Sunday, December 16, 2007

Tersesat dalam Wisuda

English version click here

Hari ini, 13 Desember 2007, ada University Commencement alias Wisuda-an tingkat universitas di ASU (Arizona State University). Aku harus hadir untuk mewakili para profesor yang paling baru dari jurusanku. Tak masalah untuk hadir. Kupikir bakalan seru lah. Dulu waktu masih sekolah S1 di ITB, aku senang melihat para guru besar berprosesi pakai jubah-jubah ajaib dan topi-topi lucu. Tak kusangka sekarang aku menjalani prosesi seperti itu dan lengkap berpakaian ajaib seperti tukang sihir.

Karena yakin pasti jalanan macet dan parkir susah, aku memutuskan untuk datang ke gedung wisuda, Wells Fargo Arena, pakai sepeda. Tentu saja karena bersepeda, aku tidak memakai jubah. Bukan karena malu sih, tapi karena takut keserimpet jubah. Aku trauma karena pernah terjungkal dari sepeda gara-gara ujung2 jaketku masuk ke jari-jari dan bikin macet roda sepeda. Kubawa jubahku dalam kantong kresek besar.

Aku tak tahu kemana aku harus masuk, jadi kuparkir sepedaku sembarang di dekat hidran karena tak kutemukan tempat parkir sepeda dekat pintu yang banyak dikerubuti orang. Kuikuti saja serombongan orang memasuki pintu masuk utama. Aku bisa masuk setelah mengantri cukup lama. Di depan pintu masuk, aku membuka kantong kresek dan memakai jubahku. Penjaga pintu kaget melihat jubahku yang berwarna hitam. Dia baru sadar bahwa aku bukan mahasiswa, karena mahasiswa berjubah merah. Dia bilang "Oh, you're faculty! You should go to the west tunnel". Ternyata aku mengantri di pintu yang salah! Padahal acara sudah hampir mulai!!!!

Aku langsung berlari-lari turun ke lantai bawah dan ketika tiba di pintu west tunnel, penjaga pintu menyambutku, "Oh, you're almost late.. but it's ok... you're just in time." Terengah-engah aku berusaha memakai jubahku dengan benar. Aku berlari-lari dengan jubah yang belum diseleting. Si bapak penjaga membantu aku mencari kepala seleting dan menyeletingkan jubahku. Seorang ibu, penjaga yang lain, membantu memasangkan hood berwarna biru dan merah maroon di jubahku. Lalu aku berlari masuk ke dalam ruangan.

Di dalam ruangan yang besar itu aku kebingungan kemana aku harus duduk. Seseorang petugas mempersilahkan aku maju ke 7 baris terdepan. Dia bilang, "Just go there quick, we're about going to start, find your student and sit there." Aku kebingungan, student apaan? Tak kulihat studentku di situ. Beberapa waktu kemudian aku baru mengerti bahwa 7 baris pertama adalah barisan kandidat PhD dan professor2 pembimbing duduk dekat mereka untuk memasangkan hood ketika para PhD baru ini dilantik. Tentu saja aku belum punya mahasiswa yang lulus PhD! Duh salah lagi!!!!

Jadinya aku kembali kepada petugas dan kubilang tempatku bukan dekat mahasiswa. Dia kemudian bilang dengan yakinnya, "Oh, your place then must be there... with the group on the ramp, hurry, we're starting!" Kulihat ada serombongan manusia berpakaian mirip denganku di ramp pintu masuk. Aku berjalan ke situ dan langsung bergabung dengan rombongan yang sudah siap melakukan prosesi. Aku merasa agak aneh karena semua profesor di situ tua. Lalu persatu dari mereka menyerahkan kartu hijau dan merah bernomor kepada petugas wisuda. Aku satu-satunya yang tak punya. Kubilang aku tak pernah dapat nomor itu. Petugas bilang, "You had to pick up that number. But well it's ok, we can check your name." Kami berdua memeriksa skema tempat duduk yang penuh nama. Aku baru sadar bahwa aku ada di dalam rombongan Rektor, Board of Regents, dan Dekan! Cepat kubilang, "Oh, I don't think my name is there, I am not Dean or something, I am just a regular faculty!"

Untunglah aku belum ikut terseret ke panggung bersama rombongan para sesepuh ini. Kalau tidak, bisa malu dan tidak bakalan dapat tempat duduk!!

Beruntung para petugas wisuda ini sabar menghadapi kebingungan dan ketersesatanku. Seorang petugas cepat-cepat membawa aku ke luar pintu dan menggabungkan aku dengan rombongan faculty yang ternyata sudah mulai berjalan dengan rapi. Aku menyelinap masuk ke baris paling belakang! Selamat lah aku, walaupun setelah melihat orang-orang lain memakai topi, aku baru sadar bahwa kostumku kurang lengkap. Topiku ketinggalan! Biarlah, yang penting aku menemukan tempatku yang benar! Heran, koq faculty-faculty lain bisa tahu tempat berkumpul yang benar. Kenapa aku bisa tersesat kemana-mana? Ah, entahlah.... ngga gue pikirin...

Selanjutnya aku duduk dengan manis menikmati acara yang berlangsung satu jam. Wisuda pertama yang kuikuti di Amerika. Ternyata seru sekali!!!

Saturday, December 08, 2007

Sepatu dan kakiku

English version is here

Malam ini seharusnya aku tidak pergi kemana-mana karena besok pagi pesawatku ke Washington DC dijadwalkan terbang pukul 5:55 pagi. Mengingat sejarah pertalian diriku dan perpesawatan dan perbandaraan yang penuh cinta, benci, dan cerita, sebaiknya aku tidur cepat dan memasang 5 buah alarm sekaligus!

Tapi karena ada yang ingin kubeli, pergilah aku ke Tempe Market Place. Karena sudah ada di sana, aku singgah di berbagai toko. Ross for Less, Old Navy, Dress Barn, Michaels, Target, dan berakhir di Shoe Pavillion, cuma karena dekat dengan parkiran mobilku.

Di Shoe Pavillion, aku mencoba sepatu boot walaupun aku tahu aku tak butuh boots. Sudah terlalu banyak! Harus berhenti beli boots! Sepatu pertama yang kucoba adalah sebuah sepatu boot kulit berwarna coklat yang berhak tinggi. Kucoba sebelah kanan. Srttttt, seleting kutarik ke atas. Ouch, ternyata penarik seleting itu sudah patah sebelah dan semena-mena lepas pas kutarik. Kucoba menurunkan seleting tanpa penarik itu, ternyata tidak bisa turun. Kucoba naik-turunkan pentol-nya, ternyata betul-betul tak bergerak. Lima menit kucoba, tetap tak ada kemajuan. Keringat sudah mulai membasahiku.

"Tenang, tenang, pasti bisa,"kuhibur diriku sendiri. Kubuka jaket dan mencoba duduk di lantai supaya lebih ada tenaga. Lima menit kemudian, kaki-ku masih menyangkut dengan sukses. Putus asa, kududuk di lantai dan kutarik sepatu dari kakiku...Auuuuwww... ternyata sakit juga. Langsung imajinasiku melayang-layang. Gimana kalau betul-betul tidak bisa keluar? Sepatu ini harus digunting...oooh! Aku lalu mulai menyesali diriku kenapa juga coba-coba sepatu. "Duh, sudah malam, besok mau ke East Coast pula, kenapa sih kelayapan segala." Malah jadi melamun... hik...hik.... malangnya diriku.....

Kulihat ada sebuah bangku, sekitar 5 meter dariku. Aku berjalan ke sana dan sambil duduk kucoba lagi. Lima menit kemudian, keringat sudah banjir dan masih tak ada kemajuan. "Oh my goodness, what should I do?" kataku dalam hati. Akhirnya aku menyerah. Kulambaikan tanganku ke arah kasir yang jauhnya kira-kira 20 meter-an dari diriku. Cuma ada dua pegawai di toko yang besar itu. Keduanya ada di dekat kasir. Mereka tidak melihat.

Lalu kulihat seorang dari mereka berjalan ke arahku. Kulambaikan tanganku lagi sambil berteriak, "Excuse me.....excuse me, would you help me?" Seorang laki-laki mendekat dan berkata, "Hello maam, what can I help you?". "Oh, my foot stucks inside! The thing on the zipper is broken, I zipped it up but now it cannot go down." Si mas berkata, "Oh, my gosh.... this is not good." Dia lalu memeriksa sepatu itu dan mencoba membantu menurunkan restleting. Diapun tak berhasil. Atas persetujuanku, kami mencoba mengeluarkan kakiku tanpa membuka seleting. Tentu saja sulit sekali. "I don't want to hurt your foot, "katanya. Setelah termenung sebentar, dia berkata, "I think we should do some damage on this shoe" lalu memanggil rekannya yang berada di kasir. Seorang wanita yang kelihatannya lebih senior.

Si mbak datang dan langsung berkata, "Oooh, poor you, how long have you been stuck there?" Kubilang, "More than twenty minutes, I guess." Dia melakukan usaha yang sama. Kami berusaha menekan betisku untuk memberi ruang pada restleting tadi. Tapi masalahnya bukan karena sempit, masalahnya memang si pentol restleting nyangkut dan tidak mau turun. Mereka berdua, si mas dan si mbak tampak prihatin, tapi juga kelihatan pingin ketawa atas tragedi ini. Daripada mereka menahan-nahan tawa, kubilang, "It's ok to laugh... I know this is kinda sad, but funny at the same time." Hahahaha..... tertawalah mereka terbahak-bahak. Ya, terpaksa aku tertawa bareng, daripada...........

Akhirnya si mbak ada akal. Disuruhnya si mas mengambil paper clip yang besar untuk disangkutkan di restleting dan voila..... setelah menarik sekuat tenaga, berhasillah kakiku keluar! Horeeeee!!!

"Yayyyyy......congratulations!!!" si mas dan si mbak menyelamatiku. "Oooooh.... many many thanks!!!!!" kujawab. Sesudah itu segera si mas memutuskan untuk menyisihkan sepatu tersebut sebelum nyangkut di kaki orang lain! Si mas juga mengecek sepatu2 ukuran lain yang jenisnya sama. Ternyata yang lain baik2 saja.

Sebelum kutinggalkan toko itu, kukatakan pada si mas dan si mbak, "Ugh.. I guess the shoes aren't for me!" (Or perhaps they are.... since they wanted to be stucked on me!!)

Dalam perjalanan pulang aku tak habis pikir.... kenapa sih sepatu boot yang bermasalah itu koq ukuranku. Nasib.... nasib......

Friday, December 07, 2007

Hari pelupa sedunia

Kemarin memang hari yang istimewa. Pagi itu aku memakai baju yang lebih keren dari biasanya dan bersepeda ke kampus cepat-cepat tanpa sarapan untuk mengejar faculty meeting. Aku ingat kalau hari itu School of Justice akan ada pemotretan, makanya bajunya keren. Sampai di kampus langsung rapat selama 2 jam, jam 9 sampai jam 11. Kupikir pemotretan dilakukan setelah rapat. Eh, sampai rapat bubar koq tidak ada tanda-tanda pemotretan? Tahu-tahu direkturku menepuk bahu dan bilang, "Merlyna, we missed you on the photo shot this morning!" Ouch, ternyata pemotretan itu "sebelum" dan bukan "sesudah" rapat, tepatnya pukul 8:45! Sia-sialah pakaian keren ini... ugh.

Jam 12-2pm ada acara perpisahan dengan Jim, curiculum advisor, di School, disambung dengan university-wide reception jam 2-4pm. Aku ingin hadir tapi jam 12:30 aku memimpin acara seminar bulanan CSPO enLIGHTenING Lunch. Jadi kupikir aku datang ke acara Jim, say hi, makan sedikit, lalu pamit. Eh, pas aku datang ke acara perpisahan, aku diajak ngobrol sama profesor-profesor senior, jadi antrian makan sudah panjang. Jam 12:20 aku masih belum kebagian. Alhasil aku mendekati Jim bilang kalau aku harus pergi untuk acara lain tapi mungkin aku kembali jam 2-an.

Aku yang ngga sempat sarapan tentu saja lapar, tapi kupikir aku masih bisa mengejar pizza lunch di acara enLIGHTenING Lunch yang kupimpin. Begitu aku datang, karena aku yang jadi moderator, aku harus memastikan proyektor dan pembicara siap. Jadilah si pizza tak sempat kumakan. Acara lunch seminar selesai, aku ingin kembali ke acara-nya Jim. Eh, ternyata aku baru ingat kalau aku sebenarnya harus menemani tamu dari Jerman makan siang. Kupikir untung juga tadi ngga makan di acara Jim dan ngga makan pizza, jadi masih bisa makan sekarang, dengan semangat.

Acara makan siang itu ditanggung oleh universitas, tapi sebagai host aku harus membayar dulu tagihan dari restauran. Dalam perjalanan ke restauran, kucek tasku. Oh, dompetku tak ada. Kurogoh saku-ku, cuma ada 3 lembaran satu dollar. Wah, gawat, 3 dollar untuk secangkir cappucino saja ngga cukup! Masa harus minta si tamu-nya bayarin? Kumintalah salah satu postdoc untuk mengantar tamu duluan ke restoran. Kubilang aku akan menyusul dengan alasan aku harus setop di kantor dulu ada urusan. Padahal mau cari duit dulu!!!

Aku telepon teman dekatku untuk pinjam uang, ternyata dia tidak angkat telepon. Kutelepon salah satu kolega yang dekat denganku, ngga diangkat juga karena dia mungkin di ruang kuliah. Ugh. Akhirnya kuingat telepon salah satu teman baru, orang Indonesia. Pas banget, dia ada di kantornya! Ya akhirnya bereslah, bisa pinjam duit, dan makan enak bersama si tamu tadi.

Sore itu aku juga dapat email dari Direktur kalau aku akan dipotret tersendiri di depan gedung School pada jam yang sama (8:45 to 9:00 am -- supaya pencahayaan mirip dengan foto kemarin) dan nanti akan diphotoshop disatukan dengan foto kolega-kolegaku.... :))

Lupa ini... lupa itu.... hari pelupa sedunia mungkin kemarin itu.

Tapi ngga papa lah.... yang penting happy ending!

Monday, December 03, 2007

Berbahasa Indonesia

Acaraku ber-seminar di Jokja di awal November kemarin termasuk lancar dan, rasanya sih, tidak ada kejadian memalukan seperti kejadian baju terbalik di Honolulu. Entah kalau standar memalukan ku berbeda dengan rekan-rekan di Jokja :D Hanya saja aku lagi-lagi merasa janggal bahwa banyak orang yang menyangka aku bukan orang Indonesia. Padahal mojang Sunda asli DayeuhKolot begini lhooooo!!

Pertama kali sampai di Jokja tentu saja di Bandara. Di sana aku disambut berbagai pihak yang mencoba berkomunikasi. Beberapa berbahasa Inggris, tapi ada yang berbahasa Indonesia. Kupikir, ya wajar lah, aku kan tidak mengucapkan sepatah katapun, jadi kalau disangka bukan orang Indonesia ya wajar2 saja.

Sampai di hotel, aku check in. Tentu saja aku menggunakan bahasa Indonesia. Herannya setelah beberapa kalimat, mas resepsionis kemudian memperlambat cara bicaranya dan bertanya, "Ibu bisa bercakap dalam bahasa Indonesia?" Kujawab, "Bisa." "Lancar?" tanyanya lagi. "Ya, tentu saja," kubalas. "Ibu orang Indonesia?" mbak sebelah si mas turut bertanya. Jawabku, "Ya, 100%!".

Aku kemudian menanyakan kenapa mereka bertanya seperti itu. Mereka bilang tampangnya kurang Indonesia, ya bisa sih Indonesia tapi bisa bukan dan bahasa Indonesia-nya terdengar agak asing. Hoalah, aksen Dayeuh begini koq asing!!!!!

Selain mas dan mbak resepsionis, teman-teman dari negara lain pun sempat bertanya aku ini orang apa. Mereka bilang begini: "You don't look like Indonesian", "Your name doesn't sound Indonesian", and "When you speak you don't sound like Indonesian." Jadi aksenku ini aksen mana? Aksen Tempe kali ya?

Yang ajaib pas di Borobudur. Aku berjalan bersebelahan dengan kawanku dari Filipina, Lorraine. Semua pedagang asong bicara dalam bahasa Indonesia kepada Lorraine dan ganti jadi bahasa Inggris ketika berbicara denganku. Karuan aku protes! Lorraine dengan bangga bilang sama kawan2 lain, "Oh, Merlyna is complaining that I have taken over her identity!!!!"

Susah jadi orang Tempe asal Dayeuhkolot...... jadi krisis identitas nih. Jangan-jangan Dayeuhkolot yang memang Bandung coret itu memang luar negeri???

Tuesday, October 30, 2007

Kebalik

English version is here

Hari ini aku memberi kuliah umum di Universitas Hawaii. Lega rasanya sudah beres. Besok aku cuma akan menghadiri sebuah rapat dan semua urusan di Hawaii bakal beres.

Teman-teman di Globalization Research Center (GRC) sangat hebat. Mereka mempersiapkan poster, ruangan, makanan ringan, berkoordinasi dengan departemen Ilmu Politik dan departemen Perencanaan Urban, serta mengumumkan ke beberapa departemen dengan sigap walaupun semua ini cukup last-minute. Saya terharu dibuatnya.

Tak masalah tentang kuliah/presentasiku. Walaupun ini adalah kegiatan agak mendadak dan baru diumumkan sekitar 2 hari sebelumnya, ternyata lumayan juga yang datang. Presentasi berjalan lancar dan acara tanya-jawab berlangsung dengan lancar pula.

Saat kupikir kali ini semuanya lancar-lancar saja dan tak ada kejadian aneh. Cukuplah satu kejadian ajaib tentang bandara dan kepalaku dalam perjalanan ke Honolulu. Eh, tahu-tahu aku sadar ternyata ada hal yang salah dan memalukan..... tentang.... diriku!!

Sesudah kuliah, aku berbincang-bincang dengan beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Universitas Hawaii. Saat beberapa mulai meninggalkan ruang kuliah, satu mahasiswa mendekatiku dan bertanya, "Mbak, ini disengaja ya?" sambil menunjuk pada restleting baju atasanku yang ternyata ada di luar. "Oh my goodness!" teriakku. Ternyata aku memakai baju terbalik. Selain restleting, obrasan, serta merek baju juga ada di luar semua!

Jadi selama 2 jam...............ooooh!!!

Masih untung, selama aku berpresentasi aku tak sadar, jadi pede-pede saja :))))

Tentang hal ini, direktur GRC, yang mengundangku berbicara di universitas, berkomentar, "I think Merlyna seriously needs some assistance!". Pada makan malam yang baru saja selesai, beliau berkata,"I wish to write a two paralleled columns novel about Merlyna's life. One column on the left is about her beautiful scholarly life and on the other column is all odd things happen in parallel to it such as missing sandals and her wearing inside-out clothes!!"

Tanggung malu, aku menyahut, "I think that's a greaaaaaaaaaat idea!!!!"

Saturday, October 27, 2007

Latte

Pulang kantor, aku bersepeda ke Borders, ngecek bagian obral. Melihat counter Seattle's Best, aku jadi ingin beli kopi. Kupesanlah segelas latte panas ukuran sedang. Lalu kurogoh dompet dari tas ranselku. Lho, koq dompet-nya tak ada? Ku-ubek-ubek tas dan dompetnya memang tak ada. Kuingat-ingat, dompet memang kayaknya kutinggal di mobil atau di rumah.

Mbak kasir menunggu dengan sabar.

Kurogoh saku celana jinsku, ternyata tak ada lembaran dollar satupun. Recehpun tak ada.

Aku menyerah, kubilang pada si mbak kasir, "Oh, apparently I don't have my wallet. I should cancel my order."

Mbak tertegun sejenak lalu menjawab, "Well, the latte has been made anyway, so here it is."

Aku malu dan bilang, "Ooh, no! I am so sorry. I am so stupid. I feel embarrased."

Mbak kasir tersenyum dan menghibur, "It's OK. Something like that happens."

Jadilah aku tidak jadi beli buku tapi keluar berjalan ke arah pintu keluar Borders cengar-cengir sambil menenteng segelas latte. Ketika aku berhenti untuk melihat-lihat buku-buku di rak, kulihat dengan ujung mataku, si mbak kasir ternyata masih memperhatikanku! Mungkin dia bertanya-tanya, ngga punya uang koq pegang-pegang buku :)

Yah, begitulah kisahku hari ini. Bukan maksud hati merampok kedai kopi lho. Ini dapatnya pun dengan penuh maaf dan malu :p Malu-malu bangga ;)

Sunday, October 21, 2007

Lagi lagi..... airport

Hari ini aku berangkat ke Washington DC, pesawatnya dijadwalkan terbang jam 8:40 pagi. Sudah memutuskan untuk berangkat pakai taksi saja, karena pagi-pagi repot kalau minta antar orang. Karena kagok, aku sengaja ngga tidur, soalnya sibuk bebenah koper dan beres-beres rumah/tanaman sebelum pergi. Sekalian utak-atik presentasi, juga sempat menjenguk MP.

Nah, sejak jam 6 kurang sudah siap. Jadi tak mungkin tergesa-gesa kan? Ini pesawat domestik dan airport itu cuma 10 menit saja dari rumahku. Aku yakin sekali kejadian ketinggalan/hampir ketinggalan pesawat seperti ini, ini, ini, dan ini, ngga bakal berulang!

Tapi mungkin sudah nasib untuk selalu punya cerita dengan airport, herannya kali ini pun ada aja cerita.

Nah, operator taksi pertama yang kutelepon ternyata kurang mengerti kata-kataku. Bukan salahku, bahasa Inggris dia yang kurang! Coba bisa bahasa EspaƱol pasti lancar. Masalahnya, dia ngotot, jadi aku menghabiskan lebih dari 5 menit bicara dengan dia. Eh, sudah beres, dia malah bilang "I am sorry I don't understand!". Ampun deh!

Terus coba telepon si tukang antar/tumpangan di hp-nya, eh dia ngga jawab2. Aku terus coba nelpon nomor-nomor taksi lain. Kucoba 3 nomor, masa semuanya ngga bisa? Ada yang masuk mesin, ada yang tidak dijawab-jawab. Pokoknya panik deh. Jam 6:30 masih belum dapat tumpangan!

Akhirnya dapat taksi yang katanya bakal datang dalam waktu 10 menit. Ternyata si taksi tidak datang-datang. 15 menit..... 20 menit....lebih... akhirnya tibalah si taksi. Ternyata si supir kurang tahu jalan!!! Ajaib, biasanya semua taksi di Phoenix tahu jalan ke airport!

Untunglah aku tahu. Cuma ternyata jalanan macet dan si supir nyetir-nya ngga lancar karena dia ragu-ragu soal jalan. Si supir ini orangnya baik banget sih, tapi kurang cerdas, jadi kalau dikasih tahu harus diulang dan dijelaskan sejelas-jelasnya. Pas sampai Terminal (2), eh, si supir masa malah masuk ke jalur parkir! Lha, taksi koq mau parkir. Ya sudah, aku akhirnya turun di parkiran, ketimbang harus mutar.

Giliran bayar, si supir juga bingung gimana caranya gesek kartu kredit (duit tunaiku kurang 2 dollar!!!!). Dia malah nelepon bos-nya dulu nanya cara-cara transaksi. Ini kayaknya baru pertama kali nyetir taksi! Duh! Akhirnya nomor-nya ditulis tangan di slip pembayaran. Pokoknya betul-betul habis waktu. Jam 7:20 baru sampai di bandara! Cukup panik karena Phoenix biasanya sibuk. Satu jam setengah biasanya tak cukup untuk mengantri.

Untunglah pesawat ini bukan Southwest dan bukan US Airways (yang kulihat berjubel-jubel!). Aku naik Continental yang cenderung sedikit lebih tak sibuk. Dan si "Elite-Access" ku lagi-lagi berjasa! Ternyata masih berkhasiat memukau para petugas airport! :D Sabet sana sabet sini, hebat betul dari mulai ngantri security sampai tiba di Gate cuma butuh 20 menit saja. Selamatlah saya sampai di gerbang 50 menit sebelum si pesawat terbang dan masih 25 menit sebelum boarding!

Untunglah cuma hampir!!! Hore!!!!

-- lady day nangkring di skyharborairport --

Saturday, October 13, 2007

Hari penuh maaf

Teman-teman Muslimku yang baik,

Bagai semburat aroma mawar yang merebak kala dia terinjak-injak, sebuah maaf merdekakan jiwa yang tertindas

Bagai hujan bagi tanah kering dan tanaman layu hampir mati, itulah sebuah maaf bagi semangat yang patah

a lonely flower, by mer 2007

Maaf adalah jawaban bagi mereka yang memimpikan sebuah mujizat, yang akan memulihkan sesuatu yang hancur

Maaf adalah sebuah tindakan yang membuahkan kebahagiaan

Maaf adalah bentuk cinta yang terindah
karena tanpanya, cinta sejati takkan pernah terwujud

-- diterjemahkan dari versi bahasa Inggris --

Pada hari penuh maaf ini, ijinkan aku mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri
maaf lahir batin.

mer

Monday, October 08, 2007

Delapan fakta tentang Lady Day

Lady Day kena tag di MP (bukan di blog terbuka), jadi dia harus menulis 8 butir fakta acak tentang dirinya. Karena sudah ditulis, ya sekalian saja di-copy-paste-kan ke sini.

Ini dia fakta-fakta tersebut.

1. tidur, penidur, ketiduran:
waktu sd, sering ketiduran diatas motor vespa sampe ngacay ke baju kemeja-nya papahnya lady day. waktu smp/sma sering ketiduran di bis kota jurusan sukarnohatta-ledeng sampe sering kebawa ke stamplat ledeng dan jadi ketelatan sekolah. waktu kuliah tidurnya pindah ke angkot kalapa-dago. later on sering tidur dibalik setir. suatu hari siang bolong di bandung, lady day pernah ketiduran di stopan perapatan di depan bank lippo gatsu. baru bangun sesudah kelewat 2 lampu hijau, setelah kaca jendela mobilnya diketok-ketok secara intensif oleh para penjaja koran.

2. mobil, nyetir, pom bensin:
lady day sudah menyetir mobil pinjaman sejak umur 14 lebih hampir 15 tahun. tapi baru menyetir mobil milik diri sendiri di Tempe, AZ, pada tahun 2007. sejak kecil lady day bercita-cita untuk mengisi bensin sendiri dari pom-nya. cita-cita ini baru kesampaian di Tempe, AZ, pada tahun 2006 :D

3. pertama di keluarga:
lady day (dan saudara2-nya) adalah first college generation. keluarga besar-besar-banget (kakek, nenek, paman, bibi, sepupu paman bibi, dllsbjr) lady day sebelumnya kebanyakan tidak/hampir/cuma lulus SD. mama-papa lady day berhasil lulus SMP. lady day beruntung sekali, bisa jadi orang pertama ya sekolah ke luar negeri. pertama ber-Internet. pertama punya laptop. pertama nge-blog. dan tentu saja pertama ber-MP, bisa jadi pertama ditahan/penjara di luar negeri juga ;) dan kayaknya pertama yang nulis delapan fakta tentang dirinya, hehe.

4. kacamata & underwear:
setiap jalan kemana-mana, lady day ketinggalan sesuatu. yang paling sering ketinggalan adalah kacamata hitam (12-13 kacamata hitam selama 6 tahun -- tersebar di seluruh dunia). yang kedua sering adalah underwear. biasanya ketinggalan sesudah dicuci di hotel. alhasil, underwear shopping at the next stop is a casual thing to do.

5. inggris & dayeuh:
walaupun bergelar lady day, tapi dia tidak ada hubungan dengan kerajaan inggris. lady day malah tidak bicara/baca/mengerti bhs inggris sebelumnya, karena bahasa resmi kerajaan dayeuhkolot adalah basa sunda. cuma sempat belajar bahasa ini lewat kelas-kelas smp/sma sekitar 2 jam pelajaran/minggu. lady day tidak membaca buku berbahasa inggris sampai 2001. baru mulai aktif menggunakan bahasa inggris tulisan sejak tahun 2001. beruntunglah, akhirnya lady day masuk lingkungan yang betul-betul berbahasa inggris sejak tahun 2005, jadi bisa belajar inggris lebih baik. tapi walau begitu, lady day ini suka sok pintar berbahasa inggris. memang lady day (kadang) suka malu karena di dunia per-blog-an banyak yang bagus-bagus banget bahasa inggris-nya.

6. kontradiksi:
lady day penuh kontradiksi. sangat pelupa tapi sangat pengingat. melankolis habis tapi sangat sanguinis. sangat serius tapi suka heureuy. suka banget travelling tapi seneng ngendon di rumah. pemalas tapi bisa mendadak rajin. kadang pemalu kadang malu2in.

7. motor, sepeda & keseimbangan:
lady day percaya kalau dirinya ngga punya keseimbangan yang baik. waktu sma pernah belajar naik motor sama teman dan alhasil menabrak pagar kantin sekolah(nya org lain). juga pernah menyenggol kaleng besarnya tukang odading sehingga harus mengganti ongkos rugi beberapa odading yang tergelincir ke jalanan sebesar 2000 (dua ribu) rupiah. setelah itu lady day memutuskan sepeda tanpa motor lebih cocok bagi dirinya. walaupun masih sering oleng, lady day sudah bersepeda secara konsisten selama 6 tahun.

8. cowo & roman:
lady day sudah ditaksir (dan balas menaksir) cowo sejak umur 5 tahun kurang 5 bulan saat dia saling suka sama teman sebangkunya di SD Inpres Pasawahan II si Asep Agus. valentine pertama terjadi waktu kelas 3 SD, ketika teman sebangku lady day yang lain menyatakan cintanya lewat sebungkus kacang dan sebatang coklat seraya mengecup tangan lady day. nasib kedua cowo itu sekarang tak tentu rimbanya.

demikianlah sekilas fakta kehidupan lady day. semoga berkenan.

Wednesday, September 26, 2007

Disangka palsu

Mulai Senin lalu, aku ikutan kelas Spanish (bahasa Spanyol) orang dewasa. Cuma bayar $40 sepaket yang isinya 8 pertemuan! Murah ya, cuma 5 dollar sekali datang. Cuma ya sekelas rame-rame dan kelas-nya juga lambat banget. Pertemuan pertama cuma Abecedaria (alfabet) dan tip-tip belajar Spanish doang, selama 1 jam lebih. Tapi yah lumayan kali ya. Lagian murah ini, jadi kalau sampe mangkir (yg pasti saya bakal bolos bulan Oktober) ya ngga nyesel-nyesel amat.

Eh, sesudah kelas, ada teman sekelas, orang bule oma-oma, bertanya, "Why are you here? I thought you can speak Spanish already."

Aku bingung, terus menjawab,"Oh, no, I don't speak Spanish. I pick up some words, but I don't speak."

Terus dia menyahut, "Oh, so you don't speak fluently, but you do speak right?"

Aku bilang, "No, not really....people think I am Hispanic so they speak to me in Spanish, but I actually don't ......"

Dia menyambar, "Oh, I know, you're like my grand-daughter. Her mom is Chinese, she doesn't speak Chinese properly, but she understands. So she would reply her mom in English."

Aku berusaha menjelaskan, "Well.... in my case, I don't speak and I don't understand ..."

Dia memotong, "Oh, right, I know, I know! So you understand only a little bit....American born Hispanic...you were born here, right?"

Aku, "No.. actually..."

Dia memotong lagi, "Yes, yes, it's... like my granddaughter.. you were born here.."

Ah... aku putus asa! Mau belajar, disangka palsu!

Friday, September 21, 2007

Bahasa Arab, Nasyid, & Anak-anak Arizona

Bagi mereka yang baru kenal saya di dunia blog-blog-an mungkin cuma tahu kalau saya ini profesor di ASU guk guk guk. Padahal saya ini juga artis. Bisa artis sinetron, bisa juga artis dangdut. Kalau lagi ja-im suka pura-pura jadi penyanyi klasik dan jazz. Amit-amit deh pokoknya.

Pekerjaan sambilan saja selain ngartis dan ngeprof adalah choir coach (cuih-cuih pakai istilah bahasa Inggris). Dulu, waktu kuliah di ITB, setelah saya berhenti nge-lesin Fisika/Kimia & Matematik, cara saya membiayai kuliah adalah dengan memanipulasi beberapa tokoh universitas-universitas di Bandung untuk menyewa saya sebagai gadis bayaran setiap kali mereka mengadakan wisuda atau acara-acara besar lainnya. Dapat bayaran 40-75 ribu per-jam, cukup kaya tuh waktu itu :) Dua-tiga kali melatih, bisa bayar SPP satu semester :p.

Kadang-kadang saya juga membantu kelompok-kelompok Ibu Dharma Wanita. Bayaran-nya tidak besar, tapi biasanya setelah melatih, ibu-ibu itu berlomba-lomba mengenalkan saya pada anak-anak-nya... laki-laki tentunya. Eh, laki-laki perempuan sama saja, hehehe.

Sudah lama sekali tidak ber-choir-coach alias jarigen, eh tahu-tahu dapat email diminta-dimohon untuk melatih paduan suara anak-anak Arizona Cultural Academy. Tadinya mau saya tolak karena sibuk. Tapi lalu tergoda untuk bilang iya. Akhirnya saya iyakan.

Hari pertama datang ke sekolah itu, terjadi diskusi.
Pas dibilang Islamic songs. Saya bilang, OK.
Pas dibilang nasyid. Saya bilang, no problem, I can learn.
Pas dibilang anak-anak ngga bisa baca not. Saya bilang, no problem, I'll find a way.
Pas dibilang mereka ngga ada dana. Saya bilang, it's OK.

Tahu-tahu saya datang, lagu-nya berbahasa Inggris dan Arab! Yang Inggris ngga masalah, saya dengarkan CD, saya tulis not-nya dan saya copy liriknya. Yang Arab, walaupun sudah ada liriknya, dan sudah saya tuliskan not-nya, tetap saja saya tak bisa kasih contoh selain lalalala, nanana, nenene...ugh. Pingin rasanya manggil KucingKembar untuk minta tolong Arabnya. Cing, kemane luuuuu.....

Akhirnya saya ganti semua lagu jadi nasyid berbahasa Inggris, dengan sisipan kata-kata Arab. Kata-kata Arab yang saya pakai adalah "Salam, assalam, dan salamun." Anak-anak senang banget, guru-guru sekolah tersebut senang, dan saya bisa bilang.... whew.....!!!

Tuesday, September 04, 2007

Mer?

Waktu saya di Phnom Penh, saya dan beberapa kolega ada pertemuan dengan seorang Bapak, Vice Governor Phnom Penh municipality. Sewaktu masuk ke ruangan dia, kami semua memperkenalkan diri satu-persatu.

Giliran saya, si Bapak bilang, "Mer?" Saya terkejut, koq si Bapak tahu nama saya. Jadi ge-er :D Terbengong-bengong dan kemudian menjawab, "Yes, but how do you know?" Dia tertawa kemudian bicara dalam bahasa lokal. Saya ikut tertawa tanpa mengerti, tapi lalu bilang, "Oh, I don't speak Cambodian."

Dia berhenti tertawa, kemudian bilang, "Oh, I thought you're ..Mer" (Lha iya, saya memang Mer) "You look like kh..Mer!"

Oh, saya baru sadar....mer with kh!!!... dan buru-buru saya bilang, "Oh, no, I am not KHmer. I am Mer...lyna Lim, Indonesian" !!!!!!

cat:
Khmer adalah kelompok etnis yang paling dominan di Kamboja.

Thursday, August 30, 2007

[Corat-coret] Asteng 4.5 -- Bandung: Hilang?

Masih seputar mobil. Selama di Bandung, saya meminjam mobil tua orang-tua saya yang sudah pernah menjadi piala bergilir, turun-temurun dari kakak-kakak saya ke adik-adik saya (padahal ayah ibu saya ngga bisa nyetir lho). Sebuah mobil Honda Civic 83 yang pernah ringsek berkali-kali. Mobil ini sangat bersejarah bagi saya. Tahun 1998 saya menyetir mobil ini dan dengan semena-mena ditabrak oleh sebuah bis antar-kota di jalan tol Padalenyi yang mungkin berkecepatan 70-80 km/jam. Saya sendiri jalan 60 km/jam. Mobil berputar 180 derajat. Ringsek habis. Tapi saya selamat! Cuma luka karena setir berputar cepat di genggaman saya.

Nah, mobil itu berwarna coklat ketika tabrakan terjadi. Tapi kemudian setelah terjadi tabrakan kedua (bukan saya yang nyetir), mobil dicat menjadi biru. Jadilah dia si biru.

Setelah itu saya masih menyetir si Civic selama bertahun-tahun sampai 2001. Dan setiap kembali ke Bandung, si Civic selalu jadi teman berpetualang saya. Demikian juga di kunjungan bulan Juli kemarin.

Suatu hari saya pakai si Civic ke Be-Mall (Bimol katanya orang2 Bandung) dan parkir di dalam. Kemudian setelah saya selesai berkeliling Be-Mall, saya kembali ke parkiran. Saya bingung karena saya tidak menemukan si Civic ini. Setelah berkeliling 20 menit, saya panik dan melapor pada Satpam di mall tersebut. Saya lapor,"Pak, mobil saya hilang! Civic 83 warna coklat nomor D xxxx." Satpam memastikan apa saya mencari di lantai yang tepat. Saya bilang,"Rasanya sih betul Pak, tapi mungkin juga saya salah lantai." Jadilah satpam tersebut, lewat HT-nya, mengerahkan rekan-rekannya untuk mencari mobil saya.

Saya menunggu dengan berdebar-debar. Saya tak habis pikir kenapa ada orang mau curi Civic tahun 1983? Dalam keputus-asa-an saya meremas-remas kunci dan dompet STNK saya. Lalu saya iseng mengeluarkan STNK dan saya kaget ketika saya lihat keterangan. Warna: Biru. Walah, pantesan ngga ada, soalnya ternyata warnanya sudah biru.

Ternyata mobil tidak hilang! Cuma ingatan saya yang hilang!

Diam-diam sambil malu saya berjalan sendiri di antara mobil-mobil, meninggalkan si satpam yang masih ber-HT-ria dan berjalan ke arah si coklat..eh si biru. Duh... maaf pak Satpam.

Monday, August 27, 2007

[Corat-coret] Asteng 4.4 -- Bandung: Adegan stunt-girl

Masih kisah seputar nyetir di Bandung. Suatu hari, malam, sekitar jam 7:30, saya menyetir dari arah Cihampelas dengan tujuan Gg Yakin (sebrang Stasiun Kereta Api Bandung). Dulu, sebelum pindah, saya sering nyetir jalur ini. Merem juga nyampe :p (kagak deng).

Nah, setahu saya jalurnya biasa dari Cihampelas terus langsung lurus saja ke Cicendo terus langsung ke Kebong Kawung. Gampang banget. Nah di setopan sesudah Cihampelas (Cihampelas/ Wastukencana or Pajajaran?) saya setop di lampu merah. Begitu lampu hijau, saya meluncur terus lurus ke arah Cicendo. Begitu jalan sekitar 20-30 meter, saya kaget melihat mobil-mobil dari arah berlawanan terbagi dua, ke kiri dan ke kanan saya. Lalu terdengar teriakan, "Satu arah neng!!!!!" (Saya bisa dengar karena jendela saya buka, ngga ada AC soalnya mobilnya).

Karena kecepatan tidak rendah, saya masih melaju sekitar 50-60 m sampai akhirnya saya menginjak rem sepenuhnya dan berhenti di tengah jalan.

Ya ampun, ternyata semua mobil berjalan ke arah yang berlawanan, mereka menyalakan lampu dim mereka. Satu arah betulan! Sementara mobil Honda Civic '83 (ortu) saya yang kecil itu terjebak di tengah-tengah. Duh, sejak kapan sih ganti arah jadi satu arah. Lagi pula tanda verboden-nya malam-malam ngga kelihatan sama sekali.

Saya menunggu sampai sepi, lalu saya balik arah dan masuk ke parkiran luas sebuah toko.

Beberapa orang di parkiran berjejer menonton adegan tersebut. Mereka terlihat lega ketika saya berhasil mendaratkan mobil saya ke tempat parkir. Tukang parkir komentar, "Euleuh-euleuh si eneng.... bade kamana neng......."

Monday, August 20, 2007

[Corat-coret] Asteng 4.3 - Bandung: Salah jalur

Sewaktu di Indonesia, minggu pertama di Bandung aku sudah mulai menyetir. Kagog karena setir-nya ada di sisi yang berbeda, tapi ya bisa-bisa saja. Hari pertama agak kikuk, hari ke-dua, aku sudah merasa setiranku baik-baik saja.

Hari itu aku mencari-cari Jalan Hasanuddin. Aku tahu kalau letaknya dekat-dekat ITB, cuma tidak yakin yang mana jalannya. Jadi aku belok dari Jalan Dago pas di RS Boromeus. Sepanjang jalan, aku merasa banyak pengemudi membunyikan klakson. Kupikir, "Duh, orang Bandung makin ngga sabaran aja, tot tet tot tet melulu." Aku juga heran koq ada beberapa mobil yang datang dari arah depanku. Bandung ajaib nih, pikirku.

Karena tidak yakin, aku berhenti di pinggir jalan, dan bertanya pada Bapak tukang parkir. Tanyaku, "Mang, punten, upami Jalan Hasanuddin palih mana nya?" (Pak, permisi, kalau Jalan Hassanudin itu sebelah mana ya). Si Bapak menjawab,"Oh, muhun ieu teh atos Jalan Hasanuddin. Tapi eneng nyetirna palih dinya atuh neng, di kenca." (Oh, betul, ini sudah Jalan Hasanuddin. Tapi adik nyetirnya harusnya di sebelah sana, di kiri) sambil menunjukkan jalur yang sebelah kiri!!!

Ternyata selama ini...........

Friday, August 10, 2007

[Corat-Coret] AsTeng 8.1 - Kuala Lumpur: Glasses

Sampai di kamar hotel, aku mencari-cari kacamata gelap alias sunglasses ku. Lho koq ngga ada? Ketinggalan di mana ya, pikirku.

Setelah bermenit-menit mencari-cari, aku memutuskan untuk menanyakan pada bagian lost and found lewat telepon. Kupikir mungkin saja ketinggalan di suatu tempat di hotel dan ditemukan seseorang.

Bagian lost and found bertanya di mana kira-kira aku kehilangan kacamata itu. Karena bingung dan tak ingat, kubilang, "Probably I left them at the breakfast area." Disambungkannyalah aku dengan bagian dapur.

Orang dapur: "Hello, how may I help you?"
Aku: "Hi, this is Merlyna Lim, from room 602. I thought I had left my glasses at breakfast. Would you please check?"
Orang dapur: "OK, maam, we'll bring them to you, what's your room number again?"
Aku: "602, thank you so much."

Aku agak bingung. Kenapa begitu cepat mereka mau membawakan kacamataku. Lagian si orang dapur tidak bertanya bentuk dan warna kacamata itu. Koq bisa tahu? Apa cuma ada satu kacamata di situ?

Tak lama, bel kamar berbunyi. Aha, pasti dari bagian dapur.

Kubuka pintu, kulihat seorang pramusaji. Dia berdiri membawa sebuah baki dengan 2 buah gelas!!!!

[Corat-Coret] AsTeng 7.1 - Phnom Penh : Kisah sepasang sandal

Di Bandung, aku membeli sepasang sandel.. eh... sendal (yang mana sih yang benar?) yang cukup "cantik". Benar-benar nyaman dan benar2 sandal perempuan. Coba saja lihat di sebelah, sandalnya berhak (rata) dan ada bordiran bunga di atas nya.

Nah, suatu hari di Phnom Penh, sejenak sebelum aku naik ke tempat tidur, tahu-tahu kutemukan diriku beralaskan sendal swallow yang sudah rada butut! Sudah rada bulukan dan jelas bekas dipakai kaki cowo (melebar dan besar begitu!).

Kaget sekali, kenapa bisa sampai begitu?

Baru kusadar, pada saat aku makan malam bersama para blogger aktivis Kamboja aku melepas sandal. Lalu pas pulangnya ternyata aku salah memakai sandal! Entah bagaimana itu bisa terjadi, aku tak sadar. Antara swallow dan sandal cantik-ku kan cukup jauh! Memang rugi, aku mengambil sendal swallow yang sudah usang. Tapi paling tidak aku tidak akan ditertawakan memakai sandal itu.

Bayangkan bagaimana perasaan si cowo pemilik sandal swallow biru ketika melihat sandalnya sudah tergantikan oleh milikku? Atau jangan-jangan ada cowo yang kesengsem sama sandal cantikku?

Keesokan harinya, ketika berjalan-jalan di kota Phnom Penh aku sibuk memelototi kaki para laki-laki Kamboja. Jangan-jangan dibawah celana2 panjang itu ada sepasang sandal biruku yang cantik!!!!

Sunday, August 05, 2007

[Corat-coret] AsTeng 6.2 - Saigon: Keukeuh

Di [Corat-coret] AsTeng 6.1 - Saigon: Walok, aku cerita bagaimana diriku selalu dituduh lokal. Nah ini salah satu highlight dari penuduhan tersebut.

Sore kemarin, aku turun dari lantai kamar ke lobby dan bertemu dengan salah seorang janitor di dalam lift. Dia menyapa dalam bahasa Vietnam. Aku membalas sapaan dia dengan tersenyum dan menjawab, "Excuse me?"

Dia terus tampak agak bingung tapi meneruskan dalam bahasa Vietnam. Dan saya menjawab lagi, "Sorry, I don't speak Vietnamese."

Dia malah colohok dan meneruskan berbicara dalam bahasa Vietnam, dan nadanya agak naik, seakan-akan tak percaya bahwa saya betul-betul tidak bisa bahasa Vietnam.

Sesampai di lantai dasar, lift berhenti. Dia mempersilahkan saya keluar duluan, kembali dalam bahasa Vietnam.

Saya keluar, tersenyum dan berkata, "Thank you very much."

Dia tetap meneruskan tampang colohok dia dan membalas dalam bahasa Vietnam. Lalu aku senyum lagi dan berkata, "Thank you" entah nyambung entah engga.

Dia kayaknya bingung dan rada-rada gemes, dan kemudian ngeloyor alias ngaleos sambil keukeuh berkata-kata dalam bahasa Vietnam.

Entah dia ngomong apa. Entah apa yang dia pikirkan. Mungkin dia bilang.... "Tampang gitu koq mau pura-pura bule..." atau "Mata gue salah atau telinga gue yang salah?"

[Corat-Coret] Asteng 6.1 - Saigon : Walok

Ngga di Manila, ngga di Ho Chi Minh, tetap dituduh lokal.
27 dari 27 orang Filipina di Manila yang berkomunikasi denganku akan memulai dalam bahasa Tagalog.
11 dari 11 atau 12 dari 12 atau berapapun... pokoknya 100% orang Vietnam yang aku hadapi di sini juga akan memulai percakapan dalam bahasa Vietnam.

Cilaka, jangan2 wajah saya ini berubah2 sesuai lokasi alias walok? Atau sesuai yang mengajak bicara? Soalnya tadi pasangan Filipina di Ho Chi Minh sini menyangka saya Filipina! Lucunya di bandara Cengkareng sering disangka bukan Indonesia!! Mata siapa sih yang salah?

Di McClintock Tempe daerah saya tinggal di Arizona, 100% juga mengajak bahasa Spanyol karena disangka Hispanik. Oh ya, siapa sangka saya dianggap lokal juga di Srilanka? Jauh dari mirip ya? Ternyata di sana saya dianggap salah satu dari "burgher people" (bukan hamburger ya)!

Di Australia jadi mirip KD, di Jakarta disangka artis (baca=penyanyi dangdut :p), jangan-jangan di bulan disangka Apollo 11!

Friday, July 27, 2007

[Corat-Coret] Asteng 4.1.2 – Bandung: Membeli handphone bag. 2

Lanjutan dari [Corat-Coret] Asteng 4.1.1 – Bandung: Membeli Handphone Bag 1.

Sambil menunggu mbak pramuniaga mengotorisasi kartu kreditku, aku bermain-main dengan si Nokia 11xx itu. Sementara itu, ke dalam toko masuklah sepasang suami-istri yang mencari HP baru. Seorang pramuniaga pria, si Mas, melayani mereka. Ternyata mereka itu first-time buyer. Mereka masih belum tahu akan memakai kartu apa. Si Mas menjelaskan perbedaan antara berbagai jenis layanan seperti XL, Simpati, Mentari, Flexi, eSia, Fren, dll. Si Mas menyarankan pasangan tersebut untuk memakai GSM saja seraya menyodorkan daftar harga HP. Pasangan tadi mempelajari daftar harga dan menanyakan HP-HP yang termurah.

Jelas yg paling murah dari daftar itu adalah si Nokia 1110 punyaku itu!
Yang bikin aku sirik, pas si suami istri pembeli pingin HP murah koq tidak dipertanyakan seperti pas aku yg pingin. [Hehe, koq gitu aja aku sirik? ;p]

Sang istri ingin melihat si Nokia 1110, tapi ngga ada dummy-nya. Lalu aku berbaik hati menunjukkan HP-ku yang baru itu dan meminjamkan pada pasangan suami-istri itu. Maksudnya supaya dikagumi, gitu :)

Eh, sang istri bilang sama suami-nya, "Wah, Mas, kurang bagus ya?"

Weleh-weleh HP-ku dibilang kurang bagus! Baru nih baru!! Pasangan yang baru melek-HP itu lalu membeli HP Nokia yang sudah berwarna -- ngga hitam putih kayak punyaku -- yang harganya 100,000 rupiah lebih mahal.

..... ternyata pemula pun tak sudi beli HPku.....

Friday, July 20, 2007

[Corat-Coret] Asteng 4.1.1 – Bandung: Membeli handphone bag. 1

Baru-baru ini aku makan siang dengan kawan-kawan alumni AR-ITB. Melihat handphone-ku, mereka berkomentar, “Mer, HP mu kuna amat?” Aku dengan bangga menyahut, “Hey, ini HP baru ku lho? Baru dua hari!” Mereka ketawa-ketawa hampir tak percaya. Aku jujur lho, HP Nokia 11.. ku yang terlihat kuna ini memang baru! Dan aku punya sebuah cerita di balik HP kebanggaan ku ini.

Beginilah ceritanya, seperti yang telah aku ceritakan kemarin kepada Neng Breng-breng Gedumbreng, kang Jay Ngorejay, dan Mas Kunkun Kun-Coro.

HPku di Amerika tidak bekerja di Indonesia. Maklum beda teknologi, sehingga sesampai di Indonesia, aku mulai menggunakan kembali HP Nokia 3160 ku jaman dahulu yang kupakai sebelum pergi ke Belanda. Lumayan pikirku. Biar kata keponakanku bilang itu HP bisa untuk “ngabaledog anjing”, aku tetap pakai. Asal jalan, kenapa tidak? Akungnya baru beberapa hari, si HP ini ngadat. Dia selalu mati setelah 1 pembicaraan telepon saja. Sudah dikaret-gelang-in supaya batere tidak bergeser, tetap tidak tokcer. Setelah diulik tetap tak jalan, akhirnya aku putuskan untuk beli HP GSM baru.

Pergilah aku ke BEC (Bandung Electronic Center) dan aku langsung mengalami serangan jantung, mata dan telinga. Terlalu banyak toko, terlalu banyak handphone, terlalu banyak merek, terlalu banyak orang! Jangar!

Akhirnya aku pergi ke satu toko HP besar di jalan Dago. Biar tidak terlalu banyak anu-anu lah.

Sesampainya di sana, aku langsung disambut. Begitu aku bilang aku mau beli handphone baru, aku disodori beberapa pilihan yang harganya 2 juta, 4 juta, dan lain sebagainya. Pokoknya handphone2 canggih lah.

Aku tidak melirik HP2 tersebut. Aku menatap sang pramuniaga dan berkata dengan tegas, “Mbak, aku mau handphone yang paling murah.” Si Mbak menatapku aku setengah tak percaya. Kedua matanya memindai aku, dari kepala sampai pinggang (ngga sampai mata kaki, soalnya kan ketutupan etalase!) terus berkata, “Tapi Mbak, kalau yang murah itu basic, ngga terlalu bagus.” Aku menyahut, “Ngga papa, Mbak, aku cuma butuh untuk nelepon dan sms.”

Dengan berat hati, si mbak mengeluarkan daftar harga HP dan aku dengan cepat menunjuk ke HP dengan harga termurah. HP tersebut bahkan tidak ada dummy-nya. Mbaknya masih berusaha membujuk aku membeli yang agak mahalan sedikit dengan menunjukkan dummy HP yang berwarna. Dia berkata,”Mbak itu terlalu basic, masih hitam putih belum berwarna.” Aku bersikukuh membeli yang paling murah dan tak berwarna. Si mbak menyerah. Akhirnya diberinya aku sekotak HP yang segera kuperiksa.

Si mbak tampak prihatin (dan mungkin terharu) melihat aku begitu senang dengan HP baruku itu. Dibantunya aku membuka kotak. Malah si mbak mengambil alih pembongkaran kotak. Diambilnya HP ku itu, lalu dia menginstall kartu chipku dan disetnyalah HP ku ke dalam bahasa Indonesia.

Masih dengan wajah prihatin, mbak itu dengan ramah menunjukkan layar si HP kepadaku. Sambil menunjuk ke sinyal batere, dia berkata, “Mbak, lihat ini? Artinya baterenya masih penuh.” Aku mengangguk-angguk. Lalu mbak-nya meneruskan,”Kalau tanda ini turun, artinya baterenya sudah habis. Mbak harus mengecharge pakai ini (menunjukkan charger) selama 8 jam.” Si Mbak kayaknya yakin aku ini orang yang baru kenal teknologi yang bernama Handphone :)

Aku mengangguk-angguk lagi dan berkata, “Oh begitu ya, Mbak? Makasih kalau begitu.” Aku bersikap menghargai perhatian dan "petunjuk" si Mbak :D

Setelah itu aku membayar dengan kartu kredit karena tak punya uang cash. Si Mbak agak berubah ekspresi wajahnya waktu melihat aku mengeluarkan kartu kredit ku, tapi tak ayal dia tetap menerima.

Sebelum dia pergi untuk meng-otorisasi kartu kredit ku, aku bertanya kepada si Mbak, ”Mbak, bisa tolong tidak? Saya bingung ini.” “Kenapa, Mbak?” dia bertanya. Aku bilang, “Saya bingung karena saya tidak mengerti ini menu handphone-nya.”Aku tidak bermaksud macam-macam sebetulnya. Aku betul-betul bingung dengan menu-nya.

Mbaknya menjadi bingung dan bertanya,”Maksud mbak?”
Aku menjawab, “Iya ini, saya tidak mengerti bahasa Indonesia ini, saya cuma mengerti Inggris.” Maksud aku menu-nya sih....
Mbak menjadi lebih bingung tapi terus membantu aku menyetel menu ke dalam bahasa Inggris.

Ketika mbak itu pergi meninggalkan aku untuk otorisasi kartu kredit, air muka mbak tsb sudah tak jelas, tampak sangat bingung. Mungkin baginya ada yang tidak sinkron antara penampilan ku (pan penyanyi dangdut, haha), pilihan HP (yang kagak modal), kartu kreditku, dan pilihan menu :p Atau mungkin dalam hatinya dia bertanya, “Makluk dari planet manakah pembeli HP ini?”

[Corat-Coret] Asteng 3.1 – Manila: Telmi

Sesungguhnya Lady Day sudah sampai dengan selamat di kerajaan Dayeuh, setelah perhentian di Manila, sejak lama, hanya saja belum sempat mengisahkan pengalaman-pengalamannya selama berada di Negara tetangga tersebut karena selama di Dayeuh Kolot sang Lady disibukkan oleh berbagai acara kenegaraan.

Namun kini Lady Day mencoba kembali mengudara setelah menerima ancaman halus dari berbagai rekan blogger. Silakan membaca.

:::

Setelah rentetan kejadian di berbagai bandara, aku sampai dengan selamat di bandara Manila. Oh ya, seorang kawan baik menggunakan istilah “disasters” untuk berbagai kejadian yang aku alami selama perjalanan. Bagi aku sih, kejadian2 itu bukan disasters. Boro-boro “disasters”….. lha membuat perjalanan2 aku jadi berwarna (kayak tipi aja), ni’mat dan menghibur (aku menghibur pembaca, terus pembaca menghibur aku kan? :D). Selain itu, kejadian2 ini kan malah membuat pembaca2 blog di seluruh dunia komat-kamit berdoa untuk aku :D Jadi malah menguntungkan!

Kembali ke laptop… eh, ke Manila. Kejutan, tak ada kejadian yang terlalu aneh di Manila selain bahwa ketiak aku berkeringat lebih banyak dari biasanya. Eh, tapi itu mah ngga aneh :p

Di Manila ini, aku diundang bicara di Global Symposium on Media and Religion di Ayala Museum. Hari pertama aku datang ke simposium, aku menemui bahwa aku adalah peserta/pembicara termuda. Atau paling tidak yang sok’ muda lah, hehe. Seriously, yang lain rata-rata sudah assoc atau full prof, atau paling tidak udah lama jadi ass prof. Pas perkenalan, profesor-profesor sebelum aku banyak yang memperkenalkan diri dengan mengatakan, “I’ve been doing this kind of research for …. 16 years…..20 years… 24 years…etc..etc.” Wah, kagak kuat euy, aku mah anak bawang.

Giliran aku memperkenalkan diri, aku ngga mau kalah. Aku bilang, “I’ve been dealing with this field for thirty years.” Orang-orang sempat tertegun mendengar kata itu. Lalu beberapa orang tertawa. Kemudian aku menyambung,”You guys should just believe me about that.” Lebih banyak lagi orang yang tertawa mendengar kalimat aku tersebut. Ada yang menyambut pernyataan aku dengan berkomentar kalau aku sudah mulai penelitian sebelum aku lahir. Komentar ini tentu disambut dengan tawa profesor2 lain.

Aku pikir guyonan aku soal 30 tahun itu betul-betul dipahami semua orang. Profesor gitu lho, masa telmi?

Pas menjalani Museum Tour, seorang profesor yang belum tua bertanya pada aku. “Btw, you’re not serious when you said that you have been doing the research for thirty years, were you?” Aku rada bingung ditanya begitu. Lalu kujawab, “Of course I am serious.” Muka dia langsung bingung. Pupil matanya membesar. Ditatapnya aku dengan seksama. Aku bingung dan kasihan melihat reaksi dia, tapi kuputuskan untuk tertawa untuk menegaskan bahwa aku bercanda. Dia kemudian ikut tertawa bersamaku.

Dalam hati aku bertanya, “Ini ketawa apa ya? Udah ngerti atau semakin bingung?” Ternyata professor ada yang telmi juga ya.

Monday, July 16, 2007

[Corat-coret] Asteng 4.2.2 -- Jakarta: Visa & Indomerika & Telinga (2)

Ini sambungan dari [Corat-coret] Asteng 4.2.1 -- Jakarta: Visa & Indomerika & Telinga (1)

Nah, kan aku bilang "....telinga saya kan kecil, dan posisinya sedemikian rupa sehingga kalau dilihat horizontal tidak bakal terlihat banyak."

Si mbak bengong mendengar jawabanku. Tapi dia ngotot aku harus foto lagi. Dia memberi aku formulir kekurangan dokumen dan memberi aku waktu sampai jam 10 untuk kembali dengan foto yang baik dan benar! Saat itu sudah pukul 9 pagi. Dia juga memberitahu kalau aku bisa mendapatkan foto itu dari toko di jalan Sabang.

Aku bergegas meninggalkan kedutaan dan naik taksi ke jalan Sabang. Di sana memang banyak toko foto, jadi aku masuk saja ke salah satu dan langsung memesan pas foto ukuran kedutaan AS yang kilat.

Tak lama aku dipanggil untuk masuk ke studio. Dan dimulailah pemotretan itu. Aku menjelaskan bahwa telingaku harus terlihat jelas.

Si tukang potret memberikan petunjuk dan aba-aba supaya telingaku jelas. Lalu dia bilang, "Wah mbak susah ya, telinganya kecil dan ngga gini (tangannya bergerak membuat gerakan telinga yang caplang keluar)."

"Terus gimana dong, Pak?", tanyaku.

Dia mendekati meja kerja dia dan mengubek-ngubek laci. Lalu dia bilang,"Nah, ini dia, mbak. Kita ganjel aja telinga-nya pake styrofoam supaya keluar!!!"

Aku terbengong-bengong lalu tertawa, tapi kuterima keputusan itu. Demi mencapai kecaplangan, dengan rela dan riang gembira kubiarkan kedua daun telingaku diganjel gabus putih!!!!

Jepret! Jepret! Selesailah pemotretan dan hasilnya memang memuaskan. Telingaku jadi cukup caplang! :D

Aku langsung berlari-lari cari taksi dan kembali ke kedutaan. Belum jam 10! Tepat waktu! Dan langsung ke si mbak itu. Kubilang, "Mbak, ini udah diganjel lho, jadi kalau ini masih kurang, wah gimana lagi. Saya bukan Spock." Si Mbak diam saja, terus memperbolehkan aku masuk.

Seterusnya urusan lancar. Pewawancara yang orang Amerika malah memperlakukan aku dengan penuh hormat. Dia kagum dengan visaku kali (ge-er!) dan yang pasti dia tidak mempermasalahkan telingaku yang ngga caplang :P Malah dia bilang begini,"I wish to give you a two years sticker, unfortunately the rule says it's only one year."

Ah, sayang... tapi yang penting kan dapat stiker visa dan aku tidak usah operasi telinga.

[Corat-coret] Asteng 4.2.1 -- Jakarta: Visa & Indomerika & Telinga (I)

Sewaktu aku di Indonesia kemarin, aku harus mengambil stiker renewal visa di Kedutaan Belanda. Visa-nya sendiri sudah disetujui sampai tahun 2009 (yang kisahnya bisa diikuti di blog entries yang lalu), tapi stiker-nya cuma bisa berlaku setahun. Kalau tidak ada stiker, tetap boleh tinggal dan bekerja di Amerika Serikat, tapi kalau keluar tidak bisa masuk lagi.

Pengalaman saya berkali2 melamar visa AS, yang rese itu ternyata bukan orang Amerika-nya, tapi orang Indonesia yang bekerja di sana. Mereka lebih Amerika dari orang Amerika.

Nah, setelah mengantri di depan gedung kedutaan AS, akhirnya sampai di dalam. Ternyata suasana sudah berbeda jauh jika dibanding beberapa tahun lalu. Sekarang sebelum sampai di ruang wawancara, sudah ada wawancara pendahuluan serta pengecekan dokumen di luar -- di meja cek dokumen -- yang dilakukan sesudah membayar ongkos visa.

Di meja kassa, si mbak kasir mempertanyakan jenis visa saya yang O-1 itu. Dia tanya, "Mbak, ini visa jenis apa?" Lha orang kedutaan koq ngga ngerti, pikirku. Terus kujawab, "Ini visa extraordinary alien, jenisnya untuk outstanding researcher and professor." Lalu si mbak bisik-bisik bertanya sama rekan-nya di meja cek dokumen, "Ini non-immigrant visa bukan sih? Apa bisa diterima?" Entah apa yang mbak lainnya katakan, si mbak lalu kembali padaku dan membolak-balik dokumen petisi O-1 ku. Ku katakan padanya, "Mbak, O-1 itu non-immigrant visa, bukan immigrant visa." Si Mbak langsung nyolot dan bilang, "Iya, saya juga tahu koq kalau itu bukan immigrant visa!". Yeee... tadi nanya koq sekarang malah bilang tahu. Gimana sih.

Setelah mengantri lagi, saya sampai di meja cek-dokumen. Dokumen saya lengkap, jadi saya tidak gugup, tenang saja. Ternyata begitu saya sampaikan dokumennya, si mbak-mbak yang menjaga meja cek dokumen langsung mencoret-coret form saya dengan stabilo warna kuning. Katanya saya salah mengisi alamat karena saya mengisi pakai alamat di Amerika. Padahal yang ditanya memang tempat tinggal sekarang. Saya bilang ya saya memang tinggal di Amerika. Tapi dia ngotot kalau saya harus isi alamat Indonesia, karena semua juga harus begitu. Weleh-weleh yang lain kan memang rata-rata melamar visa turis, ya jelas alamat tinggal sekarang Indonesia. Tapi ya sudah, aku turuti.

Lalu, si mbak itu bertanya, "KTP-nya mana?" Aku bilang, "Saya tidak punya KTP". Dia bilang, "Koq ngga punya KTP sih?". Kujawab,"Ya, karena saya tidak tinggal di Indonesia." Dia ngedumel tapi terus terima.

Entah kemasukan jin apa, si mbak mencari kesalahan saya lagi. Dia bilang foto saya ngga sah karena telinga-nya tidak kelihatan jelas. Saya bilang, foto tersebut saya pakai di tempat-tempat lain dan sah, termasuk di kedutaan Amerika. Dia tanya, "Kedutaan AS di mana?" "Calgary," jawab saya. "Calgary itu dimana?" tanya dia. Koq kayak pelajaran geografi ya, tapi ya saja jawab saja kalau itu di Kanada. Terus dia membalas, "Ya tapi ini bukan Kanada, ini Indonesia, jadi kita punya aturan sendiri." Padahal saya tahu aturan foto itu standar-nya dikeluarkan oleh pihak kedutaan pusat (US Dept of State).

Terus saya ngeyel. Saya bilang, "Tapi mbak, liat deh, telinga saya kan kecil, dan posisinya sedemikian rupa sehingga kalau dilihat horizontal tidak bakal terlihat banyak."

Si mbaknya......

ntar deh saya terusin ya.... mau pergi dulu nih.

Monday, July 02, 2007

[Corat-coret] AsTeng 2.1 - Hong Kong airport

Selamat pagi, siang dan sore, teman-teman Kawanmu Lady Day sudah sampai di Manila dengan selamat. Secara fisik kelihatannya tidak kekurangan sesuatu apapun. Secara kejiwaan masih belum dapat dideteksi :D

Berikut ini adalah catatan kecil dari bandara Hong Kong, sesaat sebelum lepas landas.

:::

Bangun pagi sekali, re-packing koper, dan check-out. Semuanya beres. Aku hampir yakin tak bakal ada hal-hal ajaib yang bakal terjadi hari Bandara ke-4 dalam perjalanan AsTeng ini. Aku memberitahukan si petugas hotel bahwa aku ingin pakai taksi ke Airport Express station (dari sini bakal naik Express train ke bandara -- lebih cepat, lebih murah, dan lebih efisien, bisa check-in dari station sehingga ngga usah bawa-bawa koper). Sebuah taksi berhenti dan si petugas hotel berbicara dalam bahasa CIna (kemungkinan Mandarin) tentang tujuan saya. Saya tak mengerti apapun, kecuali kata Airport.

Setelah sekita 15 menit dalam taksi, saya melihat gelagat aneh. Taxi meter menunjukkan angka di atas 30 dollar padahal perjlanan saya dari station ke hotel malam sebelumnya saya cuma membayar 22 dollar. Lalu saya bertanya, "You know that we're going to Airport Express station, right?". Dia menjawab,"Airport, airport, Hong Kong?" Aku membalas,"Not the airport, but the station for the train." Dia terkejut,"Oh! No airport?" Aku juga terkejut, "Station, not airport, OK?" Dia, "Oh! Oh, Kowloon huh?" Aku menjawab,"Argh, should be Central (stasiun terdekat dari Hotel) but now I have no choice, right? I guess Kowloon is the closest." Duh, ternyata kesalahpahaman terjadi karena masalah bahasa. Saya menyangka si petugas hotel cuma bilang pada supir taksi bahwa aku minta diantar ke Airport. Dalam bahasa Cina, sehingga aku tidak bisa mendeteksi kesalahan tsb!

Akhirnya aku sampai di Kowloon Airport Express station, dengan sedikit ngebut-ngebut dan beberapa perdebatan tentang harga taksi dimana si supir ngotot bicara dalam bahasa Cina dan aku ngotot bicara bahasa Inggris (lha, gue kan ngga punya pilihan.... masa mau dalam bahasa Sunda?). Si supir cuma switch ke bahasa Inggris sesudah aku bayar saat dia bilang, "Thank you."

Kereta ke Airport sangat lancar dan nyaman. Aku tetap tiba jauh sebelum waktu keberangkatan.

Karena aku sangat lapar, aku memutuskan untuk sarapan terlambat/brunch. Sepiring kecil turnip cake menggugah seleraku dan segera kupesan. Entah apa yang terjadi, tahu2 ketika aku berjalan ke arah kasir, terjadilah BRANG GEDOMBRANG... BANG! Dalam hitungan milidetik, piring kecil dari tanganku sudah pindah menjadi kepingan-kepingan porselin yang berantakan di lantai. Turnip cake ku tergeletak terbuang percuma di lantai! Arrrrggghhh!!!

Manager cafe langsung mendekatiku,"Are you OK?" Aku masih terdiam mematung. Dia mengecek tangan dan kakiku. Semua baik. Tapi dia tidak mengecek otakku! :) Dia bilang, "You better just sit down. We'll give you a new plate, OK?" Dia lalu mengantar aku duduk di salah satu meja, jauuuuuuh dari tempat kejadian. Dengan muka kasihan dia bilang padaku, "Take care, OK?" Petugas-petugas lain juga melirik-lirik ke arahku. Semua memasang tampang baik penuh rasa cinta.... haha.. ngga mungkin ya. Mereka tampangnya prihatin gitu lho. Kelihatannya mereka lebih prihatin soal diriku ketimbang turnip cake yang tumpah dan piring yang pecah. Hahaha, mungkin mereka pikir ini orang depresi penuh kejangaran sampe mecahin piring segala!

Aku tetap mendapatkan sepiring kecil turnip cake yang rasanya enak banget. Kunikmati sambil agak terbengong-bengong melihat petugas kebersihan membersihkan bekas-bekas kecelakaan itu. Sampai sekarang aku masih belum mengerti mengapa kecelakaan ini terjadi. Masa penyanyi dangdut kesohor ngga bisa menenteng baki kecil yang isinya cuma sepiring turnip cake? :P

Keterangan gambar:


atas: sepiring turnip cake.
bawah: bersih-bersih tempat kejadian (aku ambil dari tempat aku duduk).

Saturday, June 23, 2007

[Corat-Coret] AsTeng 2.0 - Hong Kong: Celana koq minum kopi?

Pendengar setia ... eh pembaca setia... temanmu Mer dari Dayeuhkolot melaporkan bahwa beliau sudah sampai di Hong Kong kemarin malam dan besok pagi akan melanjutkan perjalanan ke Manila. Mohon doa yang banyak supaya Mer tidak salah bangun, salah masuk, ataupun salah mendarat! Terimakasih ya...

:::

OK, kisah corat-coret hari ini terjadi di Victoria Peak -- tempat tertinggi dimana kita bisa melihat pandangan mata-burung panorama Hong Kong. Nah, sesudah cape motret-motret panorama, aku membeli secangkir cappucino (lumayan tapi rasa-nya belum mengalahkan versi Australia) dan mataku langsung tertuju pada 2 buah komputer dengan free wireless untuk para pengopi. Salah satu komputer kosong, jadi aku langsung nangkring di situ. Jatah surfing hanya 15 menit, tapi karena pengopi lainnya tidak ada yang berminat memakai komputer, aku lanjut saja sampai 30 menit... bahkan lebih.

Aku asik banget ber-Internet.... sampai tahu-tahu aku kaget akan jeritanku sendiri. "Arrrgggghhhh!!!" aku berteriak. Pahaku terasa panas. Ternyata aku menumpahkan kopi si cappucino itu bukan ke mulutku tapi ke celana pendekku. Alhasil orang-orang sekitarku langsung melihat ke arahku. Bule-bule yang duduk-duduk di belakangku langsung mesem-mesem melihat celana pendek yang berwarna cream itu kena tumpahan kopi yang cukup besar. Daripada salting atau malu, aku tersenyum pada orang-orang itu. Dengan santai aku berjalan ke counter kopi, mengambil tissue, lalu membersihkan tumpahan kopi di meja komputer dan celanaku. Lalu berjalan meninggalkan komputer dengan gaya pede.

"Celana batik, siapa takut?"

Padahal dalam hati aku menyumpah-nyumpah: "Duh, udah paha gue panas, ini pan celana pendek satu-satunya!"

Thursday, June 21, 2007

[Corat-Coret] AsTeng 1.1: PeDe

Laporan sementara dari perjalanan AsTeng. Sekarang masih belum sampai di Hong Kong, baru di Tokyo. Ini meng-Internet dengan mencuri koneksi NWA First Class Lounge yang bocor ke daerah boarding!

Pas di LA, aku hampir putus asa karena antrian-antriannya sangat-sangat panjang. Untuk check-in aku mempergunakan kartu ajaib WorldPerk Elite ku sehingga bisa memotong antrian ratusan orang. Untuk masuk security gate alias gerbang keamanan, yang bisa masuk jalur khusus hanya Premium member dan First Class passenger. Jelas aku bukan. Tapi aku pasang gaya pede dan bilang, "Hi, I am an elite member" dan serta merta bisa memotong ratusan orang lagi! Horeeee!!

Begitu sampai dekat2 gate, kudengar namaku dipanggil. Meur-lay-na Lim... Meur-lay-na Lim... please come to the desk of Gate 28! Tepat waktu!!

OK, begitu dulu ya. Pesawatku mau boarding.

Wednesday, June 20, 2007

[Corat-Coret] AsTeng1.0: Salah masuk

Ini catatan corat-coret pertama dari perjalanan ke Asia Tenggara. Belum sampai mana-mana, baru sampai di Phoenix airport yang cuma 15 menit dari rumahku di Tempe. Tapi sudah ada kejadian yang tadinya ngga akan aku ceritakan di sini. Soalnya malu!*

Pesawatku ke Hong Kong terbang dari Los Angeles, jadi aku harus ke LA dulu. Jadwalnya mustinya 8:25 am. Sekarang jam 9:27 dan aku masih di Phoenix! Kenapa? Ya, jelas, ketinggalan pesawat lagi! Duh, koq bisa ya? Masa bisa kejadian lagi sih?

Tapi jangan salah lho, kali ini aku tidak kesiangan bangun! Bahkan sudah tiba di airport jauh sebelum waktu keberangkatan. Masalahnya, entah kenapa, telah terjadi sesuatu yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya.

Aku salah masuk security gate! Seharusnya D, aku masuk ke A! Koq bisa? Entah kenapa terjadi, tak dapat dijelaskan. Yang pasti setelah 1 jam mengantri, petugas yang mengecek boarding pass ku bilang,"You know that this is not Southwest right? This is American."

Aku menjawab,"I thought this is D."
Petugas berkata lagi, "No, this is actually A. You can go out and go to another security gate." Aku terkejut dan bilang, "No way, I've been lining up for an hour and I should do it all over again? No, I am staying here."
"Alright, you can then. But D is the furthest gate from here, so you'll walk around the whole airport to get there," sahut petugas.
Aku bertanya,"How long does it take to get there?"
"I don't know, maam. It's one really long good walk!" petugas menjawab sambil tertawa.
"OK, I'll walk!!" jawabku dengan tegas.

Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan ke sana. Di tengah jalan aku tahu aku bakal terlambat. Aku hanya berharap ada kursi kosong di pesawat berikutnya yang berangkat jam 10:20am! Dan horeee, ternyata memang ada.

Semoga aku bisa mengejar pesawatku dari LA yang bakal berangkat jam 1:45pm.

* ini merupakan acara ketinggalan pesawat-ku yang ke-3 sebulan terakhir ini, dan yang ke-5 selama tahun 2007, dan dalam hidupku yang ke ... uhmm.... berapa ya? ;p

Wednesday, June 13, 2007

Corat-Coret (Oz 1.0): Professor KD

Ada banyak cerita-cerita kecil tak berkesinambungan yang tercecer dari perjalanan2 akademis saya. Sudah lama ingin berbagi, tapi belum sempat. Nah, mumpung sekarang sedang ada waktu, saya akan mulai dengan "Corat-Coret" edisi Oz, berdasarkan perjalanan ke Australia yang baru lalu.

Inilah kisah yang pertama.

::::::::::

Tugas pertama di Australia adalah memberikan keynote speech di Workshop on Understanding Internet in Asia-Pacific di Universitas Wollongong. Peserta workshop sebagian besar adalah mahasiswa doktoral yang dipilih dari berbagai universitas di Australia.

Sesudah workshop satu hari yang isinya ceramah dan presentasi, hari kedua digunakan untuk diskusi tertutup tentang penelitian antara aku dan mahasiswa2 doktoral ini. Di sini mereka boleh bertanya apa saja padaku.

Sesudah diskusi selesai, seorang mahasiswa dari Malaysia bertanya, "Are you truly Indonesian?" Kujawab, "Yes, I am 100% Indonesian". Terus dia bilang, "Oh, no wonder! When you gave your lecture yesterday I found out that you looked so familiar to me! Now I know that you remind me much of someone. You look like Kris Dayanti!"

Aku terbelalak! Mana mungkin. Kris Dayanti diliat dari Bogor kali ye.

Sebelum aku berkata apapun, mahasiswa lain dari Jepang bertanya, "Who is that Kris?" Seorang mahasiswa lainnya (orang Australia asal Malaysia) membalas, "That's a hot sexy singer from Indonesia!"

Aku tertawa terus protes, "You mean I look more like a pop singer than a professor?????"

Mahasiswa-mahasiswa itu tidak menjawab. Mereka hanya senyum2 dengan mata penuh binar2 nakal!

p.s. No, I have looked at myself in the mirror thousand times and I don't think I look like Kris Dayanti at all.

Monday, June 04, 2007

No what-what lah

Malam ini begitu sampai di rumah saya menyalakan tivi dan tertangkaplah berita tentang David Tool orang Amerika yang tinggal di Beijing yang dberi penghargaan oleh pemerintah Cina atas usahanya memperbaiki terjemahan papan-papan petunjuk (dalam bahasa Inggris) di Beijing.

Sangat lucu! Saking menikmati kisah ini, saya langsung menulis di blog tentang Chinglish berikut contoh-contoh terjemahan yang lucu2. Kalau anda ingin belajar tentang Chinglish, silakan saja klik link ini. Dijamin pasti tertawa ala Chinglish!

Cerita-cerita tentang bahasa papan petunjuk memang selalu mengundang tawa. Saya ingat pernah lihat papan yang tulisannya berbunyi "Trek sampe sampeh di sinih" -- naon coba? Maksudnya "treuk (truk) sampeu (singkong) sampai di sini (saja)".

Beberapa saat lalu, seorang kawan di MP posting berjudul "Don't follow mix" tentang spanduk perform taste yang berbunyi "If not now more when? If not me more who?"

Nah berarti di Indonesia juga fenomena yang sama terjadi. Apa kita juga harus "bersih-bersih" kayak pemerintah Cina?

Kalau saya pikir sih something like that no what-what lah. His name also effort. Her name also life. Even not a play his funny, right?

Kalau diprotes sama orang-orang asing, kita bilang saja sama mereka "Your granny huh? Don't follow mix lah! Don't itchy and speak as delicious your belly button!"

Believe body only also. Don't be surplus and don't think that are nots. Her name also live in Indonesia. Accept only. Yang sudah ya sudah. Different river, we fix.

Feeling, headache not you?

Friday, May 11, 2007

10 alasan kenapa sekolah lagi......

Daftar alasan yang asli saya tulis dalam bahasa Inggris, ini adalah terjemahan "terburu-buru" dan seenaknya. Jadi banyak kata/istilah yang kurang tepat dan rada garing :p
Versi Bahasa Inggris-nya jelas lebih "pas". CLICK HERE FOR ENGLISH VERSION

Menjawab pertanyaan, "Kenapa sekolah lagi (ke S2 atau S3)?"
Ini adalah 10 dari 79 alasan yang layak dipertimbangkan.....

0. dibiayai (dibayar) untuk berpikir, menulis artikel2 bla-bla-bla, dan berdebat tentang Tuhan, sains, politik, sapi dan demokrasi, serta debat2 lain yang tak penting.

1. menyiapkan diri untuk memiliki karir yang cukup disegani dimana kamu dibayar untuk bicara yang tidak-tidak

2. bisa dapat kesempatan untuk jalan-jalan keliling dunia tanpa modal sepeserpun

3. punya alasan kuat untuk tetap lajang selama 5-10 tahun

4. Ibu X, Direktur X, Presiden X dan status2 lainnya bersifat sementara. Mereka hilang dalam perceraian, pemecatan, dll, tapi gelar S2 S3 sifatnya abadi, memberi status terhormat yang tak bisa diambil siapapun

5. punya alasan untuk menunda bekerja kantoran 9-to-5 selama 5, 6, atau 10 tahun

6. bertemu orang-orang super pintar untuk menghindari proses pembesaran kepala

7. lebih mudah hidup sederhana (di bawah garis kemiskinan!) jika kamu memiliki alasan yang tepat

8. mengintimidasi kaum lelaki dengan si gelar

9. kesempatan menerapkan prinsip ekonomi lewat pemakaian diskon pelajar semaksimal mungkin

10. memiliki pembenaran untuk mempertahankan hobi membeli barang bekas (buku, pakaian, dan bermacam tetek-bengek!)

Monday, April 30, 2007

Pesawat, Los Angeles, dan kunci

Sejak jaman dahulu kala, cerita2 online saya hampir selalu seputar jalan-jalan, perjalanan, dan kejalan(g)an. Tak sadar ternyata saya sudah lama tidak menulis tentang kisah perjalanan, walaupun sebetulnya banyak cerita.

Perjalanan terakhir tahun ini adalah jalan-jalan singkat (cuma 1 hari) ke Los Angeles dalam rangka menemani kawan dari Multiply yang berkunjung ke Amerika Serikat dari Indonesia. Saya pikir, kayaknya saya sudah seubeuh alias wareg dengan kisah-kisah ajaib bin ancur, jadi rasanya perjalanan kali ini bakalan smooth alias halus dan lancar. Ternyata memang sudah nasib, tak ada perjalanan yang isinya lurus.

Perjalanan 1 hari ke LA ternyata ditandai dengan episode mengejar tiga buah pesawat -- pesawat 1, pesawat 2, dan pesawat 3. Juga sejumlah dialog yang konyol membumbui perjalanan tersebut. Ditambah kisah aneh tapi nyata dan misterius tentang seonggok kunci yang hilang. Karena saya sudah menuliskan kisah2 ini dalam bahasa Inggris, saya malas menuliskannya lagi di sini. Baca aja di situ ya? Lewat link-link tersebut.

Nuhun.

Saturday, April 14, 2007

Macam-macam di bulan Maret

Wah, ternyata lama tidak menulis di sini. Maaf ya. Maret-April ini bulan super sibuk. Selain mengajar dan mengejar target publikasi, saya juga banyak sekali terlibat dalam kegiatan2 di kampus dan luar kampus. Di departemen ada proses perekrutan Ketua Jurusan dan 2 assistant profesor, serta penerimaan mahasiswa baru S2 dan S3. Semuanya melibatkan kegiatan membaca ratusan lembar berkas lamaran, dan puluhan talks/meetings yang harus dihadiri. Betul2 habis waktu saya. Tapi juga saya malah semakin rajin melakukan hal-hal yang tidak musti dilakukan (tapi kepingin dilakukan) seperti misalnya nge-band (semakin banyak tawaran ngedangdut.. hahaha) dan ngeblog :p. Saya juga membuka blog baru InternetAsia bulan ini, dan masih mengupdate InternetJustice dan Edoen!

Sementara itu, karena saya masih belum sempat menulis sesuatu yang khusus di sini. Silakan nikmati update dari saya lewat berbagai posting di blog tetangga:

Google Says ... : Google emang lucu!
iRack : produk anyar dari Apple!
On Democracy: ringkasan kuliah saya di Yale, Maret 2007

Tuesday, March 27, 2007

Hijau, siapa takut?

Pas libur musim semi selama seminggu kemarin, saya merasa harus berbuat sesuatu.... ingin memberi sentuhan baru pada si apartemen, tapi tidak ingin mengubah banyak dan tidak ingin membuang uang atau energi. Jadi gimana dong ya?

Untung ada si akang yang doyan hijau -- pencinta tanaman alias Kermit sejati. Jadilah apartemen kita sulap menjadi hijau. Ternyata segar euy! Jadi tambah betah nongkrong di rumah. Apalagi di dapur, meja makan jadi tempat favorit ngobrol. Coba lihat tah hasilnya! Bandingkan dengan versi yang belum hijau..... beda pan?

Yang pasti, si hijau-hijau ini membuat rumah terasa asri, segar dan relaks.


Palem Majestic di dekat jendela menjadi semacam penghalang sinar matahari dan membuat bayangan terbentuk indah, jatuh di dinding ruang tengah/tamu.


Si hijau rimbun, semacam kuping gajah (bukan juga sih), membuat sudut ruang tengah terasa lebih ramah. Di malam hari, jika lampu di belakangnya dinyalakan, suasana menjadi semakin romantis :)


Tanaman merambat yang ditaruh di dapur/ruang makan ini adalah favorit saya. Si jabrik ini membuat meja makan menjadi tempat yang akrab dan menyenangkan!



Ini dia si jabrik.... tepat di atas meja makan.

Thursday, February 22, 2007

Blog baru -- Edoen

Entah kemasukan jin apa, atau mungkin gara-gara makan rujak mangga sebagai makan malam, kemarin malam tahu-tahu saya malah memilih untuk mengoprek blog yang namanya EDOEN ketimbang ngerjain kerjaan2 di kampus yang seabreg.

Ini bukan blog pribadi saya. Ini blog yang saya dedikasikan untuk teman-teman para edoeners yang pernah menodai hidupku, hehehe, belasan tahun yang lalu. Isi, biji, serta kulitnya si EDOEN mungkin tak berarti bagi para non edoeners, meskipun anak-anak ITB yang pernah tergabung di psm sih mungkin bakal bisa sedikit menghayati-nya. Tapi coba saja, tengok si blog EDOEN tersebut. Kalau anda bisa terhibur, tersinggung, atau tergaringkan, berarti bisa jadi anda adalah salah satu jadi-jadian edoen yang belum bergabung dengan kami, para edoeners.

Saturday, February 10, 2007

Si Hitam

Tanggal 25 Januari yang lalu adalah hari bersejarah dalam kehidupan-tekno saya. Saya mendapatkan sebuah laptop lagi!

Sebuah MacBook Intel Core 2 Duo berwarna hitam dengan spesifikasi maksimum dalam segala lini! Wow! Saya memang beruntung, selalu dimanjakan oleh berbagai pihak dengan laptop-laptop yang supey-dupey-yabedabedu.

Si Hitam ini adalah komputer saya yang ke-enam. Saya masih ingat komputer jangkrik saya yang pertama di tahun 1996. Saya beli setelah menabung dan menghabiskan seluruh gaji saya selama 4 bulan untuk membeli komputer yang kemudian saya pakai untuk menyelesaikan berbagai proyek arsitektur. Tahun 1997 saya mendapatkan laptop saya yang pertama tepat sebelum krismon. Sebuah Toshiba. Lagi-lagi saya menghabiskan gaji berbulan2 untuk membeli-nya. Tak percuma, karena saya menggunakan laptop itu untuk mencari uang sampai tahun 2000, menyelesaikan gelar Master dan bahkan menghantarkan saya untuk menemukan jalan menuju PhD.

Tahun 2000, untuk pertama kalinya saya mendapatkan laptop gratis dari proyek penelitian. Dan ternyata sesudah itu saya terus2an mendapatkan laptop gratis. Sebuah Dell model mutakhir saya dapatkan di Januari 2000. Dia betul-betul berjasa membantu saya menyelesaikan beratus-ratus atau beribu halaman tulisan2 riset pada masa pre-PhD saya.

Tahun 2003, saya pindah agama menjadi Macintoshian alias pengguna Apple. Dengan fellowship dari WOTRO saya mendapatkan sebuah PowerBook G4 12" yang saya namakan Little Mac. Dia berjasa sekali. Dia menemani saya keliling dunia dan membantu menulis publikasi2 saya. Dan tentu saya si Little Mac ini yang begitu cerdas menuliskan dan menyelesaikan disertasi saya (bukan saya lho!). Little Mac ini juga sudah menemani saya tidur selama 3.5 tahun terakhir. Aku.... padamu, Little Mac :)

Lalu, pada hari Thanksgiving lalu kan saya mendapatkan laptop "hampir gratis." Sebuah Compaq laptop yang sedianya akan saya berikan untuk ibu atau adik perempuan saya.

Nah sekarang giliran si Black Mac alias si Hitam menemani saya tidur dan jalan-jalan. Si Hitam ini betul-betul super deh. Coba saja lihat spesifikasi-nya:

2.0GHz Intel Core 2 Duo
200GB Serial ATA drive
Apple Mini-DVI to VGA Adapter
Keyboard/Mac OS - U.S. English
Accessory kit
2GB 667 DDR2 SDRAM - 2x1GB
Superdrive 6x (DVD+R DL/DVD±RW/CD-RW)
iWork '06 preinstalled
+
AppleCare Protection Plan for MacBook/iBook - Auto-enroll
Parallels Desktop for Mac
Apple wireless Mighty Mouse
iLife '06
Apple MagSafe Airline Adapter

Hebring ngga tuh?
Duh, Hitam... kamu memang hebat..... *elus-elus*

Thursday, January 18, 2007

Hari pertama mengajar.......

Masih ingat posting saya terdahulu tentang si JUS 394, kelas yang saya ajar semester ini? Ya, kelas Information Technology & Social Justice -- beyond first world discourses. Hari ini adalah hari pertama saya mengajar kelas itu. Sejak beberapa hari lalu, saya semangat, bergairah sekaligus cemas dan gugup. Maklum, ini kelas pertama saya, I mean this is really my own class and no such class before at ASU! Silabus saya yang sebetulnya sudah selesai 2 bulan lalu saya modifikasi terus-menerus sampai kemarin malam! Alhasil saya baru men-copy silabus pagi ini...

Dari segi fashion, saya cukup siap, hehe. Saya siapkan baju2 yang akan saya pakai kemarin malam. Baju rapih, tapi tidak begitu formal. Rok -- sekitar 10 cm di bawah lutut, baju atasan tangan panjang, dan sepatu boot cewe. Warna tema hari ini: coklat! Oh ya, saya tidak pakai kacamata, jadi ya mungkin masih terlihat funky dan "ngga tua" :D

Kurang tidur, karena kemarin malam saya pergi keluar dan baru tertidur pukul 1 subuh, dan tidak sempat minum kopi, membuat saya agak ngantuk. Jadi saya sempat membuka kelas dengan berkata begini,"Good morning, everybody. Ooh, 9 am class, too early isn't it? I am not an early person and I didn't get my coffee this morning, so if I fall asleep in my own class, please wake me up!".

Ada sekitar 35 mahasiswa/i di kelas saya. Lebih dari 25 laki-laki. Sedikit sekali perempuan di kelas saya. Entah mengapa, padahal lebih banyak mahasiswa perempuan di program Justice. Mungkin karena mengandung unsur "teknologi" .... jadi lebih banyak cowo yang tertarik. Peserta kelas sebagian besar berasal dari Justice studies, namun ada beberapa dari program lain. Yang mengejutkan ada satu mahasiswa dari Microbiology! That's interesting!

Hari ini kelasnya betul2 santai. Hanya perkenalan dan pengantar tentang kelas. Saya hanya menggunakan 45 menit dari 1 jam 15 menit yang disediakan. 10-15 menit terakhir dari 45 menit saya pergunakan untuk berkenalan. Mahasiswa2 dipersilakan menyebutkan nama lengkap, program/major, dan 3 kata yang menggambarkan diri mereka, misalnya: Merlyna Lim. Justice Studies. Professor, obnoxious, arrogant.... hehe.. atau, professor, coffee-lover, pink! (this is just an example, coz I'm not crazy about pink). Ada mahasiswa2 yang unusual dalam menyebutkan 3 kata ini, misalnya: tired, hungry, study-hard or study, food, sport.

Yeah, hari pertama berlangsung aman. We had some fun, I thought. Tapi kelas yang sebenarnya masih baru akan dimulai Kamis lusa.

p.s. Silabus kelas saya, sesuai permintaan, akan saya online-kan akhir minggu ini.

Thursday, January 04, 2007

Akhirnya punya "rumah"

Aku pindah ke apartemen baru di Tempe, Arizona, pertengahan Agustus, tapi sampai 4 bulan lebih tidak sempat bebenah. Jadinya 2 bulan pertama apartemenku kosong melompong dengan beberapa dus dan koper menggeletak di sana sini. Akhir Oktober, ruang depan (living room) mulai berbentuk, tapi belum begitu nyaman. Sampai seminggu sebelum Natal 2006, apartemenku masih acak kadut, tak nyaman, dan belum berbentuk "rumah".

Aku bertekad untuk membereskan sebelum Natal. Jadi aku sengaja bikin undangan makan siang pas Natal, supaya aku tergugah dan terpacu untuk beres-beres. Ternyata sukses! Malam Natal aku sudah bisa tersenyum puas. Apartemenku sudah menjadi "rumah". Sekarang aku senang duduk-duduk di rumah deh.

Ini dia "rumah" ku...
(1) ruang depan/tamu, (2) ruang musik/belajar/tidur tamu, (3) ruang tidur (4) dapur/ruang makan.



Tuesday, January 02, 2007

Selamat... selamat... selamat!

Sudah tanggal 2 Januari di Tempe, Arizona, juga di Bandung, Enschede, Los Angeles, Washington DC, Hawaii, dan Jakarta -- semua tempat yang pernah saya "tinggal"-i... juga di tempat-tempat lain yang pernah saya singgahi dan kunjungi.

Walaupun sudah bukan 1 Januari, kita masih berada di awal tahun 2006, jadi boleh dong ya saya ucapkan Selamat Tahun Baru! Ya, Happy New Year yang ngga "belated".

Semoga tahun baru ini menjadi tahun yang asik dan menyenangkan buat kita semua dan semua kita masih sering saling bersilaturahmi melalui jalan-jalan-blog.

OK. Selamat Tahun Baru dan selamat lain2nya juga.

Selamat Natal, Idul Adha, Hanukkah, Kwanzaa. Juga selamat tidur untuk teman2 di Indonesia... selamat pagi untuk teman2 di Amerika.... selamat makan untuk yang lagi makan. Pokoknya selamat deh ya!

salaaaaam!

p.s. Kalau mau baca my Christmas & New Year ramblings, bisa lihat di blogku yang Inggris tea.