Friday, August 25, 2006

Calgary dan akhir petualangan

Sebetulnya atau seharusnya perjalanan saya di Calgary ini adalah untuk "menjemput" visa dan bukan "melamar" visa. Karena 773 lembar petisi itu sebetulnya sudah dibaca dengan seksama oleh pihak Imigrasi Amerika bulan lalu dan persetujuan visa sudah dikeluarkan akhir Juli lalu. Jadi tidak ada alasan atau kemungkinan bagi saya untuk tidak mendapatkan visa. Hanya saja, Pak Sangar petugas imigrasi ingin menunjukkan kekuasaannya sehingga merasa perlu untuk "ngerjain" saya. Saya sempat panik juga ketika sang pengacara menelepon dan wanti-wanti supaya saya "be super-super humble, because the guy isn't nice and he can make your life miserable." Jadi walaupun saya pasti mendapatkan visa tersebut, tapi Pak Sangar bisa saja mengulur-ulur waktu dan membuat saya harus terdampar di Calgary selama berminggu-minggu (ini terjadi pada orang-orang lain, lho). Dia juga bisa membuat saya bolak-balik datang ke konsulat, jika dia merasa perlu melakukan itu.

Tapi syukurlah, perjuanganku di Calgary yang sampai membuat jari-jari kaki berkeringat membasahi sepasang kaus kaki keren ternyata tidak sia-sia (aing-aing, hihihi :p). Berkat satu tas berat yang isinya setumpuk kertas -- yang sakit beratnya sempat membuat petugas keamanan (satpam-nya konsulat) mengumpat, "Holy cow, this is so heavy!" pada saat memeriksa -- dan presentasi singkat di depan Bapak Sangar penjaga loket wawancara, akhirnya stiker visa O-1 itu saya dapatkan. Pak Sangar sempat misuh-misuh karena pengacara saya menelepon dia sesudah kunjugan pertama saya ke konsulat (hari sebelumnya) dan juga dengan sinis dia mempertanyakan kelayakan saya untuk disebut sebagai an alien with extraordinary ability. Tapi akhirnya dia berkata, "OK, Miss Lim, I am satisfied with what you have shown me. You can pick up your visa 3 pm by the security guard."

Hore hore.... akhirnya!!! Makan-makan yuuukkkk???? Ditemani aroma harum kaus kaki keren ku? Masih mau?

Wednesday, August 23, 2006

Calgary: Bukan hanya sekedar penantian

Laporan langsung dari Calgary.

Saat-saat mendebarkan, yakni jadwal pengambilan visa di konsulat Amerika Serikat di Calgary, sudah tiba. Ia sekiranya akan menjadi penutup manis kisah kesemrawutan (semrawut satu sampai enam) dan kisah visa & imigrasi. Ternyata jalan hidupku, yang memang selalu membuat lekukan-lekukan yang tak bisa diperkirakan sebelumnya, membuat proses pengambilan visa tidak berjalan dengan mudah.

Pagi ini aku bertemu seorang pegawai konsulat yang meminta aku membuktikan kembali kelayakan ku untuk menerima visa O-1. Padahal jelas-jelas aku sudah menerima surat persetujuan dari bagian imigrasi dan kewarganegaraan Amerika bahwa petisi visa O-1 ku sudah disetujui.

Ah, ya memang begitulah adanya. Akhirnya sepanjang hari ini aku habiskan untuk menghubungi pengacara di Arizona, menerima kiriman dokumen digital sebesar 50 MB, mencari printer dan kertas dua rim (karena kalau mencetak di toko cetak malah jauh lebih mahal daripada beli printer). Sekarang aku sibuk mencetak 773 lembar petisi lengkap yang merupakan pembuktian bahwa aku ini layak mendapatkan visa O-1.

Cerita lengkapnya jauh lebih ruwet, melelahkan, menyebalkan, penuh darah dan airmata (ngga pake darah deng). Tapi ya aku baik-baik saja. Aku anggap pengalaman ini sebagai bunga-bunga yang menghiasi perjalanan hidupku. Bisa jadi cerita bagus untuk anak, cucu, dan teman-teman.

Semoga saja besok aku masih memiliki kesabaran dan masih bisa menahan diri dari keinginan melemparkan berkas petisi seberat 4 kilo ini ke muka sang pegawai konsulat yang macam-macam itu.

Saat semua masalah ini berakhir, aku tahu aku akan punya satu hal lagi yang patut aku masukan ke dalam daftar panjang hal-hal yang patut disyukuri dalam hidup ini.

keterangan gambar:
suasana kamarku di penginapan: ada printer baru, kertas2 yang baru diprint, kertas2 kosong dan kaos kaki bau.

Friday, August 18, 2006

Hari pertama jadi profesor

Enam belas Agustus tahun dua ribu enam.... itulah hari kemerdekaan kita... Eh, salah, bukan ya? Itu hari bersejarah buat saya. Hari pertama jadi profesor. Saya juga dapat alamat email ASU (bukan asu yg menggonggong lho - Arizona State University), kunci kantor sekaligus kunci apartemen. Saya bisa saja mendapatkan hal2 tsb sebelumnya, atau nanti, tapi kebetulan semuanya didapatkan pada hari yang sama.

Jadi profesor muda membuat saya semangat 45! Tapi juga agak lucu, kagok, dan aneh. Terutama karena saya tidak biasa dipanggil Profesor (bahkan dipanggil Dr aja aneh). Dan juga krn kebanyakan orang menyangka saya adalah mahasiswa. Jadi biasanya mereka memberikan pandangan aneh alias tak percaya kalau saya ini profesor ketimbang mahasiswa. Orang-orang Indonesia lain di sini pun tadinya pikir saya datang untuk bersekolah ketimbang mengajar. Kemana-mana saya pergi, ketika saya sebut bahwa perusahaan/institusi/universitas saya adalah ASU, maka orang langsung "menuduh" (berasumsi) bahwa saya adalah mahasiswa yang baru masuk! Walaaaah!!

Untuk menangani masalah tampang-kemudaan-untuk-jadi-profesor, saya memutuskan untuk memakai kacamata. Supaya kelihatan lebih pintar dan lebih tua, sekaligus "katanya" lebih intelektual. Sialnya, hari ini kacamata saya salah satu lensa-nya jatuh dan pecah (model setengah-tanpa-bingkai), jadinya program saya gagal (ini satu2nya kacamata saya yang masih belum hilang -- maklum selalu lupa ketinggalan di mana-mana).

Ya sudah... jadinya ngga jadi pake kacamata deh. Soalnya kalau kacamata sebelah bolong ini dipake, malah jadi bajak laut!

Hari pertama jadi profesor sangat menyenangkan sih. Tak ada hal yang patut dikeluhkan.

Katamata boleh pecah, tapi hati dan semangat ngga pecah dong. Kalau otak dan kepala sih memang sudah dari sana nya benjut bin bonyok sana-sini.. :D Maklum punya gelar phd (permanent-head-damage). Ngga bisa diperbaiki. Tapi justru itu kali ya yang bikin perjalanan hidup saya ini semakin ajaib dan menarik!

Friday, August 11, 2006

Semrawut #5.5: Keajaiban

Temen-temen..... ada update nih. Subuh-subuh sekitar jam 2-an tahu2 ada tempat kosong 1 biji di konsulat Amerika di Calgary padahal Toronto, Vancouver, Halifax, Montreal and Quebec (pilihan semula) masih penuh semua. Aku hampir tak percaya apa yang aku lihat! Wow, keajaiban!!!! Mengingat Calgary termasuk yang lebih padat dari Halifax atau Quebec. Langsung tancap aja aku ambil. Appointment jam 8.30 am 22 Agustus 2006. Syukurlah aku ambil, aku dapat kabar dari pengacaraku kalau dia mencoba subuh-subuh tadi dan tak menemukan satu tempat pun!

Ngga lama, aku langsung dapat surat konfirmasi dalam bentuk elektronik. Hore!!!!!

Sesudah itu aku masih melek mencari cara untuk mengeprint surat konfirmasi dan dokumen lain yang baru aku dapat dari pengacara. Dokumen2 ini harus dibawa untuk apply visa di konsulat Kanada. Waduh, printer di hostel ngga jalan. Aku coba ngeprint secara elektronik ke Fedex-Kinkos yang bisa dijemput pagi-nya. Berkali-kali gagal juga. Akhirnya menyerah. Aku mencari alamat Fedex-Kinkos terdekat yang buka pagi-pagi dan rencana untuk mengeprint pagi2 sebelum ke konsulat. Terus aku tidur.

Pagi-pagi jam 7:45 aku naik bis ke alamat Fedex-Kinkos yg katanya buka jam 8 am. Jam 8 sampe. Eh ternyata tempat ngeprint ini tutup dan baru buka jam 9! Duh! Padahal loket visa tutup jam 10:30!!! Aku akhirnya jalan kaki mencari-cari tempat ngeprint yang buka. Sekitar 1 mil jalan, ada Fedex-Kinkos yang buka! Hore!

Langsung aku beraksi. Sial, ternyata credit card-ku ke-charge tapi sebagian besar print ngga keluar. Aku claim ke petugas-nya. Si petugas bilang mana bisa dia tahu kalo print-nya ngga keluar? Idih banget ya... aku bilang ya liat aja ini hasilnya. Dia bersungut-sungut tapi akhirnya kreditku dikembalikan. Aku terus ngeprint lagi. Akhirnye berhasil. Tapi dengan semua kesemrawutan di tempat print, aku baru bisa berangkat ke konsulat sekitar jam 9:45! Aduh....

Aku naik bis, disambung naik kereta (taxi susah setengah mati di LA, harus nelepon, tapi kan teleponku hilang). Akhirnya sampailah di konsulat, jam 10:10 am. Aku langsung bergegas ambil nomor.

Eh, masih ada yang ngaco. Ternyata info di website tentang pembayaran salah. Konsulat tak lagi menerima cash atau credit card atau personal check! Harus pake money order atau certified check. Waduh, ada-ada aja. Untunglah aku ingat ada bank di lantai dasar. Dapatlah si money order itu. Si mbak di kasir-nya sampe ngga usah dibilang udah tahu kalo money ordernya harus payable to Canadian Consulate General... kayaknya banyak banget orang yang ambil money order. Terus aji mumpung deh itu bank, masa ongkos nya 7 dollar?!?! Biasa di 7-11 money order ongkosnya cuma 99 cent. Tapi ya sudahlah.

Begitu aku sampe ke konsulat lagi, namaku dipanggil. Berkasku masuk dan akan diproses. Hasilnya akan diketahui siang ini. Jam 1:30-2:00 pm.

Hayo mengheningkan cipta diteruskan.... perjuangan belum berakhir... :)

nb. ini saya konek ke Internet dari perpustakaan umum sebelah konsulat.

UPDATE: Hore & terimakasih (Semrawut #6)

Laporan pandangan mata, langsung (online) dari konsulat Kanada di Los Angeles. Lanjutan dari Semrawut #5.5.

Saya sudah mendapatkan visa Kanada-nya! Hore hore!

Terimakasih untuk doa dan dukungannya!
Mengheningkan cipta..... selesai!

Saya mau makan siang dulu.... lapaaaaaar.
Sampai jumpa lagi dari Arizona ya.

nb. begitu dapat visa saya langsung online, nulis entry ini, dan nulis email pada seseorang dan pada pengacara. Sang pengacara berkomentar: "Congratulations! You are almost done!" ya.. almost, almost.

nbb. untuk makan siang saya pilih menu "Happy Box" karena saya memang happy!

Wednesday, August 09, 2006

Semrawut #5: Menunggu surat dari kekasih... eh konsulat


Tujuan utama berada di LA adalah untuk melamar visa Kanada. Semua syarat untuk melamar visa sudah terpenuhi, kecuali satu, surat konfirmasi pertemuan/janji (appointment) dengan konsulat Amerika di Kanada. Kota yang dipilih bersama dengan pengacara adalah Quebec. Mengapa? Karena waktu tunggu yang paling pendek (3 minggu), sementara kota-kota lain (Toronto, Vancouver, dll) rata-rata 6-10 minggu. Apalagi kalau mengambil visa di Meksiko, waktu tunggu bisa sampai ratusan hari.

Hari Senin pagi... surat konfirmasi belum jua didapat. Tak ada tempat kosong sehingga belum bisa mendapat jadwal pertemuan.

Sementara itu saya mampir di kantor Annenberg yang sedang direnovasi. Saya mengecek surat-surat dan merasa sangat terhibur mendapatkan beberapa paket. Pertama adalah paket Fedex berisi surat pengabulan petisi visa O-1 saya. Surat ini membuat saya senyum-senyum sendiri. Paket ke-2 berisi DVD dan CD dari Indonesia (dikirim via New Jersey), isinya rekaman penampilan bekas paduan suara saya di Bandung, PSM-ITB. Ini membuat senyum saya tambah awet. Paket ke-3 berisi foto-foto dikirim dari Hawaii oleh seorang kawan. Alangkah manisnya... tentu saja senyum saya tambah lebar. Paket ke-4...wow, besar! Dikirim dari Lafayette..... walaupun saya bisa menebak isi-nya, tapi jantung saya tetap berdebar-debar. Ternyata ada sebuah kartu "Happy Un-Birthday" dengan tulisan Welcome Alien 2006 ditemani sebentuk kaleng! Dan isinya........rempeyek kacang dan teri!! Lihatlah lihat teman-teman....... nyam-nyam sekali bukan? Makasiiiiiiih.... Adiiii...... aku padamu! Terharuuuu.....

Rempeyek itu really made my day. Walaupun ngga berhasil dapat konfirmasi dari konsulat AS di Kanada, yang penting ada rempeyek bo!

Sepanjang hari Selasa.... aku di LA dan sang pengacara di Tempe, sama-sama nangkringin formulir online untuk bikin janji dengan konsulat AS di Kanada. Belum juga berhasil. Duh... padahal kalau hari ini belum bisa juga, berarti sia-sia perjalanan ke LA....

Eh, ngga sia-sia deng.... kan ngambil rempeyek...:))))

Sekarang tinggal berharap... nangkringin sampai subuh, mudah2an ada orang yang membatalkan janji... sehingga aku dapat tempat..... dan bisa melamar visa besok pagi....

Semoga.. semoga... semoga. Mari kita mengheningkan cipta dulu... satu..dua..tiga.

Tuesday, August 08, 2006

Happy-Ending-nya belum, ternyata (Semrawut #4)

Sesudah semrawut edisi satu, dua, dan tiga, aku pikir petualangan dalam kesemrawutan sudah bakal berakhir. Ternyata ...................

Setelah merasa cukup nyaman tinggal di hotel di Tempe, saya mulai beraksi mempersiapkan kepindahan saya. Pertama saya mencoba mendapatkan nomor telepon genggam lokal berikut telepon genggam-nya. Sekedar informasi, di Los Angeles saya tidak memakai telepon genggam karena cukup mengandalkan telepon rumah dan telepon kantor. Kedua saya ingin melihat-lihat Tempe dan daerah sekitar secara umum untuk mengenal area.

Untuk mewujudkan kedua hal tersebut saya menyewa mobil dan mulailah berkelana. Ini adalah pengalaman pertama kali mengendarai mobil di Amerika Serikat pakai SIM keluaran Cibabat, Kabupaten Bandung. Sempat terkaget-kaget dengan mobil yang kelewat bagus (Chrysler, kayaknya keluaran 2005), otomatis (belum pernah coba sebelumnya), dan harus menyetir di sisi yang "salah"..:p Tapi ternyata tidak ada masalah kecuali setiap mau belok kiri kanan saya malah menyalakan wiper, sempat panik tidak bisa mematikan alarm keamanan satu kali, dan setiap mau masuk mobil saya selalu menghampiri pintu yang salah. Sisanya, saya baik-baik saja. Mobil sewaan kembali dalam keadaan utuh. Demikian pula saya :) Ternyata pengalaman saya jadi supir angkot Kebon Kalapa - Dayeuhkolot dan Kalapa - Dago selama bertahun-tahun cukup berguna... :D Oh ya, karena cukup (sangat) bandel, saya yang sudah mulai menyetir sejak umur 15 tahun, walaupun tidak pernah punya mobil, cuma modal pinjam dan modal repotin teman saja).

Saya juga berhasil pergi ke pusat pertokoan Arizona Mills untuk mendapatkan sebuah telepon genggam dan nomor dari Verizon. Senang rasanya. Merasa terhubung dengan dunia luar.

Hari ini saya ditemani seorang teman Indonesia yang sudah tinggal di Tempe selama 5 tahun untuk mencari apartemen. Senang sekali, saya bisa mendapatkan apartemen 2 kamar dengan harga 60% dari harga sewa apartemen satu kamar di Los Angeles!

Nah, semuanya ternyata berjalan mulus. Tak ada kesemrawutan lagi.... Eh, eh, tunggu dulu!

Ternyata... tahu-tahu di ujung hari, saya baru sadar bahwa telepon genggam saya yang berusia sangat muda itu hilang. Kami mencoba menelusuri di mana saya kehilangan telepon tersebut. Tidak berhasil. Ya sudah, nomor saya blok. Saya berharap mudah-mudahan telepon tersebut ketinggalan di ruang kantor manajemen apartemen. Hari Senin mungkin sudah kembali jika itu kasusnya.

Sementara itu, saya juga harus kembali ke Los Angeles besok pagi. Karena ternyata saya harus mengambil stiker visa di Kanada (ceritanya panjang, lain kali saja cerita lengkapnya ya). Sehingga sekarang harus melamar visa Kanada dulu di Los Angeles. Jadi ya, saya juga baru pesan tiket Southwest kilat lagi dan harus pikir-pikir akan nginap di mana di LA.

Ya sudah, segitu dulu. Saya mau ngepak koper ya. Nanti kalau saya menulis lagi di MP kemungkinan besar saya sudah di Los Angeles. Di mana di Los Angeles? Entahlah.... kita lihat saja. Mungkin berkemah di pantai. Atau di rumah Arnold Suasanaseger. George Clooney juga barusan menawarkan rumah pantai dia untuk dipakai sementara, tapi saya ragu-ragu untuk menerimanya. Takut dipaksa main filem bareng. Mungkin lebih baik saya terima tawaran Keanu Reeves saja. Entahlah, ternyata susah jadi selebritis. Ada saran sebaiknya saya milih rumah seleb yang mana?

Sunday, August 06, 2006

Hari Tidur se-Dunia (Semrawut #3)

Ini lanjutan Semrawut #1 dan #2....

Hai lagi.... makasih untuk teman-teman yang sudah setia menemani saya makan tempe di lorong...:) Sekarang saya sudah pindah ke tempat ber-Internet yang lebih layak. Duduk di kursi putar, kaki selonjor, sambil menatap taman dan kolam renang.

Mau dengar kisah dua-puluh-empat-jam pertama saya di Tempe? Mau deh ya... mau dong. Kalau mau nanti saya traktir tempe goreng garing.

Saya sampai di bandara Phoenix sekitar jam 5:30 sore. Sempat hilang 1 bagasi yang isinya gitar (seperti yang sempat saya sampaikan di tulisan terdahulu), tapi akhirnya ditemukan juga. Ternyata sang gitar lupa dikeluarkan dari pesawat oleh petugas bandara. Jadi si gitar terbang dari Phoenix ke Birmingham dan terbang kembali ke Phoenix. Jauh amat ya.

Saya memesan tempat di Twin Palms Hotel dekat universitas, tapi ternyata sampai di sana Hotel-nya penuh jadi petugas hotel mentransfer saya ke hotel lain, Holiday Inn, dengan harga yang sama. Saya tak keberatan.

Sampai di Hotel ini, saking leganya saya lupa kalau saya cape banget dan sudah tidak tidur 3 malam (sebenarnya sempat tidur sih, tapi dikit.... paling2 total 6 jam selama 3 malam itu). Malah kemudian timbul keinginan untuk berenang. Sayangnya kolam belum dibersihkan. Lalu akhirnya saya memutuskan untuk makan malam di restoran-nya hotel. Sesudah itu saya iseng masuk ke ruang fitness dan exercise selama 35 menit.

Sekeluarnya dari ruang fitness saya merasa melayang-layang. Habis exercise terbitlah kegelapan! Saya cepat pergi ke kamar, rendaman di kamar mandi, terus ngga lama saya tidur. Mungkin jam 10 malam.

Kombinasi antara tidak tidur selama 3 malam dan exercise ternyata membuahkan hasil yang sepadan. Saya tidur pulas. Bangun-bangun jam 9 pagi dan karena saya pusing dan masih ngantuk, saya minum aspirin lalu tidur lagi.

Dalam tidur saya, saya mimpi berburu apartemen dengan teman-teman bloggers (dan MPers). Rame-rame, kita naik truk bak terbuka.... kayak domba garut...hehe. Tapi mimpi-nya monokrom alias ngga berwarna. Cuma semu-semu sepia....Dasar saya kalau motret memang suka sepia kali ya.

Tahu-tahu telepon berdering dan bangunlah saya. Jam di atas meja menunjukkan pukul setengah dua siang! Ya ampun!!! Saya sudah tidur lebih dari 12 jam!!! (hehe.. 12 + 3 jam ya)

Ternyata resepsionis menelepon saya karena khawatir terjadi apa-apa dengan saya. Housekeeper melaporkan bahwa saya tidak bangun-bangun dan tidak ada tanda-tanda kehidupan dari kamar saya!!! Alangkah perhatiannya sang housekeeper dan manajemen hotel!!

Untunglah, kekhawatiran mereka tidak beralasan. Walaupun masih sedikit pusing, saya baik-baik saja dan bisa mulai berburu apartemen/rumah.

Terimakasih ya teman-teman... sudah menemani saya berburu apartemen, walaupun "hanya" di dalam mimpi....:D

Saturday, August 05, 2006

Keputusan menit-menit terakhir (Semrawut #2 - lanjutan)

Hai teman-teman...... ini dia kisah lanjutannya. Buat yang belum baca tulisan ini: "Kesemrawutan hari-hari terakhir".... baca dulu deh. Soalnya ngga seru kalau ngga baca tulisan sebelumnya.

Nah, sekarang ini saya ber-Internet-ria sembari duduk di atas lantai, di sebuah lorong. Di mana coba? Bukan di lorong rumah sakit apalagi penjara. Hayo lorong apa coba?

Jadi kemarin dulu itu, setelah berbingung ria, saya sudah hampir mau pergi ke rumah orang yang menyewakan satu kamar di dalam rumahnya di pantai Santa Monica. Tapi saya berpikir, mau apa ya di situ? Berbagi rumah dengan seorang laki-laki tak dikenal (walaupun kayaknya sih cukup asik orangnya, seorang penulis), jauh kalau mau ke kantor, belum tentu ada Internet (berarti saya ngga bisa kerja), dan bayar pula deh.

Tahu-tahu dalam kebingungan saya buka komputer lagi (yang tadinya dah dimatiin) dan iseng mengklik link ke panduan pindah yang diberikan ASU (Arizona State University). Sebelumnya saya diberitahu oleh petugas administrasi di ASU bahwa biaya kepindahan bisa termasuk tempat tinggal sementara (hotel) selama seminggu. Tapi fasilitas ini akan saya gunakan nanti, seminggu sebelum kontrak saya dimulai. Ternyata keterangan petugas kurang lengkap. Di dalam keterangan resmi di link yang diberikan universitas ternyata saya juga boleh mengunakan fasilitas pindah ini untuk kunjungan pra-pindah (pre-move) yang panjangnya maksimum satu minggu yang biasanya digunakan untuk melihat-lihat rumah/apartemen. Hore!! Saya belum gunakan fasilitas pra-pindah..... jadi inilah kesempatan bagus untuk menggunakannya!! Saya langsung membeli tiket pesawat (online) dan memesan hotel online juga. Sepuluh menit saja, semua beres. Saya menelepon taksi kuning (Yellow Cab) dan melajulah dengan tenang ke bandara. Saya sepanjang jalan senyum2 sendiri.

Oh yah, saya dulu suka lihat di bandara Sukarno-Hatta orang-orang konsultan expat di Indonesia suka beli tiket pada hari keberangkatan. Mereka beli langsung di bandara. Saya pikir, kapan ya saya kayak gitu? Angan-angan yang cukup garing, emang.. hehe. Ternyata kejadian juga, beli tiket 3 jam sebelum berangkat.. sok amat ya? Tapi emang terbangnya pake Southwest.com sih dan last-minute ticket pun masih wajar harganya (lagian diganti sama universitas, kalau uang sendiri saya ngga bakal koq, bener deh).

Jadi akhirnya....walaupun sempat kehilangan salah satu bagasi (gitar kesayangan alias gitar pertamaku) dan sempat dipindahkan ke hotel lain...semuanya akhirnya berakhir dengan baik. Akhir bahagia, Happy ending dong.

Oh... balik ke soal lorong tadi...kurang seru sih, bukan lorong penjara (dah pernah sekali di penjara dah cukup hehe)... soalnya ini cuma lorong sebuah hotel di Tempe, Arizona. Abis wireless Internet-nya dalam kamar GSM banget sih.... geser sdikit mati! Tapi di lorong ini bisa dapat 3-4 sinyal kuat! Makanya aku nongkrong di sini.....:))

Ada yang mau ikut nongkrong? Atau ikut menikmati Tempe? Bukan tahu sih... tapi enak juga...:)

Thursday, August 03, 2006

Kesemrawutan hari-hari terakhir di LA (Semrawut #1)

Hari-hari terakhir di Los Angeles cukup semrawut. Rencana semula adalah tinggal di Los Angeles sampai tanggal 10-11 Agustus sebelum pindah ke Arizona karena keputusan imigrasi dijadwalkan keluar tanggal 3 atau 4 Agustus dan penyewa apartemen baru juga sudah memberikan ijin pada saya untuk tinggal di apartemen-nya (saya sebagai penyewa lama) sampai tanggal 7 Agustus. Sesudah 7 Agustus ada teman yang menawarkan apartemennya yang kosong di pantai Santa Monica (yang sebetulnya bisa dipakai sejak tanggal 4 malam atau tanggal 5 Agustus pagi). Jadi saya santai-santai saja. Tapi ternyata kenyataan yang terjadi jauh sekali dari rencana.

Berdasarkan negosiasi awal, penyewa baru akan mengambil barang-barang di apartemen (segala macam perlengkapan dan alat-alat rumah). Barang-barang berupa meja, kursi, sofa, TV, DVD player, dan lemari di lantai bawah akan saya berikan secara cuma-cuma dan barang-barang di lantai atas akan saya jual dengan "harga teman" asalkan saya boleh tinggal di tempat tsb seminggu setelah masa sewa habis. Saya bahkan menawarkan uang pengganti sewa selama seminggu. Penyewa baru mengiyakan.

Tahu-tahu, Jumat sore, tanggal 28 Juli 2006, sang penyewa datang bersama orang-tua-nya. Mereka memutuskan untuk tidak mengambil barang-barang milik saya, kecuali sofa, rak dan meja makan (itupun tanpa bayaran) dan meminta saya untuk mengosongkan apartemen sekaligus meminta maaf karena tidak bisa memberikan perpanjangan tinggal. Alasan kenapa tidak mau barang-barang saya adalah karena sang ibu sudah membelikan barang-barang baru untuk anaknya! Duh...., saya langsung panik. Permintaan maaf sih diterima, tapi mengosongkan apartemen dalam waktu 2 hari (tanggal 31 Juli harus keluar) dan sekaligus mengatur rencana untuk tempat tinggal selanjutnya adalah hal yang sangat berat. Belum lagi saya masih harus mengerjakan beberapa pekerjaan yang tersisa dari kantor dan mengejar tengat waktu untuk beberapa hal.

Untungnya, keputusan petisi dari imigrasi malah keluar 6 hari lebih awal dari jadwal semula. Jadi walaupun panik dan ribet, hati dan kepala saya terasa ringan. Sangat gembira mendapat kabar bagus tentang petisi visa O-1 saya. Jadi walaupun banyak pekerjaan, yang pasti semangat saya cukup tinggi.

Sejak malam Jumat tanggal 28, saya sibuk beres-beres (packing) dan langsung mencari cara untuk mengosongkan apartemen. Saya rela untuk memberikan semua barang secara cuma-cuma pada yayasan-yayasan sosial, tapi nyata-nya mereka tidak bisa menjemput dan mengambil barang sembarangan. Mereka memiliki jadwal jemput (pick-up schedule) tertentu yang tak bisa diganggu gugat. Dapat dimaklumi, mengambil barang-barang besar seperti kasur, sofa, dll, membutuhkan truk pengangkut dan tenaga kerja yang tak murah. Jadi mereka harus mengatur untuk menjemput beberapa rumah sekalian dalam satu hari.

Akhirnya saya putuskan untuk mengiklankan di craigslist. Sejak Jumat malam sampai Minggu malam, saya mengiklankan barang-barang sampai lebih dari 20 kali. Dari beberapa iklan moving sales/garage sales, sampai iklan-iklan individual per barang, bahkan yang terakhir adalah iklan putus asa (yang bunyinya, "Please, I desperately want to get rid from my matress.... etc..). Alhamdulilah, rumah saya diserbu orang-orang. Alhasil Senin malam rumah sudah cukup kosong. Dan ternyata sang tuan-tanah memberi saya kemurahan untuk tinggal 1 malam lagi, jadi saya bisa keluar Selasa, tanggal 1 Agustus. Selasa pagi, rumah saya benar-benar kosong. Asli barang-barang tersebut saya jual dengan murah sekali, hampir gratis! Saya juga berhasil mengepak barang-barang. Hari Senin sore, petugas UPS datang, dan melayanglah 11 dus barang2 saya dari Los Angeles ke Tempe Arizona. Terimakasih untuk seorang temanku yang bantuin berburu dus dan juga menghibur dengan makan pempek bareng di saat-saat heboh-hebohnya ngepak (sayang temanku ini rumahnya jauh banget dari USC).

Setelah kosong, tiba saatnya untuk keluar (sudah diusir) dari apartemen itu dan memutuskan kemana saya akan pergi. Karena tidak sempat merencanakan, cukup sulit memutuskan akan kemana. Teman-teman saya (di Los Angeles saya bergaul cuma dengan teman2 kantor) sedang liburan musim panas, jadi tidak bisa dihubungi satupun kecuali satu orang yang memang sudah bersedia meminjamkan apartemennya terhitung tanggal 5 Agustus. Harga hotel di Los Angeles, bahkan untuk yang murah-meriah sekalipun, tetap terhitung mahal. Saya akhirnya menemukan di craigslist sebuah kamar di dalam rumah di Santa Monica yang menyewakan dengan hanya $37/day. Itu yang termurah yang saya bisa dapat. Saya menelepon sang pemilik, dan berdasarkan wawancara pendek (siapa saya, apa pekerjaan saya, kenapa, bagaimana), orang tersebut menerima saya untuk menjadi tamu-nya.

Tapi terus saya bingung, apa saya benar-benar mau ke tempat itu. Agak malas untuk tidur di rumah orang yang saya tidak kenal. Cowok pula. Tapi masalah utama sih karena katanya koneksi Internet di rumahnya tidak terjamin. Saya mungkin bisa mendapat signal dari wireless tetangga, tapi tidak dijamin. Lagian tempatnya ini jauh sekali dari kantor. Kalau ada apa-apa harus naik taksi... mahal... kalau naik bis, bisa-bisa 2 jam dihabiskan di jalan. Waaaaakkkkk..

Mau tidur di hotel terdekat....(atau di hotel manapun di LA)... mahal bo! Bisa 100 dollar per malam dengan semena-mena!

Terpikir juga bawa bantal dan menggelar tikar di kantor... hehe. Kantor saya cukup nyaman lho untuk tidur dan ada Internet akses!. Tapi masalahnya kantor sedang direnovasi dari tanggal 1 sampai 15 Agustus! Duh, koq kebetulan amat sih????!?!?!!!!!?

Atau saya bisa coba cari pengalaman menjadi homeless selama beberapa hari... terus Internetnya bisa nyambung dari koneksi kampus USC. Hihihi...

Saya juga terpikir untuk terbang saja ke Boston, mengikuti konferensi Wikimania, sekaligus ketemu teman dekat dari Singapura yang kebetulan datang ke Boston untuk konferensi tsb. Karena saja masih ada jatah bepergian dari kantor yang belum saya pakai. Tapi masalahnya saya cape sekali, hampir tidak tidur sama sekali 3 malam. Dan saya terlalu cape untuk terbang selama 10 jam (tak ada yang langsung, yang langsung sudah pada habis) dan ikut konferensi 3 hari penuh.

Atau langsung saja cabut ke Arizona? Tapi masalahnya minggu ini pejabat2 kampus masih belum ada di tempat (baru minggu depan mereka ada) dan saya harus ada di Los Angeles lagi hari Senin depan.

Saya tambah bingung..... mau kemana ya saya? Apa keputusan saya? Tunggu di tulisan saya berikutnya.