Wednesday, April 30, 2008

Camlon: Koper, KacaMata, & si Gate

English version, click this....

Walaupun ada cerita2 aneh selama aku di Cambridge/London (tapi itu ceritanya nanti saja ya, dari Tempe), cenderung lancarnya perjalanan dari Phoenix ke Minneapolis dan lalu ke London membuat aku percaya bahwa kali ini seluruh perjalanan akan lancar.

Pagi ini aku berangkat dari rumah temanku di Langley-Slough, di suburban London, ke bandara London Heathrow. Ya, hari ini aku pulang ke Tempe tercintahhhhh :)

Kami berangkat sekitar jam 7 untuk pesawatku ke Amsterdam yang dijadwalkan boarding jam 8:10 (take off jam 8:40). Sekitar pukul 7:20 - 7:25 aku sudah sampai di airport. Aku cuma bawa backpack laptop dan carry-on luggage jadi kupikir pasti lancar dan cepat lah. Lagian aku sudah check-in dari rumah. Tinggal melenggang masuk gate saja toh.

Sampai di security gate aku dicegat karena katanya koperku kebesaran untuk carry-on. Memang pas diperiksa koperku tidak masuk di semacam cetakan/alat pengukurnya itu. Padahal aku sudah berkelana ke seluruh penjuru dunia dengan koper itu dan selalu lolos! Pasti ini bandara ukurannya lain! Aku ngotot bahwa aku tidak mau check-in koperku itu. Lagian cuma roda dan handle-nya saja yang ngga masuk. Petugas di situ pokoknya dengan kalem bilang (tak pake nada marah2) dia harus mengikuti peraturan negara. Jadi maaf saja ya, tak bisa. Lalu kubilang, bagaimana kalau airline-nya memperbolehkan? Dia bilang ok, kalau airline bilang boleh ya bisa.

Aku melapor ke airline (semena2 masuk jalur selebrity walaupun pesawatku dari London ke Amsterdam itu kelas ekonomi) dan airline bilang ini kalau petugas security bilang harus check-in ya aku harus check-in juga. Lho koq? Aku bilang menurut petugas security justru kalau airline bilang boleh bakal dibolehin juga. Lalu langsung petugas airline itu bilang oh, kalau gitu boleh. Tapi pas balik ke jalur security eh tetap ngga boleh. Petugas2 itu dengan tampang kalem, manis dan sopan tetap bilang ini peraturan negara Inggris. Dengan malas dan dengan sengaja menekuk tampangku, akhirnya aku memindahkan beberapa barang ke ransel dan men-check-in koperku yang kecil itu. Dan kurayulah si petugas airline untuk memberiku jalur selebriti (fast-track) supaya aku bisa menghindari jalur security yang panjang dan mengesalkan. Rayuanku ampuh! :)

Setelah clearing security aku baru sadar bahwa kacamataku ketinggalan di luar. Aduuuh, sialan nih, kataku.

Tapi ngga akan keburu untuk urus, pikirku. Merasa bahwa aku sudah menghabiskan begitu banyak waktu bulak-balik security-airline, aku panik dan langsung berlari-lari ke Gate 1b. Begitu sampai di gate, kulihat tulisan KL 1002 LHR-AMS berkelap-kelip tapi pintunya tertutup. Aku langsung panik. Pasti ini pesawat sudah hampir ditutup. Langsung kubuka kedua daun pintu Gate 1b yang tertutup itu. Kulihat lorong begitu kosong lenggang. Aku tambah panik. Aku berlari-lari sampai ujung dan sampailah aku di sebuah lorong satu tepat sebelum masuk ke dalam pesawat. Tak ada petugas di sana. Yang ada hanya pembatas2 keamanan yang menghalangi aku untuk mendekati daun pintu kaca menuju lorong pesawat. Aduh, pasti aku ketinggalan nih!

Lalu nekad kulewati batas keamanan dengan moncor di bawah tali. Kupikir mungkin pintu pesawat belum ditutup dan aku masih bisa mengejar. Kudekati pintu kaca itu. Kucoba buka, ternyata tak bisa. Terkunci! Arrrrggghhhhhh..... gimana niiiiiiih........ Saking paniknya dan putus-asanya aku keukeuh menggedor2 pintu itu. Persis kayak adegan2 di filem2 Holywood.

Sekarang apa dong yang harus aku lakukan...... aku berjalan lunglai menelusuri lorong yang kosong itu..... Lorong yang terasa panjaaaaaaaaaaaaang sekaliiiiiiii dehhhhh..... Langsung aku menyesali kenapa berantem sama petugas security....

Monday, April 28, 2008

CamLon: 3S Sandel-Sepatu-Spelling

English version, read this....

...baru diposting, tapi ini ditulis hari Kamis, dari Minneapolis/St Paul...


Pesawatku dari Phoenix tidak pagi-pagi tapi jam 2:54 sore. Kali ini pembenahan koper sudah selesai subuh-subuh setelah ngeblog dan mencuci pakaian. Jadi pagi-pagi tidak keburu-buru. Jam 8 pagi aku ada acara penting sampai jam 8:45 lalu rapat jam 9-10 lalu acara penting lagi. Rencananya aku akan langsung pergi ke bandara dari acara penting itu. Entah dengan taksi atau mungkin seorang kawan/kolega bisa mengantar.

Semua berjalan lancar, tapi acara penting itu berjalan molor. Tadinya kukira acara yang melibatkan dua teknisi akan selesai jam 11:30-an. Ternyata acara dengan teknisi 1 baru selesai jam 11 dan acara dengan teknisi 2 berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Karena ada hal-hal serius yang betul-betul urgent. Baru jam 12:30 semuanya beres. Aku sudah siap saja berangkat ke bandara yang kira-kira cuma 15 menit perjalanan dengan taksi.

Aku melakukan pengecekan terakhir. Surat-surat, laptop, dll. Tiba-tiba kulihat ke bawah. Kutatap jari-jari kakiku. Lho koq??? Kenapa jari2 kelihatan? Waduh, ternyata aku bersandal capit. Sebetulnya naik pesawat pakai sendal capit tak masalah. Tapi masa ngomong di konferensi di Cambridge pake sandel capit? Ngga papa juga sih kali ya? (No?) Cuma di sana masih 7-19 derajat Celcius. Bisa menciut jari2ku!! Alas, harus pulang ke rumah untuk ambil sepatu. Sampai di rumah cepat2 ambil sepatu, lalu mengecek beberapa hal lagi.

Jam 1 kurang 5 semuanya siap. Aku berusaha menelepon taksi. Duh, susah sekali! Rumahku alamatnya selalu bikin orang pusing. Apalagi kalau yang nerima telepon bukan native speaker. Ten eleven Ve Ella.... what? Ve Ella..... like v.....e.....e.... l.... what again? Veal? No V like in Victor... then E like Echo...... then second word...

Butuh lima menit hanya untuk spelling alamat rumahku saja! Perusahaan taksi pertama yang kutelepon adalah AllState Yellow Cab. Setelah berhasil spelling-nya, eh si resepsionis bilang tidak tak punya taksi yang sedang ada di Tempe, jadi butuh 25 menit untuk mendatangkan taksi. Ya ampun, itu sih sama saja bohong! Jadi kubatalkan lah di AllState Yellow Cab itu. Kuteleponlah Taxi Express Ali. Begitu yang angkat kedengar beraksen, langsung kututup. Aku berpikir sejenak. Ah, ada akal. Aku akan minta di jemput di rumah kawanku saja, yang alamatnya mudah.... 700 W University Dr... semua orang tahu dan dekat bandara pula. Dan akan kuparkir mobilku di carport apartemen dia saja. Jadilah aku pergi ke rumah kawan baikku yang cuma 5 menit saja dari rumahku. Dan di jalan aku menelepon kembali Taxi Express Ali yang katanya akan sampai dalam waktu 10 menit. Tak ada masalah spelling alamat! Hore. Kecuali pas ditanya nama apartemennya. Aku rada bodoh kubilang.... es.... si.... i.... en.... ti.... eh.... si... e... eh ...i. Padahal gampang, Scene One gitu! Tapi betul2 tak ada perjuangan dibanding mengeja alamat rumahku sendiri!

Akhirnya lancarlah. Aku sampai di rumah kawanku. Parkir mobil. Kutinggalkan kunciku di rumahnya, untuk menghindari ketinggalan kunci rumah+mobil di Inggris. Tak lama dijemput.

Jalanan lancar. Sempat deg-degan karena sudah jam 1:30 ketika dijemput. Tapi 1:40 sudah sampai. Dengan berbekalkan jalur khusus selebritis..... haha.... alias upgrade ke First Class, lancarlah semua urusan. Walau sempat dipertanyakan oleh petugas maskapai kenapa aku bisa-bisanya terbang ke London tapi tidak check-in luggage :).

Jadi sementara semuanya lancar. Ini baru seperempat jalan. Temanmu Lady Dayeuh melaporkan dari Minneapolis/St Paul. Salam!

Friday, April 25, 2008

Siap-siap ke CamLon

Besok, eh, hari ini, saya akan terbang ke Inggris untuk konferensi dan workshop di Cambridge dan London. Malas rasanya untuk bebenah. Tapi ya harus. Dan harus juga cuci baju, karena sudah berbulan2 ngga nge-laundry, jadi sudah kehabisan ..... dalam.

Rencananya, saya cuma bawa 1 backpack dan 1 carry-on koper. Ini daftar bawaan saya:
  • Baju-baju yang ringan dan tidak kusut biar ditekuk-tekuk dan banyak-banyak baju dalam.
  • Dokumen2 (passport, surat persetujuan petisi, surat keterangan pekerjaan dari ASU, print e-tiket dan berbagai informasi ttg konferensi di Cambridge dan workshop di London).
  • Alat-alat elektronik (laptop 'n the gang)
  • Buku sketsa dan alat gambar
  • Sikat gigi + alat kosmetik dasar -- ini selalu ada di dalam koper
Sudah rasanya begitu saja.

Oh ya, malam ini, seorang profesor yang juga kolega dan teman baik, mengirim email. Bunyinya: "Have a great trip! Please remember your computer, set your alarm and get to the airport in time, and, oh, yes, don't forget your shoes! Am I stressing you out with these reminders? Write them down and put them in your wallet (and then another note somewhere else about not forgetting your wallet...oops)."

Koq pesannya begitu? ;p Memangnya saya pelupa? Jelas tidak terbukti :D

OK, saya mau cuci baju, packing lalu tidur. Mudah2an semua lancar besok. Tidak ketinggalan pesawat. Tidak ketemu supir taksi yang tidak tahu jalan. Dan tidak ketinggalan sandal, sepatu, kacamata, atau celdam di London/Cambridge.

Monday, April 21, 2008

Ketinggalan kuliah

Sekitar 3 minggu lalu, pukul 9 malam saya mengecek email. Saya terkejut membaca email dari seorang profesor: "Did you try to come tonight? I hope you didn’t get lost."

Oh, saya seharusnya menjadi dosen tamu di kelas dia malam ini. Dan saya tidak datang!
Padahal saya sudah persiapan untuk presentasi di kelas dia! Powerpoint pun sudah jadi dari kemarin-kemarin...... tapi saya lupa bahwa hari ini hari Rabu... jadi saya malah ketiduran dan bangun pas American Idol!

Langsung saya panik. Aduh!!!!! Apa yang harus saya bilang sama dia....... Profesor ini adalah kolega baru yang tertarik dengan penelitian saya dan baru mengajak saya kerjasama dalam sebuah penelitian baru.....Tapi malam itu saya langsung email dan menjadi gadis jujur. Mengakui ketertiduran saya. Ternyata email balasan dia menunjukkan bahwa dia tidak marah.

Seminggu kemudian saya bertemu dengan dia dalam suatu rapat. Saya minta maaf lagi, tapi dia bilang tak masalah. Dia malah tertawa dan bilang, "My students cracked up when I told them about your falling asleep." Hahaha..... aduh..... !

Sementara itu minggu lalu saya ketinggalan kuliah lagi. Kali ini kuliah saya sendiri. Entah kenapa, saya datang ke kelas pada jam yang salah. Jadilah mahasiswa2 saya kuliah online minggu itu.

Thursday, April 17, 2008

Bis kota & terlambat


Sudah lama aku tidak naik kendaraan umum. Kemarin sepedaku gembos, jadi terpaksa kutinggal di kampus dan aku pulang naik minibis Orbits yang gratisan untuk siapapun tanpa kartu. Mahasiswa dan pegawai ASU bisa naik semua bis di kota Tempe tanpa bayar, tapi untuk naik bis kota harus pakai kartu, yang bisa didapat dengan semena-mena.

Selama tinggal di Bandung dulu, aku selalu naik kendaraan umum, kecuali pas tahun-tahun terakhir di ITB dan selama kerja. Barusan, karena berbagi cerita di blog-nya temanku yang lagi siaran tentang angkot aku jadi teringat masa-masa naik bis kota dan naik angkot. SMP dan SMA aku bersekolah di Pasirkaliki, sementara rumahku di Dayeuhkolot. Jadi harus naik angkot sampai Bypass atau perapatan Moh Toha -- Sukarno Hatta, terus disambung dengan bis kota jurusan Ledeng, berhenti ngga jauh dari sekolahku. Sekolahku dulu tidak manusiawi, masuknya jam 6:45 pagi. Jadi harus berangkat dari rumah jam 5:30 untuk mengejar bis kota jam 5:45. Kalau misalnya ketinggalan bis yang ini, bis berikutnya jam 6:15 dan terlambatlah aku. Jadi bukan salahku kalau sampai sering banget terlambat masuk sekolah! (Tapi guru2 tak mau mengerti, baru Agustus tahun lalu aku akhirnya berhasil menjelaskan kepada para guru yang masih hidup, dalam kunjunganku sebagai alumni.... akhirnya mereka percaya! Haha).

Masalah lain yang bikin terlambat adalah karena harus bangun pagi, aku selalu ketiduran di bis kota. Biasanya kelewat 2-3 setopan dan harus balik lagi naik angkot. Tapi pernah beberapa kali ketiduran sampai stasiun terakhir di Ledeng.

Suatu pagi, aku ketiduran sampai mentok setasiun Ledeng, terus akhirnya bangun krn dibangunin kondektur, terus ya akhirnya tetep duduk di bis itu untuk balik ke arah sekolah. Eh ketiduran lagi dan mentok lagi sampai setasiun terakhir, alias Mohamad Toha bypass itu. Akhirnya bangun karena dibangunin lagi.... sama kondektur yang sama! Aku masih ingat tampang si kondektur ini, berewokan tapi ramah dan suka senyum. Ya waktu itu akhirnya ya pulang lah ke rumah karena sekolah udah telat 2 jam! Memang lebih enak tidur selama 2 jam di bis kota ketimbang tidur di kelas yang bakal diinterupsi oleh guru :D

Makanya sampai sekarang trauma naik bis kota! Selain suka mabok, juga takut ketiduran.

keterangan gambar: stasiun bis kota Enschede (mer, 2005).

Sunday, April 06, 2008

Imajinasi konspirasi halusinasi abstraksi

Saya bukan basa-basi, hidup saya hari-hari ini penuh dengan si asi walaupun tak sering makan nasi. Tapi saya tidak bermaksud mengeluh. Karena semua berjalan dengan baik-baik saja. Walau terasa ada konspirasi, dan dituduh terlalu banyak berimajinasi, dan bahkan berhalusinasi, tapi ya hidup saya tetap indah, malah makin indah, makin abstrak saja warna-nya. Walaupun kadang gelap ah, tak jelas berwarna atau tidak.

Minggu-minggu ini adalah minggu-minggu cukup ajaib. Saya sering dituduh lupa, padahal saya juga kadang2 sudah mengaku lupa, tapi masih dituduh juga. Waduh, tidak adil! Lalu saya tabrakan sepeda yang bikin tangan kiri saya susah bergerak berhari2 jadi harus ngetik satu tangan (jangan kuatir, sekarang sudah dua tangan). Lalu sudah dua kali dalam minggu ini saya tahu2 mendapatkan diri menyetir pulang tapi bukan ke rumah saya. Saya juga semakin sukar mengidentifikasi sepeda saya di tempat parkir. Mungkin saya harus mencat-nya jadi pink atau kuning gonjreng. Tapi tenang saja, saya selalu bisa menemukan kembali jalan pulang dan setelah beberapa menit biasanya sepeda saya masih ketemu. Pembaca mau bilang saya pikun? Enak aja!!! Saya belum pikun! Buktinya saya masih ingat semua hal2 lain dengan detail. Saya bahkan bisa menggambar ulang bangunan2 dan jalan2 yang baru saya lewati sekali atau dua kali, angka2 yang baru saya dengar/lihat, dll.

Sementara itu saya makin butuh tidur. Dari sekitar 50 jam per minggu, sekarang naik jadi 60 jam. Tapi kopi saya sekarang cuma 1 kali sehari. 1 mug besar banget sih, tapi cuma 1, swear! Tapi harus dicampur K & IL (jangan tanya ya singkatan apa, haram hukumnya).

Dalam beberapa minggu ini, saya juga hampir menghabiskan 6x10 Curb Your Enthusiasm seri, dari Larry David (sutradara-nya Seinfeld) yang betul2 kocak, sinis, dengan humor yang gelap. Selain itu saya juga menonton sekitar 20 filem dalam dua minggu terakhir. Saya berlangganan Netflix, dan sering menyambar DVD 1 dollar-an dari kios RedBox yang nangkring di depan Circle K.

Hanya dalam waktu beberapa minggu, saya memasukkan 3 grant proposal.Untuk proyek yang sama, tapi semua proposal itu teksnya berbeda dan masing2 sekitar 20-30 halaman. Ini proyek baru tentang alternatif imajinasi. Padahal dulu-dulu saya tidak bisa dan tidak suka menulis proposal. Sekarang pun rasanya sih masih belum suka sama si proposal. Jadi, siapa sih itu yang menulis? Jangan2 bukan saya.

Saya juga sering ngantuk di kantor, ketika tidak mengajar, terutama di meeting-meeting pagi. Karena biasanya saya begadang untuk mengerjakan hal-hal yang tidak perlu tapi saya inginkan dan untuk alasan-alasan yang sepertinya tidak penting tapi saya anggap penting, seperti misalnya saya begadang karena ingin menulis blog ini, atau karena kecanduan dan tahu2 ingin rekaman lagu ini, atau karena pingin masak Goat Karahi (jadilah masakan India pertama saya terbentuk subuh-subuh!), atau cuma karena bulak-balik ke membaca hal-hal yang tak penting. Saya juga baru beli gitar bertali nilon yang jadi sering saya mainkan tiap malam. Belum lagi saya harus menyempatkan mengelus2 benda2 musik lain temannya si gitar. Ah, pokoknya banyak alasan untuk begadang di malam hari dan tidur di siang hari.

Sepertinya hubungan antara proyek riset alternatif imajinasi saya dan kehidupan penuh kegiatan abstrak dan imajinatif saya terlalu mesra, berdampitan tanpa celah.

Mungkin saya harus berhenti mengerjakan hal2 yang tak penting tapi saya anggap penting ini. supaya saya tidak menuduh orang lain berkonspirasi dan orang lain tidak menuduh saya berhalusinasi :D

Seorang teman bilang kehidupan seperti ini adalah sumber schizophrenia.
Tapi, siapa peduli? Biarin aja ya? Bolehkan saya teruskan saja kehidupan seperti ini?