Friday, March 17, 2006

RUU APP

Karena Rani nyentil soal RUU APP (lihat komentar di postingku yang berjudul "Walanda"), jadinya aku tergelitik untuk posting dikit tentang topik yang sedang hot ini.

Seperti yang bisa dibayangkan, hampir semua teman Indonesia-ku menyatakan bahwa mereka tidak setuju RUU APP. Tentunya ini berhubungan dengan fakta bahwa aku juga "pemilih" dalam berteman. Aku berteman dengan orang-orang yang "nyambung" sama aku.

Ada beberapa orang yang aku "tahu" (tidak betul-betul kenal) yang mendukung RUU APP. Mereka kebanyakan laki-laki. Dan argumen mereka adalah RUU APP penting karena masyarakat Indonesia sekarang ini sedang terpuruk secara moral dan perlu diatur untuk "kembali" ke tatanan moral yang "benar". Orang-orang ini aku tahu lewat Internet. Biasanya karena mereka me-nyambung-kan-diri lewat link di blog/multiply/friendster.

Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan pernah bertemu dengan seseorang yang ternyata mendukung RUU ini sampai beberapa hari yang lalu. Aku berkenalan dengan seorang mahasiswa Ph.D di Indonesia yang mendapat short dissertation-fellowship dari pemerintah Amerika Serikat. Dia tidak terang-terangan mendukung RUU APP, tapi dia berpendapat bahwa UU semacam ini perlu. Argumen dia persis seperti argumen di atas. Masyarakat Indonesia terpuruk secara moral dan perlu "diatur". Contoh-contoh yang dia kemukakan: anak-anak dibawah umur mengkonsumsi VCD/DVD porno, VCD/DVD porno dengan mudahnya bisa didapat di jalanan dengan bebas, adegan2 porno ditayangkan dengan semena-mena di TV.

Saat itu komentarku cuma satu. Aku bilang begini: "Oh begitu ya? Kenyataan itu memang memprihatinkan. Tapi apa hubungannya antara konsumsi dan availability produk2 pornografi dengan RUU APP? Apa kalau tidak ada yang berciuman di ruang publik dan semua cewe berpakaian sesuai RUU APP lalu konsumsi pornografi akan berkurang?" Pendapat saya: "Ngga nyambung, deh". Tentu saja pemerintah bisa dan boleh mengatur masalah penjualan VCD/DVD porno atau masalah penayangan hal-hal yang berbau porno di TV agar konsumsi pornografi bagi anak-anak berkurang. Misalnya dengan memberlakukan peraturan yang melarang penayangan program-program khusus untuk orang dewasa sebelum jam 11 malam, mengatur agar penjualan produk2 khusus untuk orang dewasa (VCD/DVD, majalah, dsb) dipusatkan di tempat tertentu secara terbuka (supaya ngga ada yang diam-diam jualan di mana-mana) dan diatur dengan UU tertentu dan denda/hukuman yang berat bagi mereka yang menjual produk kepada anak-anak di bawah umur. Dan ada banyak peraturan lainnya yang bisa diberlakukan dan dikenakan secara langsung pada produksi/konsumsi pornografi. Yang jelas, bagi saya tidak ada hubungan kausalitas antara berpegangan tangan/mencium/berpakaian dengan bahu terbuka/dllsbajr dengan maraknya konsumsi pornografi. Secara logis, tidak bisa ditarik hubungan kausalitas sama sekali.

Sedih dan mengerikan membayangkan bahwa seorang mahasiswa PhD bisa berpikir seperti itu. Jelas yang menjadi dasar argumen bukan lah pemikiran yang logis. Logika out. Ideology a.k.a. identity politics in.

Masalah utama RUU APP adalah asumsi bahwa sumber tindakan2 kriminal seksualitas aka kemerosotan moral adalah "tubuh manusia" a.k.a "tubuh perempuan". Seakan-akan seksualitas seorang manusia (perempuan) adalah sumber segala dosa. Wah, ini sih seperti kembali ke jaman baheula! Dan jelas aturan-aturan seperti ini tidak akan menghasilkan apa-apa. Yang pasti RUU APP ini dengan jelas mencerminkan upaya-upaya negara dan pihak penguasa untuk mengontrol masyarakat, terutama perempuan. Seperti kata Foucault, di balik hukum yang mengatur seksualitas, adalah keserakahan negara untuk mengontrol nasib dan kehidupan warganegara-nya secara total. Ketika kekuasaan negara menjalar sampai ke ruang yang paling privat, terpangkaslah sudah hak-hak individual warganya.

Walanda

Setelah deg-degan selama tiga minggu, akhirnya sepucuk surat dari Kang-mas Kumpenih-kumpenih di Consulaat-Generaal van het Koninkrijk der Nederlanden datang juga. Dikirim pakai jasa bang Fedex, passport-ku kembali dengan sebuah stiker tempel di dalamnya. Jelas bukan stiker Hello-Kitty atau Gaban! Cuma stiker kampanye mendukung RUU pornografi/pornoaksi. Hehe.

Ok, aku akan stop kegaringan ini. Yang betul tentunya stiker visa Schengen, multiply entries. Sebetulnya aku cukup yakin aku bakal dapat visa ini, cuma katanya proses-nya paling lama 2 minggu. Makanya ketika lewat 2 minggu, bahkan 3 minggu, surat cinta konsulat Belanda ngga datang jua, langsung aku deg-degan. Masalahnya aku bakal berangkat Selasa depan ini, tanggal 21 Maret.

Untunglah, akhirnya visa beres. Jadilah aku berkunjung ke Walanda. Semoga ketemu dengan teman2 bloggers di Walanda. Sampai jumpa!

Ps. Jadwal saya di Belanda kira2 seperti di bawah ini. Email aja ya kalau mau janjian ketemu.
21 Maret: 3 siang, berangkat dari LAX airport
22 Maret: siang2 nyampe di Schipol airport, kayaknya bakal dijemput profesorku dan langsung cabut ke Harlem
23 Maret: Di Amsterdam, tinggal di sebuah apartemen di Gelderse kade 14.
Seminar di Nieuwe Kerk, Amsterdam
Pre-Programme
18.00 Entry and visit exhibition Indonesia
19.00 Coffee/tea and spekkoek in the exhibition hall
Programme
20.00 Presentations by Dr. Merlyna Lim (tentang Internet & Demokrasi), Prof. Nico Schulte Nordholt, Prof. Patricia Spyer.
21.15 Roundtable and discussion
22.30 End programme
24 Maret: Amsterdam
25 - 28 Maret: Di Enschede, tgl 27 Maret bakal show-up di kantor TDG (KMPG Building, Enschede).
29 Maret: Amsterdam
Lecture Series Emerging Digital Cultures in Asia.
Blogging and Politics: on the emergence of a new digital public sphere and its political implications, organized by Waag Society, Leiden University, ASiA and IIAS
30 Maret - 1 April: Amsterdam
Media Technology, Sensory Experiences and the Making of Religious Subjects.
Organized by UvA.
2 April: kembali ke LA

Friday, March 10, 2006

Duh senangnya

Aku senang sekali kemarin. Kenapa? Karena kemarin, paman datang, pamanku dari desa.... Eh, itu mah lagu waktu SD, ya?

Aku senang karena aku mendapatkan sesuatu yang aku pikir aku tak akan dapatkan. Karena sesuatu ini lebih dari harapanku.

Sebuah telepon di sore hari kemarin langsung mengubah hari-hariku. Bukan cuma hari ini, tapi terutama hari esok, paling tidak 5 tahun mendatang.

Monday, March 06, 2006

Update

Oh ya, saya sudah putuskan kalau blog ini akan jadi blog dalam bahasa Indonesia (+ bahasa Sunda, Dayeuh, Dangdut, Tagoni..etc) dan blog yg satunya, si Mer's Bites of Bytes dalam bahasa Inggris. Sementara itu, di sini saya akan beri update bulanan ttg posting2 saya di si blog tetangga tsb, supaya rada nyambung, gitu.

Ok. Ini dia update pertama, untuk posting2 bulan Februari (sampai tgl hari ini).

I have decided sometime ago that this blog, Celoteh si Mer, will be my Indonesian (and Sundanese and Dangdutnese) blog and my Mer's Bites of Bytes will be my English one. Meanwhile, I'll post a monthly update of postings from that neighboring English blog here.

So, here is my first monthly update. In February (up to today) I have posted these:

Sketch IF: Song
Let it wet! Let it wet! Let it wet!
Movie review: Crash (2004) - Oscar 2006 Best Movie
Movie review: Brokeback Mountain (2005)
Movie review: Syriana (2005)
Networked Public Sphere
Convergence Culture
Should
Nobody
My 2006 Political Compas
5 Weird Things about me
Sketch IF: Chair

Thursday, March 02, 2006

Hari Buku se-Dunia: "Access to Books should be a Right"


designed by mer,
a public service announcement for the world book day
published in the Jakarta Post, 2 March 2005


Hari ini, 2 Maret, adalah Hari Buku Se-Dunia, alias World Book Day. Hari yang mengingatkanku bahwa banyak anak-anak di dunia ini yang tidak memiliki kesempatan untuk bergaul dengan buku. Jangankan bergaul, mungkin ada yang baca buku pun belum pernah.

Aku merasa beruntung karena sewaktu kecil aku punya kesempatan baca. Memang orang-tuaku ngga pernah belikan aku buku. Seingatku, selain buku pegangan sekolah, aku tak punya buku lain satupun. Tak ada majalah, tak ada buku cerita, nothing. Tapi aku selalu membaca di perpustakaan. Aku ingat waktu SD aku selalu nangkring di perpustakaan sekolah. Sejak pergi ke sekolah sendiri naik angkot (kelas 4-5 SD), aku biasanya datang ke sekolah agak pagi (karena sekolahku siang) dan membaca di perpustakaan. Sewaktu di SMP malah lebih panjang lagi jam bacaku di perpustakaan. Karena aku sekolah pagi, aku menghabiskan waktu berjam-jam sepulang sekolah dengan membaca di perpustakaan. Di SMP juga aku rajin meminjam buku. Tak selalu buku yang serius yang kupinjam, kebanyakan sih buku-buku cerita. Dari Tintin, Grimms Bersaudara sampai Lima Sekawan. Dari Kembang Manggis sampai Marga T. Kadang baca-baca juga biografi para tokoh sejarah. Aku paling senang baca tentang para ilmuwan seperti Galileo Galilei.

Masa-masa SMA adalah masa-masa main dan bolos. Jarang membaca. Di ITB semakin jarang membaca. Kacau ya? Selepas ITB aku mulai membaca lagi. Sekarang aku masih suka baca walaupun tidak intensif karena lebih sering nonton filem (maklum dulu aku jarang nonton filem karena dilarang ortu). Tapi tetap terasa bahwa membaca waktu kecil itu adalah pengalaman yang menyenangkan dan banyak manfaatnya.

Ini sudah abad 21, tapi masih banyak anak Indonesia yang tidak seberuntung aku waktu kecil. Masih banyak yang tak punya akses terhadap buku. Apa anda tergerak membantu? Cara yang paling gampang adalah dengan mendonasikan buku ke 1001buku lewat Book-Drop-Box yang tersedia di berbagai lokasi di Jakarta, Bandung, dan kota2 lain. Komunitas 1001Buku adalah jaringan relawan dan pengelola perpustakaan anak yang berkomitmen untuk menyediakan akses bacaan berkualitas bagi anak-anak yang kurang beruntung. Ayo, cepat cek gudang anda. Donasikan buku-buku yang sudah lama tidak dibaca... sebelum bulukan!