Thursday, December 25, 2008

Selamat berlibur, selamat natal, selamat tahun baru

Terimalah ucapan saya...
maaf... tidak ada versi bahasa Indonesia...

Sunday, November 30, 2008

[Big but not-too-big trip] 1511 & 1802

Malas sekali rasanya mau packing. Tapi ya harus lah ya. Akhirnya pagi-pagi tadi terpaksa laundry tidur bentar lalu packing. Sebelum laundry ketahuan kalau dompetku ngga ada, ternyata ketinggalan di rumah teman. Jadilah pagi ini harus nyetir ke rumah teman untuk ambil dompet.

Entah kenapa, packing koq ngga selesai2. Sampai akhirnya mau selesai... lho koq semua berkas tiket dll ngga ada, ternyata tertinggal di kantor. Ya sudah, nge-print lagi saja. Malas harus ke kantor. Semua beres maunya langsung manggil taksi, tapi ternyata dompet koq hilang lagi.

Sulit untuk pergi tanpa dompet, kartu2 kredit dan ID ada di sana. Jadi terpaksa dicarilah si dompet. Pas cari2 dompet, aku pikir lebih baik nelepon taksi dulu. Eh ternyata hp untuk menelepon tak ada. Bisa pakai telepon rumah sih, tapi nomor taksi yang biasa cepat adanya di hp. Lagian tak damai rasanya meninggalkan US tanpa bawa si HP. Kutelepon HP-ku, ternyata tak ada tanda2 kedengaran ringing di dalam rumah. Kucek di mobil, ternyata HP ketinggalan di mobil. HP ketemu, tak lama dompet pun ketemu, ada di bawah meja ternyata.

Jadilah semua ritual hilang-tak-jelas-lalu-ketemu itu membuat aku begitu terlambat. Jam 2pm baru berangkat ke airport untuk pesawat jam 3:11pm yang boarding sekitar jam 2:44pm. Aku juga harus drop by kunci rumah di rumah teman dekatku (untuk menghindari terkunci di luar kalau kunci serepku ketinggalan di luar negeri).

Aku sudah deg-degan sepanjang jalan. Hampir yakin bakal ketinggalan pesawat... lha baru sampai di airport jam 2:18pm. Padahal hari ini adalah hari sibuk. Airport penuh sekali dgn org2 balik habis thanksgiving. Wah, sudah pupus harapanku.

Sampai di meja check-in, ternyata dibilang pesawat jam 3:11pm itu ngga ada. Lho koq bisa? Setelah diperhatikan seksama ternyata nomor pesawatku memang 1511 (kebaca 3:11pm), tapi jadwal pesawatnya 18:02 (6:02pm)!

Sepanjang 2 minggu terakhir aku sudah mematri 15:11 itu di otakku!!! Oh la la..... so much for high adrenalin!!! Tapi ya walaupun baru clearing security gate jam 2:45 dan baru nyampe gate jam 2:52.....syukurlah, masih ada 2.5 jam untuk nongkrong.... !!!

Untung salah baca!!

Thursday, November 27, 2008

Akhirnya.... semester berakhir

Dua hari lalu adalah hari terakhir aku mengajar. Seharusnya sih masih dua minggu lagi semester berakhir, tapi karena aku diundang pergi ke 2 benua lain untuk ber-konferensi, jadilah aku menambah 5 sesi minggu lalu (dari 2 jadi 7), supaya semua selesai. Aku gempor tapi mahasiswaku senang.

Hari terakhir kami berpesta pizza, yang kusebut sebagai non-utilitarian pizzas -- sebagai antitesis utilitarianisme (ya aku sering menggunakan contoh gampang dari kehidupan sehari2 untuk menjelaskan konsep2 dalam kelas).... dan kemudian kami menggubah lirik bersama, sebagai cindera mata dari kelas ini. Kami menggunakan lagu "Somewhere Over the Rainbow" dan mengganti liriknya supaya pas dengan tema kelas ini, "Science, Tehnology & InEqualities", jadilah judulnya "InEqualities Resign!".

Sialnya, giliran bernyanyi bersama.... mahasiswa2 ku bandel, tak ada yang mau menyanyi, semua berkonspirasi untuk memaksa aku yang bernyanyi...... ya sudah, ngga papa deh.... sebagai hadiah untuk kelasku ini.

Seru deh.... mahasiswa2 mengangkat tangan, melambai2an, dan mencoba menyalakan lighter seraya mengangguk2... kadang2 juga bertepuk tangan. Sudah seperti konser aja... hehe...

Oh ya, aku juga menulis surat cinta sebagai tanda perpisahan.... Surat lengkapnya ada di sini.... bukan dalam bahasa Sunda tentunya :), sekaligus link rekaman konser di kelasnya, ada di situ juga... :)

Thursday, November 13, 2008

Saya dan dangdut

Tulisan ini diterbitkan di Majalah Madina edisi November 2008.
Versi bahasa Inggris-nya diterbitkan oleh Jakarta Post tgl 10 Nov 2008, sementara tulisan aslinya bisa dibaca di sini.

:::

Menemukan Dangdut di Pittsburgh

Saya orang Indonesia, jadi tentu saya kenal dangdut. Jujur, saya bukan penggemar musik dangdut. Keluarga saya bukan penikmat dangdut, tapi karena saya lahir dan dibesarkan di Dayeuhkolot, pinggiran kota Bandung alias Bandung coret, secara tidak sengaja saya tumbuh bersama musik yang dulu dinamakan irama Melayu ini. Saya mendengarkan musik dangdut mengalun dari rumah tetangga saya, Wak Haji Dodo (almarhum), dari radio tukang tahu di pasar, dan dari senandung bocah-bocah kampung sekitar.

Kenal dangdut berarti juga kenal Rhoma Irama si Raja Dangdut. Ya, tentu saja saya tahu Bang Haji Rhoma Irama. Saya mengenalnya dari berita-berita di koran dan liputan2 televisi. Saya mendengar lagu-lagu-nya dari kaset-kaset yang diputar di dalam ribuan angkot yang membawa saya pulang-pergi rumah-sekolah. Saya bahkan bisa menyanyikan beberapa lagu ciptaan beliau. Begadang, Terajana, dan Bujangan, misalnya.

Tapi apakah saya benar-benar kenal dan mengerti dangdut? Sejauh apa saya kenal Rhoma Irama?

Saya tak pernah menghadiri konser dangdut dan, tanpa pengalaman di Pittsburgh, rasanya seumur hidup saya tak akan pernah punya kesempatan menghadiri konser tokoh legendaris dangdut Rhoma Irama. Jika konser ini terjadi di Bandung, orang tua saya pasti akan melarang saya pergi. “Ngga aman.... banyak tukang becak, nanti kamu dicolek-colek,” mungkin begitu kata-kata ayah saya.

Yang saya tahu dangdut sering direpresentasikan sebagai musik ‘rakyat’. Dangdut dianggap merefleksikan semangat dan aspirasi rakyat, khususnya masyarakat kelas bawah -- orang kecil, rakyat jelata, kaum pinggiran, golongan bawah -- dan sering juga dianggap sebagai musik-nya orang kampung dan mereka yang kampungan.

Saya juga mengamati bahwa dalam konteks yang lain, dangdut kadang-kadang muncul di masyarakat yang lebih atas. Dalam acara-acara resmi, pejabat-pejabat tak sungkan ikut bergoyang dangdut, kadang sebagai simbol ‘merakyat’. Sekali-kali penyanyi-penyanyi pop melantunkan lagu dangdut sebagai tanda bahwa mereka juga bisa ‘merakyat’. Bagi pelajar-pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di negeri orang, dangdut adalah salah satu simbol ‘ke-Indonesia-an’ seperti sambal terasi, rendang, dan Indomie. Serta-merta, begitu sampai di luar negeri, cinta dangdut bukan lagi hal yang kampungan.

Beberapa tahun belakangan ini, saya mulai mengamati dunia perdangdutan dengan lebih seksama. Ini dimulai sejak munculnya kontroversi seputar goyang Inul. Lewat kasus Inul, dangdut muncul dalam diskusi seputar politik dan budaya, menarik para pengamat politik/budaya, aktivis, kaum feminis, peneliti untuk mencermati fenomena ini.

Kisruh seputar RUU-APP semakin mengangkat dangdut ke tataran elit, tapi hanya dalam wacana. Dangdut sebagai musik dan bentuk ekspresi tetap berkumandang di kalangan bawah.

Seorang Rhoma Irama muncul dalam wacana ini, dan hampir selalu digambarkan sebagai wajah yang muncul dari pihak yang berusaha memerangi ‘kebebasan berekspresi’ yang wakili oleh (goyang) Inul. “Perseteruan Inul-Rhoma Irama” menjadi simbol perang ideologis antara nilai-nilai keagamaan, pola-pola partriakal, konservatisme, dan fundamentalisme, melawan demokrasi, kebebasan individual, dan kesetaraan gender. Seorang Rhoma Irama direduksi menjadi tokoh dangdut yang berdimensi satu = konservatif fundamentalis.

Sebuah undangan untuk menyampaikan makalah di “Konferensi Internasional Islam dan Budaya Popular di Indonesia dan Malaysia” di Universitas Pittsburgh yang dilayangkan Profesor Andrew Weintraub membawa saya ke sebuah kenyataan yang tak pernah muncul dalam imajinasi saya. Pertemuan dengan seorang Rhoma Irama. Sebuah perasaan campur-aduk yang asing dan tak dikenal muncul. Ada perasaan bangga karena saya akan bertemu seorang tokoh legenda. Tapi juga ada perasaan yang tak genah yang muncul, bukan karena saya bukan penganut aliran dangdut, tapi mungkin karena saya tak sanggup menepis citra (dan prasangka) seputar Bang Haji Rhoma Irama yang muncul dari label-label yang mereduksi tadi.

Malam itu, hari kedua konferensi, sebelum konser dimulai saya masih bergumul dengan perasaan saya sendiri. Saya duduk di bangku paling depan, tepat di depan panggung, bersama pak Ishadi SK dan Bapak Duta Besar Indonesia. Bang Haji Rhoma dan kru Soneta berdiri begitu dekat. Sebuah pengalaman yang sureal. Hampir seperti mimpi. Konser dangdut pertama dalam hidup saya! Lagu pertama, berjudul “Dangdut”, berlalu. “Menarik,” saya pikir, tapi saya hanya bertepuk tangan dan duduk di bangku. Lagu ke-dua, ke-tiga, saya mulai ikut bergoyang kecil di tempat duduk saya. Lagu ke-empat, dan beberapa pelajar Amerika mulai bergoyang, hanay 4 orang. Pak Ishadi berbisik, “Merlyn, joged yuk?”. Saya ragu. Masih ada rasa gengsi. Tapi tak lama saya ikut bergabung dengan Pak Ishadi dan para mahasiswa lain, membentuk gerombolan goyang pertama! Lama-kelamaan akhirnya lebih dari setengah penonton, yang tadinya duduk, bergoyang di depan panggung. Pelajar, masyarakat sekitar, pejabat, dan profesor segala bangsa, semuanya bercampur-baur dalam goyang dangdut. Semakin lama bergoyang, rasa gengsi menipis, dan akhirnya goyang itu menjadi sebuah kenikmatan. Lirik dan musik dangdut Rhoma Irama menjadi terasa lebih nikmat.

Goyang saya kali ini berbeda dangan goyang2 dangdut yang saya luncurkan di banyak acara2 budaya Indonesia. Bukan bergoyang ala kadarnya! Ketika konser itu berakhir, tubuh dan jiwa saya masih dilanda dangdut, masih ingin menikmati dangdut.

Malam itu saya berkenalan dengan dangdut dalam arti yang sebenarnya. Merasakan dangdut dalam sebuah ritual kolektif yang menciptakan ‘dangdut moment’ bagi saya. “Hanya orang jaim saja yang ngga mau ikut goyang!” Momen yang membebaskan diri dari status, posisi, label, dari perasaan malu/gengsi! Momen yang membuat menyadari bahwa ada ‘dangdutness’ dalam diri saya. Ya, dangdut yang merakyat, pinggiran, dan kampungan!

Ketika konser ini berakhir, saya mulai lupa dengan perasaan awal saya terhadap Bang Rhoma Irama. Dan interaksi saya dengan beliau di belakang panggung -- bersama para pembicara/moderator konferensi lainnya -- membuat saya ingin mengenal tokoh dangdut ini lebih jauh. Tak sabar saya untuk menunggu beliau menyampaikan makalah di konferensi.

Keesokan harinya, Bang Haji menyampaikan makalah mengenai dakwah dan dangdut lewat perjalanan karir kelompok dangdut Soneta. Seorang tokoh legendaris dangdut, berpakaian hitam-hitam, berdiri di depan podium, di depan tokoh-tokoh intelektual. Dengan pengucapan yang sangat baik, beliau menyampaikan sepotong sejarah dangdut yang begitu menarik, dalam bahasa Inggris yang teratur. Saya terpana.

Lewat paparan sejarah yang disampaikan Bang Haji, saya belajar begitu banyak mengenai dangdut. Saya baru tahu bahwa beliau dan Soneta sempat dilarang tampil di publik selama 11 tahun. Saya juga baru menyelami bahwa setiap lagu diciptakan sebagai tanggapan terhadap berbagai fenomena sosial, budaya, politik. Saya menjadi mengerti mengapa bagi para penggemarnya, lagu-lagu Rhoma mewakili berbagai ekspresi yang ingin mereka ungkapan pada kekasih, teman, orang-tua, bangsa, dan negara.

Dalam wacana-wacana mengenai dangdut, ‘rakyat’ diposisikan sebagai ‘ketinggalan jaman’, ‘kampungan’, sebagai oposisi dari kemajuan dan pembangunan. Kaum intelektual sering menggunakan mereka untuk mengeritik modernitas. Padahal, lewat dangdut, dan dalam dangdut dan berdangdut, justru rakyat menemukan jati diri, eskpresi, dan aspirasi mereka serta menjadi diri mereka sendiri. Hal inilah yang saya temukan lewat perkenalan saya dengan Rhoma Irama.

Perjalanan dangdut ke Pittsburgh tidak mengkonversi saya menjadi penganut musik dangdut. Tapi di Pittsburgh, saya menemukan bahwa dangdut bukanlah ruang yang homogen. Dangdut tidak monolitis. Ia bukan lambang kemunduran maupun kemajuan. Dangdut adalah ruang dimana kontradiksi sosial, budaya, dan politik bertemu. Dangdut adalah ruang dimana nilai-nilai dikontestasikan. Dangdut adalah ruang dimana hal-hal keseharian bertemu dan berbenturan. Dalam dangdut dan lewat dangdut, saya menemukan sisi kampungan saya yang membuat saya nyaman, genah, dan bebas.

Sungguh ironis, butuh 21 tahun duduk di bangku sekolah dan sebuah karir di dunia akademis untuk mempertemukan saya secara pribadi dengan si ‘dangdut’.

:::

Rekaman lengkap presentasi Bang Haji, klik:

http://www.youtube.com/watch?v=UKf5anh1_xk (part 1)
http://www.youtube.com/watch?v=2RUIddcplFE (part 2)
http://www.youtube.com/watch?v=rinlkG3UO8c (part 3)

Monday, October 20, 2008

DiObok-Obok

Entah mengapa.... akhir pekan ini berlangsung dengan penuh keajaiban. Tak ada kata yang sanggup menjelaskan bagaimana ajaibnya akhir pekanku ini, hehe.

Perkenankan saya merangkum cerita tak terjelaskan itu dalam sebuah lagu dari Joshua, DiObok-Obok!

Silakan menikmati :p

Lim_diObokObok_2 - Merlyna Lim

Monday, October 13, 2008

[Dari Pittsburgh kembali ke Tempe] Mustinya sih mulus... tapi koq ya....

English version click here

Doa beberapa teman terkabul.....

Kemarin malam saya merenungkan pengalaman bandara saya yang terakhir. Saya bertanya dalam hati, “Apakah mungkin seseorang mengalami kejadian aneh dua kali di dalam satu perjalanan, saat berangkat dan saat pulang?” Mustinya kan kemungkinan itu sangat kecil, walaupun sering terjadi pada diri saya. Pemikiran itu membuat saya hampir yakin bahwa takkan ada kejadian macam2 di perjalanan balik ke Tempe.

Saya sudah mengepak koper malam2 dan pagi ini bisa cek out serta titip koper di resepsionis sebelum pergi ke konferensi. Hari terakhir konferensi sangat berkesan! Walaupun saya sangat lelah, tak enak badan, tapi tetap sangat menikmati acara2 hari ini, terutama presentasi Bang Haji Rhoma Irama serta sesi tanya-jawab dengan beliau. Sangat impresif! Mengubah kesan dan pandangan saya terhadap beliau dan dangdut. Saya akan dan harus menulis ttg hal ini. Ya saya akan!

Konferensi berakhir pukul 1:30 dan saya harus bergegas kembali ke hotel karena supir akan menjemput pukul 1:45. Sebetulnya jarak hotel-konferensi dekat, hanya 5-7 menit jalan kaki. Tapi ya saya tetap harus lari karena saya berangkat dari konferensi agak terlambat, maklum kan harus berpamitan dahulu. Gara2 tergesa-gesa, saya terjatuh di tengah jalan. Ya pas lampu merah sih. Tapi ya lumayan biru2 lutut kiri dan ankle kanan saya. Duh! Sampai di resepsionis ternyata baru sadar bahwa stub penititipan koper hilang jadi butuh waktu untuk mencari koper. Terus pas saya tanya tentang supir, dua staff yang ada di situ ternyata tak tahu menahu. Mereka bilang kalau perlu ya mereka bisa mengusahakan sekarang. Tapi masalahnya transportasi saya kan sudah dibayar oleh Universitas Pittsburgh, jadi saya bingung juga. Eh, tahu-tahu, salah satu staff berkata, agak berteriak,”Oh, wait a minute, are you Dr. Lim?” Tentu saja saya jawab iya. Ternyata ada seseorang yang mencari saya dan orang tersebut untungnya masih ada di luar, di depan lobby hotel, nangkring di dalam sebuah mobil hitam. Tanpa ba bi bu, saya langsung lari ke luar untuk menahan si supir. Kemudian saya balik ke resepsionis untuk mengambil tas dan koper. Si staff bilang,“Luckily you wear a nametag (ada tulisan Merlyna Lim), otherwise how could I guess that you’re Dr. Lim?!?” Oh ya, memang saya memakai nametag seharian, tidak terlalu sadar sih, lha itu nametag terbawa tidur koq.

Untunglah si supir tidak meninggalkan saya. Dari Brian, si supir, saya baru tahu kalau pihak hotel bilang kalau Dr. Lim itu tidak pernah nginap di hotel tsb! Ya ampun. Ah, ya sudahlah, pokoknya saya sampai di bandara dengan selamat. Lagian Brian supir yang menyenangkan.Ternyata si supir ini punya PhD di bidang Ilmu Komputer dan baru pensiun dari militer 2.5 tahun lalu. Obrolan kami menarik sekali.

Saya sampai di bandara lebih dari satu jam sebelum waktu keberangkatan. Jadi mana mungkinlah ketinggalan pesawat? Ya kan?

Pintu keamanan (security gate) dilewati dengan mudah. Tak ada antrian panjang. Tapi waktu saya mengambil barang2 yang diperiksa di mesin sinar x, terjadi kejadian ajaib. Saya kan baru ambil ikan pinggang kulit dari mesin dan berusaha memakainya di celana jeans saya. Tahu2 seorang laki-laki muda bertubuh besar berkaos merah menepuk bahu saya. Dia bilang, ”I’m sorry, I think that’s my belt.” Ya ampun, ternyata saya main sabet aja. Ibu-ibu yang berdiri di belakang saya langsung tertawa2. Malu dikit, saya bilang sama si ibu,”Pantesan, gede banget.” Ya, itu sabuk nya emang gede banget. Heran juga kenapa saya sabet yang segede itu... hihi.

Gerbang saya dekat banget dengan pintu keamanan, jadi muluslah sampai di sana. Tapi entah bagaimana dan kumaha, mungkin kombinasi antara kecapaian goyang dangdut, sisa2 masih sakit, dan kurang tidur, tahu2 saya menghilang begitu saja (ketiduran maksudnya) dan baru sadar pas seorang bapak brewok menepuk saya seraya berkata,”Maam, it’s time to board.” Saya langsung ngorejat hudang alias terkejut bangun!

Ya, saya orang terakhir yang boarding. Tak masalah sih kalau tahu2 tidak terjadi kesalahan sistem! Terjadi hal yang dinamakan "spinner" (ini menurut si petugas Southwest yang kemudian ngobrol2 dgn saya) sehingga saya ngga kebagian tempat duduk. Kalau mau maksa bisa sih, paling2 harus duduk di pangkuan bapak pilot atau di toilet! Eh, beneran mungkin bisa, tapi harus ada relawan yang keluar menggantikan saya. Tapi ya sudahlah, saya pasrah sih. Si Southwest memindahkan saya ke pesawat berikut dengan memberi ganti tiket baru, ditambah voucher seharga tiket yang sudah dibeli dan bonus 200 dollar. Totalnya $416.50. Lumayan nih bisa dipake main ke Indiana dan New York :) Saya juga diberi voucher makan malam sejumlah $12. Si petugas ramah dan baik sekali pada saya apalagi pas tahu kalau saya professor di ASU. Ternyata anak dia dulu kuliah di ASU dan dia berpendapat kalau professor-professor di ASU itu hebat! Hahaha. Gara-gara delay ini saya juga jadi bisa ngobrol2 dengan kolega dan teman baik saya Muhamad Ali yang pesawatnya ke LA dijadwalkan tak lama sebelum pesawat saya.

Ya memang ternyata kisah bandara kali ini pun macam2. Tapi fun-fun saja. Saya akan tiba di Tempe hari ini juga toh. Sekarang sudah 3/4 jalan, sudah di Las Vegas. Lebih dari itu saya juga kan mendapatkan cerita2 menarik, ketemu orang2 yang asik.... ditambah lagi dapat makan malam gratis dan tiket untuk berlibur di hari depan!

lady dayeuh terdampar di Las Vegas

Friday, October 10, 2008

[Pittsburgh] Kembali ke....... airport!

Bagi mereka yang (selalu) menanti-nantikan cerita hebohnya perjalanan saya.... kecele luuu... kagak ada cerita kali ini...

Ugh, bohong deng.... ada cerita, tapi kali ini tertulis dalam bahasa Inggris, terus saya malas menterjemahkan.

Pinginnya sih kagak ada cerita, karena berarti kan perjalanan lancar-sulancar! Dasar nih para pembaca blog suka mendoakan supaya saya ada cerita ya? Ngakuuuuuu.... :)

Anyway.... silakan baca cerita-nya di sini ya....

Things Go Wrong just to Go ..... ?

Tuesday, October 07, 2008

Selamat hari raya Idul Fitri

Maaf terlambat.... semoga masih berkenan diterima ucapan saya ini...

Selamat Hari Raya Idul Fitri 2008

maaf lahir batin

oh ya, kartu/musik ucapan pribadi Lebaran tahun ini hanya ada dalam bahasa Inggris, di sini; maafkan ya... tak sempat membuat dalam bahasa Indonesia.

Sunday, September 21, 2008

Ketiduran & mengetes kasur

Kemarin malam (sore) sekitar jam 6:30pm aku pergi ke sebuah outlet furniture untuk mencari mattress/kasur. Selama ini aku belum punya kasur.

Sebelumnya aku tidur di mattress pinjaman (yang disimpan di rumahku sementara, milik seorang mahasiswa yang intern di Indonesia selama summer). Kemudian pas si mahasiswa kembali, tentunya si perangkat kasur juga ikutan diangkut.

Sudah sekitar 2 minggu saya tidur di sofa futon. Not bad, not good. Untuk sementara tak masalah, tapi tentu saja aku butuh kasur betulan, a mattress set. Jadi setelah menengok2 toko2, online dan offline, meneliti, membandingkan, dll, selama berbulan2, dapatlah satu toko yang menjual mattress2 berkualitas tinggi. Toko ini akan ditutup seminggu lagi, jadi sedang diskon besar2an. Aku sudah mengecek minggu lalu dan sudah memutuskan akan membeli salah satu mattress dari 4 potential mattresses.

Kemarin aku kembali ke toko yang sama untuk meyakinkan diri sendiri, manakah mattress yang akan aku pilih. Jadi ber-tidur2an lah aku di beberapa mattress. Mattress kedua yang aku coba enak sekali.

Hmmmm.... nyaman......ooooh.....sedapppp....ooooh.....zzzzZZZZzzzz.....

"It seems that someone just easily passed out there..." Tahu2 terdengar suara. Kulihat seorang lelaki Caucasian senyum2 memandangiku.

Aku langsung terbangun. Arrrrrggggggggggggggghhhhhhhhhh!!!!!!!!! Ternyata aku ketiduran di mattress itu! Dengan senyum malu sedikit kikuk aku menyahut,"Oh, uh.... uhmm... this one is so comfortable.....it kicked me on my head." Berapa lama aku tidur di situ? Hanya si kasur yang tahu..... :)))

Setelah mencoba beberapa mattress lain.... dan tidak ketiduran, aku yakin akan si mattress nomor dua itu :)) Cara mengetes yang paling ampuh ya kan? :))

Tuesday, September 16, 2008

Ode untuk si Acak-acakan

Antara using, iseng, dan tak jelas, akhir pekan yang baru lalu aku menghasilkan beberapa sketsa, beberapa rekaman, dan satu ode/puisi.

Salah satunya adalah ttg clutter alias acak-acak, yang lengkap dengan puisi, sketsa serta rekamannya.

Narasi lengkap ttg si clutter ini ada di blog sebelah, malas menterjemahkan. Baca aja di sana ya? Nih di sini: http://www.merlyna.org/blog/index.php/2008/ode-to-clutter/

Ini dia sketsa-nya:



Itu adalah 'rekaman' visual meja kerja ku di hari Sabtu. Hari ini? Tentu saja lebih acak-acakan.

Sementara itu rekaman audial, adalah seperti ini:

Lims Ode to Clutter - Merlyna Lim

Harus dengarkan yang satu ini, soalnya ini adalah maha karya klasik ku...huahahaha.

Lirik lengkap dan narasi-nya, ya silakan dibaca di sini ya.

Mohon maaf jika jiwa anda terganggu setelah baca/mendengar si Ode ini :D

Friday, September 12, 2008

Yang tercecer dari Jokja: Amplop, Kurir & Ojeg

Ada satu kisah yang mempanikan, menghebohkan, mengsipu-sipukan dan sekaligus membahagiakan dan mengharukan yang terjadi sudah agak lama. Kisah ini terjadi dalam kunjunganku ke Djokdja yang terdahulu dan kopdar dgn MPers Djokdja untuk pertamakalinya.

Waktu itu begitu acara di Djokdja selesai, aku harus cepat-cepat mengejar kereta api ke Bandung yang dijadwalkan berangkat jam 9-an dari setasiun (udah lupa, kayaknya sih jam 9:30 malam). Aku sudah mengepak koper dan tas sebelumnya, jadi ya tinggal berangkat saja. Sepanjang jalan cukup deg-deg-an takut terlambat. Saking takut terlambat, aku memutuskan untuk melakukan interview (yang sedianya akan dilakukan di hotel Novotel, tempat aku tinggal) di dalam mobil yang mengangkut diriku ke stasiun.

Aku sampai di stasiun hanya sekitar 5 menit sebelum jadwal kereta. Aku langsung dapat kurir yang membantu dan aku memberitahu padanya bahwa keretaku sudah akan sampai ketika kudengar pengumuman.... "Kereta api tujuan Bandung..... kereta api tujuan Bandung.. sudah tiba di stasiun..."

Kami, aku dan si kurir, sudah bersiap-siap lompat ke kereta, walaupun kulihat penumpang2 lain koq ya masih santai. Eh... baru kudengar lanjutan dari pengumuman itu.... ternyata..."Kereta api tujuan Bandung sudah tiba di stasiun.......Nganjuk!" Duileh... itu sih jauh...

Jadilah aku bersantai2 duduk lagi. Sambil menunggu aku menghitung uang recehan yang kumiliki untuk membayar si kurir. Ternyata aku cuma punya duit di saku 11 lembar.... duit seribuan! Ya, Rp.11,000. Wah, kayaknya harus dikasih Rp 20,000 deh, kupikir. Jadi kucarilah amplop yang baru aku dapat dari si konferensi (hehe, dapat honoraria pembicara). Lho, ternyata kucari-cari si amplop tak ada. Aku sampai membongkar koper segala. Sampai lebih dari 30 menit lho aku mencari-cari, dan ternyata tak kutemukan si amplop. Aku langsung panik. Wah, gimana ini, dengan sebelah ribu perak harus bertahan sampai rumah di Dayeuhkolot! Padahal si kurir yang sudah nangkring dengan koper2ku ini juga musti dibayar!

Bingung mau minta tolong siapa untuk tanya nomor hotel Novotel, langsung kutelepon mas ID yang teman MPku yang waktu itu jadi fasilitator di konferensi tersebut. Kubilang, Mas, aku ketinggalan "amplop" di hotel. Si Mas ID langsung memberi nomor hotel dan kuteleponlah si hotel itu. Untunglah aku masih ingat di mana letak si amplop tersebut, yakni di dalam lemari baju, tepat di dekat safe deposit box yang sudah terbuka. Ternyata, ooh, syukurlah, si amplop masih nangkring di sana dan kamarku masih belum tersentuh. Jadilah kubilang nanti diambil oleh temanku yang namanya Mas ID tersebut yang juga adalah tamu di hotel Novotel.

Langsung kutelepon Mas ID untuk mengabari ttg kabar baik itu sekalian meminta Mas ID untuk bersedia dititipi amplop. Aku sendiri bilang kalau tidak ada yang mengantar ke stasiun ya sudah nanti amplopnya diambil di Jakarta saja (walaupun dalam hati bingung karena kagak punya duit!). Tapi kebetulan Mas ID sedang kumpul2 dengan teman2 MP di Yogya, tepatnya di Momento, bersama mbak Hida, Debi, Laalaalaa (ikutan ngga La?), Difla, Imazahra.... dan juga Ari yang kebetulan sedang ada di sana. Jadi mas ID bisa cari tumpangan untuk ngambil amplop di hotel terus ke stasiun. Masalahnya kalau kereta ku sudah mau berangkat gimana ya? Ya sudah... pokoknya dicoba dulu lah.

Eh, sebetulnya aku juga ingat kalau aku meninggalkan beberapa potong CD .... udah dicuci...jadi bersih lho... tapi malu untuk bilang sama mas ID waktu itu. Jadi ya sudah direlakan saja... nangkring di Novotel..... :D

Sambil dag-dig-dug, aku menunggu mas ID. Lamaaaa rasanya. Aku berharap-harap kereta-nya terlambaaaaaat sekali, supaya yang ngantar amplop sampe duluan. Ternyata harapanku terkabul. Datangnya mas ID dengan amplop, di antar oleh seorang supir ojeg istimewa.... sebelum keretanya datang!!! Mereka datang dengan terengah-engah sembari nyengir-nyengir kuda. Wah, betul-betul bahagia aku saat itu melihat mereka berdua....... Selamatlah diriku dari keterlantaran akibat tak punya duit. Ternyata teman-teman MPku emang TOB... bisa jadi kurir dan supir ojeg..... :)

That's why I love Djokdja even more :))

dedicated to mbak Hida supir ojeg sejati dan mas ID kurir handal... :D

Wednesday, September 10, 2008

Putus

Hari ini mungkin "hari putus koneksi otak dengan tubuh" sedunia. Tak ada yang salah dengan si otak, tak ada yang salah dengan si tubuh, tapi tahu2 mereka tidak nyambung.

Jadi pagi ini, eh, siang sih, aku bangun dan langsung ingat bahwa aku ada rapat makan siang (lunch meeting) dengan seorang profesor bidang legal/hukum yang nanti akan bicara di e-Lunch (enLIGHTeNING lunch) yang aku koordinasi. Tanpa melihat agenda elektronikku, aku ingat, pukul 11:45 di Sacks.

Sekitar 1.5 jam sebelum si rapat aku dapat email bahwa si profesor akan mengenakan celana panjang putih dan kemeja merah. Aku membalas bahwa aku akan mengenakan celana selutut coklat dan kemeja putih. Ya memang kami sudah ber-email-ria tapi belum pernah bertatap muka.

Pukul 11:20 aku sudah mulai bersepeda ke arah Sacks. Paling-paling hanya dibutuhkan 10-15 menit untuk mencapai kafe itu. Aku memakai kemeja coklat muda dan celana coklat tua, bukan kemeja putih. Tapi aku akan singgah di kantor dulu mengganti baju, karena kalau bersepeda pasti banjir keringat. Dan aku ingat sekali kalau baju ganti yang tergantung di kantor itu warna putih.

Eh, baru menyepeda 3 menit, aku baru ingat kalau aku lupa bawa dompet, padahal tadi dompet itu sudah kuletakkan di meja bersama kunci sepeda. Duh. Jadilah aku kembali ke rumah, ambil dompet dan balik lagi. Hilanglah sekitar 6-7 menit. Aduh, sekarang 10 menit waktu cadanganku habis. Ya kuputuskan untuk tidak singgah di kantor. Ya sudah coklat muda anggap saja putih. Aku meneruskan mengayuh sepeda.

Entah kenapa, sekitar 15 menit kemudian aku malah sampai di tempat makan yang judulnya bukan Sacks. Tapi House of Tricks. Ketika aku berhenti dan memarkir sepeda di sana, aku bertanya pada diriku sendiri "Kenapa ke sini ya?" Tak kutemukan jawaban. Jelas2 letak Sacks dan House of Tricks itu berbeda sekali. Dan bentuknya berbeda, dan makanannya pun berbeda. Padahal di benakku aku bisa membayangkan arsitekturnya Sacks, interiornya, makanannya, dan bahkan lokasinya.

Ya sudah, aku mengayuh sepeda ke arah Sacks. Sudah terlambat sekitar 7 menit ketika aku sampai di kompleks tempatnya Sacks. Tahu2 aku melihat deretan retail rooms besar2 yang kosong. Lho, koq Sacks tidak ada di sini? Apa sudah bubaran dan pindah? Aku panik.... lagian aku tak punya nomor telepon si profesor hukum itu.

Kutarik napas panjang dan berhenti sesaat. Kemudian aku menuju ke tengah lapangan parkir. Kulihat ada tulisan besar "Sacks". Lho koq ada ya? Tadi kulewat daerah situ Sacks tak ada. Waaah..... ajaib niiih!

Ya sudahlah, pokoknya sudah ketemu. Masuk Sacks, kulihat seorang laki-laki berbaju kotak2 merah orange dan celana putih krem. Langsung kudekati dan diapun langsung tahu bahwa itu aku. Aku meminta maaf atas keterlambatanku, dia bilang "It's OK, I was a couple minutes late myself." Lalu kami memesan makanan.

Sampai di meja yang kami pilih, aku berusaha menjelaskan bahwa aku terlambat gara2 aku salah memindai, malah bersepeda menuju tempat lain. Lalu aku juga dengan ribet dan terburu2 menjelaskan kenapa aku tidak memakai baju putih dalam sebuah kalimat panjang...."Oh, and I don't wear white either.... see, when I am cycling I get sweaty so I have to change my clothes ... and I am pretty sure it was a white shirt I have in my office.... but shucks, I was late... I couldn't change...so.." Dia terbengong-bingung dengan cerita yang tak jelas itu. Hihihi. Lalu aku karena ribet bercerita malah menyenggol gelas air minumku sampai membasahi sebagian besar meja.

Entah apa yang si profesor hukum pikirkan. Ini cewe aneh amat kali ya... Sudah terlambat dengan alasan malah pergi ke kafe lain, katanya mau pake baju putih tapi ternyata ngga, terus tahu2 membanjiri meja pula...

Wah... pokoknya heboh deh rapat ku kali ini. Untunglah tidak terjadi hal2 yang jauh lebih memalukan. Kayaknya akhirnya si profesor bisa mengerti.... atau tidak? Ya sudahlah, pokoknya dia tetap akan datang di e-lunch yang aku adakan itu.

Memang hari 'putus' sedunia.

Thursday, September 04, 2008

Es lilin ala jangar

Pulang ke rumah cape sekali, ngga enak badan, tapi harus ngerjain persiapan kuliah besok, menjawab setumpuk email, mengurus urusan perjalanan2 yg tak selesai2, dan menulis paper-paper. Jadinya jangar binti lieur binti hareeng (artinya apa? tanya saja sama tetangga atau rumput yang bergoyang).

Akhirnya saya putuskan untuk menjamah si piano elektrik yang lama tak dimainkan. Terakhir bermain malah di Narita, di tempat keluarga Mertani-Akhtar (oooh, I miss you all). Dan saya ingat, di sana pun, main piano itu menyembuhkan... fisik dan mental!

Ada sebuah lagu yang waktu itu saya mainkan di sana. Lagu Sunda... yang ngga pernah saya mainkan sebelumnya di piano. Jadi pertama kali main dengan gaya selengean ya di Narita. Kali ini saya coba mainkan lagi. Ternyata tak bisa mengulangi apa yang saya mainkan di sana. Tapi ya sudahlah... maklum lagi jangar... jadinya ya liar begini. Ini direkam langsung pas main... seingatnya... semaunya... dan direkam dengan error-error keserimpetnya.. :p

Lagu ini saya persembahkan untuk keluarga Mertani-Akhtar... juga buat Sakura Lady dan Hoho :)
Dan untuk segenap pembaca blog ajaib ini..... silakan menikmati juga... kalau ngga nikmat... ya udah ngga usah didengerin... ini lagu ttg es-krim koq :)

ES LILIN ALA JANGAR BY LADY DAYEUH

Thursday, August 21, 2008

[Masih ttg si Big Trip] Tokyo: Hampir sih... tapi....

Si Big Trip round-the-world 7 minggu-ku sudah berakhir. Sejak posting terakhir (dari mana ya) kira-kira sebulan lalu, aku tidak menulis ttg kisah2 dari perjalanan ini. Bukannya tidak ada kisah, baik yang normal maupun abnormal, cuma belum/tak sempat tertulis saja. Jadi sekarang kutulis deh, mulai dari yang paling anyar, terus mundur aja ya? Atau mungkin random aja lah, soalnya malas berkronologis.

Perjalanan (hampir) terakhir menuju Amerika Serikat adalah dari Narita, Tokyo, setelah (extended) transit di Chiba dan Tokyo selama 3 hari kurang (cerita dan foto2 si transit istimewa ini akan ditayangkan kemudian ya). Perjalanan menuju bandara cukup atau bahkan sangat mulus. Maklum, supir taksi-nya bukan hasil nyegat di jalan, tapi supir istimewa asal Pakistan yang sudah kecipratan budaya Indonesia dari soulmate-nya dan sudah luntang-lantung di Jepang selama berabad-abad :)

Kami datang di bandara sekitar jam 12:30-an, padahal pesawatku baru akan berangkat jam 3:55. Ini karena aku salah mengingat ultimatum dari bapak inspektur imigrasi Narita. Kupikir aku wajib kena cap 'departure' di meja imigrasi paling lambat jam 1:55pm, eh ternyata 2:55pm (kenapa begitu, nanti aku ceritakan di posting lain). Tak apalah, kesalahingatan ini membawa berkah. Coba kalau aku betul mengingat, jadinya malah mungkin ketelatan pesawat, terus cerita ketinggalan pesawat ku yang sudah bertebar di mana-mana akan berulang.

Check-in berlangsung dengan mulus, thanks to my Elite membership aku tak usah ngantri di barisan ekonomi, walaupun tiketku jelas tiket kelas ekonomi. Setelah check-in, aku dan keluarga Mertani-Akhtar makan siang ala Thailand (ala Jepang). My pad-thai was oishi!

Lalu tibalah bagian aku ngantri di costum/security..... dan ber-dadah-dadah saying goodbye dengan Dian & Saeed, Raisa & Ken..... It was a sentimental farewell :(

Aku melewati security gate dan costume desk dengan lancar. Berhasil 'resmi' keluar sebelum waktu yang diultimatumkan! Belum jam 3pm, aku sudah sampai di departure area. Gate number 26, aku menuju ke sana. Aku bergumam sendiri, "Wow, surprisingly smooth.... this is rare."

Aku lalu duduk menunggu pesawatku boarding, di gate 26. Sambil menunggu aku buka-buka laptop. Gate itu benar-benar sepi. "Ya, maklum, masih lebih dari satu jam lagi kan.... makanya sepi,"pikirku.

Kupasang headphones, berlaptop dan nginternet-lah aku sambil mendengar musik sambil kadang2 melirik ke arah meja halo-halo-nya gate. Kupikir kalau mau boarding kan pasti kelihatan banyak orang berbaris. Maka asiklah aku bergaul dengan laptopku. "Enak juga kalau perjalanan mulus, jadi banyak waktu untuk ngelaptop,"kataku dalam hati.

Waktu berlalu.... entah berapa lama. Tahu-tahu kulihat jam.... 3:40? What? Koq belum boarding juga? Ada banyak orang sih yang duduk-duduk di situ.... tapi koq pesawat ngga berangkat-berangkat? Kan ini hampir jam 4!!! Kutengok layar monitor.... lho koq pesawat-nya menuju Seoul? Kuambil boarding pass di saku celanaku, oooh... ternyata salah gate!!!! Harusnya gate nomor 27 yang letaknya memang agak jauh dari gate 26 (ngga keliatan dari tempat duduk gate 26), karena berada di cluster yang berbeda.

Kulipat laptopku dan kurapihkan kabel serta headphones lalu kulari cepat-cepat ke gate 27. Tak lama kudengar sebuah panggilan.... "Passenger Lim... passenger Lim...." Terdengar familiar, ya? :))

Sampai di gate, untunglah aku tidak ditinggal. Sangat beruntung, malah. Pesawat menunggu dengan setia karena tanpa setahuku aku ternyata adalah penumpang business class! Yayyyyyy!!! Kelas ekonomi penuh, sehingga passenger Lim dipindah ke kelas bisnis dan diperlakukan spesial pakai telor pakai steak pakai eskrim! Wow.... memang untung beruntung!!!! Transit di Narita Tokyo memang penuh cerita asik untuk Lady Day!!!

Wednesday, August 20, 2008

[Post Big Trip] Kembali ke Rumah Tempe

Lega rasanya bisa sampai rumahku tertjintah di Tempe ASU Gila ini lagi setelah kelayapan di darat, laut dan udara selama 7 minggu.

Walaupun sempat panik karena ternyata kunci rumah tertinggal di DayeuhKolot, berkat kesigapan si Singaporean housekeeper, aku bisa masuk rumah dan menemukan rumahku dalam keadaan kinclong, cling, bersih, rapi! Walaupun taman belakang dan depan sudah gondrong sekali seperti hutan.

Kubilang pada kolega Singapur ku itu, "Wow, apparently Singaporean maid is great. You did a great job! Can I hire you for the rest of semester?" Wah, kapan lagi coba punya pembantu orang Singapura yang tamatan PhD pula? :))

Sampai rumah malam-malam, cape, lapar dan ngantuk. Ternyata kulkas kosong. Untunglah ada buah apel yang menyelamatkan dan tidurlah aku sampai jam pagi.

Paginya aku mau bikin kopi, tapi tidak ada cream ataupun susu, dan tidak ada si Irish liquor. Waduh! Kuputuskan untuk pergi ke supermarket untuk beli makanan. Eh, si mobil yang selama 7 minggu tidak dipanaskan ternyata mati, mogok! Ya sudah, kembali ke apel, apel, apel, sampai siang. Sore-sore kucoba kudorong si mobil. Eh, didorong sedikit ternyata bisa nyala lagi. Jadilah aku bisa pergi ke supermarket.

Ternyata setelah menyetir di Bandung dan berada di negara2 yang menyetir 'on the wrong side', balik ke sini aku menjadi disorientasi alias lieur. Lagi-lagi wiper-ku menyapu-nyapu kaca depan setiap aku mau belok. Belum lagi aku selalu pingin jalan di sebelah kiri. Tambahan lagi, setiap kali parkir aku buka pintu sebelah kanan. Wah, di manakah aku berada? Wrong time-zone?

This time, more complicated than other post-trip situations, I think my mind is still in Dayeuhkolot, my eyes in St Petersburg, my head in Utrecht, and my fingers in Chiba...... and where is my body located?

Jangar...jangar....sarekeun heula..... eh "kojaykeun heula ah" (esduren, 2008).

Wednesday, July 23, 2008

Kalau lagi kambuh .....

Kalau Lady Day lagi kambuh iseng dan deket-deket ada gitar yang nganggur bisa dipinjem... hasilnya adalah ini....

Silakan nikmat'i :p

The Heli ala Amy WineHouse

The MeatBall ala Edith Piaf


kedua-duanya direkam di Leiden oleh Lady Day, dengan backing auw dan miauww oleh KucingKembar.

Tuesday, July 15, 2008

[Moskow] Metro terindah di dunia

Kalau anda takjub melihat keindahan metro2 di Paris, kerapihan dan kebersihan metro2 di Washington DC, keefisienan metro2 di Jepang, atau kereta di Belanda..... pasti anda akan menikmati Metro system ter-efisien dan sekaligus terindah di dunia, yakni Moscow Metro.

Cerita lengkap ttg Moscow Metro, silakan klik tulisan saya di blog yang berbahasa Inggris.

Silakan menikmati keindahan Metro tersebut dalam kolase ini:



Kalau mau lihat foto2 dgn resolusi yang lebih tinggi:

Tuesday, July 08, 2008

Sekelumit cerita dari Rusia

Sekarang saya sedang ada di Moskva aka Moskow, yang saya kunjungi setelah ber-konferensi di St Petersburg.

Banyak cerita, tapi untuk saat ini saya tidak punya waktu untuk menulis. Jadi silakan nikmati saja foto2 ini ya.

St Petersburg di malam hari
Hayo tebak jam berapakah foto2 ini diambil?



Moskow di siang hari

Wednesday, July 02, 2008

Thriller Bandara (bag 3 - tamat)

Sambungan dari Airport Thriller (1) dan (2)-- harus baca tulisan2 itu dulu ya, kalau ngga, ngga ngerti lho....dan pasti nyesel di kemudian hari :)

Sebelumnya aku minta maaf ternyata potongan-potongan cerita ini bikin jantung copot, tegang, sakit perut, dan sebagainya. Maafkan diriku, tak bermaksud menjadi sumber penyakit :p

Jadi setelah hampir pasrah dan mulai memikirkan apa yang harus kulakukan selanjutnya, kulihat Kenny masih berada di meja US Airways. Kudengar suara menyebut ".....Ms. Lim" di mikropon dan Kenny menginformasikan bahwa Ms Lim ada di sini.

Kenny dan seorang petugas US Airways mendekatiku. Tanpa ba bi bu, si petugas meminta boarding passku. Aku berikan print-out boarding pass sambil berkata, "I'm sorry, I am really sorry." Si petugas tersenyum dan berkata,"That's OK, that's OK."

Lalu..... terjadilah kejadian yang begitu mencengangkan, menegangkan, dan membahagiakan! Bahkan membuatku terharu.

Daun pintu hitam itu dibuka! Ooooh!!! Bayangkan, pintu gate yang tertutup dibukakan bagiku! Seperti mujizat saja!!!

Selanjutnya, tentu saja berjalan dengan baik. Kenny mendorongku sampai pintu pesawat. Saat aku masuk pesawat kubilang padanya,"Thank you so much, I'd not make it without you." Kenny tersenyum lebar, dia bilang, "You're welcome. It's so nice meeting you and I wish you a safe trip." Saat itu aku merasa tip-ku yang cuma 10 dollar itu terasa terlalu kecil. Sayang cuma segitu yang aku siapkan di saku.

Sampailah aku di pesawat dengan selamat. Ketika aku sampai di bangku-ku, kedua rekan penumpang di sisi-sisiku menyambut dengan ramah. Salah satu mereka bilang,"Oh, you made it. We have started flipping coin!!!!" Hahaha.....

TAMAT.

Sunday, June 29, 2008

Thriller Bandara (bag 2)

Seperti yang dijanjikan oleh sang supir, taksiku sampai sebelum pukul 10. Aku langsung bergerak menuju elevator ke arah gate. Bandara terlihat sibuk seperti biasanya. Kuhitung berapa waktu yang kupunya. Kurang dari 20 menit sebelum pintu pesawat ditutup. Ya, pesawat akan ditutup pukul 10:08. Kupikir kali ini aku tak akan minta bantuan petugas dan kursi roda. Meminta bantuan seperti itu cukup makan waktu. Registrasi serta menunggu petugas berikut kursi rodanya bisa makan waktu lebih dari 10 menit. Tapi jelas kalau sudah dapat kursi roda bisa memotong antrean security yang panjang. Lagian, walaupun masih sakit, aku merasa lebih baik ketimbang perjalanan yang terdahulu. Kalau kupakai tongkatku, aku bisa berjalan cukup cepat.

Dalam perjalanan menuju elevator kulihat sebuah meja dengan tulisan “Special Needs”. Area tersebut penuh dengan kursi roda dan tak ada seorang penumpangpun di sana. Aku ragu, berhenti di situ atau tidak. Akhirnya kuputuskan berhenti dan mendaftar. Ternyata cepat sekali. Kenny, itu nama petugas yang membantuku.

Kenny adalah seorang imigran dari Vietnam. Dia sudah berada di Amerika Serikat selama 20 tahun. Setahun lalu dia kehilangan pekerjaannya sebagai teknisi komputer di California, padahal dia bekerja di perusahaan tersebut selama 15 tahun. Aku menyukai Kenny. Bukan saja sangat ramah, dia juga sangat cekatan.

Ketika kami memasuki lift, aku melihat antrean jalur biasa. Panjangnya luar biasa. Aku bersyukur aku pakai jalur kursi roda.

Tak lama kami sampai di mesin pemindai. Jalur khusus sehingga tentu saja cepat. Tak seperti petugas2 sebelumnya, Kenny dengan sigap menukar tongkatku dengan tongkat kayu milih bandara. Kenny juga mengurus pemindaian semua barangku. Aku hanya bilang padanya bahwa ada laptop di backpackku dan dia langsung mengerti.

Hari ini terasa sangat istimewa. Petugas pemindai tubuh juga sangat ramah. Dia membantuku berjalan. Entah kenapa, dia terlihat cemas. Berkali-kali dia memastikan bahwa aku baik2 saja. Mungkin karena tampangku yang cukup kacau. Teler habis. Tentunya aku sih ya baik-baik saja.

Tak lama Kenny muncul dengan semua barangku. Tanpa kusuruh dia mendorongku ke arah monitor dan mengecek gate-ku. Ternyata ada perubahan. Dari B6 menjadi B2. Sejenak sebelum sampai di Gate, Kenny bertanya, “Jam berapa pesawatnya boarding?” “Sekarang,” kataku. “Jam berapa pesawatnya harus berangkat?” tanyanya lagi. “10:23,” jawabku.

“Oh, ini sudah jam 10 lewat 10, tapi coba akan kucek” kata Kenny. Kenny memarkir kursi rodaku dan dia berjalan menuju petugas maskapai.

Aku mendongakkan kepalaku dan melihat layar elektronik. Kulihat sebaris kalimat. “US Airways 071 to Seattle. The gate is closing. Thank you.”

Ah, tidak seperti kejadian si CamLon, kali ini pintu betul2 sudah tertutup, aku sudah ketinggalan. Apa yang harus kulakukan sekarang?

...bersambung...

Wednesday, June 25, 2008

Thriller Bandara (bag 1)

English version click here

Pagi ini pukul 7:30 pagi alarmku berbunyi. Aku terbangun tapi segera mematikan alarm. Malas sekali bangun sepagi itu. Jadi kuteruskan tidurku dan terbangunlah aku lebih dari sejam kemudian.

Pukul 8:40 aku terbangun dan segera sadar bahwa pagi itu aku harus terbang ke Seattle. Pesawatku dijadwalkan boarding pukul 9:53 dan taking off pukul 10:23. Aduh! Mana bisa terkejar? Aku berusaha bangun tapi badanku tak enak sekali rasanya. Kemarin dulu aku begadang sampai jam 5 pagi untuk mengejar tenggat waktu. Draft pertama tulisanku selesai tapi jadinya kemarin aku terkapar seharian. Boro-boro sempat packing, makan saja tak sempat. Bahkan minum kopi aku tidak bisa, padahal jarang sekali saya absen minum kopi! Oh, nonton TV saja terlewatkan. Kacau betul!

Aduh gimana ini, mungkin aku harus membatalkan perjalananku. Rasanya tak mungkin aku bebenah pagi ini. Juga kemungkinan besar aku akan ketinggalan pesawat. Badanku tak ingin pergi, tapi kepalaku jelas ingin pergi. Mungkin kupaketkan saja kepalaku ke Seattle!

Tapi ya, tahulah aku, aku pasti mencoba pergi. Kalau belum sampai benar-benar ditinggalkan pesawat, aku tidak akan menyerah. Lagian ini acara penting. Bukan sembarang konferensi (memangnya ada konferensi yang sembarangan?) dan bukan sembarang undangan. Ini konferensi yang diadakan oleh pemerintah Amerika Serikat dan aku adalah salah satu dari dua pembicara catatan kunci :p Ah, ya memang egoku terlalu besar untuk melewatkan acara ini.

Ya sudah, aku pergi dong. Aku mulai bebenah koper. Lempar ini dan itu. Dalam waktu 10 menit sudah selesai.

Lalu aku mulai menelepon taksi dan sambil menunggu aku bikin kopi. Kubilang pada si resepsionis Taxi Express Ali bahwa aku butuh cepat. Sekarang juga! Dan dijanjikanlah aku sebuah taksi yang akan datang segera.

Dua puluh menit kemudian, pukul 9:40, si taksi belum muncul juga. Aku gelisah dan kutelepon lagi si taksi itu. Dihiburnyalah aku. Katanya taksi akan muncul dalam waktu 3 menit.

Lebih dari 3 menit, tapi ya si taksi akhirnya muncul juga. Seorang pemuda berbadan besar dengan rambut berkuncir membukakan pintu. Dia seorang supir yang baik. Yang jelas tahu jalan dan teman bicara yang cukup menyenangkan. Masalahnya waktu sudah begitu mepet, jadi sehebat apapun si supir, tetap saja tidak akan mencegah pesawat untuk berangkat tanpa diriku.

Pukul 9:55, aku tahu pesawatku sudah mulai boarding.
Duh, akankah aku sampai sebelum pesawat berangkat?

Tuesday, June 24, 2008

Kejangaran Visa 2: tongkat, nyetir, & mabuk

Maaf ya, cerita kemarin baru sekarang dilanjutkan. Kemarin adalah hari teler sedunia.

Setelah menulis Kejangaran Visa 1 kemarin, aku sempat berpikir..... duh, bakal dapat ngga ya passport-nya? Gimana kalau ngga dapat? Gimana caranya melaporkan sama teman2 pembaca blog? :D

Jadi setelah deg-deg-an semalam2an dan sepagi-pagian, hampir jam 11 pagi, bel rumah berbunyi, ting-tong! Seorang laki-laki muda berseragam USPS berdiri di depan pintu. Oooh, dia serta-merta tampak gagah dan tampan!!! Betul juga, dia membawa paket Express dari kedutaan Rusia. Mau kupeluk juga itu cowo, hahaha, saking bahagia-nya. Tapi jelas tak kulakukan :p

Cepat2 aku siap2 untuk pergi ke konsulat Belanda di Scottsdale yang kira2 30 menit perjalanan dengan mobil dari rumahku.

Oh ya, untuk menyiapkan dokumen aplikasi, aku kerja keras semalam2an. Surat sponsor dari Belanda baru sampai pagi itu dalam bentuk email. Karena pindahan, aku tak tahu dimana letak pasphotoku, jadi aku ambil foto sendiri pakai kameraku dan bikin pasphoto sendiri. Pokoknya semua surat2 dibikin di rumah.

Giliran mau pergi, aku bingung, karena ada janji inspeksi rumah dengan perusahaan asuransi yang katanya mau datang antara jam 12 sampai jam 4. Ini tidak bisa dibatalkan karena aku sudah pernah batalkan sebelumnya. Dan urusan si Belanda juga tak bisa ditawar2. Si orang konsul cuma menawarkan 1 pilihan waktu saja.

Akhirnya kuteleponlah 2 kawanku -- satunya kolegaku, satunya muridku di kelas IT & Justice -- dan mereka bersedia nangkring di rumahku giliran antara jam 12 sampai 1 dan 1 sampai 2. Kupikir jam 2 aku pasti sudah sampai di rumah.

Kemudian giliran mau pergi, aku baru ingat, pergi pakai apa ke Scottsdale? Sudah tak ada waktu untuk minta2 bantuan orang. Naik taksi nunggunya bakal lama. Jadilah aku pikir mau nyetir aja. Aku pernah coba nyetir yang dekat2, 5 menit-an, aku bisa. Tapi nyetir yang jauh dan lama aku tak yakin. Tapi diyakin-yakin-in deh.

Pagi itu aku sengaja tidak minum percocet karena pasti akan melayang hilang ingatan dan ngga bakalan bisa wawancara sama si Konsul. Bisa2 jawabanku ngaco, atau malah aku nyanyi2 dan goyang dangdut di konsulat sana. Jadi aku cuma minum ibuprofen 2 biji. Yang bakalan bekerja sementara lah.

Meluncurlah aku ke konsulat. 10 menit pertama tak masalah. Tapi menit-menit kemudian, terutama pas di highway, aku merasa ada masalah. Ouch, it was damn hard to keep pressing on the gas. Pain was creeping my right side. Jadilah aku pakai cane/tongkat untuk menekan gas. Hey, it was smart! It went well. Tapi susah untuk mengendalikan kecepatan. Terutama karena di highwaynya Amerika kita harus jalan di atas 60 miles/hour (90 km/jam) dan mobil2 lain berjalan rata2 70-80 miles/hour. Jadi cukup menegangkan. Belum lagi jadi kurang lancar kalau mau ngerem. Jadi ndet-ndetan.... dan bikin aku mabuk. Bukan mabuk cinta atau mabuk harta.... tapi mabuk kepayang terbuai gerakan mobil!

Aku memang suka mabuk kalau disetirin orang. Tapi masa sih mabuk disetirin sendiri. Memang pagi ini aku bangun sudah merasa nausea -- masalah klasik karena minum painkiller -- tapi mabuk pas nyetir rada garing deh.

Akhirnya aku sampai di konsulat teler juga. Untung aku pergi 1 jam di muka, jadi sampai di konsulat jam 12 tepat, 30 menit sebelum perjanjian. Jadi bisa ke kamar mandi lama2 dan menyegarkan diri sebelum ketemu si honorary consul.

Honorary Consul of Arizona itu cuma datang ke kantor kalau ada janji. Jadi selama ini dia sendiri ternyata yang nelepon2 aku (4 kali coba). Baik amat ya. Interview berlangsung lancar. Dia memuji2 dokumenku. Katanya, "This is really good. Very well organized." Haha, ngga tahu dia dibalik semua dokumen itu terjadi banyak kejangaran!

Honorary Consul nya cewe, Mevrouw van der Zee, dan baik orangnya. Kita malah seru bincang2 soal koin quarter-an yang baru keluar dan setuju bahwa yang dari New Mexico gambarnya bagus. Naon sih? :p Dasar pembicaraan ngga mutu, hehe.

Jadi sekarang dokumen2 sudah masuk. Kata dia sih bakal dicepetin karena urusan bisnis. Tapi ya tergantung kantor di Los Angeles, jadi ya paling-paling dekat2 tanggal keberangkatan baru akan selesai. Ugh... ya sudahlah, aku relakan Mesir. Konferensi Wikimania di Alexandria.... I'll miss it... hik hik.... Ya sudah, nanti ada kesempatan lain.

Sudah ya, segitu lagi. Mau tidur lagi ah :)

m, masih merasa lega passportnya sampai 30 menit sebelum jadwal pergi ke konsulat!

Thursday, June 19, 2008

Kejangaran Visa 1: Menunggu pak pos

Masih ingat cerita kejelimetan visa dan rencana perjalanan summerku? Karena perjalanan sudah dekat, kejelimetan ini menjadi nyata. Harus dijalani. Soal tiket ternyata beres, karena diperbolehkan beli tiket round-the-world. Soal visa yang masih ribet.

Karena si 'jeda', aku baru bisa urus visa minggu terakhir bulan Mei. Yang pertama diurus adalah visa Rusia. Cukup jelas, dokumen diurus. Mustinya selesai sekitar seminggu (5 business days). Kuhitung2 masih cukup waktu untuk urus yang Belanda dan Mesir.

Eh, entah kenapa, sudah 10 hari, passportku belum balik2 juga dari kedutaan Rusia. Akhirnya 2 hari lalu kutelepon pagi2. Kutanya ada masalah apa koq passportku belum balik. Orang di ujung sana bilang tak ada masalah, kami cuma belum mengirimkan passportmu saja. Duileeeeeeehhh..... alasannya itu lho. Padahal aku sudah bayar express mail.

Tapi dia berjanji akan mengirimkan hari itu juga. Nah berarti kan bakal sampai besoknya (kemarin), karena pakai express-mail.

Tahu bahwa aku akan terima passport cepat2 aku hubungi konsulat Belanda untuk bikin janji. Kemarin si orang konsul menelepon dan bertanya2 ttg kunjunganku ke Belanda. Dia bilang karena aku orang Indonesia waktunya kurang, ngga bakal selesai. Aku bilang aku sering ke Belanda dan biasanya selalu selesai cepat. Akhirnya dibolehkan untuk bikin janji untuk hari ini dan cuma hari ini. Lebih dari hari ini jam 12:30, visaku tak bakal selesai, katanya. Walaupun passport belum di tangan, aku berspekulasi bakal dapat. Dasar nekad.

Tak lama kemudian dia telepon tanya kemana aku akan terbang dari Belanda. Kubilang Mesir. Dia bilang kalau gitu harus punya visa Mesir dulu. Aku tawar untuk memperbolehkan bikin Belanda dulu, soalnya nanti malah susah bikin yang Mesir. Si orang konsul bilang dia harus konsultasi dengan konsul jendral di LA dan janji akan telepon pagi ini.

Sementara itu aku telepon si kantor pos dan tanya kepastian soal paket dari kedutaan Rusia. Orang pos bilang ya bakal sampai sebelum jam 12 siang besok (hari ini). Kalau sampe tidak sampai, dia akan kasih refund. Duileh, aku ngga butuh refund. Aku butuh passport. Kubilang aku mau pick-up deh supaya cepat. Dia bilang, tak bisa, harus dicoba 'delivery' dulu, baru bisa dipick-up. Apapun yang terjadi pokoknya harus tunggu. Addddduuuuuuuuuuh.....

Pagi ini orang konsul telepon kalau aku tak bisa apply kalau tak punya visa Mesir. Kubilang aku ganti saja itinerary dan langsung ke Indonesia dari Belanda. Dia bilang ya kalau begitu bolehlah, jadi janjian hari ini tidak dibatalkan.

Cepat2 saya ganti itinerary kagak ganti di airlines tapi cuma ganti di print-out supaya dari Belanda langsung ke Indonesia. Tapi masalahnya passportku masih belum sampai juga! Sudah jam 10 pagi....aku harus mulai berangkat ke konsulat jam 12:00! Ooooh tukang pos, aku rinduuuuuuu......

Duuuuh...... deg-deg-an......tulung tulung.......

Friday, June 13, 2008

Perjalanan Nekad 4: All but Jail

Sudah di Humphrey airport-nya Minneapolis, di terminal 3 yang terpisah dari terminal internasional yang super sibuk. Terminal yang satu ini cuma untuk beberapa maskapai kecil yang namanya tak pernah terdengar, semisal Sun Country! (Aku belum pernah dengar ini sebelumnya!), jadi sepi banget deh.

Tak sabar untuk sampai di Tempe kembali. Tak sabar untuk tidur di rumah sendiri. Ternyata perjalanan nekad bikin cape setengah mati. Pingin tidur selama seminggu penuh! Dan ngga bakalan terbang2 lagi deh dalam waktu dekat! Swear!

Oh ya, kemarin presentasiku berjalan dengan baik. Aku senang dan bangga sepanel dengan dua sesepuh: Doug McGill dari McGill Report -- professor of jurnalism at Carlton College, jurnalis dan aktivis hak azasi manusia yang aku kagumi -- dan Jim Ellinger tokoh senior World Association of Community Broadcasters (AMARC).

Saat diperkenalkan oleh sang moderator, Pete Tridish dari Prometeus Community Radio, aku sempat tersipu2 manyun! Selain menyebut bahwa Merlyna Lim adalah professor bla bla bla, Pete juga bilang kalau aku pernah dipenjara dengan 9 cewe Rusia di Turki! Hihihi.

Terus saat memulai presentasiku, aku bilang, "Thanks Pete for a great introduction. I should clarify that all he said isn't true, except for the jail part!!!"

Minneapolis, tempat transit yang tak pernah kurencanakan untuk singgah, ternyata cukup cantik. Entah kapan akan kembali ke sini, tapi perjalanan nekad yang satu ini cukup berkesan.

Asik pesawatnya sudah mau boarding....... saatnya tidur sudah tiba :))
Bye for now, see ya from Tempe.

p.s. di bawah ini adalah slideshow dari presentasiku.


Thursday, June 12, 2008

Perjalanan Nekad 3: Tidur, penidur dan ketiduran

Satu hal lain yang sangat membedakan perjalanan2 biasa dan perjalanan2 nekad, selain kursi roda dan/atau tongkat, adalah fenomena sekitar kata "tidur".

Entah karena pengaruh tongkat ajaib atau kemujaraban si oxycodone/percocet yang mungkin dikombinasikan dengan hobby-ku, sebagian besar dari perjalanan2 tsb ternyata dihabiskan dengan tidur dan ketiduran.

Dalam perjalanan nekad ke LA hari Jumat lalu, aku tidur sepanjang penerbangan, tidur di dalam mobil dari bandara ke konsulat, tidur pas sampai di kamar sebelum makan malam, dan bangun terlambat pada hari Simposium Sabtunya. Setelah simposium, ketiduran di Japanese garden dan di mobil menuju rumah teman di hari Minggu, serta dalam perjalanan balik menuju Phoenix hari Senin-nya. Sesampai di Phoenix, aku langsung tidur siang selama 4 jam, bangun hanya untuk luntang-lantung di rumah dan tidur sore 3 jam, dan kemudian tidur malam sampai siang keesokan harinya lebih dari 10 jam. Besoknya episode tidur dan ketiduran berlanjut!

Hari Rabu kemarin, aku melakukan perjalanan nekad ke-2 ke Minneapolis, Minnesota, untuk acara konferensi reformasi media. Sepanjang penerbangan yang cuma 3 jam lebih, aku tidur dan ketiduran. Sesampainya di Minneapolis, menguatkan diri untuk tidak tidur. Jadi sempat jalan2 di downtown yang ternyata cukup menarik.

Sore itu, aku ingat ada makan malam jam 7:30 untuk para pembicara di konferensi, jadi aku menguatkan dan menabahkan diri untuk tidak tidur. Sesampainya di hotel, aku berusaha membuat powerpoint untuk presentasi hari ini, tapi ternyata sebelum powerpoint-nya dibuat aku sudah tertidur! Bangun-bangun ternyata tepat jam 7:30.... tapi bukan waktu Minneapolis.... waktu Tempe saja!!! Aduh, aku terlambat 2 jam!

Ya sudahlah, nasi sudah jadi bubur. Karena lapar, aku jalan ke sebrang hotel untuk beli jus dan chips. Balik ke hotel, aku mengecek jadwal konferensi, oh ternyata makan malam-nya bukan Rabu malam tapi Kamis malam! Asik, aku tidak terlambat walau ketiduran!!!

Tapi sesudah itu, aku masih ketiduran, jadilah powerpointku baru dibuat pagi ini saat makan pagi/siang (brunch) di Hell's Kitchen dan aku selesaikan baru saja, saat presentasi panel 1 berlangsung, satu jam sebelum presentasiku (di panel dua) dimulai!

Karena powerpoint sudah selesai, kalau begitu mari kita tidur dan ketiduran lagi :))

lady day, melaporkan dari Duluth Room, Hilton Minneapolis Hotel, Minneapolis

Tuesday, June 03, 2008

Perjalanan Nekad 2: Nyangkut

Perjalanan nekad pertama yang dilakukan hari Jumat adalah dari Phoenix ke Los Angeles. Pendek toh? Karena 'disabled' temporarily, aku diantar teman ke bandara dan perjalanan dari pintu masuk sampai pintu gate cukup lancar. Cepat sekali! Hanya saja aku sok-sok-an minta ditinggal saja di gate dengan pikiran kan cuma mau duduk-duduk saja sampai dipanggil boarding. Aku pikir juga aku ngga butuh kursi roda untuk jalan ke pesawat. Aku bisa pakai cane/walking stick/tongkat.

Jadi kubilang pada Stephen, USAirways attendant,"It's OK I can take over from here. I'll be fine." Stephen bertanya, "Are you sure? You'll keep the wheelchair, right?" Kubilang, "Yes, I am sure and I'll keep the wheelchair."

Lalu aku mulai buka laptop dan ber-online-ria sambil menunggu boarding. Tapi lalu aku merasa aku butuh pergi ke toilet. Aku bisa saja jalan ke toilet dengan tongkat. Tapi bagaimana dengan koper carry-on dan back-pack-ku? Masa ditinggal begitu saja di kursi roda? Jadi ya kuputuskan untuk pakai kursi roda saja. "Ah, ngga susah koq," kataku, sambil mencoba memaju-mundurkan si kursi.

Aku berhasil mundur, menikung dan maju dan sampai di depan toilet wanita yang letaknya sebelah gate. Kemudian masuklah aku ke dalam lorong. Astaga, lorongnya sempit dan ada tikungan dua kali. Sebetulnya tidak terlalu sempit, masih ada ruang untuk menikung. Tapi dasar amatir, aku tidak bisa menikung dengan sempurna. Aku maju mundur maju mundur maju mundur, sampai akhirnya tersangkut diantara tikungan ke satu dan kedua. Aku bingung mau ngapain. Tidak ada penumpang yang masuk atau keluar. Toiletnya sangat sepi. Setelah dua menit aku menunggu, seorang pegawai bandara berseragam biru muncul. Dia hendak keluar dari toilet.

Dia langsung bertanya,"Do you need help?" Kujawab,"Yes, I guess so. Would you please? I am not so good in playing with this thing!" Dia tersenyum dan mengeluarkan ku dari lorong dan mendorongku sampai di depan salah satu bilik. Cukup memalukan. Untunglah tak ada orang selain si pegawai tersebut.

Setelah selesai urusan toilet, aku berpikir, bagaimana caranya keluar ya? Mudah2an aku bisa. Kupikir aku sudah lebih pintar mengarahkan kursi roda. Ternyata kali ini lebih parah! Baru tikungan pertama pun aku sudah nyangkut! Untunglah tak lama ada seorang penumpang yang masuk ke dalam. Dia langsung menawarkan diri untuk membebaskanku dari si lorong! Oh, betapa berterimakasihnya diriku, walaupun aku agak2 malu..... dan si penolong, walaupun kayaknya dia cukup prihatin dengan ketersangkutan diriku, dia sempat senyum-senyum juga. Mungkin dipikirnya ini orang pasti baru pertama kali pakai kursi roda!

Duh, ternyata aku betulan amatir! Kesangkut dua kali di lorong yang sama.... Lain kali aku latihan dulu deh sampai jagoan!

Saturday, May 31, 2008

Perjalanan Nekad 1

Akhir minggu ke-3 dari jeda operasi, aku sangat tidak sabar untuk pulih. Dokter bilang akan makan waktu 6 minggu. Arrrgh, aku ngga mau dan ngga bisa buang kesempatan untuk jalan2! Ada 3 undangan bulan ini dan beberapa undangan bulan Juli!

Tapi walaupun belum 6 minggu..... kupikir sudah saatnya untuk melanggar peraturan! Jadilah saya menulis blog ini dari Los Angeles! Untuk acara KJRI dimana saya diundang untuk bicara di acara Gebyar Pendidikan Indonesia dalam rangka 100 tahun Kebangkitan Nasional.

Saat berangkat kemarin, untuk pertama kalinya aku tiba di bandara 1.5 jam sebelum jadwal berangkat! Hebat ya? Ya kursi roda ternyata alat yang baik untuk mencegahku dari ketinggalan pesawat!

Dari meja cek-in sampai ke gerbang/gate, aku didampingin oleh Stephen, pegawai US Airways, yang mendorong kursi rodaku. Di gate, aku ditinggal. Pas aku pingin ke toilet, aku mencoba mendorong kursi rodaku sendiri. Waduh, ternyata gampang-gampang susah! Cerita lengkapnya soal ini... ntar ya..

Memang ini perjalanan nekad sih. Tapi ya dalam dua hari terakhir ini aku merasa lebih baik dan kupikir cuma 1 jam di pesawat kan mudah. Ngga jalan2, ngga angkat2 barang. Lagian, melanggar aturan (doktor) itu enak :)))

Horeee.... aku sudah melakukan perjalanan lagi.... jadi aku senang sekali!!

Friday, May 23, 2008

Sedang jeda

Maaf, sudah lebih dari 2 minggu tidak bisa blogposting, blogwalking, blogcommenting, and blogmocking :)

Karena........ silakan gambar ke-2 di bawah ini untuk cerita yang lebih lengkap.

Jeda 1

Link


Saturday, May 03, 2008

Camlon: Sambungan Koper, Kacamata & si Gate (Final)

English version click here...

.....ini lanjutan dari
CamLon ini dan CamLon itu, baca dulu yang itu dan inu sebelum membaca yang ini....

Setelah berpikir sebentar, kuputuskan untuk mencari tahu nasib si kacamata. Keputusan ini muncul terutama karena aku merasa tertantang untuk memperjuangkan nasib si kacamata setelah lebih dari 16 pasang berbagai kacamata (coklat, biru, hitam, gelas, plastik, dll) hilang tak tentu rimbanya dalam pelbagai perjalanan yang aku lakukan. Kali ini aku merasa ada harapan.

Aku berlari ke Gate 19 dan segera menemukan desk KLM customer service yang, syukurlah, dijaga oleh seorang wanita Inggris yang baik hati. Kujelaskan bahwa aku kehilangan kacamata yang kusinyalir hilang di daerah check-in/security, dan bisa jadi di check-in desk KLM.

Setelah mendengarkan penjelasanku secara detail, si mbak KLM menelepon kolega-nya di check-in desk. Telepon pertama tak membuahkan hasil. Katanya orang di seberang sana tidak menemukan kacamata. Telepon kedua kedengaran lebih baik. Kukuping percakapan si mbak dengan rekannya, kira2 seperti ini:

"Yes, desk 48? Right, a pair of sunglasses with silver rim."
"She is here and supposed to fly with KL1002 soon."
"Can someone bring them to the Gate 1b?"
"No? On the return? I'll ask her"

Lalu si mbak bilang, "Maam, when are you returning?"
Kubilang, "Oh, no, I will not return."
Oh well, tentunya suatu hari kelak aku akan 'return' tapi ngga sekarang-sekarang. Si mbak meneruskan percakapannya.

"She is not returning. Can't you get someone to just bring them here?"
"OK. Travelex? Are you saying Travelex? OK, she'll meet you there."

Si mbak ternyata berhasil membujuk seseorang untuk membawa kacamata itu ke boarding area dan rencananya seseorang akan menemui aku di kios Travelex, tempat menukar uang, yang terletak tepat di depan mulut gerbang security.

Aku cepat mulai berlari dan sekitar 5 menit kemudian sudah sampai di Travelex. Kulihat sekitarku, tak ada tanda2 orang KLM yang membawa kacamata. Setiap kulihat manusia2 berseragam biru, langsung kutatap. Tapi tak satupun dari mereka membawa kacamata. Kulihat jam besar yang tergantung di situ. 8:26!! Kurasa pesawat sudah mulai boarding sejak 10-15 menit lalu. Dari Travelex ke Gate 1b kuperkirakan cuma sekitar 2 menit saja. Kuputuskan untuk menunggu sampai 8:27 karena 8:30 atau 10 menit sebelum taking off aku kemungkinan besar sudah tidak diterima boarding.

Satu menit berlalu. Orang yang kucari belum juga tiba. Lalu kudengar suara mengumumkan, "Passenger Lim, passenger Lim....." Wow, namaku disebut kah? Ya, betul itu namaku!!! KL 1002!

Aku merasa dilematik. Masa sekarang harus kurelakan kacamata itu? Setelah bersusah-payah, berlari-lari, dan bahkan sudah mendapatkan kacamata itu? Kuputuskan kutunggu satu menit lagi.

Lalu tak lama, bahuku ditepuk seorang pria setengah baya berseragam biru. Dia membawa kacamataku! Hore!!!

Setelah kuucapkan terimakasih, aku lari sekencang2nya ke Gate 1b. Begitu sampai langsung kubilang, "I am passenger Lim!!!!"

Selamat! Penumpang terakhir dari KL1002 sudah tiba dan meluncurlah pesawat tersebut ke Amsterdam.

Thursday, May 01, 2008

Camlon: Lanjutan Koper, Kacamata & si Gate

English version click here....

..... ini lanjutan dari
CamLon 3.... sebelum baca yang ini, wajib baca yang inu dulu....

Begitu sampai di luar, aku masih belum memutuskan apa yang harus kulakukan. Tapi kulihat ada segerombolan manusia di ruang tunggu dan mereka menatap aku dengan tatapan aneh. Aku sendiri tetap cuek. Lalu kulihat dua cowo remaja mendekat ke pintu Gate yang tertutup itu. Yang satu bilang, "Do you think we should get in?" Yang lain bilang, "No, we're not allowed." Yang satunya bilang lagi, "But she got in."

Aku merasa bahwa mereka membicarakan diriku. Lalu kulihat jam besar yang tergantung tak jauh dari tempat aku berdiri. 8:01 am. Oh, waktu boarding belum di mulai! Mana mungkin aku ketinggalan pesawat?!?!?!?! Jadi semua kepanikanku dan adegan dramatis mengetuk2 pintu dan moncor2 melewati tali2 pengaman itu semua tak ada gunanya!

Ternyata petugas KLM belum datang dan belum membuka desk mereka. Makanya kosong melompong!!!!! Dasar nih.....

Lalu kulihat waktu.... aih.... masih ada waktu untuk mencari kacamata. Aku menuju meja security dan kubilang kalau kacamataku ketinggalan di luar. Kemungkinan di check-in desknya KLM. Nah security bilang aku harus pergi ke customer service desk yang berada di Gate 19.

Aku langsung bingung..... 8:05.... 5 menit menuju boarding.... 35 menit menuju taking off.... apakah aku relakan kaca mata itu? Memakan waktu sekitar 10 menit untuk ke Gate 19 dan 10 menit lagi untuk kembali..... akankah keburu?

Apa kalau aku lari akan keburu? ...

bersambung lagi ya... soalnya ini aku sudah dipanggil untuk boarding! ntar ketinggalan... bisa kacau nih....

Wednesday, April 30, 2008

Camlon: Koper, KacaMata, & si Gate

English version, click this....

Walaupun ada cerita2 aneh selama aku di Cambridge/London (tapi itu ceritanya nanti saja ya, dari Tempe), cenderung lancarnya perjalanan dari Phoenix ke Minneapolis dan lalu ke London membuat aku percaya bahwa kali ini seluruh perjalanan akan lancar.

Pagi ini aku berangkat dari rumah temanku di Langley-Slough, di suburban London, ke bandara London Heathrow. Ya, hari ini aku pulang ke Tempe tercintahhhhh :)

Kami berangkat sekitar jam 7 untuk pesawatku ke Amsterdam yang dijadwalkan boarding jam 8:10 (take off jam 8:40). Sekitar pukul 7:20 - 7:25 aku sudah sampai di airport. Aku cuma bawa backpack laptop dan carry-on luggage jadi kupikir pasti lancar dan cepat lah. Lagian aku sudah check-in dari rumah. Tinggal melenggang masuk gate saja toh.

Sampai di security gate aku dicegat karena katanya koperku kebesaran untuk carry-on. Memang pas diperiksa koperku tidak masuk di semacam cetakan/alat pengukurnya itu. Padahal aku sudah berkelana ke seluruh penjuru dunia dengan koper itu dan selalu lolos! Pasti ini bandara ukurannya lain! Aku ngotot bahwa aku tidak mau check-in koperku itu. Lagian cuma roda dan handle-nya saja yang ngga masuk. Petugas di situ pokoknya dengan kalem bilang (tak pake nada marah2) dia harus mengikuti peraturan negara. Jadi maaf saja ya, tak bisa. Lalu kubilang, bagaimana kalau airline-nya memperbolehkan? Dia bilang ok, kalau airline bilang boleh ya bisa.

Aku melapor ke airline (semena2 masuk jalur selebrity walaupun pesawatku dari London ke Amsterdam itu kelas ekonomi) dan airline bilang ini kalau petugas security bilang harus check-in ya aku harus check-in juga. Lho koq? Aku bilang menurut petugas security justru kalau airline bilang boleh bakal dibolehin juga. Lalu langsung petugas airline itu bilang oh, kalau gitu boleh. Tapi pas balik ke jalur security eh tetap ngga boleh. Petugas2 itu dengan tampang kalem, manis dan sopan tetap bilang ini peraturan negara Inggris. Dengan malas dan dengan sengaja menekuk tampangku, akhirnya aku memindahkan beberapa barang ke ransel dan men-check-in koperku yang kecil itu. Dan kurayulah si petugas airline untuk memberiku jalur selebriti (fast-track) supaya aku bisa menghindari jalur security yang panjang dan mengesalkan. Rayuanku ampuh! :)

Setelah clearing security aku baru sadar bahwa kacamataku ketinggalan di luar. Aduuuh, sialan nih, kataku.

Tapi ngga akan keburu untuk urus, pikirku. Merasa bahwa aku sudah menghabiskan begitu banyak waktu bulak-balik security-airline, aku panik dan langsung berlari-lari ke Gate 1b. Begitu sampai di gate, kulihat tulisan KL 1002 LHR-AMS berkelap-kelip tapi pintunya tertutup. Aku langsung panik. Pasti ini pesawat sudah hampir ditutup. Langsung kubuka kedua daun pintu Gate 1b yang tertutup itu. Kulihat lorong begitu kosong lenggang. Aku tambah panik. Aku berlari-lari sampai ujung dan sampailah aku di sebuah lorong satu tepat sebelum masuk ke dalam pesawat. Tak ada petugas di sana. Yang ada hanya pembatas2 keamanan yang menghalangi aku untuk mendekati daun pintu kaca menuju lorong pesawat. Aduh, pasti aku ketinggalan nih!

Lalu nekad kulewati batas keamanan dengan moncor di bawah tali. Kupikir mungkin pintu pesawat belum ditutup dan aku masih bisa mengejar. Kudekati pintu kaca itu. Kucoba buka, ternyata tak bisa. Terkunci! Arrrrggghhhhhh..... gimana niiiiiiih........ Saking paniknya dan putus-asanya aku keukeuh menggedor2 pintu itu. Persis kayak adegan2 di filem2 Holywood.

Sekarang apa dong yang harus aku lakukan...... aku berjalan lunglai menelusuri lorong yang kosong itu..... Lorong yang terasa panjaaaaaaaaaaaaang sekaliiiiiiii dehhhhh..... Langsung aku menyesali kenapa berantem sama petugas security....

Monday, April 28, 2008

CamLon: 3S Sandel-Sepatu-Spelling

English version, read this....

...baru diposting, tapi ini ditulis hari Kamis, dari Minneapolis/St Paul...


Pesawatku dari Phoenix tidak pagi-pagi tapi jam 2:54 sore. Kali ini pembenahan koper sudah selesai subuh-subuh setelah ngeblog dan mencuci pakaian. Jadi pagi-pagi tidak keburu-buru. Jam 8 pagi aku ada acara penting sampai jam 8:45 lalu rapat jam 9-10 lalu acara penting lagi. Rencananya aku akan langsung pergi ke bandara dari acara penting itu. Entah dengan taksi atau mungkin seorang kawan/kolega bisa mengantar.

Semua berjalan lancar, tapi acara penting itu berjalan molor. Tadinya kukira acara yang melibatkan dua teknisi akan selesai jam 11:30-an. Ternyata acara dengan teknisi 1 baru selesai jam 11 dan acara dengan teknisi 2 berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Karena ada hal-hal serius yang betul-betul urgent. Baru jam 12:30 semuanya beres. Aku sudah siap saja berangkat ke bandara yang kira-kira cuma 15 menit perjalanan dengan taksi.

Aku melakukan pengecekan terakhir. Surat-surat, laptop, dll. Tiba-tiba kulihat ke bawah. Kutatap jari-jari kakiku. Lho koq??? Kenapa jari2 kelihatan? Waduh, ternyata aku bersandal capit. Sebetulnya naik pesawat pakai sendal capit tak masalah. Tapi masa ngomong di konferensi di Cambridge pake sandel capit? Ngga papa juga sih kali ya? (No?) Cuma di sana masih 7-19 derajat Celcius. Bisa menciut jari2ku!! Alas, harus pulang ke rumah untuk ambil sepatu. Sampai di rumah cepat2 ambil sepatu, lalu mengecek beberapa hal lagi.

Jam 1 kurang 5 semuanya siap. Aku berusaha menelepon taksi. Duh, susah sekali! Rumahku alamatnya selalu bikin orang pusing. Apalagi kalau yang nerima telepon bukan native speaker. Ten eleven Ve Ella.... what? Ve Ella..... like v.....e.....e.... l.... what again? Veal? No V like in Victor... then E like Echo...... then second word...

Butuh lima menit hanya untuk spelling alamat rumahku saja! Perusahaan taksi pertama yang kutelepon adalah AllState Yellow Cab. Setelah berhasil spelling-nya, eh si resepsionis bilang tidak tak punya taksi yang sedang ada di Tempe, jadi butuh 25 menit untuk mendatangkan taksi. Ya ampun, itu sih sama saja bohong! Jadi kubatalkan lah di AllState Yellow Cab itu. Kuteleponlah Taxi Express Ali. Begitu yang angkat kedengar beraksen, langsung kututup. Aku berpikir sejenak. Ah, ada akal. Aku akan minta di jemput di rumah kawanku saja, yang alamatnya mudah.... 700 W University Dr... semua orang tahu dan dekat bandara pula. Dan akan kuparkir mobilku di carport apartemen dia saja. Jadilah aku pergi ke rumah kawan baikku yang cuma 5 menit saja dari rumahku. Dan di jalan aku menelepon kembali Taxi Express Ali yang katanya akan sampai dalam waktu 10 menit. Tak ada masalah spelling alamat! Hore. Kecuali pas ditanya nama apartemennya. Aku rada bodoh kubilang.... es.... si.... i.... en.... ti.... eh.... si... e... eh ...i. Padahal gampang, Scene One gitu! Tapi betul2 tak ada perjuangan dibanding mengeja alamat rumahku sendiri!

Akhirnya lancarlah. Aku sampai di rumah kawanku. Parkir mobil. Kutinggalkan kunciku di rumahnya, untuk menghindari ketinggalan kunci rumah+mobil di Inggris. Tak lama dijemput.

Jalanan lancar. Sempat deg-degan karena sudah jam 1:30 ketika dijemput. Tapi 1:40 sudah sampai. Dengan berbekalkan jalur khusus selebritis..... haha.... alias upgrade ke First Class, lancarlah semua urusan. Walau sempat dipertanyakan oleh petugas maskapai kenapa aku bisa-bisanya terbang ke London tapi tidak check-in luggage :).

Jadi sementara semuanya lancar. Ini baru seperempat jalan. Temanmu Lady Dayeuh melaporkan dari Minneapolis/St Paul. Salam!

Friday, April 25, 2008

Siap-siap ke CamLon

Besok, eh, hari ini, saya akan terbang ke Inggris untuk konferensi dan workshop di Cambridge dan London. Malas rasanya untuk bebenah. Tapi ya harus. Dan harus juga cuci baju, karena sudah berbulan2 ngga nge-laundry, jadi sudah kehabisan ..... dalam.

Rencananya, saya cuma bawa 1 backpack dan 1 carry-on koper. Ini daftar bawaan saya:
  • Baju-baju yang ringan dan tidak kusut biar ditekuk-tekuk dan banyak-banyak baju dalam.
  • Dokumen2 (passport, surat persetujuan petisi, surat keterangan pekerjaan dari ASU, print e-tiket dan berbagai informasi ttg konferensi di Cambridge dan workshop di London).
  • Alat-alat elektronik (laptop 'n the gang)
  • Buku sketsa dan alat gambar
  • Sikat gigi + alat kosmetik dasar -- ini selalu ada di dalam koper
Sudah rasanya begitu saja.

Oh ya, malam ini, seorang profesor yang juga kolega dan teman baik, mengirim email. Bunyinya: "Have a great trip! Please remember your computer, set your alarm and get to the airport in time, and, oh, yes, don't forget your shoes! Am I stressing you out with these reminders? Write them down and put them in your wallet (and then another note somewhere else about not forgetting your wallet...oops)."

Koq pesannya begitu? ;p Memangnya saya pelupa? Jelas tidak terbukti :D

OK, saya mau cuci baju, packing lalu tidur. Mudah2an semua lancar besok. Tidak ketinggalan pesawat. Tidak ketemu supir taksi yang tidak tahu jalan. Dan tidak ketinggalan sandal, sepatu, kacamata, atau celdam di London/Cambridge.

Monday, April 21, 2008

Ketinggalan kuliah

Sekitar 3 minggu lalu, pukul 9 malam saya mengecek email. Saya terkejut membaca email dari seorang profesor: "Did you try to come tonight? I hope you didn’t get lost."

Oh, saya seharusnya menjadi dosen tamu di kelas dia malam ini. Dan saya tidak datang!
Padahal saya sudah persiapan untuk presentasi di kelas dia! Powerpoint pun sudah jadi dari kemarin-kemarin...... tapi saya lupa bahwa hari ini hari Rabu... jadi saya malah ketiduran dan bangun pas American Idol!

Langsung saya panik. Aduh!!!!! Apa yang harus saya bilang sama dia....... Profesor ini adalah kolega baru yang tertarik dengan penelitian saya dan baru mengajak saya kerjasama dalam sebuah penelitian baru.....Tapi malam itu saya langsung email dan menjadi gadis jujur. Mengakui ketertiduran saya. Ternyata email balasan dia menunjukkan bahwa dia tidak marah.

Seminggu kemudian saya bertemu dengan dia dalam suatu rapat. Saya minta maaf lagi, tapi dia bilang tak masalah. Dia malah tertawa dan bilang, "My students cracked up when I told them about your falling asleep." Hahaha..... aduh..... !

Sementara itu minggu lalu saya ketinggalan kuliah lagi. Kali ini kuliah saya sendiri. Entah kenapa, saya datang ke kelas pada jam yang salah. Jadilah mahasiswa2 saya kuliah online minggu itu.

Thursday, April 17, 2008

Bis kota & terlambat


Sudah lama aku tidak naik kendaraan umum. Kemarin sepedaku gembos, jadi terpaksa kutinggal di kampus dan aku pulang naik minibis Orbits yang gratisan untuk siapapun tanpa kartu. Mahasiswa dan pegawai ASU bisa naik semua bis di kota Tempe tanpa bayar, tapi untuk naik bis kota harus pakai kartu, yang bisa didapat dengan semena-mena.

Selama tinggal di Bandung dulu, aku selalu naik kendaraan umum, kecuali pas tahun-tahun terakhir di ITB dan selama kerja. Barusan, karena berbagi cerita di blog-nya temanku yang lagi siaran tentang angkot aku jadi teringat masa-masa naik bis kota dan naik angkot. SMP dan SMA aku bersekolah di Pasirkaliki, sementara rumahku di Dayeuhkolot. Jadi harus naik angkot sampai Bypass atau perapatan Moh Toha -- Sukarno Hatta, terus disambung dengan bis kota jurusan Ledeng, berhenti ngga jauh dari sekolahku. Sekolahku dulu tidak manusiawi, masuknya jam 6:45 pagi. Jadi harus berangkat dari rumah jam 5:30 untuk mengejar bis kota jam 5:45. Kalau misalnya ketinggalan bis yang ini, bis berikutnya jam 6:15 dan terlambatlah aku. Jadi bukan salahku kalau sampai sering banget terlambat masuk sekolah! (Tapi guru2 tak mau mengerti, baru Agustus tahun lalu aku akhirnya berhasil menjelaskan kepada para guru yang masih hidup, dalam kunjunganku sebagai alumni.... akhirnya mereka percaya! Haha).

Masalah lain yang bikin terlambat adalah karena harus bangun pagi, aku selalu ketiduran di bis kota. Biasanya kelewat 2-3 setopan dan harus balik lagi naik angkot. Tapi pernah beberapa kali ketiduran sampai stasiun terakhir di Ledeng.

Suatu pagi, aku ketiduran sampai mentok setasiun Ledeng, terus akhirnya bangun krn dibangunin kondektur, terus ya akhirnya tetep duduk di bis itu untuk balik ke arah sekolah. Eh ketiduran lagi dan mentok lagi sampai setasiun terakhir, alias Mohamad Toha bypass itu. Akhirnya bangun karena dibangunin lagi.... sama kondektur yang sama! Aku masih ingat tampang si kondektur ini, berewokan tapi ramah dan suka senyum. Ya waktu itu akhirnya ya pulang lah ke rumah karena sekolah udah telat 2 jam! Memang lebih enak tidur selama 2 jam di bis kota ketimbang tidur di kelas yang bakal diinterupsi oleh guru :D

Makanya sampai sekarang trauma naik bis kota! Selain suka mabok, juga takut ketiduran.

keterangan gambar: stasiun bis kota Enschede (mer, 2005).

Sunday, April 06, 2008

Imajinasi konspirasi halusinasi abstraksi

Saya bukan basa-basi, hidup saya hari-hari ini penuh dengan si asi walaupun tak sering makan nasi. Tapi saya tidak bermaksud mengeluh. Karena semua berjalan dengan baik-baik saja. Walau terasa ada konspirasi, dan dituduh terlalu banyak berimajinasi, dan bahkan berhalusinasi, tapi ya hidup saya tetap indah, malah makin indah, makin abstrak saja warna-nya. Walaupun kadang gelap ah, tak jelas berwarna atau tidak.

Minggu-minggu ini adalah minggu-minggu cukup ajaib. Saya sering dituduh lupa, padahal saya juga kadang2 sudah mengaku lupa, tapi masih dituduh juga. Waduh, tidak adil! Lalu saya tabrakan sepeda yang bikin tangan kiri saya susah bergerak berhari2 jadi harus ngetik satu tangan (jangan kuatir, sekarang sudah dua tangan). Lalu sudah dua kali dalam minggu ini saya tahu2 mendapatkan diri menyetir pulang tapi bukan ke rumah saya. Saya juga semakin sukar mengidentifikasi sepeda saya di tempat parkir. Mungkin saya harus mencat-nya jadi pink atau kuning gonjreng. Tapi tenang saja, saya selalu bisa menemukan kembali jalan pulang dan setelah beberapa menit biasanya sepeda saya masih ketemu. Pembaca mau bilang saya pikun? Enak aja!!! Saya belum pikun! Buktinya saya masih ingat semua hal2 lain dengan detail. Saya bahkan bisa menggambar ulang bangunan2 dan jalan2 yang baru saya lewati sekali atau dua kali, angka2 yang baru saya dengar/lihat, dll.

Sementara itu saya makin butuh tidur. Dari sekitar 50 jam per minggu, sekarang naik jadi 60 jam. Tapi kopi saya sekarang cuma 1 kali sehari. 1 mug besar banget sih, tapi cuma 1, swear! Tapi harus dicampur K & IL (jangan tanya ya singkatan apa, haram hukumnya).

Dalam beberapa minggu ini, saya juga hampir menghabiskan 6x10 Curb Your Enthusiasm seri, dari Larry David (sutradara-nya Seinfeld) yang betul2 kocak, sinis, dengan humor yang gelap. Selain itu saya juga menonton sekitar 20 filem dalam dua minggu terakhir. Saya berlangganan Netflix, dan sering menyambar DVD 1 dollar-an dari kios RedBox yang nangkring di depan Circle K.

Hanya dalam waktu beberapa minggu, saya memasukkan 3 grant proposal.Untuk proyek yang sama, tapi semua proposal itu teksnya berbeda dan masing2 sekitar 20-30 halaman. Ini proyek baru tentang alternatif imajinasi. Padahal dulu-dulu saya tidak bisa dan tidak suka menulis proposal. Sekarang pun rasanya sih masih belum suka sama si proposal. Jadi, siapa sih itu yang menulis? Jangan2 bukan saya.

Saya juga sering ngantuk di kantor, ketika tidak mengajar, terutama di meeting-meeting pagi. Karena biasanya saya begadang untuk mengerjakan hal-hal yang tidak perlu tapi saya inginkan dan untuk alasan-alasan yang sepertinya tidak penting tapi saya anggap penting, seperti misalnya saya begadang karena ingin menulis blog ini, atau karena kecanduan dan tahu2 ingin rekaman lagu ini, atau karena pingin masak Goat Karahi (jadilah masakan India pertama saya terbentuk subuh-subuh!), atau cuma karena bulak-balik ke membaca hal-hal yang tak penting. Saya juga baru beli gitar bertali nilon yang jadi sering saya mainkan tiap malam. Belum lagi saya harus menyempatkan mengelus2 benda2 musik lain temannya si gitar. Ah, pokoknya banyak alasan untuk begadang di malam hari dan tidur di siang hari.

Sepertinya hubungan antara proyek riset alternatif imajinasi saya dan kehidupan penuh kegiatan abstrak dan imajinatif saya terlalu mesra, berdampitan tanpa celah.

Mungkin saya harus berhenti mengerjakan hal2 yang tak penting tapi saya anggap penting ini. supaya saya tidak menuduh orang lain berkonspirasi dan orang lain tidak menuduh saya berhalusinasi :D

Seorang teman bilang kehidupan seperti ini adalah sumber schizophrenia.
Tapi, siapa peduli? Biarin aja ya? Bolehkan saya teruskan saja kehidupan seperti ini?

Thursday, March 27, 2008

Kisah roti abon

Ini adalah sambungan dari posting sebelumnya.
Pertanyaanku waktu itu..... apakah kemarin dulu aku betul-betul memakan roti abon?

Jawabannya: mari kita analisa.

Kronologis kejadian:
Jam 10:30 pagi itu aku membuat kopi dan memanaskan roti abon di microwave. Kusajikan kopi dalam mug bergambar sapi dan roti abon di sebuah piring kecil berwarna putih dgn pinggiran warna biru. Setelah itu, menurutku, aku minum kopi dan makan roti lalu pergi ke kantor.

Di kantor, setelah kejadian rapat imajiner dan kemudian aku menulis ttg konspirasi, aku merasa lapar. Padahal aku merasa sudah makan roti. Sore itu aku pulang ke rumah. Ternyata ada roti abon di atas piring kecil putih tergeletak di meja makan. Tak ada tanda-tanda bahwa aku sudah memakan roti itu.

Apakah aku betul-betul makan roti itu?

Mungkin para pembaca berpendapat aku lupa dan tidak pernah memakan roti itu. Tapi menurutku, aku tidak lupa. Kenyataannya aku ingat semua urutan kejadian, bahkan piring yang ku gunakan. Masa aku lupa jika aku ingat? Masa aku ingat jika aku lupa?

Jadi kesimpulanku begini:
Ada seseorang yang menyelinap ke dalam rumah dan menaruh roti di atas piring kecil itu, supaya aku merasa lupa. Kalau dipikir-pikir ini ada hubungannya dengan kisah misteri si kunci! Bisa jadi ketika ku kira aku lupa kunci, sebetulnya seseorang sudah mengambil dengan sengaja dan membuat kunci cadangan untuk dirinya.

Masuk akal bukan?

Ternyata konspirasi sedang terjadi!

Thursday, March 13, 2008

Realita lain atau konspirasi?

Sesudah kejadian rapat imajiner, manajer program di kantorku bilang bahwa aku tidak terbukti pelupa tapi punya kecenderungan untuk menciptakan realita alternatif! Waaaakksss!!!

Dia bilang aku berimajinasi tentang rapat yang tak pernah terjadi dan membuat realitas tentang pembicaraan telepon yang tak pernah ada. Dia juga menganalisa bahwa aku tidak pelupa karena aku mengingat banyak hal sampai detail dengan sangat baik. Tapi dia bilang aku cenderung mengingat hal-hal yang aku tak perlu ingat dan melupakan hal-hal yang tak seharusnya dilupakan!

Lalu beberapa kawan menakut-nakuti ku. Katanya aku schizoprenic atau memiliki kepribadian ganda. Ada seorang kawan bilang bahwa ada yang salah di otak-ku dan akan bertambah buruk.

Aku sendiri berpendapat (keukeuh) ini adalah sebuah konspirasi.

Ah, aku merasa lapar. Padahal aku kan pagi memanaskan roti abon dan memakannya. Kupikir sih aku betul2 memakannya. Tapi aku sekarang jadi ragu. Jangan2 aku tidak memakannya.

Lebih baik pulang dan mengecek. Apa aku benar2 makan roti atau tidak.

Wednesday, March 12, 2008

Rapat imajiner

Minggu ini adalah spring break, alias liburan. Aku tidak ke kantor. Kerjaan sih ada, tapi ya kebanyakan disambi menikmati film, main gitar, gesek2 biola, pukul2 piano, nonton tv dan nginternet. Sambian-nya jelas lebih banyak dari yang disambi :p

Hari ini aku bangun agak pagi (jam 10, hehehe) karena ada rapat dengan orang dari ASU President Office jam 1 siang. Agak deg-deg-an, soalnya ini urusan penting, dan rapatnya betul2 individual, cuma berdua antara aku dengan tangan kanan rektor ASU.

Aku sampai di kantor jam 1 kurang 15 menit. Menunggu-nunggu. Aku yakin betul kalau rapatnya diadakan di gedungku. Jam 1:10 tidak ada yang muncul. Jam 1:15 tidak ada yang muncul. Lalu aku langsung menelepon asistan orang tsb yang tidak di tempat (mungkin ya karena spring break) dan meninggalkan pesan bahwa aku menunggu dan minta konfirmasi tentang ruangan.

Lalu aku juga mengirim email pada orang tsb, bertanya tentang kepastian si rapat. Aku bertanya (pakai kata2 halus tapi rada2 .....), kenapa ngga jadi padahal aku kan sudah konfirmasi bahwa aku bisa hari ini. Belum dia balas emailnya.

Barusan aku cek arsip emailku. Memang betul aku dikirimi email soal rapat ini dan diberi tiga pilihan waktu. Dan aku sudah memilih dan mengkonfirmasi waktu rapat. Tapi semuanya cuma kulakukan dalam pikiranku! Dalam pikiranku, aku sudah balas email bahkan telepon untuk konfirmasi! Di pikiranku aku yakin aku memiliki pembicaraan dengan si Ms. Yunt tentang rapat ini. Bahkan selama seminggu ini aku berusaha mengingat-ingat supaya tidak lupa rapat yang satu ini!

Tapi kenyataannya, setelah dicek-cek tak ada tanda-tanda bahwa aku pernah kirim email konfirmasi balik. Dan tak pernah telepon.

Ah sudahlah, aku berharap mereka berpikir (berasumsi) email konfirmasi ku hilang ditelan server!!!!

Tapi... uhm.... walaupun secara teknis tak terbukti/tak ada jejak aku mengemail/telepon, tapi sebetulnya aku mengemail atau tidak ya? Menelepon atau tidak ya? Atau apakah rapatnya seharusnya diadakan di tempat lain?

Apakah semua ini konspirasi terhadap diriku? Arrrgggggghhhhhhhhhh....... Noooooooo!!!!!!

Hoaieoeoieoaiuaio.....hahaha......hohoho.....*gila*

update:
Barusan ditelepon si asisten, dia bilang dia ngga pernah terima konfirmasi dan kita berdua belum sampai pada pembicaraan soal waktu/tempat yang sebenarnya. Kalau sampai rapatnya jadi, dia bilang, bakal digelar di President Office Building. Oooh.... jadi selama ini aku cuma berimajinasi bahwa aku akan rapat hari ini????!?!?!?!! Nooooooooo!!!!!!
Pas aku bilang, "Oh, ok, yeah, I am not sure that whether my email was lost or whether I ever sent an email at all or something else..." dia menjawab, "Oooh, I am so sorry...."!! Mungkin dia kasihan sama aku yang sudah kehilangan akal. Ya sudah, rapat dijadwalkan betulan. Ingat ya, 26 Maret, 10 pagi, di Prez Office Bldg, lantai 4.

Tapi apakah yang dibilang Ms. Yunt itu sebuah realitas? Apakah yang sebetulnya terjadi?
Mungkin sekali semua ini adalah hasil konspirasi! Seperti yang kutulis di sini.