Friday, July 20, 2007

[Corat-Coret] Asteng 3.1 – Manila: Telmi

Sesungguhnya Lady Day sudah sampai dengan selamat di kerajaan Dayeuh, setelah perhentian di Manila, sejak lama, hanya saja belum sempat mengisahkan pengalaman-pengalamannya selama berada di Negara tetangga tersebut karena selama di Dayeuh Kolot sang Lady disibukkan oleh berbagai acara kenegaraan.

Namun kini Lady Day mencoba kembali mengudara setelah menerima ancaman halus dari berbagai rekan blogger. Silakan membaca.

:::

Setelah rentetan kejadian di berbagai bandara, aku sampai dengan selamat di bandara Manila. Oh ya, seorang kawan baik menggunakan istilah “disasters” untuk berbagai kejadian yang aku alami selama perjalanan. Bagi aku sih, kejadian2 itu bukan disasters. Boro-boro “disasters”….. lha membuat perjalanan2 aku jadi berwarna (kayak tipi aja), ni’mat dan menghibur (aku menghibur pembaca, terus pembaca menghibur aku kan? :D). Selain itu, kejadian2 ini kan malah membuat pembaca2 blog di seluruh dunia komat-kamit berdoa untuk aku :D Jadi malah menguntungkan!

Kembali ke laptop… eh, ke Manila. Kejutan, tak ada kejadian yang terlalu aneh di Manila selain bahwa ketiak aku berkeringat lebih banyak dari biasanya. Eh, tapi itu mah ngga aneh :p

Di Manila ini, aku diundang bicara di Global Symposium on Media and Religion di Ayala Museum. Hari pertama aku datang ke simposium, aku menemui bahwa aku adalah peserta/pembicara termuda. Atau paling tidak yang sok’ muda lah, hehe. Seriously, yang lain rata-rata sudah assoc atau full prof, atau paling tidak udah lama jadi ass prof. Pas perkenalan, profesor-profesor sebelum aku banyak yang memperkenalkan diri dengan mengatakan, “I’ve been doing this kind of research for …. 16 years…..20 years… 24 years…etc..etc.” Wah, kagak kuat euy, aku mah anak bawang.

Giliran aku memperkenalkan diri, aku ngga mau kalah. Aku bilang, “I’ve been dealing with this field for thirty years.” Orang-orang sempat tertegun mendengar kata itu. Lalu beberapa orang tertawa. Kemudian aku menyambung,”You guys should just believe me about that.” Lebih banyak lagi orang yang tertawa mendengar kalimat aku tersebut. Ada yang menyambut pernyataan aku dengan berkomentar kalau aku sudah mulai penelitian sebelum aku lahir. Komentar ini tentu disambut dengan tawa profesor2 lain.

Aku pikir guyonan aku soal 30 tahun itu betul-betul dipahami semua orang. Profesor gitu lho, masa telmi?

Pas menjalani Museum Tour, seorang profesor yang belum tua bertanya pada aku. “Btw, you’re not serious when you said that you have been doing the research for thirty years, were you?” Aku rada bingung ditanya begitu. Lalu kujawab, “Of course I am serious.” Muka dia langsung bingung. Pupil matanya membesar. Ditatapnya aku dengan seksama. Aku bingung dan kasihan melihat reaksi dia, tapi kuputuskan untuk tertawa untuk menegaskan bahwa aku bercanda. Dia kemudian ikut tertawa bersamaku.

Dalam hati aku bertanya, “Ini ketawa apa ya? Udah ngerti atau semakin bingung?” Ternyata professor ada yang telmi juga ya.

1 comment:

Anonymous said...

Topiknya bagus betul, pernyataanmu juga betul tiap orang dealing with Interaction( inter-net working) dalam Religious & Civilized Society sejak lahir..
"Glocal Ummah? -- Co-evolution of the Internet and Muslim Society in Contemporary Indonesia"
Mencari Kehadiran Tuhan di dunia - "maya"- mungkin lebih praktis dari pada mencari "perdamaian" ditengah hiruk pikuk massa, apalagi untuk bertemu teman se-iman ( tidak berarti seagama) harus berjuang melalui jalan-jalan yg macet dan penuh polusi.