Saturday, December 08, 2007

Sepatu dan kakiku

English version is here

Malam ini seharusnya aku tidak pergi kemana-mana karena besok pagi pesawatku ke Washington DC dijadwalkan terbang pukul 5:55 pagi. Mengingat sejarah pertalian diriku dan perpesawatan dan perbandaraan yang penuh cinta, benci, dan cerita, sebaiknya aku tidur cepat dan memasang 5 buah alarm sekaligus!

Tapi karena ada yang ingin kubeli, pergilah aku ke Tempe Market Place. Karena sudah ada di sana, aku singgah di berbagai toko. Ross for Less, Old Navy, Dress Barn, Michaels, Target, dan berakhir di Shoe Pavillion, cuma karena dekat dengan parkiran mobilku.

Di Shoe Pavillion, aku mencoba sepatu boot walaupun aku tahu aku tak butuh boots. Sudah terlalu banyak! Harus berhenti beli boots! Sepatu pertama yang kucoba adalah sebuah sepatu boot kulit berwarna coklat yang berhak tinggi. Kucoba sebelah kanan. Srttttt, seleting kutarik ke atas. Ouch, ternyata penarik seleting itu sudah patah sebelah dan semena-mena lepas pas kutarik. Kucoba menurunkan seleting tanpa penarik itu, ternyata tidak bisa turun. Kucoba naik-turunkan pentol-nya, ternyata betul-betul tak bergerak. Lima menit kucoba, tetap tak ada kemajuan. Keringat sudah mulai membasahiku.

"Tenang, tenang, pasti bisa,"kuhibur diriku sendiri. Kubuka jaket dan mencoba duduk di lantai supaya lebih ada tenaga. Lima menit kemudian, kaki-ku masih menyangkut dengan sukses. Putus asa, kududuk di lantai dan kutarik sepatu dari kakiku...Auuuuwww... ternyata sakit juga. Langsung imajinasiku melayang-layang. Gimana kalau betul-betul tidak bisa keluar? Sepatu ini harus digunting...oooh! Aku lalu mulai menyesali diriku kenapa juga coba-coba sepatu. "Duh, sudah malam, besok mau ke East Coast pula, kenapa sih kelayapan segala." Malah jadi melamun... hik...hik.... malangnya diriku.....

Kulihat ada sebuah bangku, sekitar 5 meter dariku. Aku berjalan ke sana dan sambil duduk kucoba lagi. Lima menit kemudian, keringat sudah banjir dan masih tak ada kemajuan. "Oh my goodness, what should I do?" kataku dalam hati. Akhirnya aku menyerah. Kulambaikan tanganku ke arah kasir yang jauhnya kira-kira 20 meter-an dari diriku. Cuma ada dua pegawai di toko yang besar itu. Keduanya ada di dekat kasir. Mereka tidak melihat.

Lalu kulihat seorang dari mereka berjalan ke arahku. Kulambaikan tanganku lagi sambil berteriak, "Excuse me.....excuse me, would you help me?" Seorang laki-laki mendekat dan berkata, "Hello maam, what can I help you?". "Oh, my foot stucks inside! The thing on the zipper is broken, I zipped it up but now it cannot go down." Si mas berkata, "Oh, my gosh.... this is not good." Dia lalu memeriksa sepatu itu dan mencoba membantu menurunkan restleting. Diapun tak berhasil. Atas persetujuanku, kami mencoba mengeluarkan kakiku tanpa membuka seleting. Tentu saja sulit sekali. "I don't want to hurt your foot, "katanya. Setelah termenung sebentar, dia berkata, "I think we should do some damage on this shoe" lalu memanggil rekannya yang berada di kasir. Seorang wanita yang kelihatannya lebih senior.

Si mbak datang dan langsung berkata, "Oooh, poor you, how long have you been stuck there?" Kubilang, "More than twenty minutes, I guess." Dia melakukan usaha yang sama. Kami berusaha menekan betisku untuk memberi ruang pada restleting tadi. Tapi masalahnya bukan karena sempit, masalahnya memang si pentol restleting nyangkut dan tidak mau turun. Mereka berdua, si mas dan si mbak tampak prihatin, tapi juga kelihatan pingin ketawa atas tragedi ini. Daripada mereka menahan-nahan tawa, kubilang, "It's ok to laugh... I know this is kinda sad, but funny at the same time." Hahahaha..... tertawalah mereka terbahak-bahak. Ya, terpaksa aku tertawa bareng, daripada...........

Akhirnya si mbak ada akal. Disuruhnya si mas mengambil paper clip yang besar untuk disangkutkan di restleting dan voila..... setelah menarik sekuat tenaga, berhasillah kakiku keluar! Horeeeee!!!

"Yayyyyy......congratulations!!!" si mas dan si mbak menyelamatiku. "Oooooh.... many many thanks!!!!!" kujawab. Sesudah itu segera si mas memutuskan untuk menyisihkan sepatu tersebut sebelum nyangkut di kaki orang lain! Si mas juga mengecek sepatu2 ukuran lain yang jenisnya sama. Ternyata yang lain baik2 saja.

Sebelum kutinggalkan toko itu, kukatakan pada si mas dan si mbak, "Ugh.. I guess the shoes aren't for me!" (Or perhaps they are.... since they wanted to be stucked on me!!)

Dalam perjalanan pulang aku tak habis pikir.... kenapa sih sepatu boot yang bermasalah itu koq ukuranku. Nasib.... nasib......

8 comments:

y'ayie said...

Hahaha. Nih kayanya ya kmana-mana ada aja deh ceritanya. Nggak perlu jauh-jauh coba, ke market place yang cuma setonjokan Raksasa aja bikin cerita. Makanya atuh kalo shopping2 ajaklah nona University ini, yang shopping2 gitu ya doyan, hahaha.
Btw, besok mau dibangunin gak?

Retty said...

Saya jadi ketagihan ngintip nih...soalnya saya terkesima kok bisa sih kisahnya seru-seru banget....atau mungkin hidup saya yang sudah kayak robot nggak perhatikan detail lagi.

Untung kejadiannya bukan di Indonesia, disini bukannya dibantuin malah bisa-bisa dimarah-marahin dan disuruh bayar...

santi d - trilingual said...

Kikikikikik .... itu kalu pasang tampang galak dan marah2, bakalan dikasih sepasang gratis kale krn mereka takut disue

Barry said...

Untung tidak calling 911. Bisa masuk koran dong :)

Anonymous said...

wah indah betul kisah kasihmu bersama si-S ini.
Tampaknya pas,cocok pada awalnya, gara2 soal penarik seleting jadi sengsara. Untuk memutuskan hubungan pribadimu dengan si-S perlu bantuan banyak orang, akhirnya 'let go' benar2 lepas.

Mungkin berilah kesempatan lagi pada si-S ini, datanglah kembali ketempatnya, mungkin si-S sudah ganti haluan, bukan lagi pakai seleting tapi pakai kancing atau tali, siapa tahu, kamu dan si-S bisa hidup bersama dan berbahagia sampai akhir jaman, menyusur jalan kehidupan baik yg halus maupun yg terjal.

m lim said...

y'ayie: hihi... tadi kita ngga ke Shoe Pavilion ya? mau aku kenalin ke mas sama mbaknya lho :D

Retty: entah kenapa, setiap hari selalu ada yang error... tapi selalu happy ending koq.. :D

santi d - trilingual: hehe, iya kali ya. tapi kasian ah, ngga tega. aku belum se-American American :p

Barry: haha.... masuk koran dengan judul "stuck on boots"... kacow banget.

anonymous: yang penting happy ending. aku ngga kapok dengan si seleting. yang tali dan kancing ya ada juga, tapi si seleting lebih mantap.

ana said...

another so...merlyna? :D..hihii...seru bu..

za said...

:)) Mbak Mer, weker sampai 5? Ckk...ck...ckk... Aku ketawa guling-guling dulu di bawah meja deh.