Monday, June 19, 2006

Visa & Imigrasi (2): Pengacara

Urusan visa & imigrasi telah jadi santapan saya sehari-hari sejak 2 bulan lalu dan kelihatannya masih akan jadi urusan sampai 1-2 bulan mendatang.

Menurut kawan-kawan, ada beberapa tindakan, perbuatan ataupun kenekadan yang bisa jadi jalan pintas untuk saya dapat ijin kerja di Amerika. Daftar-nya panjang juga. Dari bikin greencard palsu atau passport palsu sampai kawin sama salah satu aktor Hollywood. Sayangnya, setelah dipelajari, ternyata pilihan2 ini tidaklah memungkinkan. Dokumen2 Merlyna Lim udah kadung terdaftar di Immigration & Naturalization Services sebagai orang Dayeuh.. eh Indonesia. Dan ternyata, kawin sama warga negara Amerika juga secara legal ternyata ngga membantu. Sayang sekali saudara-saudara! Tak ada jalan pintas!

Satu-satunya cara yang bisa saya tempuh untuk mendapatkan petisi dan kemudian dapat dipakai untuk bikin visa kerja adalah punya anak! Tapi tentunya tidak bisa dilakukan secara kilat. Butuh 9 bulan untuk mengandung dan nanti harus bikin petisi "hardship" (terlalu berat bagi sang anak jika dipisahkan dari ibunya) yang bakal makan waktu sekitar 10-12 bulan. Alhasil, kerjaan keburu kelaut baru dapat itu petisi. Ini sih bukan jalan pintas jadinya, malah jalan berliku-liku.

Ok. Jadi saya lupakan lah semua ide-ide itu. Walaupun jalan penuh onak duri, tapi jalan ini memberikan secercah harapan.... ceileh. Ada satu visa yang masih bisa dikejar, si visa ajaib, alias O-1. Seandainya saya Nobel Prize winner, ini visa akan gampang di dapat. Karena visa ini tadinya emang dibuat untuk Nobel prize winner. Tapi saya mungkin baru bisa dapat Nobel Prize Winner sekitar 20-30 tahun lagi, itupun kalo kategori "Dangdut untuk perdamaian" diadakan. Jadi ya sangat sulit. Dulu, sebelum tahun 2001, visa ini agak mudah mendapatkannya. Tapi sejak 9-11 menjadi sulit dan tambah sulit lagi di term kedua kepemimpinan Bush (ini menurut pengacara saya lho). Saat ini saya sudah menyiapkan dokumen2 untuk petisi yang sampai saat ini sudah mencapai sekitar 130 halaman. More to go! Semangat.. semangat!

Tapi ada satu yang bikin saya senang dalam semua proses ini. Satu mimpi saya tercapai! Karena keseringan nonton TV, dari kecil saya suka memimpikan untuk punya pengacara! Kayaknya keren gitu. Bisa ngomong, "My lawyer says...." Nah, kali ini saya dapat 2 pengacara plus 1 asisten pengacara!!!

Kemarin saya telepon ibu di Bandung.... saya bilang, "Mamah.... Mer boga pangacara! Hebring teu mah? Kayak di pilem-pilem tea!!!" Ibu saya terkagum-kagum. Ibu berkomentar, "Wah, hebat geuning anak mamah. Neng geulis ti Dayeuhkolot gaduh pengacara!" :D Wah, hari ini kayaknya Ibu saya lagi keliling pasar Dayeuh dan kasih tahu semua tetangga tentang kabar ini... Huahahaha...

OK deh, benernya bisa aja dapat pengacara gara2 maling ayam. Jadi keren-nya sebenernya dimana? Tapi bodo amat...

Anyway....
The point is......yeah.... I got a lawyer, babe!
That's hebriiiiiiing.... hoaoiohoieoouioua....

Thursday, June 15, 2006

ITB........ duh

Orang2 ITB itu banyak yang bangga sekali akan almamater-nya. Biasanya ITB suka disebut sebagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Mahasiswa-mahasiswa ITB tahun pertama waktu masuk disambut dengan spanduk besar bertuliskan, "Selamat datang putra-putri terbaik bangsa". Narsis amat ya? Nah, begitulah orang ITB, suka pede berlebihan.

Orang/mahasiswa ITB juga selalu berasumsi bahwa semua orang di Indonesia tahu bahwa ITB itu paling hebat. Sudah biasa sih, begitu ditanya di jalan atau di angkot atau di mall, "Adik kuliahnya dimana ya?" Kalau jawab, "ITB", biasanya si penanya langsung berkomentar, "Oh, hebat ya, pinter sekali, bisa diterima di ITB!". Makanya anak-anak ITB cenderung arogan.

Nah, cerita saya baru akan dimulai di sini. Ceritanya begini. Adik saya yang laki-laki tidak diterima di ITB. Terus tahun berikutnya dia UMPTN lagi dan akhirnya masuk IKIP alias UPI Bandung. Di tahun ke-4 dia wajib ikut KKN (Kuliah Kerja Nyata). Dia kebagian KKN di desa kecil, kalo ngga salah dekat Garut atau dimana gitu. Di desa itu, dia dan kawan2 lain dari IKIP dan universitas-universitas lain dikagumi oleh penduduk desa.

Suatu hari, adik saya dan teman KKN-nya yg berasal dari ITB terlibat dalam sebuah percakapan dengan seorang ibu penduduk desa dalam bahasa Sunda.

Ibu (I): Cep, upami encep teh ti Bandung?
Adik ini asalnya dari Bandung?

Adikku (A): Muhun, Bu.
Betul, Bu.
I: Kuliahna di mana, Cep?
A: IKIP, Bu.
I: Oh, sae pisan IKIP mah, Cep.
Wah, IKIP sih bagus sekali.

Kemudian Ibu bertanya kepada teman yang dari ITB

I: Upami encep ieu ti mana? Sami-sami ti Bandung?
Kalau adik ini dari mana? Sama-sama dari Bandung?
Teman (T): Muhun, Bu.
Betul, Bu.
I: Ari encep kuliahna di mana? sami-sami di IKIP?
Adik kuliahnya di mana? Sama-sama di IKIP juga?
T: Sanes bu, abdi mah ti ITB
Bukan, saya sih dari ITB
I: Euleuh-euleuh... karunya teuing....teu katampi di IKIP, nya....
.....silakan yang ini terjemahkan sendiri.... (non Sundanese speakers, hayo tebak.. apa kata si Ibu?):P

Adikku mesem-mesem. Anak ITB #@$*&%$#@!???

p.s. saya anak ITB juga lho.

Thursday, June 08, 2006

Surat dari selebriti

Sejak tinggal di Los Angeles, saya jadi suka dapat surat dari salah seorang selebritis. Bukan selebriti gadungan lho, tapi selebriti beneran. Binatang pelem yang dah membintangi lebih dari 40 pilem. Ngga percaya? Percaya dong deh...

Tebak siapa selebriti-nya? Sebenernya doi bukan bintang favorit saya, soalnya ngomongnya kayak robot dan badan-nya kegedean. Akting apapun jadinya robot. Tapi ya sud lah.

Hehe, ketebak kayaknya. Iya, si Terminator alias Arnold Schwarzenegger. Surat-surat resmi semacam surat pengantar untuk Kartu Penduduk datangnya dari "The Office of Arnold Schwarzenegger" dan ditandatangani oleh Bapak Governator ini. Maklum doi gubernur sih. Sayang saya ngga bisa milih untuk dapat surat yang dari seleb lain. Kalau boleh milih sih mendingan dapat surat dari Brad Pitt atawa George Clooney deh :D

Omong-omong soal pak Governator, hari-hari ini, televisi penuh dengan kampanye2-nya Steve Westly dan Phil Angelides, 2 tokoh yang berebut kursi calon gubernur California dari partai Demokrat. Yang menang bakalan menantang calon dari partai Republik yang juga adalah gubernur yang sekarang, sang Terminator. Sebagai warganegara Indonesia, saya ngga terlalu peduli dengan pemilihan ini. Walaupun diam-diam saya mengharapkan Demokrat menang... Hehe.. maapin aye ya Bang Arnold!

Tuesday, June 06, 2006

Visa dan imigrasi (1)

Entah kenapa, saya langganan banget berurusan dengan pihak imigrasi.

Di paspor saya yang terdahulu (yang bikin di Indonesia), nama saya bermasalah, pihak imigrasi (Bandung) tidak mau mencantumkan nama asli saya "Merlyna Lim" dengan alasan Lim harus diganti. Alhasil paspor tsb selalu bikin saya "berpidato" dulu di meja imigrasi dimanapun.

Lalu waktu di Belanda dulu, karena ada kesalahpahaman, saya diancam dideportasi (dan saya tidak ada pilihan, akhirnya cabut meninggalkan Belanda). Salah satu alasan kenapa selama studi PhD saya di Belanda saya akhir cuma stay 2 tahun saja (itupun setiap stay paling panjang cuma 5 bulan).

Lalu di Turki malah masuk penjara dan dideportasi pula. Sampai sempat bergaul dengan para "Natasha" dari Moldova dan Rusia di penjara airport Istanbul.

Di Belanda kemudian bermasalah imigrasi lagi sampai saya baru tercatat sebagai mahasiswa PhD resmi tanggal 1 Desember 2004 (padahal lulus 1 September 2005, lho koq bisa?).

Sejauh ini saya tidak bermasalah memasuki Amerika. Tapi sekarang, dengan mendapatkan posisi tenure-track, langsung masalah imigrasi bermunculan. Saya tidak bisa mendapatkan H-1B (ijin kerja biasa) dan harus berusaha mendapatkan O-1 (visa outstanding professor/researcher) yang notabene sulit didapatkan untuk recent PhDs (begitu menurut kantor pengacara).

Jadi sekarang saya sedang sibuk dan pusing mengurus banyak sekali dokumen yang musti disiapkan (bisa 1 disertasi sendiri nih). Masih beruntung, universitas saya bersedia membayar pengacara untuk mengurus. Jadi, mudah2an berhasil. Semoga.