Thursday, August 30, 2007

[Corat-coret] Asteng 4.5 -- Bandung: Hilang?

Masih seputar mobil. Selama di Bandung, saya meminjam mobil tua orang-tua saya yang sudah pernah menjadi piala bergilir, turun-temurun dari kakak-kakak saya ke adik-adik saya (padahal ayah ibu saya ngga bisa nyetir lho). Sebuah mobil Honda Civic 83 yang pernah ringsek berkali-kali. Mobil ini sangat bersejarah bagi saya. Tahun 1998 saya menyetir mobil ini dan dengan semena-mena ditabrak oleh sebuah bis antar-kota di jalan tol Padalenyi yang mungkin berkecepatan 70-80 km/jam. Saya sendiri jalan 60 km/jam. Mobil berputar 180 derajat. Ringsek habis. Tapi saya selamat! Cuma luka karena setir berputar cepat di genggaman saya.

Nah, mobil itu berwarna coklat ketika tabrakan terjadi. Tapi kemudian setelah terjadi tabrakan kedua (bukan saya yang nyetir), mobil dicat menjadi biru. Jadilah dia si biru.

Setelah itu saya masih menyetir si Civic selama bertahun-tahun sampai 2001. Dan setiap kembali ke Bandung, si Civic selalu jadi teman berpetualang saya. Demikian juga di kunjungan bulan Juli kemarin.

Suatu hari saya pakai si Civic ke Be-Mall (Bimol katanya orang2 Bandung) dan parkir di dalam. Kemudian setelah saya selesai berkeliling Be-Mall, saya kembali ke parkiran. Saya bingung karena saya tidak menemukan si Civic ini. Setelah berkeliling 20 menit, saya panik dan melapor pada Satpam di mall tersebut. Saya lapor,"Pak, mobil saya hilang! Civic 83 warna coklat nomor D xxxx." Satpam memastikan apa saya mencari di lantai yang tepat. Saya bilang,"Rasanya sih betul Pak, tapi mungkin juga saya salah lantai." Jadilah satpam tersebut, lewat HT-nya, mengerahkan rekan-rekannya untuk mencari mobil saya.

Saya menunggu dengan berdebar-debar. Saya tak habis pikir kenapa ada orang mau curi Civic tahun 1983? Dalam keputus-asa-an saya meremas-remas kunci dan dompet STNK saya. Lalu saya iseng mengeluarkan STNK dan saya kaget ketika saya lihat keterangan. Warna: Biru. Walah, pantesan ngga ada, soalnya ternyata warnanya sudah biru.

Ternyata mobil tidak hilang! Cuma ingatan saya yang hilang!

Diam-diam sambil malu saya berjalan sendiri di antara mobil-mobil, meninggalkan si satpam yang masih ber-HT-ria dan berjalan ke arah si coklat..eh si biru. Duh... maaf pak Satpam.

16 comments:

Anonymous said...

Waduh Mer....kenanganmu banyak banget sama si coklat..eh si biru. Tapi kalo gak gitu gak seru ya....

Dyah

Anonymous said...

Eh si mbak ngaku didepan umum bahwa "hilang ingatan" :-) sekalipun cuma beberapa menit.
Seandainya yg dia lupakan adalah seorang manusia yg istimewa baginya bagaimana? Barangkali kita perlu bikin STKM (Surat Tanda Kenal Merlyna), lengkap dengan photo, warna kulit, cat rambut dan sebagainya

Anonymous said...

Mer..makanya jangan gonta-ganti pacar..nanti dikira hilang lagi...kok jd ngawur yah...ah sudahlah...

-Rihard-

m lim said...

dyah: iya, itu mobil cok..biru banyak kenangan indah sekaligus gokil!

anonymous: secara sub-conscious, justru saya bukan lupa, tapi terlalu ingat sama mobil itu (originally coklat). jadi asal si manusia istimewa tidak ganti warna kulit, atau ganti wajah operasi plastik, saya ngga bakal lupa.

rihard: makanya rihard.. bayar itu tiket harian... naon coba? hehe.

santi said...

Hahahah kok bisa ya lupa warna mobil hihi. Itu cerita nyetir melawan arus seram juga, teh, untung ngga kenapa2.

m lim said...

santi: bukan lupa..terlalu ingat sama si coklat.... :)) *an excuse ya*

--Nna said...

hehehe... ternyata suka pikun juga si mba'e

za said...

Lucu juga baca cerita Mbak Mer. Sampai kapan di Bandung Mbak? Atau sudah pergi sekarang ;-)

m lim said...

--nna: bukan suka, hobi kali ye :p

zaki: wah, sudah lama pergi (3 minggu)... kan beberapa saat yg lalu saya umumkan di blog :)

Anonymous said...

In memory of my brain :-)
By the time I get really old ( around 50’s :-) and I might be forgetful, do you think memory devices could be the answer? Most things I do today will be forgotten in just a few days. My ability to retrieve a memory down so fast, perhaps after only a month more than half of my experiences will have gone beyond my ability to retrieve.

I lost my own traffic route easily, and I got disoriented. It seems that my brain need to be boosted by aids such as papers, notes, maps and photos.

Since my memories are my identities, this is a frightening situation. Can a machine such as I-memory-POD could record of my daily life, keeping nearly everything that happened easily accessible to us?

m lim said...

anonymous: hi NN, memory devices don't work as well as my brain, they help but they don't replace. i might be more forgetful as i get older, but i do always remember meaning over events/artifacts/objects. in fact, while i always forget my cellphone, wallet, and so many other things in life, i cannot forget many things, facts and artifacts, texts and contexts, of so many events, because i create meanings around them.
so, it's not merely about "memory"...

ana said...

mer..mer..gemes baca crita2 kamu ;p, tp betul, it's not merely about 'memory', it's about...hobi pikun :))

m lim said...

Ana... dikau memang kejam... duh... kejamnya kejamnya....:))

Anonymous said...

Tua Boleh, Pikun Jangan kata pak Menkes
Dementia atau pikun perlu dikenali dan dipahami dengan baik. Kepikunan diduga ada kaitannya dengan kondisi udara yg dihirup dan gaya hidup. Sekalipun tidak merokok, second-hand smoker mungkin ikut menderita. Smokers More Likely to Develop Dementia kata para peneliti, jadi sebaiknya semua pabrik rokok di Indonesia ditutup saja.
Kalau tidak jutaan orang pintar tak lama lagi akan jadi pikun

rini said...

si coklat emang penuh kenangan, dia udah jadi pendengar setia berbagai gosip, jadi saksi bisu our friends' wedding day (nggak bisu banget sih, soalnya banyak suara kaleng2 rombeng yang digantung beradu dng aspal), nonton si pemilik lagi pacaran (nah kalo yang ini gua ngarang, tapi siapa tau bener). makanya sayang juga waktu si coklat berganti rupa jadi si biru. tapi berhubung si biru keliatan keren banget (waktu baru dicat ya), gua dng cepat melupakan si coklat. tapi ternyata elu terlalu banyak memiliki kenangan di si coklat ya, sampe terus diingat-ingat.

m lim said...

anonymous: ya kalau saya sih perokok tidak boleh dekat dalam jarak radius 50 m!

rini: ah, elu memang sahabat sejati yang mengerti betul kenapa gue masih selalu menganggap si coklat itu selalu coklat..... memang penuh kenangan, Rin. kenanganku, kenangan dia, kenangan kita.... *cuih-cuih.. sok melankolis:p*