Sunday, July 16, 2006

Visa & Imigrasi (3): Why I love Schiphol

Seperti yang saya ungkapkan di Visa & Imigrasi bag 1, saya punya banyak sekali kisah seputar daerah perbatasan. Baik suka maupun duka. Saking seringnya berpergian, saya sudah cukup ahli dalam menghadapi berbagai petugas. Kecuali di Turki, saya selalu bisa menghindari masalah di meja imigrasi. Bahkan ada juga beberapa pengalaman yang katanya mustahil malah terjadi pada saya. Salah satunya adalah pengalaman memasuki Belanda (negara Schengen) tanpa visa.

Ceritanya begini.....

Bulan September 2005, sesudah sidang tesis, saya terbang meninggalkan Belanda menuju Bahrain. Dari Bahrain saya melakukan perjalanan menuju Los Angeles via Schipol, Belanda. Karena 2 koper besar saya tinggal di Belanda (tidak bisa dibawa ke Bahrain karena jatah cuma 20kg sementara ke Amerika kan bisa 2 x 70lbs), saya harus keluar dari airport untuk mengambil koper. Lagian saya transit lebih dari 10 jam, jadi kan malas kalau cuma nangkring di dalam. Tapi masalahnya, saya tidak punya visa dan ID Belanda (verblijf) saya sudah kadaluarsa. Saya sebetulnya berusaha mendapatkan stiker return visa dari kantor imigrasi Belanda. Tapi, sewaktu saya berusaha membuat perjanjian lewat telepon, malah dibilang kalau saya tidak bisa mendapatkannya. Katanya, ada yang membatalkan aplikasi ID saya lewat telepon. Ajaib sekali. Masa ada orang yang tahu-tahu membatalkan aplikasi saya sih? Malah dibilang katanya saya sendiri yang batalkan. Gimana siiiih.. lha saya ngga pernah batalkan.. Tapi ya sudah, tak bisa berdebat dengan orang imigrasi lewat telepon. Lagian saya tidak punya banyak waktu untuk mengurus. Jadi saya tinggalkan Belanda begitu saja.

Orang-orang di departemen, profesor saya, beberapa teman terutama orang2 Belanda menyarankan saya untuk tidak berusaha keluar airport, karena tidak memiliki surat apapun. Cukup masuk akal. Resiko-nya kan di-deportasi. Mereka bilang, koper bisa saja diposkan ke Los Angeles. Tapi saya betul2 pingin bawa koper2 tersebut ke Amerika. Lagian jatah penggantian ongkos shipping saya sudah habis.

Setelah berpikir berulang kali, saya memutuskan untuk mencoba saja masuk. Mungkin saya bisa menjelaskan bahwa ada kesalahan dalam aplikasi ID Belanda saya sehingga saya tidak dapat return visa dan bahwa saya pernah tinggal di Belanda, dll, dll, dll.

Pesawat dari Bahrain tiba di Schiphol jam 6 pagi waktu Belanda. Saya, menenteng koper kecil carry-on, langsung berjalan menuju meja imigrasi. Saya merencanakan untuk berterus terang kepada petugas tentang ketiadaan dokumen. Namun saya melihat sebuah kejadian yang membuat saya mengurungkan niat saya tersebut. Di depan saya ada seorang perempuan berwajah Asia mengalami masalah karena dokumen2nya tidak lengkap, walaupun perempuan ini sepertinya sudah memiliki dokumen tertentu. Melihat hal itu, jantung saya langsung berdebar-debar. Saya hampir memutuskan untuk tidak berusaha keluar. Lagian saya sudah bertekad untuk masuk Belanda. Lha wong mustinya saya ini berhak masuk, cuma karena ketidakprofesionalan pihak Imigrasi saja toh saya tidak bisa masuk.

Nah, saya penasaran ingin coba masuk. Saya lalu menenangkan diri. Dan tiba-tiba sisi nekad saya muncul. Saya langsung pasang wajah kalem dan tenang. Saya keluarkan ID saya yang kadaluarsa dan memegang ID tersebut di tangan kanan sementara tangan kiri memegang passport. Begitu giliran saya tiba, saya taruh passport saya di atas meja petugas imigrasi dengan tangan kiri sementara tangan kanan saya menunjukkan ID. Saya tersenyum kepada sang petugas, seorang lelaki muda yang cukup gagah, sambil berkata, "Goede morgen. How are you doing today, Sir?" Si petugas tersebut membalas, "Goede morgen." Dia memandang wajah saya, tersenyum, mengecek passport saya sebentar dan kemudian sekilas melihat ID saya yang masih saya pegang. Hanya beberapa detik saja. Dia malah tidak memegang atau mengecek ID saya sama sekali. Boro-boro melihat tanggal expire-nya. Lalu dia meneruskan pembicaraan, "I am fine. How about you, young lady?" "I am great! Thanks!" sahut saya. Dia tersenyum lebar dan berkata, "That's great." Kemudian si petugas langsung membubuhkan stempel di passport saya, mengembalikan passport dan berbicang-bincang sedikit tentang saya. Dia bertanya tentang sekolah saya, kota asal saya, status, hobby, dll. Biasanya saya tidak menikmati bicara terlalu banyak di imigrasi, tapi kali ini saya layani saja. Kemudian pembicaran dia akhiri, "OK, all is set! Enjoy your stay in the Netherlands! It's really nice talking to you."

"Thank you so much.... Nice talking to you too, Sir, " saya tersenyum. Senyuman saya bukan untuk si petugas tapi untuk diri saya sendiri. Senyum kemenangan! Saya baru saja memasuki Belanda tanpa sepotong dokumen-pun yang masih berlaku. Hahaha....hohoho.... hehehe...

catatan: jangan meniru cara-cara ini dengan semena-mena. cara-cara ini bisa membahayakan diri anda, terutama bila dilakukan tanpa bekal latihan dan kenekadan yang cukup :D

6 comments:

Dhonatneth said...

waduhh mendebarkan sekali tuh... kalo gw begitu, bisa langsung pipis ditempat tuh.... hihihihi... **nyali kelinci mbooo**... (^_^)

-UtiE- said...

wah gila2.... bukannya verblijf biasanya di scan??? bisa ditiru buat bulan desember mendatang... berhubung my verbiljf belum datang... salam kenam ya mbak

merlyna lim said...

donath: bukannya kelinci itu nyali-nya gede? maklum bukan kelinci sih, jadi ngga tahu...:p

utie: wah, jangan coba2.... saya ngga tanggung jawab lho.

ime' said...

wakakakakakakakakakak.... hebat hebaaaaattttt =D> salut deh sama teteh...

mungkin kuncinya yah, berusaha tenang dan ramah =))=))=))

ajak ngomong aja terrrooouuussssss :)):)):))

merlyna lim said...

ime: tenang & ramah betul. ngomong terus sih ngga ya.. cuma melempar umpan dgn bilang goede morgen. seterusnya doi terus yg ngomong terus...:) tambah satu kedipan, hahaha.

Hesti said...

hahaha, ajaib banget...
ehm, doi terpesona tuh sama mbak :D