Wednesday, June 25, 2008

Thriller Bandara (bag 1)

English version click here

Pagi ini pukul 7:30 pagi alarmku berbunyi. Aku terbangun tapi segera mematikan alarm. Malas sekali bangun sepagi itu. Jadi kuteruskan tidurku dan terbangunlah aku lebih dari sejam kemudian.

Pukul 8:40 aku terbangun dan segera sadar bahwa pagi itu aku harus terbang ke Seattle. Pesawatku dijadwalkan boarding pukul 9:53 dan taking off pukul 10:23. Aduh! Mana bisa terkejar? Aku berusaha bangun tapi badanku tak enak sekali rasanya. Kemarin dulu aku begadang sampai jam 5 pagi untuk mengejar tenggat waktu. Draft pertama tulisanku selesai tapi jadinya kemarin aku terkapar seharian. Boro-boro sempat packing, makan saja tak sempat. Bahkan minum kopi aku tidak bisa, padahal jarang sekali saya absen minum kopi! Oh, nonton TV saja terlewatkan. Kacau betul!

Aduh gimana ini, mungkin aku harus membatalkan perjalananku. Rasanya tak mungkin aku bebenah pagi ini. Juga kemungkinan besar aku akan ketinggalan pesawat. Badanku tak ingin pergi, tapi kepalaku jelas ingin pergi. Mungkin kupaketkan saja kepalaku ke Seattle!

Tapi ya, tahulah aku, aku pasti mencoba pergi. Kalau belum sampai benar-benar ditinggalkan pesawat, aku tidak akan menyerah. Lagian ini acara penting. Bukan sembarang konferensi (memangnya ada konferensi yang sembarangan?) dan bukan sembarang undangan. Ini konferensi yang diadakan oleh pemerintah Amerika Serikat dan aku adalah salah satu dari dua pembicara catatan kunci :p Ah, ya memang egoku terlalu besar untuk melewatkan acara ini.

Ya sudah, aku pergi dong. Aku mulai bebenah koper. Lempar ini dan itu. Dalam waktu 10 menit sudah selesai.

Lalu aku mulai menelepon taksi dan sambil menunggu aku bikin kopi. Kubilang pada si resepsionis Taxi Express Ali bahwa aku butuh cepat. Sekarang juga! Dan dijanjikanlah aku sebuah taksi yang akan datang segera.

Dua puluh menit kemudian, pukul 9:40, si taksi belum muncul juga. Aku gelisah dan kutelepon lagi si taksi itu. Dihiburnyalah aku. Katanya taksi akan muncul dalam waktu 3 menit.

Lebih dari 3 menit, tapi ya si taksi akhirnya muncul juga. Seorang pemuda berbadan besar dengan rambut berkuncir membukakan pintu. Dia seorang supir yang baik. Yang jelas tahu jalan dan teman bicara yang cukup menyenangkan. Masalahnya waktu sudah begitu mepet, jadi sehebat apapun si supir, tetap saja tidak akan mencegah pesawat untuk berangkat tanpa diriku.

Pukul 9:55, aku tahu pesawatku sudah mulai boarding.
Duh, akankah aku sampai sebelum pesawat berangkat?

5 comments:

rintikrinai said...

hehe, ti kena virusnya mba mer,, kemaren pesawat sudah mau boarding ti baru check in!! hahahaha,, lari-lari gundal gandul diketawain sama mas2 potternya.

ime' said...

"Mungkin kupaketkan saja kepalaku ke Seattle!"

definitely thriller...

btw, emang teteh udah nggak pake' kruk lagi?

sautindo said...

ayo mer, go go go...pasti bisa! :-)

ND said...

Ditunggu kelanjutannya Mer....*penasarandotcom*

mer said...

rintikrinai: hati2... kalau sudah kena virus, susah hilangnya :)

ime: dari dulu juga ngga pernah pake kruk, Me.... aku pakenya tongkat yg kaya Dr House :)

sautindo: yes, yes, yes!

nd: penasarannya udahan dong?