Saturday, April 29, 2006

Berpendapat, berkomentar, dan RUU APP

Sebetulnya saya berencana untuk tidak menulis posting lain tentang RUU APP. Karena, pertama, walaupun saya membaca draft RUU tersebut, saya tidak merasa pakar dalam hal bahasa hukum, sehingga komentar2 saya adalah komentar orang awam. Kedua, sangat sulit untuk menuliskan pendapat tentang hal ini tanpa ada resiko disalahpahami. Masalah RUU APP adalah masalah yang sensitif sehingga banyak orang yang 'salah' membaca pesan yang saya sampaikan secara tulisan.

Namun, setelah saya amati, 2 posting saya terdahulu yang menyangkut RUU APP ternyata terus-menerus mendapatkan komentar. Bahkan sudah terjadi perang komentar di blog saya, tanpa saya terlibat langsung di dalam-nya. Beberapa kawan yang menolak RUU, seperti Myr dan Rini, adalah kawan lama saya, dan mereka jelas menunjukkan identitasnya. Pihak-pihak yang mengeritik penolak RUU, kebanyakan tidak menuliskan identitas (dengan pengecualian 1-2 orang).

Saya tidak keberatan blog saya dipakai untuk berdiskusi atau bahkan berdebat. Saya rasa itulah gunanya 'ruang publik'. Hanya saja, akhir-akhir ini beberapa komentar cenderung menyerang secara personal. Membuat saya sedih. Seandainya saya bisa cuek ketika diserang secara personal lewat komentar dari orang-orang yang tidak saya kenal, alangkah senangnya. Tapi saya ternyata masih juga emosional. Sedih pas dituduh yang tidak-tidak. Karena saya tidak bisa cuek, makanya saya menulis posting yang satu ini.

Saya sedih, karena saya merasa pesan saya 'salah' dibaca. Misalnya, saya tidak pernah merasa saya menyebutkan bahwa blog atau tulisan saya ilmiah (jelas-jelas kebanyakan posting saya disini adalah cerita2 spontan, malah ada yang cuma tentang mimpi belaka), dan saya juga tidak klaim bahwa tulisan saya paling benar. Saya hanya blogger yang menuliskan pendapat atau uneg-uneg saya di ruang virtual yang bersifat publik. Ada komentator yang mempermasalahkan tentang keberadaan saya yang di luar Indonesia dan soal pendidikan saya. Ini sangat personal. Walaupun kebetulan saya sekarang ada di luar negeri, saya tidak merasa lebih dari yang sekolah di dalam negeri. Saya juga tidak merasa saya lebih pintar cuma karena saya mendapat kesempatan untuk studi lanjut. Lagian dalam posting saya tentang RUU saya tidak menyangkut-pautkan pendapat saya dengan latar belakang pendidikan dan lokasi dimana saya berada. Memang ada komentar-komentar seputar itu, tapi jelas saya tidak ambil bagian dalam diskusi tentang itu (coba dilihat lagi, siapa yang komentar dan bagaimana isi komentarnya).

Dalam posting ini saya ingin menghimbau rekan-rekan untuk membaca dengan hati-hati. Saya memang tidak mendukung RUU APP. Cukup jelas bahwa saya menolak. Tapi menolak RUU APP bukan berarti mendukung pornografi/pornoaksi. Saya tentu saja menolak pornografi/pornoaksi. Saya juga tidak mendukung para perempuan untuk berpakaian semi-telanjang di jalanan. Saya tidak mendukung siapapun untuk berjualan VCD porno di jalanan. Masalahnya tidak sesederhana itu.

Saya tidak mendukung RUU APP karena saya tidak melihat RUU APP (setelah membaca dengan seksama draft-nya) sebagai alat yang efektif untuk memberantas pornografi/pornoaksi dan pada saat yang sama malah bisa disalahgunakan sebagai alat yang represif (sejarah membuktikan bagaimana negara bisa semena-mena dalam memakai hukum).

Ok. Begitu penjelasan saya. Ini akan jadi posting terakhir saya yang berkaitan dengan RUU APP. Saya menghargai semua pendapat. Yang mendukung atau menolak, semua berhak mengemukakan pendapat. Karena ini ruang publik, saya berhak mengemukakan pendapat saya. Dan saya mohon tidak ada serangan-serangan yang bersifat personal yang cuma berdasarkan asumsi dan dugaan-dugaan saja.

Salam.

catatan:
1. Soal puisi saya, itu kan satire. Membacanya ya harus dalam satire mode juga.
2. Bagi yang bermasalah dengan komentator yang lain, saya tidak akan mencampuri
3. Khusus buat Myr, gile deh..... gara-gara nickname elu mirip sama gue, jadi gue disangka ngomentarin diri sendiri! Duh! Tanggung jawab! (but you're still my friend, of course...:P).
4. Untuk kedua belah pihak, baik yang pro maupun yang anti, coba baca dulu draft-nya, baru komentar.

Friday, April 28, 2006

Hari ini, suratnya aku poskan

Akhirnya 4 amplop berisi surat yang isinya persis sama, walaupun ditujukan pada 4 orang yang berbeda, aku poskan sore ini. Sempat agak deg-degan juga pas berdiri di depan kotak pos. Jangan-jangan ada salah ketik. Jangan-jangan ada salah kata. Ah, peduli amat. Yang penting aku harus poskan hari ini. Toh sudah aku periksa berkali-kali.

Empat surat cinta, dengan amplop warna merah jambu, aku poskan pada cowo-cowo tercinta. Maklum, ngga bisa mutusin, yang mana yang aku terima lamaran-nya. Serakah ya aku? Hahaha...

Ok, I was kidding. Ya, hari ini aku memutuskan untuk menulis surat balasan untuk surat tertanggal 19 April 2006 yang kuterima beberapa hari lalu, yang isinya adalah sbb:

Dear Merlyna:

On behalf of the Cxxxxxxxxxxxxxxx, the School of xxxxxxxxxxx and the College of Liberal Arts and Science, we are pleased to offer you an appointment as AXXXXXXX PXXXXXXX at a salary of XXXXX for the academic year, which will begin August 16, 2006.

[...selebihnya aku potong...]

Setelah menimbang, mengukur, dan menggunting ....aku putuskan untuk menerima tawaran ini. Lega rasanya. Plong, plong, plong!

Paling tidak, walaupun masih harus ada urusan visa kerja dll, aku sudah terima kerjaan ini. Dan kalau sudah beres urusan tetek-bengeknya, karena ini jabatan tenure-track, selama 6 tahun kedepan aku bisa rada aman.

Teman-teman yang ngerti soal tenure-track pasti tahu, perjuangan-nya cukup berdarah-darah untuk dapat posisi ini. Jadi sekarang aku senang, lega, bersyukur, woaaah.... kayak mimpi.

Ok, gitu dulu ya. Aku mau mandi, terus tidur yang lelap! Mimpi indah.. bukan mimpi kemalingan laptop!

Wednesday, April 12, 2006

Laptopku... oh... my Powerbook!

Hari ini, subuh-subuh, sekitar jam 4, aku dengar suara langkah orang yang seperti bersumber dari lantai bawah apartemenku. Aku tidur di lantai atas, tapi void ruang tangga yang cukup besar membuat aku bisa mendengar apapun yang terjadi di lantai bawah. Karena aku masih sangat ngantuk, aku coba untuk tak menghiraukan suara-suara itu. "Ah, mungkin bukan dari lantai bawah, tapi dari luar." Kutarik selimutku dan kucoba untuk kembali tidur.

Beberapa menit kemudian, kudengar suara orang bercakap-cakap. "Let's do it now", kata seorang pria bersuara berat. "Ok, let's get this and that and get out from here", seorang pria lainnya menyahut. Sejenak aku tertegun. Tak lama jantungku mulai berdebar-debar. "Aduh, celaka! Dua laki-laki ini benar-benar sudah ada di apartemenku!".

Aku mulai panik. Terdengar suara orang menyeret-nyeret meja. "Ah, pasti mereka sedang berusaha mengangkat pesawat televisi dan dvd player ku," aku menebak-nebak. Aku tak begitu peduli dengan kedua benda itu, keduanya aku dapat hampir gratis. Aku berpikir dan berusaha mengingat-ingat barang berharga apa saja yang ada di lantai bawah. Hampir semuanya barang-barang yang aku dapat secara cuma-cuma. Beberapa barang berharga seperti lemari es dan stove/oven adalah milik induksemangku.

Anehnya aku tidak takut mereka naik ke lantai dua. Aku pikir aku bisa pukul kepala mereka dari atas pakai setrikaan atau radio-alarm kalau mereka berusaha naik.

"Arrrrrrgh, celaka!!!!!" tiba-tiba aku benar-benar panik. Aku teringat bahwa Mac kecilku, si laptop Apple Powerbook G4 mungil yang ukurannya lebih kecil dari kertas A4 itu, tergeletak di sofa di ruang duduk. Pikiranku mulai kalut. "Bagaimana kalau sampai si Mac kecil diambil kedua lelaki itu?" Si Mac kecil itu aku memang dapatkan tanpa mengeluarkan uang. Tapi dia adalah sebagian dari hidupku. Walaupun aku sudah menyimpan sebagian besar data dalam bentuk CD, DVD, dan juga di ruang virtual, data-data yang tersimpan dalam tubuh si Mac kecil sangat berharga. Aku hampir menangis memikirkan hal ini.

Sementara itu keributan di lantai bawah semakin menjadi. Srrttttt....srrrtttt.. suara orang mendorong-dorong meja dan lemari terdengar dengan jelas. Tak lama kudengar langkah berat menaiki tangga. Kudengar kedua laki-laki itu bercakap-cakap satu dengan yang lain. Aku membatu. Tak bisa kemana-mana. Hanya bersembunyi dibalik selimutku. Dag dig dug, jantungku berdegup kencang. "Ooooh, apa yang harus kulakukan??????????"

Tahu-tahu, tak lama kemudian semua suara itu hilang. Sunyi senyap. Tak ada lagi langkah orang. Tak ada suara percakapan. Apakah yang terjadi?

Aku terbangun. Tertegun sejenak. "Aih, mimpi sialan!!!!" Masih gemetar, aku langsung bangkit dari kasurku lalu lari menuruni tangga. Langsung menuju sofa di ruang duduk. Kulihat Mac si laptop kecil masih tergeletak di sana. Kuambil dan kudekap dia erat-erat. Oh, laptopku, alangkah bahagianya aku melihat dirimu!

Monday, April 03, 2006

Perempuan

kepada para pendukung RUU-APP,

perempuan

oh, memang aku adalah perempuan
yang katanya adalah api
yang membakar meliuk-liuk
kobarkan hasrat dan nafsu

benar, aku adalah perempuan
yang katanya adalah sumber
segala dosa dan zinah
hitamkan hati laki-laki

ketika mulutku kubuka
dan bibirku merekah
bisikan mautku merebak
dalam desah dan kata-kata manis

mari kaum adam,
kutuklah aku, kutuklah aku
karena akulah perempuan
sumber segala keduniawian

laki-laki, laki-laki,
selubungilah aku
dengan selendang hukum dan jubah aturan
agar ku jinak bersimpuh di mata kaki mu

mer, seorang perempuan
heemstede, 3 april 2006

p.s. nuhun buat rino yg udah benerin "kaki mata" :)