[Corat-Coret] Asteng 4.1.1 – Bandung: Membeli handphone bag. 1
Baru-baru ini aku makan siang dengan kawan-kawan alumni AR-ITB. Melihat handphone-ku, mereka berkomentar, “Mer, HP mu kuna amat?” Aku dengan bangga menyahut, “Hey, ini HP baru ku lho? Baru dua hari!” Mereka ketawa-ketawa hampir tak percaya. Aku jujur lho, HP Nokia 11.. ku yang terlihat kuna ini memang baru! Dan aku punya sebuah cerita di balik HP kebanggaan ku ini.
Beginilah ceritanya, seperti yang telah aku ceritakan kemarin kepada
Neng Breng-breng Gedumbreng,
kang Jay Ngorejay, dan
Mas Kunkun Kun-Coro.
HPku di Amerika tidak bekerja di Indonesia. Maklum beda teknologi, sehingga sesampai di Indonesia, aku mulai menggunakan kembali HP Nokia 3160 ku jaman dahulu yang kupakai sebelum pergi ke Belanda. Lumayan pikirku. Biar kata keponakanku bilang itu HP bisa untuk “ngabaledog anjing”, aku tetap pakai. Asal jalan, kenapa tidak? Akungnya baru beberapa hari, si HP ini ngadat. Dia selalu mati setelah 1 pembicaraan telepon saja. Sudah dikaret-gelang-in supaya batere tidak bergeser, tetap tidak tokcer. Setelah diulik tetap tak jalan, akhirnya aku putuskan untuk beli HP GSM baru.
Pergilah aku ke BEC (Bandung Electronic Center) dan aku langsung mengalami serangan jantung, mata dan telinga. Terlalu banyak toko, terlalu banyak handphone, terlalu banyak merek, terlalu banyak orang! Jangar!
Akhirnya aku pergi ke satu toko HP besar di jalan Dago. Biar tidak terlalu banyak anu-anu lah.
Sesampainya di sana, aku langsung disambut. Begitu aku bilang aku mau beli handphone baru, aku disodori beberapa pilihan yang harganya 2 juta, 4 juta, dan lain sebagainya. Pokoknya handphone2 canggih lah.
Aku tidak melirik HP2 tersebut. Aku menatap sang pramuniaga dan berkata dengan tegas, “Mbak, aku mau handphone yang paling murah.” Si Mbak menatapku aku setengah tak percaya. Kedua matanya memindai aku, dari kepala sampai pinggang (ngga sampai mata kaki, soalnya kan ketutupan etalase!) terus berkata, “Tapi Mbak, kalau yang murah itu basic, ngga terlalu bagus.” Aku menyahut, “Ngga papa, Mbak, aku cuma butuh untuk nelepon dan sms.”
Dengan berat hati, si mbak mengeluarkan daftar harga HP dan aku dengan cepat menunjuk ke HP dengan harga termurah. HP tersebut bahkan tidak ada dummy-nya. Mbaknya masih berusaha membujuk aku membeli yang agak mahalan sedikit dengan menunjukkan dummy HP yang berwarna. Dia berkata,”Mbak itu terlalu basic, masih hitam putih belum berwarna.” Aku bersikukuh membeli yang paling murah dan tak berwarna. Si mbak menyerah. Akhirnya diberinya aku sekotak HP yang segera kuperiksa.
Si mbak tampak prihatin (dan mungkin terharu) melihat aku begitu senang dengan HP baruku itu. Dibantunya aku membuka kotak. Malah si mbak mengambil alih pembongkaran kotak. Diambilnya HP ku itu, lalu dia menginstall kartu chipku dan disetnyalah HP ku ke dalam bahasa Indonesia.
Masih dengan wajah prihatin, mbak itu dengan ramah menunjukkan layar si HP kepadaku. Sambil menunjuk ke sinyal batere, dia berkata, “Mbak, lihat ini? Artinya baterenya masih penuh.” Aku mengangguk-angguk. Lalu mbak-nya meneruskan,”Kalau tanda ini turun, artinya baterenya sudah habis. Mbak harus mengecharge pakai ini (menunjukkan charger) selama 8 jam.” Si Mbak kayaknya yakin aku ini orang yang baru kenal teknologi yang bernama Handphone :)
Aku mengangguk-angguk lagi dan berkata, “Oh begitu ya, Mbak? Makasih kalau begitu.” Aku bersikap menghargai perhatian dan "petunjuk" si Mbak :D
Setelah itu aku membayar dengan kartu kredit karena tak punya uang cash. Si Mbak agak berubah ekspresi wajahnya waktu melihat aku mengeluarkan kartu kredit ku, tapi tak ayal dia tetap menerima.
Sebelum dia pergi untuk meng-otorisasi kartu kredit ku, aku bertanya kepada si Mbak, ”Mbak, bisa tolong tidak? Saya bingung ini.” “Kenapa, Mbak?” dia bertanya. Aku bilang, “Saya bingung karena saya tidak mengerti ini menu handphone-nya.”Aku tidak bermaksud macam-macam sebetulnya. Aku betul-betul bingung dengan menu-nya.
Mbaknya menjadi bingung dan bertanya,”Maksud mbak?”
Aku menjawab, “Iya ini, saya tidak mengerti bahasa Indonesia ini, saya cuma mengerti Inggris.” Maksud aku menu-nya sih....
Mbak menjadi lebih bingung tapi terus membantu aku menyetel menu ke dalam bahasa Inggris.
Ketika mbak itu pergi meninggalkan aku untuk otorisasi kartu kredit, air muka mbak tsb sudah tak jelas, tampak sangat bingung. Mungkin baginya ada yang tidak sinkron antara penampilan ku (pan penyanyi dangdut, haha), pilihan HP (yang kagak modal), kartu kreditku, dan pilihan menu :p Atau mungkin dalam hatinya dia bertanya, “Makluk dari planet manakah pembeli HP ini?”
Labels: bandung, handphone, traveling