Sunday, June 29, 2008

Thriller Bandara (bag 2)

Seperti yang dijanjikan oleh sang supir, taksiku sampai sebelum pukul 10. Aku langsung bergerak menuju elevator ke arah gate. Bandara terlihat sibuk seperti biasanya. Kuhitung berapa waktu yang kupunya. Kurang dari 20 menit sebelum pintu pesawat ditutup. Ya, pesawat akan ditutup pukul 10:08. Kupikir kali ini aku tak akan minta bantuan petugas dan kursi roda. Meminta bantuan seperti itu cukup makan waktu. Registrasi serta menunggu petugas berikut kursi rodanya bisa makan waktu lebih dari 10 menit. Tapi jelas kalau sudah dapat kursi roda bisa memotong antrean security yang panjang. Lagian, walaupun masih sakit, aku merasa lebih baik ketimbang perjalanan yang terdahulu. Kalau kupakai tongkatku, aku bisa berjalan cukup cepat.

Dalam perjalanan menuju elevator kulihat sebuah meja dengan tulisan “Special Needs”. Area tersebut penuh dengan kursi roda dan tak ada seorang penumpangpun di sana. Aku ragu, berhenti di situ atau tidak. Akhirnya kuputuskan berhenti dan mendaftar. Ternyata cepat sekali. Kenny, itu nama petugas yang membantuku.

Kenny adalah seorang imigran dari Vietnam. Dia sudah berada di Amerika Serikat selama 20 tahun. Setahun lalu dia kehilangan pekerjaannya sebagai teknisi komputer di California, padahal dia bekerja di perusahaan tersebut selama 15 tahun. Aku menyukai Kenny. Bukan saja sangat ramah, dia juga sangat cekatan.

Ketika kami memasuki lift, aku melihat antrean jalur biasa. Panjangnya luar biasa. Aku bersyukur aku pakai jalur kursi roda.

Tak lama kami sampai di mesin pemindai. Jalur khusus sehingga tentu saja cepat. Tak seperti petugas2 sebelumnya, Kenny dengan sigap menukar tongkatku dengan tongkat kayu milih bandara. Kenny juga mengurus pemindaian semua barangku. Aku hanya bilang padanya bahwa ada laptop di backpackku dan dia langsung mengerti.

Hari ini terasa sangat istimewa. Petugas pemindai tubuh juga sangat ramah. Dia membantuku berjalan. Entah kenapa, dia terlihat cemas. Berkali-kali dia memastikan bahwa aku baik2 saja. Mungkin karena tampangku yang cukup kacau. Teler habis. Tentunya aku sih ya baik-baik saja.

Tak lama Kenny muncul dengan semua barangku. Tanpa kusuruh dia mendorongku ke arah monitor dan mengecek gate-ku. Ternyata ada perubahan. Dari B6 menjadi B2. Sejenak sebelum sampai di Gate, Kenny bertanya, “Jam berapa pesawatnya boarding?” “Sekarang,” kataku. “Jam berapa pesawatnya harus berangkat?” tanyanya lagi. “10:23,” jawabku.

“Oh, ini sudah jam 10 lewat 10, tapi coba akan kucek” kata Kenny. Kenny memarkir kursi rodaku dan dia berjalan menuju petugas maskapai.

Aku mendongakkan kepalaku dan melihat layar elektronik. Kulihat sebaris kalimat. “US Airways 071 to Seattle. The gate is closing. Thank you.”

Ah, tidak seperti kejadian si CamLon, kali ini pintu betul2 sudah tertutup, aku sudah ketinggalan. Apa yang harus kulakukan sekarang?

...bersambung...

1 comment:

ND said...

So far sudah mulus, kenapa gak kekejar juga ya. Trus gimana akhirnya...?