masuk. Saya cuma berdiri saja di depan pintu kelas yang terbuka.

Ternyata si professor melihat saya, jadilah diskusipun terhenti. Tergagap-gagap saya bilang, "Ex...excuse me, for for, uhm.. interrupting. Ah...ah... I was.. I was teaching here yesterday evening... and... uh... I left some..something...uhm..a cord."

"Oh, sure, come in," dia menjawab. Saya cepat2 masuk. Karena gugup dan malu, saya berlari ke tempat dimana si kabel itu berada. Saya memang suka jadi clumsy & rusuh ngga jelas kalau sedang malu, gugup, atau takut. Lari ternyata adalah pilihan yang kurang tepat. Tahu2 saya tersandung sesuatu dan sukseslah jatuh ke lantai. Tapi ngga jatuh terjerembab sih, karena tangan saya berhasil menahan tubuh sebelum kandas di lantai. Tapi tetap malu dan saya dengar mahasiswa2 itu cekikikan menahan tawa.

Pak professor bertanya, "Is everything OK?" "Uhm... uh... Yes... yes... I found my cord. Sorry for bothering you all. I couldn't work without this cord." jawab saya sambil berusaha lempeng. Saya ambil si kabel dan langsung kabur tanpa memasukkan dia ke dalam tas.

"Thank you, thank you, and sorry again."

"No problem," kata pak Prof.

Saat saya melangkah keluar terdengarlah suara tawa yang riuh rendah!!! Sial dehhhhhhh...

p.s. Ketika saya cerita pada suami saya ttg kejadian itu, dia senyum2 dan memeluk saya sembari bilang, "Honey, when you are scared or nervous be slow, not fast!"

Friday, August 20, 2010

Yakin koq sudah jam 10

Tak lama setelah saya bangun -- tidurnya pendek banget dan masih jetlag dan cape setelah pesawat yang super panjang dan lama -- saya langsung keluar dari hotel. Saya pingin tiba di tempat janjian 30 menit sebelumnya. Janjian saya jam 10:30 pagi. Matahari sudah tinggi, jalanan sudah cukup ramai dengan pedagang2 kaki lima dan orang2 yang jogging dan sarapan. Tentu saja saya yakin jam saya pas, 9:45 ketika saya meninggalkan hotel.

Yang mengejutkan, koq shopping mall-nya masih tutup ya?

Tapi saya lihat banyak orang jalan lewat security gate, jadi saya ikuti saja mereka. Semuanya lolos2 aja melewati si gate itu, ngga ada kesulitan dengan si satpam-nya. Tapi tiba2 giliran saya, koq saya disetop pak satpam. "Maaf mbak, belum boleh masuk," katanya. "Lho koq? Itu orang2 semua pada masuk," sahut saya. "Cuma pegawai yang bisa masuk, mall nya baru dibuka untuk umum jam 10, mbak," jawab si pak satpam.

Saya (S): Tapi ini kan sudah lewat jam 10 pak.
Satpam (SP): Oh ya?
S: Betul, ini sudah jam 10:08 (saya tunjukan hp Indonesia saya)
SP: Hmmmm...... (mengecek hp dia sendiri), ini baru jam 9, mbak.
S: Ah, saya yakin ini jam 10 koq pak.
SP: Belum, mbak, ini betul baru jam 9.
(orang2 langsung melirik pada kami)
S: Ah masa sih Pak?
(Pak Satpam cuma bengong dan tampak bingung. Dia menatap saya dengan seksama)
S: Oh, noooo..... wrong timezone. Saya pikir sudah betul.
S: Aduh gimana ya, saya pikir ini jam 10 lho.
SP: (memandang saya dengan pasrah) Ya sudah mbak, mbak boleh masuk.

Yayyyy!!! Saya berhasil masuk..... mungkin si mas satpam itu merasa kasihan ya sama orang yang bingung :)

Friday, July 02, 2010

Orang hutan nyeker

Selepas mendarat di bandara BTV sekitar jam 4, aku langsung bilang sama si J, "Aduh aku lapar sekali nih." Maklum, untuk rute domestik, maskapai2 Amerika tidak memberi makanan (eh, dapat pretzel sih, tapi dikit banget, lagian aku ketiduran). Jadilah kami berdua ngga makan sejak malam sebelumnya.

Begitu sampai di tempat kami tinggal di Burlington, kami cuma mendrop koper-koper dan langsunglah kami jalan ke pusat kota untuk cari kunyahan. Aku kepingin cepat2 menikmati pizza mini (pinwheels) nya Juniors yang super enak!

Tapi lagi asik2 nyebrang jalan menuju Juniors, jeprut, sandalku putus! Emang bodohnya diriku, sandal itu sudah putus sejak di Tempe, tapi aku lem pakai lem super kuat untuk konstruksi. Tahan memang untuk beberapa jam..... tapi sialnya jeprut pas aku ada di pusat kota.

Gimana dong? Si J langsung bilang, "Ah, ga papa lah, kamu kan orang hutan (terjemahan dari jungle gal, hehe)." "Jungle gal" ini adalah salah satu julukan dia untukku, merujuk pada beberapa perilakuku yang dia identifikasi (jangan tanya, apa saja ya!!?!?!).

Jadilah aku nyeker di pusat kota..... di mana semua orang, termasuk homeless, pakai alas kaki! Aku ke restoran nyeker dan jalan2 di mall terbuka juga nyeker. Sampai akhirnya sampai di Old Navy yang ternyata lagi jualan sendal jepit murah meriah. Saking senangnya dapat 2 pasang jepit dengan $3.50 saja, aku meninggalkan si sandal jepit putus itu entah di mana. Sekarang mungkin masih tergeletak di toko itu..... atau mungkin sudah dilelang dengan harga mahal di e-Bay, hehehe.

Tuesday, April 13, 2010

Siapa supirnya?

Sabtu, 10 April 2010
5:45pm, di tempat parkir Fulton Center

Saya berjalan ke sisi kanan si mobil putih dan membuka pintu, lalu duduk di kursi penumpang.
Saya duduk saja dengan santai dan diam. Satu menit.... dua menit. Saya merasa ada yang salah.

Lho koq masih di tempat yang sama? Kenapa mobilnya tak maju ya?

Lalu saya menoleh ke kiri. Ya ampun, koq kursi si supir kosong? Pantas tak ada yang menyetir toh. Ternyata saya sendiri harusnya yang nyupir!

Wednesday, March 17, 2010

Orang kan butuh makan

Hari itu hari Jumat. Hobby tidur saya berbuah sebuah kesibukan di pagi hari -- karena terlambat bangun, tentunya -- sehingga tak sempat apa2 selain minum kopi. Saya mengayuh sepeda secepat kilat dan sampai di kantor dengan selamat.

Lega ternyata saya tidak lupa bawa kunci kantor. Si G, staff administrasi yang biasanya selalu membantu saya dalam adegan2 tak jelas sudah tidak kerja lagi di kantor, jadi sekarang kalau lupa bawa kunci sulit dapat kunci master. Saya juga gembira karena ada sebuah cek yang sudah lama saya nantikan di kotak pos saya. Pagi itu pokoknya berjalan lancar. Tapi siang2 tahu2 perut saya kruyuk2. Oh tentu saja, belum makan apapun dari pagi. Mumpung punya waktu sebelum rapat2 yang akan berlangsung sampai sore sekali, saya memutuskan untuk pergi ke Memorial Union untuk beli makan siang sekaligus mendepositkan cek di bank-nya kampus.

Oh ternyata saya lupa bawa dompet. Wah, tak bisa beli makan siang. Ya sebetulnya sih bisa pinjam dulu sama teman2 yang mungkin ada di kampus, tapi eh, koq saya juga lupa bawa HP. Tapi ya saya nekad ke bank, sambil pikir mungkin saya bisa ambil uang untuk makan. Walaupun biasanya mustahil untuk bisa ambil uang tanpa menunjukkan kartu tanda pengenal.

Nah, saya berdiri di depan 3 jendela di bank. Ada seorang wanita tua, wanita muda, dan seorang laki2 yang sangat muda. Saya pergi ke jendela ke-3.

"Bisa saya bantu?"
"Ya, saya ingin mendepositokan cek ini dan juga ingin mengambil uang $20"

"Bisa saya lihat cek-nya?"
"Boleh... tapi saya lupa bawa dompet, jadi tidak punya kartu apa2"

"Tak ada satupun?"
"Tak ada, tak ada kartu, tak ada pengenal identitas"

"Hmmm.... tak bawa kartu"
"Ya, tapi saya ingat koq nomor rekening saya"

"Oh ya?"
"Ya, saya ingat. Ini nomornya xxx-xxx-xx."

"M.... L...?" (saya mengangguk) :OK, cek nya sudah masuk, tabungan atau checking?"
"Checking.... bisa ambil $20 juga?"

"Hmmm... tapi kan tidak ada kartu identitas"
"Uhm.. err... ya, tidak ada, tapi boleh tanya nomor apapun, saya ingat koq. SSN saya xxx-xx-xxxx... passport saya Axxxxx... kartu ASU saya ..."

"OK...OK", si laki2 muda tersenyum.
"Dan masalahnya ini saya lapar sekali.... sangat sangat lapar dan tak punya uang."

"OK, ini dia uang $20-nya. Lagian, orang kan butuh makan!", Mike, si laki2 itu, tersenyum lebar sekali!

Ya, tentu saja orang kan butuh makan! Beruntunglah saya dikasihani oleh si Mike.... dan tentunya shore-line combo sushi saya siang itu terasa enak sekali!!!

Tuesday, March 09, 2010

Cutie tempel

Desember kemarin kami terbang dari Phx ke Jkt dengan transit di LA & Taipei. Jauh juga, kalau dijumlah2 mungkin total 30-jam-an.

Kami terbang dari Phx sore2, dan di pesawat tidak dapat makan, jadi waktu transit di LA kami mengunyah granola & buah2an -- apel, pisang dan clementine (jeruk kecil2) -- yang kami bawa sebagai makan malam. Saya suka apel tapi tak suka pisang, sementara si J lebih suka pisang. Si jeruk kecil adalah favorit kami berdua.

Sebelum saya makan, saya lepaskan stiker-stiker dari si jeruk kecil dan saya tempelkan di kedua pipi saya sembari "making face' sama si J. Stiker2nya berjudul "root 4 the cutie" and "cute rules". Sesudah itu saya masih mengunyah granola dan apel, kemudian jalan2 keliling airport sekalian cari2 air minum.

Terus saya kambali menemui J yang dgn sabar menunggu koper2 kami. Tak lama kemudian, ketika saya buka laptop dan melihat bayangan muka saya di layar saya baru tahu... bahwa selama ini saya jalan2 dengan si stiker2 cutie di muka saya! Pantas orang2 ramah pada saya!

Wednesday, March 03, 2010

Mengingat sekotak jus

Ini masih cerita seputar si 'lupa' lho... jangan bosan ya?

Sekitar setahun terakhir ini saya jarang belanja ke pasar-swalayan sendirian. Saya dan si dia biasanya belanja bareng. Dulu2 kita punya daftar belanjaan masing2, eh salah deng, dia punya daftar, saya ngga pernah bawa! Sekarang2 tentunya daftar kita satu dan suami saya yang selalu pegang daftar. Tapi kadang2 ada juga saatnya salah satu dari kita harus belanja sendiri dan biasanya setiap saya belanja sendiri, selalu ada saja yang lupa!

Hari Jumat kemarin saya musti belanja sendiri. Pas balik ke rumah, si dia langsung meriksa2 kantung belanjaan. Eh tahu2 dia bilang, "You bought the juice! Wow!" Terus dia langsung joged2 keliling dapur sambil mengulangi kata2 ini, "Yay, she didn't forget the juice!" terus mendaratkan sebuah pelukan dan bilang, "I'm sooooo proud of you!" sambil ngeyek tentunya.... hehe.

Saya membalas, "Yeah, that surprised myself!"

Dia bertanya, "Did you have a list?" "No" saya jawab, terus saya berhenti dan melanjutkan,"Oh well, I actually had....but.."

"Oh well, that's a wrong question. Even if you had a list, you wouldn't remember bringing it with you. Or if you brought it with you, you would leave it in the car. Or even if you had the list with you, you wouldn't remember to look at it!" dia meneruskan.

Haha, tentunya dia benar. Jadi fakta bahwa saya ngga lupa beli sekotak jus itu adalah sebuah keajaiban yang harus dirayakan dong!

Walaupun malamnya kami berdua sadar bahwa ternyata saya melupakan satu hal yang malah lebih penting. Saya lupa beli GARAM!

Thursday, February 11, 2010

Aku masih seperti yang dulu....

Apakah perubahan 'status' ada pengaruhnya pada saya? Sayangnya (atau untungnya, hehe), kelihatannya tidak.

Minggu lalu saat ngopi bareng, pasangan saya bilang, "Oh, after getting married, my love, she is still a professor who is capable of locking herself out, posting a letter without a stamp, and guiding me to a totally wrong direction while staring at the map. Sometimes I even wonder whether she still remembers how to walk straight." Dia merujuk ke beberapa hal ajaib yang terjadi dalam kurang dari 48 jam.

Berita bagusnya, saya masih saya yang asli. Berita buruk, ternyata sudah ngga bisa diperbaiki nih. Ngga ada harapan!

Hari Rabu minggu lalu setelah minum kopi pagi saya ambil kunci terus keluar rumah untuk mompa ban sepeda, eh ternyata pintu kejebret dan saya kekunci di luar. Dan saya ternyata bukan ambil kunci sepeda tapi kunci yang salah. Kunci mobil yang ngga bareng kunci rumah. Lha gimana nih, padahal saya harus ke kantor/kampus.

Saya belum berpakaian layak, tapi untungnya sudah berpakaian! Saya pakai jeans dan kaos oblong untuk tidur (yang lusuh, tipis, dan enak banget dipake itu lho)! Tapi untungnya krn dingin, saya juga pakai jaket. Jadi saya bisa pergi ke kampus dan menghadiri 2 rapat penting. Ngga mandi, ngga dandan, tapi biar aja.... hihi.... ngga gitu bau koq :p

Untungnya malam itu J nyetir balik ke Tempe (kami masih berpisah sekitar 60 jam seminggu hari2 ini), jadi setelah luntang lantung di kampus, saya menunggu J di carport dalam mobil untuk bisa masuk rumah.

Setelah episode itu, saya segera mengkaitkan kunci rumah ke set kunci mobil. Aman dong.

Eh, ternyata hari ini saya baru sadar kalau itu adalah kunci yang salah! Jadinya saya kekunci di luar lagi. Padahal J baru pergi pagi ini dan baru akan balik 50 jam lagi!

Untungnya ada satu kunci cadangan yang dipegang salah satu teman baik!!! Jadilah dia ngedrop kunci dan saya bisa masuk.

Ternyata ya saya harus punya kunci duplikat banyak banget dan disebar di mana2..... di seluruh Tempe dan seluruh dunia kali!