Friday, July 27, 2007

[Corat-Coret] Asteng 4.1.2 – Bandung: Membeli handphone bag. 2

Lanjutan dari [Corat-Coret] Asteng 4.1.1 – Bandung: Membeli Handphone Bag 1.

Sambil menunggu mbak pramuniaga mengotorisasi kartu kreditku, aku bermain-main dengan si Nokia 11xx itu. Sementara itu, ke dalam toko masuklah sepasang suami-istri yang mencari HP baru. Seorang pramuniaga pria, si Mas, melayani mereka. Ternyata mereka itu first-time buyer. Mereka masih belum tahu akan memakai kartu apa. Si Mas menjelaskan perbedaan antara berbagai jenis layanan seperti XL, Simpati, Mentari, Flexi, eSia, Fren, dll. Si Mas menyarankan pasangan tersebut untuk memakai GSM saja seraya menyodorkan daftar harga HP. Pasangan tadi mempelajari daftar harga dan menanyakan HP-HP yang termurah.

Jelas yg paling murah dari daftar itu adalah si Nokia 1110 punyaku itu!
Yang bikin aku sirik, pas si suami istri pembeli pingin HP murah koq tidak dipertanyakan seperti pas aku yg pingin. [Hehe, koq gitu aja aku sirik? ;p]

Sang istri ingin melihat si Nokia 1110, tapi ngga ada dummy-nya. Lalu aku berbaik hati menunjukkan HP-ku yang baru itu dan meminjamkan pada pasangan suami-istri itu. Maksudnya supaya dikagumi, gitu :)

Eh, sang istri bilang sama suami-nya, "Wah, Mas, kurang bagus ya?"

Weleh-weleh HP-ku dibilang kurang bagus! Baru nih baru!! Pasangan yang baru melek-HP itu lalu membeli HP Nokia yang sudah berwarna -- ngga hitam putih kayak punyaku -- yang harganya 100,000 rupiah lebih mahal.

..... ternyata pemula pun tak sudi beli HPku.....

Friday, July 20, 2007

[Corat-Coret] Asteng 4.1.1 – Bandung: Membeli handphone bag. 1

Baru-baru ini aku makan siang dengan kawan-kawan alumni AR-ITB. Melihat handphone-ku, mereka berkomentar, “Mer, HP mu kuna amat?” Aku dengan bangga menyahut, “Hey, ini HP baru ku lho? Baru dua hari!” Mereka ketawa-ketawa hampir tak percaya. Aku jujur lho, HP Nokia 11.. ku yang terlihat kuna ini memang baru! Dan aku punya sebuah cerita di balik HP kebanggaan ku ini.

Beginilah ceritanya, seperti yang telah aku ceritakan kemarin kepada Neng Breng-breng Gedumbreng, kang Jay Ngorejay, dan Mas Kunkun Kun-Coro.

HPku di Amerika tidak bekerja di Indonesia. Maklum beda teknologi, sehingga sesampai di Indonesia, aku mulai menggunakan kembali HP Nokia 3160 ku jaman dahulu yang kupakai sebelum pergi ke Belanda. Lumayan pikirku. Biar kata keponakanku bilang itu HP bisa untuk “ngabaledog anjing”, aku tetap pakai. Asal jalan, kenapa tidak? Akungnya baru beberapa hari, si HP ini ngadat. Dia selalu mati setelah 1 pembicaraan telepon saja. Sudah dikaret-gelang-in supaya batere tidak bergeser, tetap tidak tokcer. Setelah diulik tetap tak jalan, akhirnya aku putuskan untuk beli HP GSM baru.

Pergilah aku ke BEC (Bandung Electronic Center) dan aku langsung mengalami serangan jantung, mata dan telinga. Terlalu banyak toko, terlalu banyak handphone, terlalu banyak merek, terlalu banyak orang! Jangar!

Akhirnya aku pergi ke satu toko HP besar di jalan Dago. Biar tidak terlalu banyak anu-anu lah.

Sesampainya di sana, aku langsung disambut. Begitu aku bilang aku mau beli handphone baru, aku disodori beberapa pilihan yang harganya 2 juta, 4 juta, dan lain sebagainya. Pokoknya handphone2 canggih lah.

Aku tidak melirik HP2 tersebut. Aku menatap sang pramuniaga dan berkata dengan tegas, “Mbak, aku mau handphone yang paling murah.” Si Mbak menatapku aku setengah tak percaya. Kedua matanya memindai aku, dari kepala sampai pinggang (ngga sampai mata kaki, soalnya kan ketutupan etalase!) terus berkata, “Tapi Mbak, kalau yang murah itu basic, ngga terlalu bagus.” Aku menyahut, “Ngga papa, Mbak, aku cuma butuh untuk nelepon dan sms.”

Dengan berat hati, si mbak mengeluarkan daftar harga HP dan aku dengan cepat menunjuk ke HP dengan harga termurah. HP tersebut bahkan tidak ada dummy-nya. Mbaknya masih berusaha membujuk aku membeli yang agak mahalan sedikit dengan menunjukkan dummy HP yang berwarna. Dia berkata,”Mbak itu terlalu basic, masih hitam putih belum berwarna.” Aku bersikukuh membeli yang paling murah dan tak berwarna. Si mbak menyerah. Akhirnya diberinya aku sekotak HP yang segera kuperiksa.

Si mbak tampak prihatin (dan mungkin terharu) melihat aku begitu senang dengan HP baruku itu. Dibantunya aku membuka kotak. Malah si mbak mengambil alih pembongkaran kotak. Diambilnya HP ku itu, lalu dia menginstall kartu chipku dan disetnyalah HP ku ke dalam bahasa Indonesia.

Masih dengan wajah prihatin, mbak itu dengan ramah menunjukkan layar si HP kepadaku. Sambil menunjuk ke sinyal batere, dia berkata, “Mbak, lihat ini? Artinya baterenya masih penuh.” Aku mengangguk-angguk. Lalu mbak-nya meneruskan,”Kalau tanda ini turun, artinya baterenya sudah habis. Mbak harus mengecharge pakai ini (menunjukkan charger) selama 8 jam.” Si Mbak kayaknya yakin aku ini orang yang baru kenal teknologi yang bernama Handphone :)

Aku mengangguk-angguk lagi dan berkata, “Oh begitu ya, Mbak? Makasih kalau begitu.” Aku bersikap menghargai perhatian dan "petunjuk" si Mbak :D

Setelah itu aku membayar dengan kartu kredit karena tak punya uang cash. Si Mbak agak berubah ekspresi wajahnya waktu melihat aku mengeluarkan kartu kredit ku, tapi tak ayal dia tetap menerima.

Sebelum dia pergi untuk meng-otorisasi kartu kredit ku, aku bertanya kepada si Mbak, ”Mbak, bisa tolong tidak? Saya bingung ini.” “Kenapa, Mbak?” dia bertanya. Aku bilang, “Saya bingung karena saya tidak mengerti ini menu handphone-nya.”Aku tidak bermaksud macam-macam sebetulnya. Aku betul-betul bingung dengan menu-nya.

Mbaknya menjadi bingung dan bertanya,”Maksud mbak?”
Aku menjawab, “Iya ini, saya tidak mengerti bahasa Indonesia ini, saya cuma mengerti Inggris.” Maksud aku menu-nya sih....
Mbak menjadi lebih bingung tapi terus membantu aku menyetel menu ke dalam bahasa Inggris.

Ketika mbak itu pergi meninggalkan aku untuk otorisasi kartu kredit, air muka mbak tsb sudah tak jelas, tampak sangat bingung. Mungkin baginya ada yang tidak sinkron antara penampilan ku (pan penyanyi dangdut, haha), pilihan HP (yang kagak modal), kartu kreditku, dan pilihan menu :p Atau mungkin dalam hatinya dia bertanya, “Makluk dari planet manakah pembeli HP ini?”

[Corat-Coret] Asteng 3.1 – Manila: Telmi

Sesungguhnya Lady Day sudah sampai dengan selamat di kerajaan Dayeuh, setelah perhentian di Manila, sejak lama, hanya saja belum sempat mengisahkan pengalaman-pengalamannya selama berada di Negara tetangga tersebut karena selama di Dayeuh Kolot sang Lady disibukkan oleh berbagai acara kenegaraan.

Namun kini Lady Day mencoba kembali mengudara setelah menerima ancaman halus dari berbagai rekan blogger. Silakan membaca.

:::

Setelah rentetan kejadian di berbagai bandara, aku sampai dengan selamat di bandara Manila. Oh ya, seorang kawan baik menggunakan istilah “disasters” untuk berbagai kejadian yang aku alami selama perjalanan. Bagi aku sih, kejadian2 itu bukan disasters. Boro-boro “disasters”….. lha membuat perjalanan2 aku jadi berwarna (kayak tipi aja), ni’mat dan menghibur (aku menghibur pembaca, terus pembaca menghibur aku kan? :D). Selain itu, kejadian2 ini kan malah membuat pembaca2 blog di seluruh dunia komat-kamit berdoa untuk aku :D Jadi malah menguntungkan!

Kembali ke laptop… eh, ke Manila. Kejutan, tak ada kejadian yang terlalu aneh di Manila selain bahwa ketiak aku berkeringat lebih banyak dari biasanya. Eh, tapi itu mah ngga aneh :p

Di Manila ini, aku diundang bicara di Global Symposium on Media and Religion di Ayala Museum. Hari pertama aku datang ke simposium, aku menemui bahwa aku adalah peserta/pembicara termuda. Atau paling tidak yang sok’ muda lah, hehe. Seriously, yang lain rata-rata sudah assoc atau full prof, atau paling tidak udah lama jadi ass prof. Pas perkenalan, profesor-profesor sebelum aku banyak yang memperkenalkan diri dengan mengatakan, “I’ve been doing this kind of research for …. 16 years…..20 years… 24 years…etc..etc.” Wah, kagak kuat euy, aku mah anak bawang.

Giliran aku memperkenalkan diri, aku ngga mau kalah. Aku bilang, “I’ve been dealing with this field for thirty years.” Orang-orang sempat tertegun mendengar kata itu. Lalu beberapa orang tertawa. Kemudian aku menyambung,”You guys should just believe me about that.” Lebih banyak lagi orang yang tertawa mendengar kalimat aku tersebut. Ada yang menyambut pernyataan aku dengan berkomentar kalau aku sudah mulai penelitian sebelum aku lahir. Komentar ini tentu disambut dengan tawa profesor2 lain.

Aku pikir guyonan aku soal 30 tahun itu betul-betul dipahami semua orang. Profesor gitu lho, masa telmi?

Pas menjalani Museum Tour, seorang profesor yang belum tua bertanya pada aku. “Btw, you’re not serious when you said that you have been doing the research for thirty years, were you?” Aku rada bingung ditanya begitu. Lalu kujawab, “Of course I am serious.” Muka dia langsung bingung. Pupil matanya membesar. Ditatapnya aku dengan seksama. Aku bingung dan kasihan melihat reaksi dia, tapi kuputuskan untuk tertawa untuk menegaskan bahwa aku bercanda. Dia kemudian ikut tertawa bersamaku.

Dalam hati aku bertanya, “Ini ketawa apa ya? Udah ngerti atau semakin bingung?” Ternyata professor ada yang telmi juga ya.

Monday, July 16, 2007

[Corat-coret] Asteng 4.2.2 -- Jakarta: Visa & Indomerika & Telinga (2)

Ini sambungan dari [Corat-coret] Asteng 4.2.1 -- Jakarta: Visa & Indomerika & Telinga (1)

Nah, kan aku bilang "....telinga saya kan kecil, dan posisinya sedemikian rupa sehingga kalau dilihat horizontal tidak bakal terlihat banyak."

Si mbak bengong mendengar jawabanku. Tapi dia ngotot aku harus foto lagi. Dia memberi aku formulir kekurangan dokumen dan memberi aku waktu sampai jam 10 untuk kembali dengan foto yang baik dan benar! Saat itu sudah pukul 9 pagi. Dia juga memberitahu kalau aku bisa mendapatkan foto itu dari toko di jalan Sabang.

Aku bergegas meninggalkan kedutaan dan naik taksi ke jalan Sabang. Di sana memang banyak toko foto, jadi aku masuk saja ke salah satu dan langsung memesan pas foto ukuran kedutaan AS yang kilat.

Tak lama aku dipanggil untuk masuk ke studio. Dan dimulailah pemotretan itu. Aku menjelaskan bahwa telingaku harus terlihat jelas.

Si tukang potret memberikan petunjuk dan aba-aba supaya telingaku jelas. Lalu dia bilang, "Wah mbak susah ya, telinganya kecil dan ngga gini (tangannya bergerak membuat gerakan telinga yang caplang keluar)."

"Terus gimana dong, Pak?", tanyaku.

Dia mendekati meja kerja dia dan mengubek-ngubek laci. Lalu dia bilang,"Nah, ini dia, mbak. Kita ganjel aja telinga-nya pake styrofoam supaya keluar!!!"

Aku terbengong-bengong lalu tertawa, tapi kuterima keputusan itu. Demi mencapai kecaplangan, dengan rela dan riang gembira kubiarkan kedua daun telingaku diganjel gabus putih!!!!

Jepret! Jepret! Selesailah pemotretan dan hasilnya memang memuaskan. Telingaku jadi cukup caplang! :D

Aku langsung berlari-lari cari taksi dan kembali ke kedutaan. Belum jam 10! Tepat waktu! Dan langsung ke si mbak itu. Kubilang, "Mbak, ini udah diganjel lho, jadi kalau ini masih kurang, wah gimana lagi. Saya bukan Spock." Si Mbak diam saja, terus memperbolehkan aku masuk.

Seterusnya urusan lancar. Pewawancara yang orang Amerika malah memperlakukan aku dengan penuh hormat. Dia kagum dengan visaku kali (ge-er!) dan yang pasti dia tidak mempermasalahkan telingaku yang ngga caplang :P Malah dia bilang begini,"I wish to give you a two years sticker, unfortunately the rule says it's only one year."

Ah, sayang... tapi yang penting kan dapat stiker visa dan aku tidak usah operasi telinga.

[Corat-coret] Asteng 4.2.1 -- Jakarta: Visa & Indomerika & Telinga (I)

Sewaktu aku di Indonesia kemarin, aku harus mengambil stiker renewal visa di Kedutaan Belanda. Visa-nya sendiri sudah disetujui sampai tahun 2009 (yang kisahnya bisa diikuti di blog entries yang lalu), tapi stiker-nya cuma bisa berlaku setahun. Kalau tidak ada stiker, tetap boleh tinggal dan bekerja di Amerika Serikat, tapi kalau keluar tidak bisa masuk lagi.

Pengalaman saya berkali2 melamar visa AS, yang rese itu ternyata bukan orang Amerika-nya, tapi orang Indonesia yang bekerja di sana. Mereka lebih Amerika dari orang Amerika.

Nah, setelah mengantri di depan gedung kedutaan AS, akhirnya sampai di dalam. Ternyata suasana sudah berbeda jauh jika dibanding beberapa tahun lalu. Sekarang sebelum sampai di ruang wawancara, sudah ada wawancara pendahuluan serta pengecekan dokumen di luar -- di meja cek dokumen -- yang dilakukan sesudah membayar ongkos visa.

Di meja kassa, si mbak kasir mempertanyakan jenis visa saya yang O-1 itu. Dia tanya, "Mbak, ini visa jenis apa?" Lha orang kedutaan koq ngga ngerti, pikirku. Terus kujawab, "Ini visa extraordinary alien, jenisnya untuk outstanding researcher and professor." Lalu si mbak bisik-bisik bertanya sama rekan-nya di meja cek dokumen, "Ini non-immigrant visa bukan sih? Apa bisa diterima?" Entah apa yang mbak lainnya katakan, si mbak lalu kembali padaku dan membolak-balik dokumen petisi O-1 ku. Ku katakan padanya, "Mbak, O-1 itu non-immigrant visa, bukan immigrant visa." Si Mbak langsung nyolot dan bilang, "Iya, saya juga tahu koq kalau itu bukan immigrant visa!". Yeee... tadi nanya koq sekarang malah bilang tahu. Gimana sih.

Setelah mengantri lagi, saya sampai di meja cek-dokumen. Dokumen saya lengkap, jadi saya tidak gugup, tenang saja. Ternyata begitu saya sampaikan dokumennya, si mbak-mbak yang menjaga meja cek dokumen langsung mencoret-coret form saya dengan stabilo warna kuning. Katanya saya salah mengisi alamat karena saya mengisi pakai alamat di Amerika. Padahal yang ditanya memang tempat tinggal sekarang. Saya bilang ya saya memang tinggal di Amerika. Tapi dia ngotot kalau saya harus isi alamat Indonesia, karena semua juga harus begitu. Weleh-weleh yang lain kan memang rata-rata melamar visa turis, ya jelas alamat tinggal sekarang Indonesia. Tapi ya sudah, aku turuti.

Lalu, si mbak itu bertanya, "KTP-nya mana?" Aku bilang, "Saya tidak punya KTP". Dia bilang, "Koq ngga punya KTP sih?". Kujawab,"Ya, karena saya tidak tinggal di Indonesia." Dia ngedumel tapi terus terima.

Entah kemasukan jin apa, si mbak mencari kesalahan saya lagi. Dia bilang foto saya ngga sah karena telinga-nya tidak kelihatan jelas. Saya bilang, foto tersebut saya pakai di tempat-tempat lain dan sah, termasuk di kedutaan Amerika. Dia tanya, "Kedutaan AS di mana?" "Calgary," jawab saya. "Calgary itu dimana?" tanya dia. Koq kayak pelajaran geografi ya, tapi ya saja jawab saja kalau itu di Kanada. Terus dia membalas, "Ya tapi ini bukan Kanada, ini Indonesia, jadi kita punya aturan sendiri." Padahal saya tahu aturan foto itu standar-nya dikeluarkan oleh pihak kedutaan pusat (US Dept of State).

Terus saya ngeyel. Saya bilang, "Tapi mbak, liat deh, telinga saya kan kecil, dan posisinya sedemikian rupa sehingga kalau dilihat horizontal tidak bakal terlihat banyak."

Si mbaknya......

ntar deh saya terusin ya.... mau pergi dulu nih.

Monday, July 02, 2007

[Corat-coret] AsTeng 2.1 - Hong Kong airport

Selamat pagi, siang dan sore, teman-teman Kawanmu Lady Day sudah sampai di Manila dengan selamat. Secara fisik kelihatannya tidak kekurangan sesuatu apapun. Secara kejiwaan masih belum dapat dideteksi :D

Berikut ini adalah catatan kecil dari bandara Hong Kong, sesaat sebelum lepas landas.

:::

Bangun pagi sekali, re-packing koper, dan check-out. Semuanya beres. Aku hampir yakin tak bakal ada hal-hal ajaib yang bakal terjadi hari Bandara ke-4 dalam perjalanan AsTeng ini. Aku memberitahukan si petugas hotel bahwa aku ingin pakai taksi ke Airport Express station (dari sini bakal naik Express train ke bandara -- lebih cepat, lebih murah, dan lebih efisien, bisa check-in dari station sehingga ngga usah bawa-bawa koper). Sebuah taksi berhenti dan si petugas hotel berbicara dalam bahasa CIna (kemungkinan Mandarin) tentang tujuan saya. Saya tak mengerti apapun, kecuali kata Airport.

Setelah sekita 15 menit dalam taksi, saya melihat gelagat aneh. Taxi meter menunjukkan angka di atas 30 dollar padahal perjlanan saya dari station ke hotel malam sebelumnya saya cuma membayar 22 dollar. Lalu saya bertanya, "You know that we're going to Airport Express station, right?". Dia menjawab,"Airport, airport, Hong Kong?" Aku membalas,"Not the airport, but the station for the train." Dia terkejut,"Oh! No airport?" Aku juga terkejut, "Station, not airport, OK?" Dia, "Oh! Oh, Kowloon huh?" Aku menjawab,"Argh, should be Central (stasiun terdekat dari Hotel) but now I have no choice, right? I guess Kowloon is the closest." Duh, ternyata kesalahpahaman terjadi karena masalah bahasa. Saya menyangka si petugas hotel cuma bilang pada supir taksi bahwa aku minta diantar ke Airport. Dalam bahasa Cina, sehingga aku tidak bisa mendeteksi kesalahan tsb!

Akhirnya aku sampai di Kowloon Airport Express station, dengan sedikit ngebut-ngebut dan beberapa perdebatan tentang harga taksi dimana si supir ngotot bicara dalam bahasa Cina dan aku ngotot bicara bahasa Inggris (lha, gue kan ngga punya pilihan.... masa mau dalam bahasa Sunda?). Si supir cuma switch ke bahasa Inggris sesudah aku bayar saat dia bilang, "Thank you."

Kereta ke Airport sangat lancar dan nyaman. Aku tetap tiba jauh sebelum waktu keberangkatan.

Karena aku sangat lapar, aku memutuskan untuk sarapan terlambat/brunch. Sepiring kecil turnip cake menggugah seleraku dan segera kupesan. Entah apa yang terjadi, tahu2 ketika aku berjalan ke arah kasir, terjadilah BRANG GEDOMBRANG... BANG! Dalam hitungan milidetik, piring kecil dari tanganku sudah pindah menjadi kepingan-kepingan porselin yang berantakan di lantai. Turnip cake ku tergeletak terbuang percuma di lantai! Arrrrggghhh!!!

Manager cafe langsung mendekatiku,"Are you OK?" Aku masih terdiam mematung. Dia mengecek tangan dan kakiku. Semua baik. Tapi dia tidak mengecek otakku! :) Dia bilang, "You better just sit down. We'll give you a new plate, OK?" Dia lalu mengantar aku duduk di salah satu meja, jauuuuuuh dari tempat kejadian. Dengan muka kasihan dia bilang padaku, "Take care, OK?" Petugas-petugas lain juga melirik-lirik ke arahku. Semua memasang tampang baik penuh rasa cinta.... haha.. ngga mungkin ya. Mereka tampangnya prihatin gitu lho. Kelihatannya mereka lebih prihatin soal diriku ketimbang turnip cake yang tumpah dan piring yang pecah. Hahaha, mungkin mereka pikir ini orang depresi penuh kejangaran sampe mecahin piring segala!

Aku tetap mendapatkan sepiring kecil turnip cake yang rasanya enak banget. Kunikmati sambil agak terbengong-bengong melihat petugas kebersihan membersihkan bekas-bekas kecelakaan itu. Sampai sekarang aku masih belum mengerti mengapa kecelakaan ini terjadi. Masa penyanyi dangdut kesohor ngga bisa menenteng baki kecil yang isinya cuma sepiring turnip cake? :P

Keterangan gambar:


atas: sepiring turnip cake.
bawah: bersih-bersih tempat kejadian (aku ambil dari tempat aku duduk).