Friday, May 05, 2006

Jendela romantisme dan cinta

Seorang kawan penyair menuliskan puisi panjang tiga bagian untukku. Aku terkesima, karena beliau merangkai kata dari cerita-ceritaku dan gambar-gambarku. Indah. Jujur. Aku kehilangan kata. Terimakasih mas I.A.


JENDELA ROMANTISME DAN CINTA

PRELUDE
SECANGKIR PAGI YANG MENGGELIAT

setelah jeda waktu
aku selalu saja akhirnya mengenali pijak hangat bumi
dan belai tipis hangat mataharinya
keragaman suhu dan cuaca
adalah berbagai rona wajah
yang akhirnya selalu kukenali lagi
tatkala jeda waktu telah mendekapku sekejap
dan menyingkirkan keterasingan dari bahu
menggantikannya dengan panggilan mesin pembuat kopi
mengakhiri jumpa kontemplasiku
dan menanamkan caffein di nadiku
peluit hari di mulai
kembali ke pertarungan
kembali ke derap hari

sesisip cinta di saku
seayun diri di kancah pencarian
ayo

entah apakah jendela tadi sudah kukunci kembali
tapi apakah penting ?


BAGIAN II:
SEPEDA BAGI BENAK

Seperti sepeda besi itu
kabel kabel serat kaca
dan elektronika yang berkelip
telah menjadi sepeda bagi benak kita
memperlebar jelajah menyebrangi beda waktu belahan bumi
dan menyebrangi imajinasi dan siapa kita

Aku duduk di sini
di hadapan lautan selaksa sepeda sepeda tak wujud
yang berkitaran sekitar ku
membentuk lintasan saling berpotongan
jejaring garis menyelimuti langit jagad kecil

kring kring kring ada sepeda!!
sepedaku tak penting lagi roda berapa
kring kring kring ada sepeda!
sepedaku ruang publik
ku dapat dari interaksi agen perubahan
karena aku rajin lintas disiplin

seperti mimpi surealis
aku melihat pemandangan fantastis
sepeda sepeda warna warni yang belintasan
di garis lengkung di kubah pandang
berlintas ke sana kesini seperti rombongan kupu

sepeda sepeda itu menggandakan dirinya
dan bergelombang
seperti barisan para buruh di satu mei
sepeda itu kadang saling bercakap
kadang membesar mengecil kadang berganti warna
aku merangkul masa kanak ku
ke jaman menonton pawai sepeda
dan belajar naik sepeda

langit jawa barat yang mesra manis
kenangan masa kecil mengayunku
menggodai kantung air mataku
aku terlarut limbung
disihir pesta sepeda di langit
dipusar pentas metamorfosis
dan dengung lebah ceracau peradaban
yang merembes dan membuncah di langit sepeda
sementara aku mengejar polanya
memotreti peta-peta lintasnya
dengan terengah-engah

Berapa ribu kilometer persegi aku harus lari
dari titik pandang satu di sudut cakrawala sana
ke titik pandang lain di sudut sini

tahukah kau betapa romantisnya
mengemasi kopor dan barang-barang
dan berpindah seperti suku peladang
mengemasi hari-hari
dan mengarungi jagad

dan tahukah kau juga
di balik pagelaran surealis sepeda tak wujud ini
aku juga punya sepeda sungguhan
nyata dan kasat

kring! kring!

BAGIAN III:
JENDELA MEMBINGKAI CINTA
adalah yang kutemu di celah buka tiap bilah bidang waktu
yang bercabang hirarkis atau bahkan paralel
sementara memandangi langit yang tak pernah bertambah usia

mungkin cinta hanya jendela pada arung hidup
yang semakin tak terbatas jelajah panjang petanya
dan jendela itu sendiri merangkuli mesra
pada setiap ruas pendek terselip di bagan waktuku

aku tak akan bisa menjadwal semesta
yang memangkuku sejak aku bahkan belum ada

tapi aku bisa membingkai taman di jendela
meletakkan diriku di bingkai itu
lalu seperempat detik aku menyapa cinta
bukankah seperempat detik adalah harapan?

sudah, aku tutup jendela ini dulu
ada apel di meja, kau mau?

jendela jagad diri ini tak pernah tertutup

i. a.
thanks M!

4 comments:

Myr said...

indah, lincah, cerdas, bening..perfect! gue jg speechless baca kata2nya. how did he get such magical inspiration, btw? it's a great piece of poems.

merlyna lim said...

betul, Myr. aku speechless abis. koq bisa ya? dia ini bikin puisi2 ini katanya inspirasi-nya dari cerita2 dan foto2 ku di blog (mp).

ana said...

ketika cinta dan romantisme tidak diterjemahkan dalam kungkungan cinta nafsu badani dan perampasan kesadaran diri...emang lebih indah nampaknya...iya bagus puisinya...andai bisa menulis seperti itu :)

dy said...

Ini... bagus banget... (termenung)