Pk 5 sore, 24 Oktober 2006, Ruang Darurat di Pusat Medis Spanduk Gurun* di Meza, Arizona
Perawat mendorong kursi rodaku dan menempatkan aku di sebuah bilik bertirai biru. Dia menolong memindahkan tubuhku ke kursi dan kemudian mulai meraba tanganku, mencari urat-nadi yang paling jelas. Tak lama, sang perawat menusukan jarum infus beserta tabungnya ke urat nadi di pergelanganku. Duh... eh, ngga gitu sakit sih.
Sebelum pasang selang infus, si perawat mau ambil darah dulu. Jadi dia menusukkan jarum kecil ke tabung infus kecil yang sudah tertancap. Entah bagaimana kejadiannya, tahu-tahu darahku muncrat ke celana panjang si perawat. Dia langsung panik dan menjerit: Oh, my God!!! My goodness!!!Banyak sekali darah di ruangan. Ada genangan darah yang cukup besar di lantai. Jari-jari dan pergelanganku penuh dengan darah. Mengerikan. Seperti adegan berdarah-darah di film horor.
Saya terkejut. Tapi tidak bereaksi sedikitpun. Si perawat tampak pucat, dia berkata: I am scared to death!!!!
Perawat: I am so sorry, I am so sorry
Aku: It's OK.
P: Yeah, this little needle was broken.
A: Oh.. well, yeah, something like that happens.
Kemudian si perawat mengganti kaus tangannya, mengambil setumpuk tissue dan mengelap tangan saya. Dia berusaha meneruskan tugasnya. Jarum diganti dan 5 tabung darah diambil dariku. Lalu si perawat membersihkan darah-darah yang menghiasi ruangan. Dia sangat gugup sehingga terus menerus menjatuhkan barang-barang. Setelah mengganti kaus tangan 6 kali dan menghabiskan seluruh persediaan tissue di ruangan, akhirnya dia selesai. Dia masih tampak gugup, namun tetap berusaha tenang dan meneruskan tugasnya. Selang infus lalu dipasang di jarum infusku. Berhasil. Dua tabung obat diinjeksikan di selangku. Berhasil juga.
Ruangan begitu sepi. Tak seorangpun dari kami yang berbicara. Sunyi. Sepi. Sampai akhirnya aku memecah kesunyian.
A: You know what? I think you should have done this better (dengan wajah dan tatapan dingin, suara datar)
P: Oh..oh.... I am so sorry (sangat gugup dan merasa bersalah)
A: I really think you should have done better (saya mengulang, tetap dengan suara yang dingin)
Si perawat kehilangan kata. Dia menunduk dan terus membenahi selang infusku.
A: Yeah, you can do better by giving me some IV** with pizza or hamburger flavor!
Sang perawat menatapku. Tertegun sejenak, kemudian bertanya: What do you mean?
A: Pizza flavor... or hamburger, at least. Come on, after what you have done to me!
P (tertawa): Oh right, yeah, pizza would be nice. I should have done better, true.
A: Yes, after taking too much blood of me!
P: Yeah, I should give you something in return (langsung terlihat lega dan lebih santai).
Kami berpandang-pandangan dan kemudian tersenyum bersama.
catatan:
* Terjemahan saena'e dewe dari: Emergency Room at Banner Dessert Medical Center
** IV = intravenous = within vein (Inggris), infus (Indonesian, Dutch).
English version of this can be read here.