Sunday, November 30, 2008

[Big but not-too-big trip] 1511 & 1802

Malas sekali rasanya mau packing. Tapi ya harus lah ya. Akhirnya pagi-pagi tadi terpaksa laundry tidur bentar lalu packing. Sebelum laundry ketahuan kalau dompetku ngga ada, ternyata ketinggalan di rumah teman. Jadilah pagi ini harus nyetir ke rumah teman untuk ambil dompet.

Entah kenapa, packing koq ngga selesai2. Sampai akhirnya mau selesai... lho koq semua berkas tiket dll ngga ada, ternyata tertinggal di kantor. Ya sudah, nge-print lagi saja. Malas harus ke kantor. Semua beres maunya langsung manggil taksi, tapi ternyata dompet koq hilang lagi.

Sulit untuk pergi tanpa dompet, kartu2 kredit dan ID ada di sana. Jadi terpaksa dicarilah si dompet. Pas cari2 dompet, aku pikir lebih baik nelepon taksi dulu. Eh ternyata hp untuk menelepon tak ada. Bisa pakai telepon rumah sih, tapi nomor taksi yang biasa cepat adanya di hp. Lagian tak damai rasanya meninggalkan US tanpa bawa si HP. Kutelepon HP-ku, ternyata tak ada tanda2 kedengaran ringing di dalam rumah. Kucek di mobil, ternyata HP ketinggalan di mobil. HP ketemu, tak lama dompet pun ketemu, ada di bawah meja ternyata.

Jadilah semua ritual hilang-tak-jelas-lalu-ketemu itu membuat aku begitu terlambat. Jam 2pm baru berangkat ke airport untuk pesawat jam 3:11pm yang boarding sekitar jam 2:44pm. Aku juga harus drop by kunci rumah di rumah teman dekatku (untuk menghindari terkunci di luar kalau kunci serepku ketinggalan di luar negeri).

Aku sudah deg-degan sepanjang jalan. Hampir yakin bakal ketinggalan pesawat... lha baru sampai di airport jam 2:18pm. Padahal hari ini adalah hari sibuk. Airport penuh sekali dgn org2 balik habis thanksgiving. Wah, sudah pupus harapanku.

Sampai di meja check-in, ternyata dibilang pesawat jam 3:11pm itu ngga ada. Lho koq bisa? Setelah diperhatikan seksama ternyata nomor pesawatku memang 1511 (kebaca 3:11pm), tapi jadwal pesawatnya 18:02 (6:02pm)!

Sepanjang 2 minggu terakhir aku sudah mematri 15:11 itu di otakku!!! Oh la la..... so much for high adrenalin!!! Tapi ya walaupun baru clearing security gate jam 2:45 dan baru nyampe gate jam 2:52.....syukurlah, masih ada 2.5 jam untuk nongkrong.... !!!

Untung salah baca!!

Thursday, November 27, 2008

Akhirnya.... semester berakhir

Dua hari lalu adalah hari terakhir aku mengajar. Seharusnya sih masih dua minggu lagi semester berakhir, tapi karena aku diundang pergi ke 2 benua lain untuk ber-konferensi, jadilah aku menambah 5 sesi minggu lalu (dari 2 jadi 7), supaya semua selesai. Aku gempor tapi mahasiswaku senang.

Hari terakhir kami berpesta pizza, yang kusebut sebagai non-utilitarian pizzas -- sebagai antitesis utilitarianisme (ya aku sering menggunakan contoh gampang dari kehidupan sehari2 untuk menjelaskan konsep2 dalam kelas).... dan kemudian kami menggubah lirik bersama, sebagai cindera mata dari kelas ini. Kami menggunakan lagu "Somewhere Over the Rainbow" dan mengganti liriknya supaya pas dengan tema kelas ini, "Science, Tehnology & InEqualities", jadilah judulnya "InEqualities Resign!".

Sialnya, giliran bernyanyi bersama.... mahasiswa2 ku bandel, tak ada yang mau menyanyi, semua berkonspirasi untuk memaksa aku yang bernyanyi...... ya sudah, ngga papa deh.... sebagai hadiah untuk kelasku ini.

Seru deh.... mahasiswa2 mengangkat tangan, melambai2an, dan mencoba menyalakan lighter seraya mengangguk2... kadang2 juga bertepuk tangan. Sudah seperti konser aja... hehe...

Oh ya, aku juga menulis surat cinta sebagai tanda perpisahan.... Surat lengkapnya ada di sini.... bukan dalam bahasa Sunda tentunya :), sekaligus link rekaman konser di kelasnya, ada di situ juga... :)

Thursday, November 13, 2008

Saya dan dangdut

Tulisan ini diterbitkan di Majalah Madina edisi November 2008.
Versi bahasa Inggris-nya diterbitkan oleh Jakarta Post tgl 10 Nov 2008, sementara tulisan aslinya bisa dibaca di sini.

:::

Menemukan Dangdut di Pittsburgh

Saya orang Indonesia, jadi tentu saya kenal dangdut. Jujur, saya bukan penggemar musik dangdut. Keluarga saya bukan penikmat dangdut, tapi karena saya lahir dan dibesarkan di Dayeuhkolot, pinggiran kota Bandung alias Bandung coret, secara tidak sengaja saya tumbuh bersama musik yang dulu dinamakan irama Melayu ini. Saya mendengarkan musik dangdut mengalun dari rumah tetangga saya, Wak Haji Dodo (almarhum), dari radio tukang tahu di pasar, dan dari senandung bocah-bocah kampung sekitar.

Kenal dangdut berarti juga kenal Rhoma Irama si Raja Dangdut. Ya, tentu saja saya tahu Bang Haji Rhoma Irama. Saya mengenalnya dari berita-berita di koran dan liputan2 televisi. Saya mendengar lagu-lagu-nya dari kaset-kaset yang diputar di dalam ribuan angkot yang membawa saya pulang-pergi rumah-sekolah. Saya bahkan bisa menyanyikan beberapa lagu ciptaan beliau. Begadang, Terajana, dan Bujangan, misalnya.

Tapi apakah saya benar-benar kenal dan mengerti dangdut? Sejauh apa saya kenal Rhoma Irama?

Saya tak pernah menghadiri konser dangdut dan, tanpa pengalaman di Pittsburgh, rasanya seumur hidup saya tak akan pernah punya kesempatan menghadiri konser tokoh legendaris dangdut Rhoma Irama. Jika konser ini terjadi di Bandung, orang tua saya pasti akan melarang saya pergi. “Ngga aman.... banyak tukang becak, nanti kamu dicolek-colek,” mungkin begitu kata-kata ayah saya.

Yang saya tahu dangdut sering direpresentasikan sebagai musik ‘rakyat’. Dangdut dianggap merefleksikan semangat dan aspirasi rakyat, khususnya masyarakat kelas bawah -- orang kecil, rakyat jelata, kaum pinggiran, golongan bawah -- dan sering juga dianggap sebagai musik-nya orang kampung dan mereka yang kampungan.

Saya juga mengamati bahwa dalam konteks yang lain, dangdut kadang-kadang muncul di masyarakat yang lebih atas. Dalam acara-acara resmi, pejabat-pejabat tak sungkan ikut bergoyang dangdut, kadang sebagai simbol ‘merakyat’. Sekali-kali penyanyi-penyanyi pop melantunkan lagu dangdut sebagai tanda bahwa mereka juga bisa ‘merakyat’. Bagi pelajar-pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di negeri orang, dangdut adalah salah satu simbol ‘ke-Indonesia-an’ seperti sambal terasi, rendang, dan Indomie. Serta-merta, begitu sampai di luar negeri, cinta dangdut bukan lagi hal yang kampungan.

Beberapa tahun belakangan ini, saya mulai mengamati dunia perdangdutan dengan lebih seksama. Ini dimulai sejak munculnya kontroversi seputar goyang Inul. Lewat kasus Inul, dangdut muncul dalam diskusi seputar politik dan budaya, menarik para pengamat politik/budaya, aktivis, kaum feminis, peneliti untuk mencermati fenomena ini.

Kisruh seputar RUU-APP semakin mengangkat dangdut ke tataran elit, tapi hanya dalam wacana. Dangdut sebagai musik dan bentuk ekspresi tetap berkumandang di kalangan bawah.

Seorang Rhoma Irama muncul dalam wacana ini, dan hampir selalu digambarkan sebagai wajah yang muncul dari pihak yang berusaha memerangi ‘kebebasan berekspresi’ yang wakili oleh (goyang) Inul. “Perseteruan Inul-Rhoma Irama” menjadi simbol perang ideologis antara nilai-nilai keagamaan, pola-pola partriakal, konservatisme, dan fundamentalisme, melawan demokrasi, kebebasan individual, dan kesetaraan gender. Seorang Rhoma Irama direduksi menjadi tokoh dangdut yang berdimensi satu = konservatif fundamentalis.

Sebuah undangan untuk menyampaikan makalah di “Konferensi Internasional Islam dan Budaya Popular di Indonesia dan Malaysia” di Universitas Pittsburgh yang dilayangkan Profesor Andrew Weintraub membawa saya ke sebuah kenyataan yang tak pernah muncul dalam imajinasi saya. Pertemuan dengan seorang Rhoma Irama. Sebuah perasaan campur-aduk yang asing dan tak dikenal muncul. Ada perasaan bangga karena saya akan bertemu seorang tokoh legenda. Tapi juga ada perasaan yang tak genah yang muncul, bukan karena saya bukan penganut aliran dangdut, tapi mungkin karena saya tak sanggup menepis citra (dan prasangka) seputar Bang Haji Rhoma Irama yang muncul dari label-label yang mereduksi tadi.

Malam itu, hari kedua konferensi, sebelum konser dimulai saya masih bergumul dengan perasaan saya sendiri. Saya duduk di bangku paling depan, tepat di depan panggung, bersama pak Ishadi SK dan Bapak Duta Besar Indonesia. Bang Haji Rhoma dan kru Soneta berdiri begitu dekat. Sebuah pengalaman yang sureal. Hampir seperti mimpi. Konser dangdut pertama dalam hidup saya! Lagu pertama, berjudul “Dangdut”, berlalu. “Menarik,” saya pikir, tapi saya hanya bertepuk tangan dan duduk di bangku. Lagu ke-dua, ke-tiga, saya mulai ikut bergoyang kecil di tempat duduk saya. Lagu ke-empat, dan beberapa pelajar Amerika mulai bergoyang, hanay 4 orang. Pak Ishadi berbisik, “Merlyn, joged yuk?”. Saya ragu. Masih ada rasa gengsi. Tapi tak lama saya ikut bergabung dengan Pak Ishadi dan para mahasiswa lain, membentuk gerombolan goyang pertama! Lama-kelamaan akhirnya lebih dari setengah penonton, yang tadinya duduk, bergoyang di depan panggung. Pelajar, masyarakat sekitar, pejabat, dan profesor segala bangsa, semuanya bercampur-baur dalam goyang dangdut. Semakin lama bergoyang, rasa gengsi menipis, dan akhirnya goyang itu menjadi sebuah kenikmatan. Lirik dan musik dangdut Rhoma Irama menjadi terasa lebih nikmat.

Goyang saya kali ini berbeda dangan goyang2 dangdut yang saya luncurkan di banyak acara2 budaya Indonesia. Bukan bergoyang ala kadarnya! Ketika konser itu berakhir, tubuh dan jiwa saya masih dilanda dangdut, masih ingin menikmati dangdut.

Malam itu saya berkenalan dengan dangdut dalam arti yang sebenarnya. Merasakan dangdut dalam sebuah ritual kolektif yang menciptakan ‘dangdut moment’ bagi saya. “Hanya orang jaim saja yang ngga mau ikut goyang!” Momen yang membebaskan diri dari status, posisi, label, dari perasaan malu/gengsi! Momen yang membuat menyadari bahwa ada ‘dangdutness’ dalam diri saya. Ya, dangdut yang merakyat, pinggiran, dan kampungan!

Ketika konser ini berakhir, saya mulai lupa dengan perasaan awal saya terhadap Bang Rhoma Irama. Dan interaksi saya dengan beliau di belakang panggung -- bersama para pembicara/moderator konferensi lainnya -- membuat saya ingin mengenal tokoh dangdut ini lebih jauh. Tak sabar saya untuk menunggu beliau menyampaikan makalah di konferensi.

Keesokan harinya, Bang Haji menyampaikan makalah mengenai dakwah dan dangdut lewat perjalanan karir kelompok dangdut Soneta. Seorang tokoh legendaris dangdut, berpakaian hitam-hitam, berdiri di depan podium, di depan tokoh-tokoh intelektual. Dengan pengucapan yang sangat baik, beliau menyampaikan sepotong sejarah dangdut yang begitu menarik, dalam bahasa Inggris yang teratur. Saya terpana.

Lewat paparan sejarah yang disampaikan Bang Haji, saya belajar begitu banyak mengenai dangdut. Saya baru tahu bahwa beliau dan Soneta sempat dilarang tampil di publik selama 11 tahun. Saya juga baru menyelami bahwa setiap lagu diciptakan sebagai tanggapan terhadap berbagai fenomena sosial, budaya, politik. Saya menjadi mengerti mengapa bagi para penggemarnya, lagu-lagu Rhoma mewakili berbagai ekspresi yang ingin mereka ungkapan pada kekasih, teman, orang-tua, bangsa, dan negara.

Dalam wacana-wacana mengenai dangdut, ‘rakyat’ diposisikan sebagai ‘ketinggalan jaman’, ‘kampungan’, sebagai oposisi dari kemajuan dan pembangunan. Kaum intelektual sering menggunakan mereka untuk mengeritik modernitas. Padahal, lewat dangdut, dan dalam dangdut dan berdangdut, justru rakyat menemukan jati diri, eskpresi, dan aspirasi mereka serta menjadi diri mereka sendiri. Hal inilah yang saya temukan lewat perkenalan saya dengan Rhoma Irama.

Perjalanan dangdut ke Pittsburgh tidak mengkonversi saya menjadi penganut musik dangdut. Tapi di Pittsburgh, saya menemukan bahwa dangdut bukanlah ruang yang homogen. Dangdut tidak monolitis. Ia bukan lambang kemunduran maupun kemajuan. Dangdut adalah ruang dimana kontradiksi sosial, budaya, dan politik bertemu. Dangdut adalah ruang dimana nilai-nilai dikontestasikan. Dangdut adalah ruang dimana hal-hal keseharian bertemu dan berbenturan. Dalam dangdut dan lewat dangdut, saya menemukan sisi kampungan saya yang membuat saya nyaman, genah, dan bebas.

Sungguh ironis, butuh 21 tahun duduk di bangku sekolah dan sebuah karir di dunia akademis untuk mempertemukan saya secara pribadi dengan si ‘dangdut’.

:::

Rekaman lengkap presentasi Bang Haji, klik:

http://www.youtube.com/watch?v=UKf5anh1_xk (part 1)
http://www.youtube.com/watch?v=2RUIddcplFE (part 2)
http://www.youtube.com/watch?v=rinlkG3UO8c (part 3)