English version click here...
.....ini lanjutan dari CamLon ini dan CamLon itu, baca dulu yang itu dan inu sebelum membaca yang ini....Setelah berpikir sebentar, kuputuskan untuk mencari tahu nasib si kacamata. Keputusan ini muncul terutama karena aku merasa tertantang untuk memperjuangkan nasib si kacamata setelah lebih dari 16 pasang berbagai kacamata (coklat, biru, hitam, gelas, plastik, dll) hilang tak tentu rimbanya dalam pelbagai perjalanan yang aku lakukan. Kali ini aku merasa ada harapan.
Aku berlari ke Gate 19 dan segera menemukan desk KLM customer service yang, syukurlah, dijaga oleh seorang wanita Inggris yang baik hati. Kujelaskan bahwa aku kehilangan kacamata yang kusinyalir hilang di daerah check-in/security, dan bisa jadi di check-in desk KLM.
Setelah mendengarkan penjelasanku secara detail, si mbak KLM menelepon kolega-nya di check-in desk. Telepon pertama tak membuahkan hasil. Katanya orang di seberang sana tidak menemukan kacamata. Telepon kedua kedengaran lebih baik. Kukuping percakapan si mbak dengan rekannya, kira2 seperti ini:
"Yes, desk 48? Right, a pair of sunglasses with silver rim.""She is here and supposed to fly with KL1002 soon.""Can someone bring them to the Gate 1b?""No? On the return? I'll ask her"Lalu si mbak bilang,
"Maam, when are you returning?" Kubilang,
"Oh, no, I will not return."Oh well, tentunya suatu hari kelak aku akan '
return' tapi ngga sekarang-sekarang. Si mbak meneruskan percakapannya.
"She is not returning. Can't you get someone to just bring them here?" "OK. Travelex? Are you saying Travelex? OK, she'll meet you there."Si mbak ternyata berhasil membujuk seseorang untuk membawa kacamata itu ke boarding area dan rencananya seseorang akan menemui aku di kios Travelex, tempat menukar uang, yang terletak tepat di depan mulut gerbang security.
Aku cepat mulai berlari dan sekitar 5 menit kemudian sudah sampai di Travelex. Kulihat sekitarku, tak ada tanda2 orang KLM yang membawa kacamata. Setiap kulihat manusia2 berseragam biru, langsung kutatap. Tapi tak satupun dari mereka membawa kacamata. Kulihat jam besar yang tergantung di situ. 8:26!! Kurasa pesawat sudah mulai boarding sejak 10-15 menit lalu. Dari Travelex ke Gate 1b kuperkirakan cuma sekitar 2 menit saja. Kuputuskan untuk menunggu sampai 8:27 karena 8:30 atau 10 menit sebelum taking off aku kemungkinan besar sudah tidak diterima boarding.
Satu menit berlalu. Orang yang kucari belum juga tiba. Lalu kudengar suara mengumumkan,
"Passenger Lim, passenger Lim....." Wow, namaku disebut kah? Ya, betul itu namaku!!! KL 1002!
Aku merasa dilematik. Masa sekarang harus kurelakan kacamata itu? Setelah bersusah-payah, berlari-lari, dan bahkan sudah mendapatkan kacamata itu? Kuputuskan kutunggu satu menit lagi.
Lalu tak lama, bahuku ditepuk seorang pria setengah baya berseragam biru. Dia membawa kacamataku! Hore!!!
Setelah kuucapkan terimakasih, aku lari sekencang2nya ke Gate 1b. Begitu sampai langsung kubilang,
"I am passenger Lim!!!!" Selamat! Penumpang terakhir dari KL1002 sudah tiba dan meluncurlah pesawat tersebut ke Amsterdam.
Labels: inggris, perjalanan, profesor