Friday, October 27, 2006

Ruang Darurat (1) -- sebuah refleksi

Ruang darurat bisa berupa tenda, bilik, atau dinding2 seng. Tapi ruang darurat yang satu ini biasanya lebih kokoh dari sekedar tenda. Ruang-nya tidak darurat. Yang darurat adalah orang-orangnya.

Ruang darurat atau lebih terkenal dengan sebutan ER alias Emergency Room memang benar-benar selalu bersituasi darurat. Orang2-nya dan kegiatan2-nya. Bahkan udara-nya serta pemandangan-nya pun berbau darurat. Darah, tangisan, teriakan, tampak dan terdengar di situ. Orang-orang berbaju putih berkeliaran. Dalam pandangan kabur seseorang yang sedang sakit -- jika dia cukup relijius -- mereka lebih tampak seperti pasukan berjubah yang siap menjemput-nya untuk "pulang" ke surga. Bagi seorang yang agnostic, mereka terlihat seperti mahluk2 ruang angksa atau manusia robot yang siap melucuti organ-organ tubuh manusia-manusia bumi yang terperangkap dalam ruang ini.

Kesementaraan dan ketidaktahuan meliputi ruang tersebut. Bagi pasien yang sudah tak sadarkan diri, kegalauan dan kecemasan tersalurkan kepada keluarga dan teman2-nya.

Ruang darurat. Dalam segala kesementaraan-nya, dia kadang menjadi penentu nasib. Keterlambatan beberapa detik bisa akibatkan sebuah nyawa melayang begitu saja. Bilik-bilik bertirai putih menjadi saksi bisu kala nasib dan masa depan berubah -- for better or worse -- seketika dalam hitungan detik, menit atau jam.

related posting: The Culture of Emergency Room in Mer's Bites of Bytes

No comments: