Sunday, September 21, 2008

Ketiduran & mengetes kasur

Kemarin malam (sore) sekitar jam 6:30pm aku pergi ke sebuah outlet furniture untuk mencari mattress/kasur. Selama ini aku belum punya kasur.

Sebelumnya aku tidur di mattress pinjaman (yang disimpan di rumahku sementara, milik seorang mahasiswa yang intern di Indonesia selama summer). Kemudian pas si mahasiswa kembali, tentunya si perangkat kasur juga ikutan diangkut.

Sudah sekitar 2 minggu saya tidur di sofa futon. Not bad, not good. Untuk sementara tak masalah, tapi tentu saja aku butuh kasur betulan, a mattress set. Jadi setelah menengok2 toko2, online dan offline, meneliti, membandingkan, dll, selama berbulan2, dapatlah satu toko yang menjual mattress2 berkualitas tinggi. Toko ini akan ditutup seminggu lagi, jadi sedang diskon besar2an. Aku sudah mengecek minggu lalu dan sudah memutuskan akan membeli salah satu mattress dari 4 potential mattresses.

Kemarin aku kembali ke toko yang sama untuk meyakinkan diri sendiri, manakah mattress yang akan aku pilih. Jadi ber-tidur2an lah aku di beberapa mattress. Mattress kedua yang aku coba enak sekali.

Hmmmm.... nyaman......ooooh.....sedapppp....ooooh.....zzzzZZZZzzzz.....

"It seems that someone just easily passed out there..." Tahu2 terdengar suara. Kulihat seorang lelaki Caucasian senyum2 memandangiku.

Aku langsung terbangun. Arrrrrggggggggggggggghhhhhhhhhh!!!!!!!!! Ternyata aku ketiduran di mattress itu! Dengan senyum malu sedikit kikuk aku menyahut,"Oh, uh.... uhmm... this one is so comfortable.....it kicked me on my head." Berapa lama aku tidur di situ? Hanya si kasur yang tahu..... :)))

Setelah mencoba beberapa mattress lain.... dan tidak ketiduran, aku yakin akan si mattress nomor dua itu :)) Cara mengetes yang paling ampuh ya kan? :))

Tuesday, September 16, 2008

Ode untuk si Acak-acakan

Antara using, iseng, dan tak jelas, akhir pekan yang baru lalu aku menghasilkan beberapa sketsa, beberapa rekaman, dan satu ode/puisi.

Salah satunya adalah ttg clutter alias acak-acak, yang lengkap dengan puisi, sketsa serta rekamannya.

Narasi lengkap ttg si clutter ini ada di blog sebelah, malas menterjemahkan. Baca aja di sana ya? Nih di sini: http://www.merlyna.org/blog/index.php/2008/ode-to-clutter/

Ini dia sketsa-nya:



Itu adalah 'rekaman' visual meja kerja ku di hari Sabtu. Hari ini? Tentu saja lebih acak-acakan.

Sementara itu rekaman audial, adalah seperti ini:

Lims Ode to Clutter - Merlyna Lim

Harus dengarkan yang satu ini, soalnya ini adalah maha karya klasik ku...huahahaha.

Lirik lengkap dan narasi-nya, ya silakan dibaca di sini ya.

Mohon maaf jika jiwa anda terganggu setelah baca/mendengar si Ode ini :D

Friday, September 12, 2008

Yang tercecer dari Jokja: Amplop, Kurir & Ojeg

Ada satu kisah yang mempanikan, menghebohkan, mengsipu-sipukan dan sekaligus membahagiakan dan mengharukan yang terjadi sudah agak lama. Kisah ini terjadi dalam kunjunganku ke Djokdja yang terdahulu dan kopdar dgn MPers Djokdja untuk pertamakalinya.

Waktu itu begitu acara di Djokdja selesai, aku harus cepat-cepat mengejar kereta api ke Bandung yang dijadwalkan berangkat jam 9-an dari setasiun (udah lupa, kayaknya sih jam 9:30 malam). Aku sudah mengepak koper dan tas sebelumnya, jadi ya tinggal berangkat saja. Sepanjang jalan cukup deg-deg-an takut terlambat. Saking takut terlambat, aku memutuskan untuk melakukan interview (yang sedianya akan dilakukan di hotel Novotel, tempat aku tinggal) di dalam mobil yang mengangkut diriku ke stasiun.

Aku sampai di stasiun hanya sekitar 5 menit sebelum jadwal kereta. Aku langsung dapat kurir yang membantu dan aku memberitahu padanya bahwa keretaku sudah akan sampai ketika kudengar pengumuman.... "Kereta api tujuan Bandung..... kereta api tujuan Bandung.. sudah tiba di stasiun..."

Kami, aku dan si kurir, sudah bersiap-siap lompat ke kereta, walaupun kulihat penumpang2 lain koq ya masih santai. Eh... baru kudengar lanjutan dari pengumuman itu.... ternyata..."Kereta api tujuan Bandung sudah tiba di stasiun.......Nganjuk!" Duileh... itu sih jauh...

Jadilah aku bersantai2 duduk lagi. Sambil menunggu aku menghitung uang recehan yang kumiliki untuk membayar si kurir. Ternyata aku cuma punya duit di saku 11 lembar.... duit seribuan! Ya, Rp.11,000. Wah, kayaknya harus dikasih Rp 20,000 deh, kupikir. Jadi kucarilah amplop yang baru aku dapat dari si konferensi (hehe, dapat honoraria pembicara). Lho, ternyata kucari-cari si amplop tak ada. Aku sampai membongkar koper segala. Sampai lebih dari 30 menit lho aku mencari-cari, dan ternyata tak kutemukan si amplop. Aku langsung panik. Wah, gimana ini, dengan sebelah ribu perak harus bertahan sampai rumah di Dayeuhkolot! Padahal si kurir yang sudah nangkring dengan koper2ku ini juga musti dibayar!

Bingung mau minta tolong siapa untuk tanya nomor hotel Novotel, langsung kutelepon mas ID yang teman MPku yang waktu itu jadi fasilitator di konferensi tersebut. Kubilang, Mas, aku ketinggalan "amplop" di hotel. Si Mas ID langsung memberi nomor hotel dan kuteleponlah si hotel itu. Untunglah aku masih ingat di mana letak si amplop tersebut, yakni di dalam lemari baju, tepat di dekat safe deposit box yang sudah terbuka. Ternyata, ooh, syukurlah, si amplop masih nangkring di sana dan kamarku masih belum tersentuh. Jadilah kubilang nanti diambil oleh temanku yang namanya Mas ID tersebut yang juga adalah tamu di hotel Novotel.

Langsung kutelepon Mas ID untuk mengabari ttg kabar baik itu sekalian meminta Mas ID untuk bersedia dititipi amplop. Aku sendiri bilang kalau tidak ada yang mengantar ke stasiun ya sudah nanti amplopnya diambil di Jakarta saja (walaupun dalam hati bingung karena kagak punya duit!). Tapi kebetulan Mas ID sedang kumpul2 dengan teman2 MP di Yogya, tepatnya di Momento, bersama mbak Hida, Debi, Laalaalaa (ikutan ngga La?), Difla, Imazahra.... dan juga Ari yang kebetulan sedang ada di sana. Jadi mas ID bisa cari tumpangan untuk ngambil amplop di hotel terus ke stasiun. Masalahnya kalau kereta ku sudah mau berangkat gimana ya? Ya sudah... pokoknya dicoba dulu lah.

Eh, sebetulnya aku juga ingat kalau aku meninggalkan beberapa potong CD .... udah dicuci...jadi bersih lho... tapi malu untuk bilang sama mas ID waktu itu. Jadi ya sudah direlakan saja... nangkring di Novotel..... :D

Sambil dag-dig-dug, aku menunggu mas ID. Lamaaaa rasanya. Aku berharap-harap kereta-nya terlambaaaaaat sekali, supaya yang ngantar amplop sampe duluan. Ternyata harapanku terkabul. Datangnya mas ID dengan amplop, di antar oleh seorang supir ojeg istimewa.... sebelum keretanya datang!!! Mereka datang dengan terengah-engah sembari nyengir-nyengir kuda. Wah, betul-betul bahagia aku saat itu melihat mereka berdua....... Selamatlah diriku dari keterlantaran akibat tak punya duit. Ternyata teman-teman MPku emang TOB... bisa jadi kurir dan supir ojeg..... :)

That's why I love Djokdja even more :))

dedicated to mbak Hida supir ojeg sejati dan mas ID kurir handal... :D

Wednesday, September 10, 2008

Putus

Hari ini mungkin "hari putus koneksi otak dengan tubuh" sedunia. Tak ada yang salah dengan si otak, tak ada yang salah dengan si tubuh, tapi tahu2 mereka tidak nyambung.

Jadi pagi ini, eh, siang sih, aku bangun dan langsung ingat bahwa aku ada rapat makan siang (lunch meeting) dengan seorang profesor bidang legal/hukum yang nanti akan bicara di e-Lunch (enLIGHTeNING lunch) yang aku koordinasi. Tanpa melihat agenda elektronikku, aku ingat, pukul 11:45 di Sacks.

Sekitar 1.5 jam sebelum si rapat aku dapat email bahwa si profesor akan mengenakan celana panjang putih dan kemeja merah. Aku membalas bahwa aku akan mengenakan celana selutut coklat dan kemeja putih. Ya memang kami sudah ber-email-ria tapi belum pernah bertatap muka.

Pukul 11:20 aku sudah mulai bersepeda ke arah Sacks. Paling-paling hanya dibutuhkan 10-15 menit untuk mencapai kafe itu. Aku memakai kemeja coklat muda dan celana coklat tua, bukan kemeja putih. Tapi aku akan singgah di kantor dulu mengganti baju, karena kalau bersepeda pasti banjir keringat. Dan aku ingat sekali kalau baju ganti yang tergantung di kantor itu warna putih.

Eh, baru menyepeda 3 menit, aku baru ingat kalau aku lupa bawa dompet, padahal tadi dompet itu sudah kuletakkan di meja bersama kunci sepeda. Duh. Jadilah aku kembali ke rumah, ambil dompet dan balik lagi. Hilanglah sekitar 6-7 menit. Aduh, sekarang 10 menit waktu cadanganku habis. Ya kuputuskan untuk tidak singgah di kantor. Ya sudah coklat muda anggap saja putih. Aku meneruskan mengayuh sepeda.

Entah kenapa, sekitar 15 menit kemudian aku malah sampai di tempat makan yang judulnya bukan Sacks. Tapi House of Tricks. Ketika aku berhenti dan memarkir sepeda di sana, aku bertanya pada diriku sendiri "Kenapa ke sini ya?" Tak kutemukan jawaban. Jelas2 letak Sacks dan House of Tricks itu berbeda sekali. Dan bentuknya berbeda, dan makanannya pun berbeda. Padahal di benakku aku bisa membayangkan arsitekturnya Sacks, interiornya, makanannya, dan bahkan lokasinya.

Ya sudah, aku mengayuh sepeda ke arah Sacks. Sudah terlambat sekitar 7 menit ketika aku sampai di kompleks tempatnya Sacks. Tahu2 aku melihat deretan retail rooms besar2 yang kosong. Lho, koq Sacks tidak ada di sini? Apa sudah bubaran dan pindah? Aku panik.... lagian aku tak punya nomor telepon si profesor hukum itu.

Kutarik napas panjang dan berhenti sesaat. Kemudian aku menuju ke tengah lapangan parkir. Kulihat ada tulisan besar "Sacks". Lho koq ada ya? Tadi kulewat daerah situ Sacks tak ada. Waaah..... ajaib niiih!

Ya sudahlah, pokoknya sudah ketemu. Masuk Sacks, kulihat seorang laki-laki berbaju kotak2 merah orange dan celana putih krem. Langsung kudekati dan diapun langsung tahu bahwa itu aku. Aku meminta maaf atas keterlambatanku, dia bilang "It's OK, I was a couple minutes late myself." Lalu kami memesan makanan.

Sampai di meja yang kami pilih, aku berusaha menjelaskan bahwa aku terlambat gara2 aku salah memindai, malah bersepeda menuju tempat lain. Lalu aku juga dengan ribet dan terburu2 menjelaskan kenapa aku tidak memakai baju putih dalam sebuah kalimat panjang...."Oh, and I don't wear white either.... see, when I am cycling I get sweaty so I have to change my clothes ... and I am pretty sure it was a white shirt I have in my office.... but shucks, I was late... I couldn't change...so.." Dia terbengong-bingung dengan cerita yang tak jelas itu. Hihihi. Lalu aku karena ribet bercerita malah menyenggol gelas air minumku sampai membasahi sebagian besar meja.

Entah apa yang si profesor hukum pikirkan. Ini cewe aneh amat kali ya... Sudah terlambat dengan alasan malah pergi ke kafe lain, katanya mau pake baju putih tapi ternyata ngga, terus tahu2 membanjiri meja pula...

Wah... pokoknya heboh deh rapat ku kali ini. Untunglah tidak terjadi hal2 yang jauh lebih memalukan. Kayaknya akhirnya si profesor bisa mengerti.... atau tidak? Ya sudahlah, pokoknya dia tetap akan datang di e-lunch yang aku adakan itu.

Memang hari 'putus' sedunia.

Thursday, September 04, 2008

Es lilin ala jangar

Pulang ke rumah cape sekali, ngga enak badan, tapi harus ngerjain persiapan kuliah besok, menjawab setumpuk email, mengurus urusan perjalanan2 yg tak selesai2, dan menulis paper-paper. Jadinya jangar binti lieur binti hareeng (artinya apa? tanya saja sama tetangga atau rumput yang bergoyang).

Akhirnya saya putuskan untuk menjamah si piano elektrik yang lama tak dimainkan. Terakhir bermain malah di Narita, di tempat keluarga Mertani-Akhtar (oooh, I miss you all). Dan saya ingat, di sana pun, main piano itu menyembuhkan... fisik dan mental!

Ada sebuah lagu yang waktu itu saya mainkan di sana. Lagu Sunda... yang ngga pernah saya mainkan sebelumnya di piano. Jadi pertama kali main dengan gaya selengean ya di Narita. Kali ini saya coba mainkan lagi. Ternyata tak bisa mengulangi apa yang saya mainkan di sana. Tapi ya sudahlah... maklum lagi jangar... jadinya ya liar begini. Ini direkam langsung pas main... seingatnya... semaunya... dan direkam dengan error-error keserimpetnya.. :p

Lagu ini saya persembahkan untuk keluarga Mertani-Akhtar... juga buat Sakura Lady dan Hoho :)
Dan untuk segenap pembaca blog ajaib ini..... silakan menikmati juga... kalau ngga nikmat... ya udah ngga usah didengerin... ini lagu ttg es-krim koq :)

ES LILIN ALA JANGAR BY LADY DAYEUH