Monday, July 16, 2007

[Corat-coret] Asteng 4.2.1 -- Jakarta: Visa & Indomerika & Telinga (I)

Sewaktu aku di Indonesia kemarin, aku harus mengambil stiker renewal visa di Kedutaan Belanda. Visa-nya sendiri sudah disetujui sampai tahun 2009 (yang kisahnya bisa diikuti di blog entries yang lalu), tapi stiker-nya cuma bisa berlaku setahun. Kalau tidak ada stiker, tetap boleh tinggal dan bekerja di Amerika Serikat, tapi kalau keluar tidak bisa masuk lagi.

Pengalaman saya berkali2 melamar visa AS, yang rese itu ternyata bukan orang Amerika-nya, tapi orang Indonesia yang bekerja di sana. Mereka lebih Amerika dari orang Amerika.

Nah, setelah mengantri di depan gedung kedutaan AS, akhirnya sampai di dalam. Ternyata suasana sudah berbeda jauh jika dibanding beberapa tahun lalu. Sekarang sebelum sampai di ruang wawancara, sudah ada wawancara pendahuluan serta pengecekan dokumen di luar -- di meja cek dokumen -- yang dilakukan sesudah membayar ongkos visa.

Di meja kassa, si mbak kasir mempertanyakan jenis visa saya yang O-1 itu. Dia tanya, "Mbak, ini visa jenis apa?" Lha orang kedutaan koq ngga ngerti, pikirku. Terus kujawab, "Ini visa extraordinary alien, jenisnya untuk outstanding researcher and professor." Lalu si mbak bisik-bisik bertanya sama rekan-nya di meja cek dokumen, "Ini non-immigrant visa bukan sih? Apa bisa diterima?" Entah apa yang mbak lainnya katakan, si mbak lalu kembali padaku dan membolak-balik dokumen petisi O-1 ku. Ku katakan padanya, "Mbak, O-1 itu non-immigrant visa, bukan immigrant visa." Si Mbak langsung nyolot dan bilang, "Iya, saya juga tahu koq kalau itu bukan immigrant visa!". Yeee... tadi nanya koq sekarang malah bilang tahu. Gimana sih.

Setelah mengantri lagi, saya sampai di meja cek-dokumen. Dokumen saya lengkap, jadi saya tidak gugup, tenang saja. Ternyata begitu saya sampaikan dokumennya, si mbak-mbak yang menjaga meja cek dokumen langsung mencoret-coret form saya dengan stabilo warna kuning. Katanya saya salah mengisi alamat karena saya mengisi pakai alamat di Amerika. Padahal yang ditanya memang tempat tinggal sekarang. Saya bilang ya saya memang tinggal di Amerika. Tapi dia ngotot kalau saya harus isi alamat Indonesia, karena semua juga harus begitu. Weleh-weleh yang lain kan memang rata-rata melamar visa turis, ya jelas alamat tinggal sekarang Indonesia. Tapi ya sudah, aku turuti.

Lalu, si mbak itu bertanya, "KTP-nya mana?" Aku bilang, "Saya tidak punya KTP". Dia bilang, "Koq ngga punya KTP sih?". Kujawab,"Ya, karena saya tidak tinggal di Indonesia." Dia ngedumel tapi terus terima.

Entah kemasukan jin apa, si mbak mencari kesalahan saya lagi. Dia bilang foto saya ngga sah karena telinga-nya tidak kelihatan jelas. Saya bilang, foto tersebut saya pakai di tempat-tempat lain dan sah, termasuk di kedutaan Amerika. Dia tanya, "Kedutaan AS di mana?" "Calgary," jawab saya. "Calgary itu dimana?" tanya dia. Koq kayak pelajaran geografi ya, tapi ya saja jawab saja kalau itu di Kanada. Terus dia membalas, "Ya tapi ini bukan Kanada, ini Indonesia, jadi kita punya aturan sendiri." Padahal saya tahu aturan foto itu standar-nya dikeluarkan oleh pihak kedutaan pusat (US Dept of State).

Terus saya ngeyel. Saya bilang, "Tapi mbak, liat deh, telinga saya kan kecil, dan posisinya sedemikian rupa sehingga kalau dilihat horizontal tidak bakal terlihat banyak."

Si mbaknya......

ntar deh saya terusin ya.... mau pergi dulu nih.

1 comment:

mellyana said...

omigod. teringat kisah lain, gak mirip, tapi berhubungan dengan visa amerika itu, tentang seorang teman, blogger juga sih. kurang lebihnya begini, dia ditolak menerima visa amerika karena tidak bisa berbahasa belanda (emang sih applynya disana)

gedubrak kan