Sunday, February 26, 2006

Potong juga.... akhirnya...

Setelah ngidam berbulan-bulan, akhirnya tercapai juga. Hari ini saya naik bis ke Korea Town dan sampailah di Vogue Hair Salon. Karena sudah terbiasa cari apapun dari Internet, Vogue pun saya dapatkan dari Internet, dengan kata kunci 'hairsalon USC "Los Angeles"'. Cheap and great, kata para reviewers. Katanya sih keren-nya kayak salon-salon di Beverly Hills yang harganya selangit, tapi harga-nya cukup murah. Tapi ya ngga bisa dibandingin sama potong rambut di bawah pohon di Bandung sih.

Sudah lama saya ingin potong rambut, soalnya udah panjang banget, lama ngga potong. Tadinya pingin potong pendek sekalian, tapi diprotes para fans yang bertebaran di mana-mana, baik yang di Dayeuh, Enschede, New York, Hong Kong, Bandung dan Holywood ...huahahaha. Untuk seseorang yang pingin lihat saya rambut pendek, sabar ya... nanti deh, saya coba.

Nah, siang ini, saya akhirnya memutuskan untuk potong rambut. Sekalian, soalnya minggu depan dan minggu2 selanjutnya banyak undangan manggung di mana-mana (ceileh.. eh beneran ini), di luar kota dan luar negeri. Saat yang tepat untuk potong rambut. Tadinya sudah memutuskan untuk potong sedikit untuk merapihkan, tapi sampai di salon jadi kepingin potong agak banyak, terutama karena hairstylist-nya cukup meyakinkan. Jadilah saya potong rambut agak banyak. Sebetulnya banyak banget karena separuh rambut saya hilang. Tapi ya masih tetap kategori "long hair" koq, cuma beda style aja. Oh ya, walaupun masih panjang, ini my shortest hair ever in my life lho. Jadi sekarang saya melayang-layang..... ringan banget!

Oh ya, hairstylist-nya asik banget. Orang Korea yang sudah berpengalaman 30 tahun. 10 tahun di Korea dan 20 tahun di Korea Town (Los Angeles). Sangat ramah walaupun bahasa Inggris nya sangat2 ngga lancar. Satu kali dia tanya sesuatu dalam bahasa Inggris. Dia bilang, "Do you..bla..bla..hot or i(e)cy?" Saya ngga ngerti dan meminta dia mengulangi pertanyaannya. Dia ulangi tapi saya tetap ngga ngerti. Akhirnya karena ngga enak, saya jawab "Oh, hot!" (sambil berharap dia nanya tentang udara atau makanan). Terus dia langsung bilang, "Oh, hot! That why someone call ask direction!". Saya baru sadar kalau dia sebetulnya bertanya apakah menemukan tempat dia itu susah atau gampang (hard or easy), dan langsung saya ngeles dan bilang, "Oh, actually it wasn't hard. It was quite easy to find this shopping complext, but a bit hard to find your place among so many shops here!". Ah, hot...hard.. jauh ya?

Gaya-nya Grace Kim, sang hairstylist, sangat profesional dan cekatan. Dia juga sangat menyukai saya sehingga dia benar-benar menghabiskan waktu banyak untuk menata rambut saya sesudah dipotong. Sesudah acara potong-memotong dan tata-menata selesai, dia memamerkan saya kepada teman-temannya.... sembari nyerocos pake bahasa Korea! Seru dan bingung! Soalnya ngga ngerti! Tapi ya mesem-mesem aja, ke-geer-an...:D

Pokoknya Vogue emang keren. Not expensive and great! Dengan rambut baru, sekarang saya semakin siap untuk manggung. Goyaaaaaaaaaaaang dombret......tariiiiiiiiiiiik mang!

Wednesday, February 22, 2006

Dingin + sate jempol

Di tengahnya kabut bermandi embun pagi
Dingin membuat hatiku membeku

Kau yang telah membuat luka di hatiku
Kau yang telah membuat janji-janji palsu
Kau yang selama ini aku sayangi
Kau merubah cintaku jadi benci


Duileh.... lagu-nya Bung Broery ini emang esoteris ya (walah.. esoteris apanya). Entah siapa lagi yang merubah (harusnya kan mengubah ya?) cintaku jadi benci. Yang pasti dingin-nya udara LA bukan cuma membuat hatiku membeku, tapi juga jari-jari dan otak-ku membeku!

Siapa bilang ngga bisa kedinginan di LA? Udara yang hangat, matahari bersinar sepanjang tahun, ya.. itulah gambaran tentang California Selatan. Gambaran itu pulalah yang dipakai para kontraktor dan arsitek dalam mendesain rumah dan bangunan. Kebanyakan bangunan di Los Angeles dibangun sebagai bangunan musim panas dengan dinding yang kosong dan tipis, tanpa sistem penghangat, termasuk loft apartment tempat kediaman saya.

Saya sebetulnya terbiasa dengan udara dingin. Malah saya lebih suka winter ketimbang summer di Belanda. Temperatur 15-20 C ideal bagi saya. Tentunya di Belanda udara bisa mencapai 0 C bahkan kurang. Tapi saya tak pernah kedinginan jika berada di dalam rumah, karena selalu ada penghangat.

Nah, kemarin-kemarin ini, temperatur di LA mendadak turun menjadi sekitar 5-12 C (sekarang sudah naik jadi 6-18 C). Tanpa penghangat di apartemen yang berdinding tipis, ternyata dinginnya minta ampun. Karena beberapa hari ini saya agak demam, jadinya temperatur yang dingin cukup menyiksa juga.

Saya punya sebuah penghangat elektronik kecil. Masalahnya dayanya sangat kecil sehingga cuma bisa menghangatkan dalam radius 20 cm saja. Jadi biasanya saya duduk berselimut dan meletakan kedua kaki saya yang berkaus-kaki benar2 di atas penghangat. Jadilah rasanya seperti lagi bakar sate jempol.... :) Ngga bau koq.. harum semerbak.. hehehe. Biar deh, yang penting tidak mati beku.

Thursday, February 16, 2006

Merana....

Tiap ada peristiwa pasti ada sebabnya
Tiap ada pertemuan pasti ada berpisah
Mengapa harus merana kalau putus cinta
Mengapa harus berjumpa bila berpisah

Tiap sakit yang dirasa pasti ada obatnya
Tiap kasih yang berpisah pasti ada gantinya

Kalau mau bercinta jangan sepenuh hati
Agar tiada kecewa bila ditinggal pergi
Juga kalau bercinta jangan cemburu hati
Agar hati tak luka biar bercinta lagi
Begitulah sebaiknya


Itulah lirik lagu "Mengapa Merana" karya Rhoma Irama yang dinyanyikan Elvie Sukaesih di tahun 80-an. Kenapa saya tahu-tahu menyanyikan lagu ini? Tentu saja ada hubungan-nya dengan kata "merana". Dan tentu saja ada hubungannya dengan Hari Kasih Sayang alias Valentine yang dirayakan dimana-mana tgl 14 Februari kemarin.

Ya, saya sangat merana.... merana semerana-merananya pada hari itu! Bahkan masih merana sampai saat ini. Kasihan sekali deh ya? "Tiap sakit yang dirasa pasti ada obatnya..." kata Bang Rhoma.. tapi gimana kalau obatnya juga bikin sakit? "Tiap kasih yang berpisah pasti ada gantinya..." kata Bang brewok lagi, tapi kasih sama siapa dulu nih?

Yang pasti, si "dia" yang pada tanggal 13 Februari lalu aku relakan pergi benar2 tak ada gantinya!! Sakit, duh sakit!! Merana... merana....

Hari Senin, 13 Februari 2006, pukul 1 siang, aku berjanji berjumpa dengan seseorang. Hatiku berdebar-debar. Keringat dingin menetes di keningku. Ya, aku sudah memutuskan bahwa ini saatnya untuk membuat keputusan besar. Ya, situasi sudah terlalu gawat. Aku sudah lama menderita. Namun, walaupun aku yakin keputusanku benar dan kulepas "dia" pergi, hasilnya aku merana. Sepanjang sisa hari Senin itu, aku betul-betul merana. Keesokan harinya, Selasa hari Valentine, aku semakin merana. Hari Rabu, aku masih merana juga. Duh....

Tapi tenang saudara2... saya memang merana, tapi merana bukan karena cinta. Hari Senin kemarin, saya dicabut gigi lewat operasi. Sebuah gigi geraham (bukan gigi bungsu lho.. karena gigi bungsu saya belum tumbuh satupun) terpaksa direlakan pergi. Karena keadaan-nya sangat complicated dan operasi sangat sulit, terpaksa dokter melakukan pembiusan total. Memang lebih merupakan pemaksaan, karena pemisahan saya dengan sang geraham dilakukan pada saat saya tidak sadar sama sekali. Ketika saya sadar, saya sudah berada di atas kursi roda, setengah mabuk, dengan mulut penuh darah. Saya diangkut pulang oleh teman saya dan diberi obat pembunuh rasa sakit.

Alhasil, karena saya orangnya sangat sensitif...(ceileh)... saya mengalami hari-hari penuh penderitaan. Benar-benar merana, sampai dalam dua hari saja berat badan saya turun 2 kilogram (sebenernya seneng2 aja sih kalo turun-nya ngga pake sakit). Benar-benar kayak orang putus cinta, ya? Kepala nyut-nyutan, mata berkunang-kunang, badan lemas. Perut saya juga tak bisa kerja sama. Mual dan mun-mun. Bukan cuma makan, minumpun tak bisa. Saya baru tahu ternyata saya sangat sensitif terhadap sedatif. Severe reaction to surgery.

Ah, perpisahan memang tidak menyenangkan. Walaupun dengan si "dia" yang telah menyakitiku.....

Saturday, February 11, 2006

Teu pararuguh

Kalau perasaan lagi ngga pararuguh tapi juga ngga tahu kenapa jadinya pingin nulis yang ngga pararuguh juga. Habis kalau dipuguh-puguhin pun ngga bakalan puguh. Ya sudah, biar aja nulis nu teu puguh nya?

Los Angeles lagi teu puguh pisan cuaca-nya. Yang seharusnya dingin malah panas minggu-minggu ini. Tapi minggu lalunya dingin. Ngga dingin-dingin pisan sih tapi rada jomplang lah. Tah, cuaca yang teu puguh bisa jadi bikin perasaan ngga puguh pula.

Terus pohon limau di depan jendela yang biasa buahnya aku petik tiap hari teu puguh-puguh tumbang. Ini semakin memperkuat keteupuguhan hari-hariku.

Kemarin tau-tau aku teu puguh-puguh jangar. Padahal ngga melakukan atau makan yang ngga puguh.

Ah, sudahlah. Emang ini minggu teu pararuguh. Puguh-puguh teu pararuguh.


puguh [root], puguh-puguh, pararuguh
1. adj = certain, clear
2. adj = absolute, fixed
antonym = teu puguh, uncertain, unclear

Friday, February 03, 2006

Language Twist: Mabaho Ng Kilikili Ko!

When I was in Manila, I did adapt the way Pinoys craft the sentence. One of some examples is by inserting "diba" at the end of many statements to form tag questions, such as "She is beautiful, diba?" (isn't she?) or "You don't mind, diba?" (do you?). Other examples are using the word "nalang" instead of "just" or "only" and ending the sentences by the word "lang" (like "lah" in Singaporean-English).

I also learned some simple Tagalog words and sentences such as: magandang umaga (good morning), magandang gabi (good evening), magandang hapon (good afternoon), mabuhay (hello), paalam (goodbye), paki (please), salamat (thank you), walang anuman (you're welcome) and mahal kita (I love you!!). These basic sentences are enough to survive in Manila, just to show that you appreciate the locals. Of course, Pinoys mostly speak English, so I had no problem in language department.

However, sometimes, occasionally, you ask people about some unusual words, right? And sometimes your local friends teach you some not so basic sentences. In my case, one day, my Pinoy brother inlaw and his wife (actually more the wife) taught me this sentence "Mabaho ng kilikili ko". They suggested me to say it to my Pinay sister inlaw (a wife of my brother). But I smelled something fishy as their daughter was just laughing really hard. I knew so well that some people love to tease the foreigner (I am one of those people!), so I got them to tell me the real meaning. Apparently it means, "My armpit is smelly"!!!! Ughhh!

However, knowing the real meaning, that night, right after I learned about the sentence, I said it anyway to Rosette, my sis inlaw. I stood in front of her, patted her shoulder, and with a very innocent face I said, "Good night... mabaho ng kilikili ko". Rosette was stuned! She thought I was innocent and blamed her brother and wife instead! Hehehe.... luckily, I didn't say "Mabaho ng kilikili mo" (mo = you)...:D

Speaking of twisting the language, I used to do a similar thing when I was in Indonesia. As I speak Sundanese (a local language of Bandung, my hometown) fluently, I used to teach some improper words to Indonesian friends who just came from other provinces. Once, in my first year undergrade, I taught a friend who came from Medan. He didn't speak any word in Sundanese and asked me to teach him.

I said this to him: "Sundanese people are so polite, so the first thing you have to know is the sentence that you will always use when you meet and pass by some locals, to show your politeness." "This important sentence is," I continued, "Punten...... ngiring hitut, with long hituuuuuuuuuut". I also explained to him that he had to put on a sweet look and he had to bow as he walked through, passing by, the locals and shouldn't stop before got a response "mangga" (the bowing part and the "mangga" part are actually correct). I fooled him by saying that the sentence meant "Excuse me, please". He did it for sometime and got confused as people always smiled or laughed whenever he put my lesson into action. Could you imagine how deranged he was to find out that "Punten.. ngiring hitut" means "Excuse me.... allow me to fart"...??..... Ja, ja, ja.... I was naughty back then..