Saturday, December 09, 2006

Yang tersisa dari Indonesian Night 2006 di Tempe

Maaf, lama banget ngga posting. Banyak alasan, kendala, penghalang, dan kesibukan (apaan sih yeee?).

Sekedar menghibur teman2 yang sudah kesal nengok blog yang lama tidak di-update, saya tampilkan beberapa video hasil rekaman Indonesian Night di Tempe, 11 November 2006 kemarin.

Walaupun saya sempat bolos berminggu-minggu karena kejadian ER, ternyata saya tidak dipecat dari tim Keroncong dan Vocal Group. Tapi "dipecat (kagak) terhormat" dari tim Tari Aceh :p

Nah, selamat menikmati (atau selamat menderita :p). Maaf, karena kesalahan teknis pas convert, suara dan gambar tidak sinkron. Biar ya, saya malas re-convert.

1. Medley Bunga Rampai Nusantara


2. Yogyakarta (Gladi Resik version)


3. Bengawan Solo


4. Keroncong Kemayoran


5. Tari Aceh

Sunday, October 29, 2006

Ruang Darurat (2): Adegan Film Horor

Pk 5 sore, 24 Oktober 2006, Ruang Darurat di Pusat Medis Spanduk Gurun* di Meza, Arizona

Perawat mendorong kursi rodaku dan menempatkan aku di sebuah bilik bertirai biru. Dia menolong memindahkan tubuhku ke kursi dan kemudian mulai meraba tanganku, mencari urat-nadi yang paling jelas. Tak lama, sang perawat menusukan jarum infus beserta tabungnya ke urat nadi di pergelanganku. Duh... eh, ngga gitu sakit sih.

Sebelum pasang selang infus, si perawat mau ambil darah dulu. Jadi dia menusukkan jarum kecil ke tabung infus kecil yang sudah tertancap. Entah bagaimana kejadiannya, tahu-tahu darahku muncrat ke celana panjang si perawat. Dia langsung panik dan menjerit: Oh, my God!!! My goodness!!!

Banyak sekali darah di ruangan. Ada genangan darah yang cukup besar di lantai. Jari-jari dan pergelanganku penuh dengan darah. Mengerikan. Seperti adegan berdarah-darah di film horor.

Saya terkejut. Tapi tidak bereaksi sedikitpun. Si perawat tampak pucat, dia berkata: I am scared to death!!!!

Perawat: I am so sorry, I am so sorry
Aku: It's OK.
P: Yeah, this little needle was broken.
A: Oh.. well, yeah, something like that happens.

Kemudian si perawat mengganti kaus tangannya, mengambil setumpuk tissue dan mengelap tangan saya. Dia berusaha meneruskan tugasnya. Jarum diganti dan 5 tabung darah diambil dariku. Lalu si perawat membersihkan darah-darah yang menghiasi ruangan. Dia sangat gugup sehingga terus menerus menjatuhkan barang-barang. Setelah mengganti kaus tangan 6 kali dan menghabiskan seluruh persediaan tissue di ruangan, akhirnya dia selesai. Dia masih tampak gugup, namun tetap berusaha tenang dan meneruskan tugasnya. Selang infus lalu dipasang di jarum infusku. Berhasil. Dua tabung obat diinjeksikan di selangku. Berhasil juga.

Ruangan begitu sepi. Tak seorangpun dari kami yang berbicara. Sunyi. Sepi. Sampai akhirnya aku memecah kesunyian.

A: You know what? I think you should have done this better (dengan wajah dan tatapan dingin, suara datar)
P: Oh..oh.... I am so sorry (sangat gugup dan merasa bersalah)
A: I really think you should have done better (saya mengulang, tetap dengan suara yang dingin)

Si perawat kehilangan kata. Dia menunduk dan terus membenahi selang infusku.

A: Yeah, you can do better by giving me some IV** with pizza or hamburger flavor!

Sang perawat menatapku. Tertegun sejenak, kemudian bertanya: What do you mean?
A: Pizza flavor... or hamburger, at least. Come on, after what you have done to me!
P (tertawa): Oh right, yeah, pizza would be nice. I should have done better, true.
A: Yes, after taking too much blood of me!
P: Yeah, I should give you something in return (langsung terlihat lega dan lebih santai).

Kami berpandang-pandangan dan kemudian tersenyum bersama.

catatan:

* Terjemahan saena'e dewe dari: Emergency Room at Banner Dessert Medical Center
** IV = intravenous = within vein (Inggris), infus (Indonesian, Dutch).

English version of this can be read here.

Friday, October 27, 2006

Ruang Darurat (1) -- sebuah refleksi

Ruang darurat bisa berupa tenda, bilik, atau dinding2 seng. Tapi ruang darurat yang satu ini biasanya lebih kokoh dari sekedar tenda. Ruang-nya tidak darurat. Yang darurat adalah orang-orangnya.

Ruang darurat atau lebih terkenal dengan sebutan ER alias Emergency Room memang benar-benar selalu bersituasi darurat. Orang2-nya dan kegiatan2-nya. Bahkan udara-nya serta pemandangan-nya pun berbau darurat. Darah, tangisan, teriakan, tampak dan terdengar di situ. Orang-orang berbaju putih berkeliaran. Dalam pandangan kabur seseorang yang sedang sakit -- jika dia cukup relijius -- mereka lebih tampak seperti pasukan berjubah yang siap menjemput-nya untuk "pulang" ke surga. Bagi seorang yang agnostic, mereka terlihat seperti mahluk2 ruang angksa atau manusia robot yang siap melucuti organ-organ tubuh manusia-manusia bumi yang terperangkap dalam ruang ini.

Kesementaraan dan ketidaktahuan meliputi ruang tersebut. Bagi pasien yang sudah tak sadarkan diri, kegalauan dan kecemasan tersalurkan kepada keluarga dan teman2-nya.

Ruang darurat. Dalam segala kesementaraan-nya, dia kadang menjadi penentu nasib. Keterlambatan beberapa detik bisa akibatkan sebuah nyawa melayang begitu saja. Bilik-bilik bertirai putih menjadi saksi bisu kala nasib dan masa depan berubah -- for better or worse -- seketika dalam hitungan detik, menit atau jam.

related posting: The Culture of Emergency Room in Mer's Bites of Bytes

Tuesday, October 24, 2006

Sebuah Maaf

Maaf, sebuah keputusan yang penuh makna. Upaya pembersihan diri. Tanpa pamrih.
Maaf, sebuah kontemplasi. Suara yang jernih. Penuh kedalaman. Apuskan suara2 sumbang.
Maaf, seberkas cahaya. Mendesak kegelapan. Menyambut sang benderang.
Maaf, sebuah kekuatan. Hadiah istimewa. Membebaskan jiwa.

Pada hari istimewa ini, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, maaf lahir dan batin.

mer

p.s. English version of "Maaf" can be found here (Forgiveness II).

Sunday, October 08, 2006

Daku dah kembali...

Wah, daku sudah lebih dari sebulan ngga nge-blog nih. Maklum buk suribuk tea dan baru aja kembali dari perjalanan ke negara tetangga-nye Indonesia, alias Australia tea, selama dua minggu. Asli baru balik sore ini. Makanye masih jetlag bin teu pararuguh.

Perjalanan selama 15 hari plus 2 hari di jalan, walaupun acaranya sangat padat, amatlah sangat menyenangkan. Totalnya aku mengunjungi 7 kota di pantai Timur (Sydney, Wollongong, Brisbane, Gold Coast, Adelaide, Melbourne, dan Canberra). Yang kelewat cuma tinggal Perth, Darwin dan Hobart saja. Maklum mereka yg kelewatan itu adanya di pantai Barat atau jauh di Tasmania sana.

Pasti temen2 di Indonesia pada bertanya, "Koq ngga mampir di Indonesia sih?". Tadinya ya sempat mikir mau mampir. Tapi apa daya, waktu terbatas. Lagian Bandung/Jakarta itu kan jauh dari pantai Timur Australia. Kalau pakai pesawat yang langsung aja, dari Sydney perjalanan dengan pesawat akan memakai sekitar 8 jam. Ditambah segala tetek bengek naik taksi ke airport, check in, sama perjalanan ke Bandung terus ke Dayeuh, total2 bisa 12 jam-an tuh. Belum lagi kalo ngga sanggup beli tiket pesawat, terpaksa berenang. Kayaknya sih bagi perenang yang super-duper amatir seperti aku, akan makan waktu 789 hari 13 jam 8 detik. Itupun kalau ngga semaput di lautan. Jadi ya begitulah, tak jadi mampir di Dayeuh.

Aku benar2 mensyukuri kesempatan untuk jalan2 di Australia ini. Sangat mengesankan! Walaupun sempat sering panik karena harus memberikan ceramah, kuliah, dan presentasi, di beberapa universitas, workshops, dan konferensi, termasuk satu semacam keynote yang bikin aku gugup dan sutres seharian, aku benar2 bisa menikmati perjalanan ini.

Apa saja yang berkesan? Kota2nya yang indah, dirancang dengan baik. Angkot-nya yang memadai dan rapih. Orang2nya yang ramah. Makanan2nya yang enak. Fish-n-chips nya sedap. Vegemite nya yang bikin eneg sureneg bin yucky. Hot chocolate, cappucino, piccolo, dan berbagai macam hot beverage yang super-duper enaknya. Affogato nya yang orgasmik. Koala yang lucu. Kangguru yang ramah. Wah, pokoknya banyak banget deh.

Sedih juga meninggalkan Australia.... tapi senang bisa berada di Tempe lagi. Tempe adalah rumahku, paling tidak untuk paruh kehidupanku yang sekarang ini.

Tuesday, September 05, 2006

Nasib ooooh nasib.....

Dulu waktu saya masih tinggal di Indonesia, teman-teman suka meledek.... "Mer, gimana Bandung coret dah merdeka?". Memang saya tinggal di Bandung coret. Rumah orang tua saya di Dayeuh Kolot, hanya beberapa meter dari Kotamadya Bandung. Padahal rumah ortu itu adalah rumah nomor 1 di Kabupaten Bandung *bangga*. Tapi ya... sekali coret tetap coret siih... :). Masalah per-Bandung-coretan alias ke-Dayeuh-Kolot-an saya ini membuat teman2 di ITB menobatkan saya sebagai Lady Day (Lady Dayeuh) sekaligus Miss Dayeuh :)

Biasa kami, saya dan teman-temen di ITB, suka becanda bahwa kalau saya pulang dari ITB (Dago) ke rumah di Dayeuh Kolot saya harus menebang pohon pisang dulu dan membuat rakit untuk sampai ke rumah. Maklum Dayeuh Kolot kan langganan banjir. Rumah saya juga letaknya di bawah jembatan tol Padalarang - Cilenyi. Jadi kalau mau mampir ya gampang saja, tinggal berhenti di jembatan tol, dan lompat!

Nah, beberapa tahun lalu, saya pindah ke Belanda (untuk studi). Di Belanda juga tinggal-nya hampir Belanda coret! Lebih dekat ke Jerman ketimbang ke pusat Belanda (Amsterdam, dll)! Kota tempat tinggal saya adalah Enschede, yang kebanyakan orang Belanda pun tidak pernah mengunjungi (bahkan tidak tahu menahu ttg keberadaannya). Memang nasib, dah di Belanda ya tetap tinggal di kampung!

Kemudian saya pindah ke Los Angeles. Wah, kota besar dong. Bukan sekedar metropolitan, tapi juga pusat kapitalis dunia. Dan saya tinggal tepat di LA -nya, bukan kota-kota lain di Greater LA. Tapi ya, tetap sih, saya tinggal di dekat ghetto-nya LA! Kampung! Tak jauh dari apartemen saya adalah area-area kumuh! Dasar nasib!

Sekarang saya di Arizona. Ya tidak sepusat LA, tapi ya saya tinggal di kota, bukan kampung. Tempat kerja dan tempat tinggal saya benar2 pusat kota, downtown! Nah, saya mengajar di Arizona State University yang kalo disingkat jadi ASU guk-guk-guk, tinggal di Tempe temennya tahu, cireng, bala-bala dan combro, yang dialiri sungai Gila. Nah kalau digabung jadi ASU, Tempe, Gila!!! Kombinasi apa yang bisa lebih kacau dari itu? Hehehe....

Monday, September 04, 2006

Dukacita

Berita dukacita yang dibawa teh Ophi sempat membuatku galau dan sedih. Membuatku ingin menulis tentang teh Inong, tapi bingung. Akhirnya aku menulis di sini, dalam bahasa Inggris.

Selamat jalan, teh Inong. Kami akan selalu merindukanmu.

Friday, August 25, 2006

Calgary dan akhir petualangan

Sebetulnya atau seharusnya perjalanan saya di Calgary ini adalah untuk "menjemput" visa dan bukan "melamar" visa. Karena 773 lembar petisi itu sebetulnya sudah dibaca dengan seksama oleh pihak Imigrasi Amerika bulan lalu dan persetujuan visa sudah dikeluarkan akhir Juli lalu. Jadi tidak ada alasan atau kemungkinan bagi saya untuk tidak mendapatkan visa. Hanya saja, Pak Sangar petugas imigrasi ingin menunjukkan kekuasaannya sehingga merasa perlu untuk "ngerjain" saya. Saya sempat panik juga ketika sang pengacara menelepon dan wanti-wanti supaya saya "be super-super humble, because the guy isn't nice and he can make your life miserable." Jadi walaupun saya pasti mendapatkan visa tersebut, tapi Pak Sangar bisa saja mengulur-ulur waktu dan membuat saya harus terdampar di Calgary selama berminggu-minggu (ini terjadi pada orang-orang lain, lho). Dia juga bisa membuat saya bolak-balik datang ke konsulat, jika dia merasa perlu melakukan itu.

Tapi syukurlah, perjuanganku di Calgary yang sampai membuat jari-jari kaki berkeringat membasahi sepasang kaus kaki keren ternyata tidak sia-sia (aing-aing, hihihi :p). Berkat satu tas berat yang isinya setumpuk kertas -- yang sakit beratnya sempat membuat petugas keamanan (satpam-nya konsulat) mengumpat, "Holy cow, this is so heavy!" pada saat memeriksa -- dan presentasi singkat di depan Bapak Sangar penjaga loket wawancara, akhirnya stiker visa O-1 itu saya dapatkan. Pak Sangar sempat misuh-misuh karena pengacara saya menelepon dia sesudah kunjugan pertama saya ke konsulat (hari sebelumnya) dan juga dengan sinis dia mempertanyakan kelayakan saya untuk disebut sebagai an alien with extraordinary ability. Tapi akhirnya dia berkata, "OK, Miss Lim, I am satisfied with what you have shown me. You can pick up your visa 3 pm by the security guard."

Hore hore.... akhirnya!!! Makan-makan yuuukkkk???? Ditemani aroma harum kaus kaki keren ku? Masih mau?

Wednesday, August 23, 2006

Calgary: Bukan hanya sekedar penantian

Laporan langsung dari Calgary.

Saat-saat mendebarkan, yakni jadwal pengambilan visa di konsulat Amerika Serikat di Calgary, sudah tiba. Ia sekiranya akan menjadi penutup manis kisah kesemrawutan (semrawut satu sampai enam) dan kisah visa & imigrasi. Ternyata jalan hidupku, yang memang selalu membuat lekukan-lekukan yang tak bisa diperkirakan sebelumnya, membuat proses pengambilan visa tidak berjalan dengan mudah.

Pagi ini aku bertemu seorang pegawai konsulat yang meminta aku membuktikan kembali kelayakan ku untuk menerima visa O-1. Padahal jelas-jelas aku sudah menerima surat persetujuan dari bagian imigrasi dan kewarganegaraan Amerika bahwa petisi visa O-1 ku sudah disetujui.

Ah, ya memang begitulah adanya. Akhirnya sepanjang hari ini aku habiskan untuk menghubungi pengacara di Arizona, menerima kiriman dokumen digital sebesar 50 MB, mencari printer dan kertas dua rim (karena kalau mencetak di toko cetak malah jauh lebih mahal daripada beli printer). Sekarang aku sibuk mencetak 773 lembar petisi lengkap yang merupakan pembuktian bahwa aku ini layak mendapatkan visa O-1.

Cerita lengkapnya jauh lebih ruwet, melelahkan, menyebalkan, penuh darah dan airmata (ngga pake darah deng). Tapi ya aku baik-baik saja. Aku anggap pengalaman ini sebagai bunga-bunga yang menghiasi perjalanan hidupku. Bisa jadi cerita bagus untuk anak, cucu, dan teman-teman.

Semoga saja besok aku masih memiliki kesabaran dan masih bisa menahan diri dari keinginan melemparkan berkas petisi seberat 4 kilo ini ke muka sang pegawai konsulat yang macam-macam itu.

Saat semua masalah ini berakhir, aku tahu aku akan punya satu hal lagi yang patut aku masukan ke dalam daftar panjang hal-hal yang patut disyukuri dalam hidup ini.

keterangan gambar:
suasana kamarku di penginapan: ada printer baru, kertas2 yang baru diprint, kertas2 kosong dan kaos kaki bau.

Friday, August 18, 2006

Hari pertama jadi profesor

Enam belas Agustus tahun dua ribu enam.... itulah hari kemerdekaan kita... Eh, salah, bukan ya? Itu hari bersejarah buat saya. Hari pertama jadi profesor. Saya juga dapat alamat email ASU (bukan asu yg menggonggong lho - Arizona State University), kunci kantor sekaligus kunci apartemen. Saya bisa saja mendapatkan hal2 tsb sebelumnya, atau nanti, tapi kebetulan semuanya didapatkan pada hari yang sama.

Jadi profesor muda membuat saya semangat 45! Tapi juga agak lucu, kagok, dan aneh. Terutama karena saya tidak biasa dipanggil Profesor (bahkan dipanggil Dr aja aneh). Dan juga krn kebanyakan orang menyangka saya adalah mahasiswa. Jadi biasanya mereka memberikan pandangan aneh alias tak percaya kalau saya ini profesor ketimbang mahasiswa. Orang-orang Indonesia lain di sini pun tadinya pikir saya datang untuk bersekolah ketimbang mengajar. Kemana-mana saya pergi, ketika saya sebut bahwa perusahaan/institusi/universitas saya adalah ASU, maka orang langsung "menuduh" (berasumsi) bahwa saya adalah mahasiswa yang baru masuk! Walaaaah!!

Untuk menangani masalah tampang-kemudaan-untuk-jadi-profesor, saya memutuskan untuk memakai kacamata. Supaya kelihatan lebih pintar dan lebih tua, sekaligus "katanya" lebih intelektual. Sialnya, hari ini kacamata saya salah satu lensa-nya jatuh dan pecah (model setengah-tanpa-bingkai), jadinya program saya gagal (ini satu2nya kacamata saya yang masih belum hilang -- maklum selalu lupa ketinggalan di mana-mana).

Ya sudah... jadinya ngga jadi pake kacamata deh. Soalnya kalau kacamata sebelah bolong ini dipake, malah jadi bajak laut!

Hari pertama jadi profesor sangat menyenangkan sih. Tak ada hal yang patut dikeluhkan.

Katamata boleh pecah, tapi hati dan semangat ngga pecah dong. Kalau otak dan kepala sih memang sudah dari sana nya benjut bin bonyok sana-sini.. :D Maklum punya gelar phd (permanent-head-damage). Ngga bisa diperbaiki. Tapi justru itu kali ya yang bikin perjalanan hidup saya ini semakin ajaib dan menarik!

Friday, August 11, 2006

Semrawut #5.5: Keajaiban

Temen-temen..... ada update nih. Subuh-subuh sekitar jam 2-an tahu2 ada tempat kosong 1 biji di konsulat Amerika di Calgary padahal Toronto, Vancouver, Halifax, Montreal and Quebec (pilihan semula) masih penuh semua. Aku hampir tak percaya apa yang aku lihat! Wow, keajaiban!!!! Mengingat Calgary termasuk yang lebih padat dari Halifax atau Quebec. Langsung tancap aja aku ambil. Appointment jam 8.30 am 22 Agustus 2006. Syukurlah aku ambil, aku dapat kabar dari pengacaraku kalau dia mencoba subuh-subuh tadi dan tak menemukan satu tempat pun!

Ngga lama, aku langsung dapat surat konfirmasi dalam bentuk elektronik. Hore!!!!!

Sesudah itu aku masih melek mencari cara untuk mengeprint surat konfirmasi dan dokumen lain yang baru aku dapat dari pengacara. Dokumen2 ini harus dibawa untuk apply visa di konsulat Kanada. Waduh, printer di hostel ngga jalan. Aku coba ngeprint secara elektronik ke Fedex-Kinkos yang bisa dijemput pagi-nya. Berkali-kali gagal juga. Akhirnya menyerah. Aku mencari alamat Fedex-Kinkos terdekat yang buka pagi-pagi dan rencana untuk mengeprint pagi2 sebelum ke konsulat. Terus aku tidur.

Pagi-pagi jam 7:45 aku naik bis ke alamat Fedex-Kinkos yg katanya buka jam 8 am. Jam 8 sampe. Eh ternyata tempat ngeprint ini tutup dan baru buka jam 9! Duh! Padahal loket visa tutup jam 10:30!!! Aku akhirnya jalan kaki mencari-cari tempat ngeprint yang buka. Sekitar 1 mil jalan, ada Fedex-Kinkos yang buka! Hore!

Langsung aku beraksi. Sial, ternyata credit card-ku ke-charge tapi sebagian besar print ngga keluar. Aku claim ke petugas-nya. Si petugas bilang mana bisa dia tahu kalo print-nya ngga keluar? Idih banget ya... aku bilang ya liat aja ini hasilnya. Dia bersungut-sungut tapi akhirnya kreditku dikembalikan. Aku terus ngeprint lagi. Akhirnye berhasil. Tapi dengan semua kesemrawutan di tempat print, aku baru bisa berangkat ke konsulat sekitar jam 9:45! Aduh....

Aku naik bis, disambung naik kereta (taxi susah setengah mati di LA, harus nelepon, tapi kan teleponku hilang). Akhirnya sampailah di konsulat, jam 10:10 am. Aku langsung bergegas ambil nomor.

Eh, masih ada yang ngaco. Ternyata info di website tentang pembayaran salah. Konsulat tak lagi menerima cash atau credit card atau personal check! Harus pake money order atau certified check. Waduh, ada-ada aja. Untunglah aku ingat ada bank di lantai dasar. Dapatlah si money order itu. Si mbak di kasir-nya sampe ngga usah dibilang udah tahu kalo money ordernya harus payable to Canadian Consulate General... kayaknya banyak banget orang yang ambil money order. Terus aji mumpung deh itu bank, masa ongkos nya 7 dollar?!?! Biasa di 7-11 money order ongkosnya cuma 99 cent. Tapi ya sudahlah.

Begitu aku sampe ke konsulat lagi, namaku dipanggil. Berkasku masuk dan akan diproses. Hasilnya akan diketahui siang ini. Jam 1:30-2:00 pm.

Hayo mengheningkan cipta diteruskan.... perjuangan belum berakhir... :)

nb. ini saya konek ke Internet dari perpustakaan umum sebelah konsulat.

UPDATE: Hore & terimakasih (Semrawut #6)

Laporan pandangan mata, langsung (online) dari konsulat Kanada di Los Angeles. Lanjutan dari Semrawut #5.5.

Saya sudah mendapatkan visa Kanada-nya! Hore hore!

Terimakasih untuk doa dan dukungannya!
Mengheningkan cipta..... selesai!

Saya mau makan siang dulu.... lapaaaaaar.
Sampai jumpa lagi dari Arizona ya.

nb. begitu dapat visa saya langsung online, nulis entry ini, dan nulis email pada seseorang dan pada pengacara. Sang pengacara berkomentar: "Congratulations! You are almost done!" ya.. almost, almost.

nbb. untuk makan siang saya pilih menu "Happy Box" karena saya memang happy!

Wednesday, August 09, 2006

Semrawut #5: Menunggu surat dari kekasih... eh konsulat


Tujuan utama berada di LA adalah untuk melamar visa Kanada. Semua syarat untuk melamar visa sudah terpenuhi, kecuali satu, surat konfirmasi pertemuan/janji (appointment) dengan konsulat Amerika di Kanada. Kota yang dipilih bersama dengan pengacara adalah Quebec. Mengapa? Karena waktu tunggu yang paling pendek (3 minggu), sementara kota-kota lain (Toronto, Vancouver, dll) rata-rata 6-10 minggu. Apalagi kalau mengambil visa di Meksiko, waktu tunggu bisa sampai ratusan hari.

Hari Senin pagi... surat konfirmasi belum jua didapat. Tak ada tempat kosong sehingga belum bisa mendapat jadwal pertemuan.

Sementara itu saya mampir di kantor Annenberg yang sedang direnovasi. Saya mengecek surat-surat dan merasa sangat terhibur mendapatkan beberapa paket. Pertama adalah paket Fedex berisi surat pengabulan petisi visa O-1 saya. Surat ini membuat saya senyum-senyum sendiri. Paket ke-2 berisi DVD dan CD dari Indonesia (dikirim via New Jersey), isinya rekaman penampilan bekas paduan suara saya di Bandung, PSM-ITB. Ini membuat senyum saya tambah awet. Paket ke-3 berisi foto-foto dikirim dari Hawaii oleh seorang kawan. Alangkah manisnya... tentu saja senyum saya tambah lebar. Paket ke-4...wow, besar! Dikirim dari Lafayette..... walaupun saya bisa menebak isi-nya, tapi jantung saya tetap berdebar-debar. Ternyata ada sebuah kartu "Happy Un-Birthday" dengan tulisan Welcome Alien 2006 ditemani sebentuk kaleng! Dan isinya........rempeyek kacang dan teri!! Lihatlah lihat teman-teman....... nyam-nyam sekali bukan? Makasiiiiiiih.... Adiiii...... aku padamu! Terharuuuu.....

Rempeyek itu really made my day. Walaupun ngga berhasil dapat konfirmasi dari konsulat AS di Kanada, yang penting ada rempeyek bo!

Sepanjang hari Selasa.... aku di LA dan sang pengacara di Tempe, sama-sama nangkringin formulir online untuk bikin janji dengan konsulat AS di Kanada. Belum juga berhasil. Duh... padahal kalau hari ini belum bisa juga, berarti sia-sia perjalanan ke LA....

Eh, ngga sia-sia deng.... kan ngambil rempeyek...:))))

Sekarang tinggal berharap... nangkringin sampai subuh, mudah2an ada orang yang membatalkan janji... sehingga aku dapat tempat..... dan bisa melamar visa besok pagi....

Semoga.. semoga... semoga. Mari kita mengheningkan cipta dulu... satu..dua..tiga.

Tuesday, August 08, 2006

Happy-Ending-nya belum, ternyata (Semrawut #4)

Sesudah semrawut edisi satu, dua, dan tiga, aku pikir petualangan dalam kesemrawutan sudah bakal berakhir. Ternyata ...................

Setelah merasa cukup nyaman tinggal di hotel di Tempe, saya mulai beraksi mempersiapkan kepindahan saya. Pertama saya mencoba mendapatkan nomor telepon genggam lokal berikut telepon genggam-nya. Sekedar informasi, di Los Angeles saya tidak memakai telepon genggam karena cukup mengandalkan telepon rumah dan telepon kantor. Kedua saya ingin melihat-lihat Tempe dan daerah sekitar secara umum untuk mengenal area.

Untuk mewujudkan kedua hal tersebut saya menyewa mobil dan mulailah berkelana. Ini adalah pengalaman pertama kali mengendarai mobil di Amerika Serikat pakai SIM keluaran Cibabat, Kabupaten Bandung. Sempat terkaget-kaget dengan mobil yang kelewat bagus (Chrysler, kayaknya keluaran 2005), otomatis (belum pernah coba sebelumnya), dan harus menyetir di sisi yang "salah"..:p Tapi ternyata tidak ada masalah kecuali setiap mau belok kiri kanan saya malah menyalakan wiper, sempat panik tidak bisa mematikan alarm keamanan satu kali, dan setiap mau masuk mobil saya selalu menghampiri pintu yang salah. Sisanya, saya baik-baik saja. Mobil sewaan kembali dalam keadaan utuh. Demikian pula saya :) Ternyata pengalaman saya jadi supir angkot Kebon Kalapa - Dayeuhkolot dan Kalapa - Dago selama bertahun-tahun cukup berguna... :D Oh ya, karena cukup (sangat) bandel, saya yang sudah mulai menyetir sejak umur 15 tahun, walaupun tidak pernah punya mobil, cuma modal pinjam dan modal repotin teman saja).

Saya juga berhasil pergi ke pusat pertokoan Arizona Mills untuk mendapatkan sebuah telepon genggam dan nomor dari Verizon. Senang rasanya. Merasa terhubung dengan dunia luar.

Hari ini saya ditemani seorang teman Indonesia yang sudah tinggal di Tempe selama 5 tahun untuk mencari apartemen. Senang sekali, saya bisa mendapatkan apartemen 2 kamar dengan harga 60% dari harga sewa apartemen satu kamar di Los Angeles!

Nah, semuanya ternyata berjalan mulus. Tak ada kesemrawutan lagi.... Eh, eh, tunggu dulu!

Ternyata... tahu-tahu di ujung hari, saya baru sadar bahwa telepon genggam saya yang berusia sangat muda itu hilang. Kami mencoba menelusuri di mana saya kehilangan telepon tersebut. Tidak berhasil. Ya sudah, nomor saya blok. Saya berharap mudah-mudahan telepon tersebut ketinggalan di ruang kantor manajemen apartemen. Hari Senin mungkin sudah kembali jika itu kasusnya.

Sementara itu, saya juga harus kembali ke Los Angeles besok pagi. Karena ternyata saya harus mengambil stiker visa di Kanada (ceritanya panjang, lain kali saja cerita lengkapnya ya). Sehingga sekarang harus melamar visa Kanada dulu di Los Angeles. Jadi ya, saya juga baru pesan tiket Southwest kilat lagi dan harus pikir-pikir akan nginap di mana di LA.

Ya sudah, segitu dulu. Saya mau ngepak koper ya. Nanti kalau saya menulis lagi di MP kemungkinan besar saya sudah di Los Angeles. Di mana di Los Angeles? Entahlah.... kita lihat saja. Mungkin berkemah di pantai. Atau di rumah Arnold Suasanaseger. George Clooney juga barusan menawarkan rumah pantai dia untuk dipakai sementara, tapi saya ragu-ragu untuk menerimanya. Takut dipaksa main filem bareng. Mungkin lebih baik saya terima tawaran Keanu Reeves saja. Entahlah, ternyata susah jadi selebritis. Ada saran sebaiknya saya milih rumah seleb yang mana?

Sunday, August 06, 2006

Hari Tidur se-Dunia (Semrawut #3)

Ini lanjutan Semrawut #1 dan #2....

Hai lagi.... makasih untuk teman-teman yang sudah setia menemani saya makan tempe di lorong...:) Sekarang saya sudah pindah ke tempat ber-Internet yang lebih layak. Duduk di kursi putar, kaki selonjor, sambil menatap taman dan kolam renang.

Mau dengar kisah dua-puluh-empat-jam pertama saya di Tempe? Mau deh ya... mau dong. Kalau mau nanti saya traktir tempe goreng garing.

Saya sampai di bandara Phoenix sekitar jam 5:30 sore. Sempat hilang 1 bagasi yang isinya gitar (seperti yang sempat saya sampaikan di tulisan terdahulu), tapi akhirnya ditemukan juga. Ternyata sang gitar lupa dikeluarkan dari pesawat oleh petugas bandara. Jadi si gitar terbang dari Phoenix ke Birmingham dan terbang kembali ke Phoenix. Jauh amat ya.

Saya memesan tempat di Twin Palms Hotel dekat universitas, tapi ternyata sampai di sana Hotel-nya penuh jadi petugas hotel mentransfer saya ke hotel lain, Holiday Inn, dengan harga yang sama. Saya tak keberatan.

Sampai di Hotel ini, saking leganya saya lupa kalau saya cape banget dan sudah tidak tidur 3 malam (sebenarnya sempat tidur sih, tapi dikit.... paling2 total 6 jam selama 3 malam itu). Malah kemudian timbul keinginan untuk berenang. Sayangnya kolam belum dibersihkan. Lalu akhirnya saya memutuskan untuk makan malam di restoran-nya hotel. Sesudah itu saya iseng masuk ke ruang fitness dan exercise selama 35 menit.

Sekeluarnya dari ruang fitness saya merasa melayang-layang. Habis exercise terbitlah kegelapan! Saya cepat pergi ke kamar, rendaman di kamar mandi, terus ngga lama saya tidur. Mungkin jam 10 malam.

Kombinasi antara tidak tidur selama 3 malam dan exercise ternyata membuahkan hasil yang sepadan. Saya tidur pulas. Bangun-bangun jam 9 pagi dan karena saya pusing dan masih ngantuk, saya minum aspirin lalu tidur lagi.

Dalam tidur saya, saya mimpi berburu apartemen dengan teman-teman bloggers (dan MPers). Rame-rame, kita naik truk bak terbuka.... kayak domba garut...hehe. Tapi mimpi-nya monokrom alias ngga berwarna. Cuma semu-semu sepia....Dasar saya kalau motret memang suka sepia kali ya.

Tahu-tahu telepon berdering dan bangunlah saya. Jam di atas meja menunjukkan pukul setengah dua siang! Ya ampun!!! Saya sudah tidur lebih dari 12 jam!!! (hehe.. 12 + 3 jam ya)

Ternyata resepsionis menelepon saya karena khawatir terjadi apa-apa dengan saya. Housekeeper melaporkan bahwa saya tidak bangun-bangun dan tidak ada tanda-tanda kehidupan dari kamar saya!!! Alangkah perhatiannya sang housekeeper dan manajemen hotel!!

Untunglah, kekhawatiran mereka tidak beralasan. Walaupun masih sedikit pusing, saya baik-baik saja dan bisa mulai berburu apartemen/rumah.

Terimakasih ya teman-teman... sudah menemani saya berburu apartemen, walaupun "hanya" di dalam mimpi....:D

Saturday, August 05, 2006

Keputusan menit-menit terakhir (Semrawut #2 - lanjutan)

Hai teman-teman...... ini dia kisah lanjutannya. Buat yang belum baca tulisan ini: "Kesemrawutan hari-hari terakhir".... baca dulu deh. Soalnya ngga seru kalau ngga baca tulisan sebelumnya.

Nah, sekarang ini saya ber-Internet-ria sembari duduk di atas lantai, di sebuah lorong. Di mana coba? Bukan di lorong rumah sakit apalagi penjara. Hayo lorong apa coba?

Jadi kemarin dulu itu, setelah berbingung ria, saya sudah hampir mau pergi ke rumah orang yang menyewakan satu kamar di dalam rumahnya di pantai Santa Monica. Tapi saya berpikir, mau apa ya di situ? Berbagi rumah dengan seorang laki-laki tak dikenal (walaupun kayaknya sih cukup asik orangnya, seorang penulis), jauh kalau mau ke kantor, belum tentu ada Internet (berarti saya ngga bisa kerja), dan bayar pula deh.

Tahu-tahu dalam kebingungan saya buka komputer lagi (yang tadinya dah dimatiin) dan iseng mengklik link ke panduan pindah yang diberikan ASU (Arizona State University). Sebelumnya saya diberitahu oleh petugas administrasi di ASU bahwa biaya kepindahan bisa termasuk tempat tinggal sementara (hotel) selama seminggu. Tapi fasilitas ini akan saya gunakan nanti, seminggu sebelum kontrak saya dimulai. Ternyata keterangan petugas kurang lengkap. Di dalam keterangan resmi di link yang diberikan universitas ternyata saya juga boleh mengunakan fasilitas pindah ini untuk kunjungan pra-pindah (pre-move) yang panjangnya maksimum satu minggu yang biasanya digunakan untuk melihat-lihat rumah/apartemen. Hore!! Saya belum gunakan fasilitas pra-pindah..... jadi inilah kesempatan bagus untuk menggunakannya!! Saya langsung membeli tiket pesawat (online) dan memesan hotel online juga. Sepuluh menit saja, semua beres. Saya menelepon taksi kuning (Yellow Cab) dan melajulah dengan tenang ke bandara. Saya sepanjang jalan senyum2 sendiri.

Oh yah, saya dulu suka lihat di bandara Sukarno-Hatta orang-orang konsultan expat di Indonesia suka beli tiket pada hari keberangkatan. Mereka beli langsung di bandara. Saya pikir, kapan ya saya kayak gitu? Angan-angan yang cukup garing, emang.. hehe. Ternyata kejadian juga, beli tiket 3 jam sebelum berangkat.. sok amat ya? Tapi emang terbangnya pake Southwest.com sih dan last-minute ticket pun masih wajar harganya (lagian diganti sama universitas, kalau uang sendiri saya ngga bakal koq, bener deh).

Jadi akhirnya....walaupun sempat kehilangan salah satu bagasi (gitar kesayangan alias gitar pertamaku) dan sempat dipindahkan ke hotel lain...semuanya akhirnya berakhir dengan baik. Akhir bahagia, Happy ending dong.

Oh... balik ke soal lorong tadi...kurang seru sih, bukan lorong penjara (dah pernah sekali di penjara dah cukup hehe)... soalnya ini cuma lorong sebuah hotel di Tempe, Arizona. Abis wireless Internet-nya dalam kamar GSM banget sih.... geser sdikit mati! Tapi di lorong ini bisa dapat 3-4 sinyal kuat! Makanya aku nongkrong di sini.....:))

Ada yang mau ikut nongkrong? Atau ikut menikmati Tempe? Bukan tahu sih... tapi enak juga...:)

Thursday, August 03, 2006

Kesemrawutan hari-hari terakhir di LA (Semrawut #1)

Hari-hari terakhir di Los Angeles cukup semrawut. Rencana semula adalah tinggal di Los Angeles sampai tanggal 10-11 Agustus sebelum pindah ke Arizona karena keputusan imigrasi dijadwalkan keluar tanggal 3 atau 4 Agustus dan penyewa apartemen baru juga sudah memberikan ijin pada saya untuk tinggal di apartemen-nya (saya sebagai penyewa lama) sampai tanggal 7 Agustus. Sesudah 7 Agustus ada teman yang menawarkan apartemennya yang kosong di pantai Santa Monica (yang sebetulnya bisa dipakai sejak tanggal 4 malam atau tanggal 5 Agustus pagi). Jadi saya santai-santai saja. Tapi ternyata kenyataan yang terjadi jauh sekali dari rencana.

Berdasarkan negosiasi awal, penyewa baru akan mengambil barang-barang di apartemen (segala macam perlengkapan dan alat-alat rumah). Barang-barang berupa meja, kursi, sofa, TV, DVD player, dan lemari di lantai bawah akan saya berikan secara cuma-cuma dan barang-barang di lantai atas akan saya jual dengan "harga teman" asalkan saya boleh tinggal di tempat tsb seminggu setelah masa sewa habis. Saya bahkan menawarkan uang pengganti sewa selama seminggu. Penyewa baru mengiyakan.

Tahu-tahu, Jumat sore, tanggal 28 Juli 2006, sang penyewa datang bersama orang-tua-nya. Mereka memutuskan untuk tidak mengambil barang-barang milik saya, kecuali sofa, rak dan meja makan (itupun tanpa bayaran) dan meminta saya untuk mengosongkan apartemen sekaligus meminta maaf karena tidak bisa memberikan perpanjangan tinggal. Alasan kenapa tidak mau barang-barang saya adalah karena sang ibu sudah membelikan barang-barang baru untuk anaknya! Duh...., saya langsung panik. Permintaan maaf sih diterima, tapi mengosongkan apartemen dalam waktu 2 hari (tanggal 31 Juli harus keluar) dan sekaligus mengatur rencana untuk tempat tinggal selanjutnya adalah hal yang sangat berat. Belum lagi saya masih harus mengerjakan beberapa pekerjaan yang tersisa dari kantor dan mengejar tengat waktu untuk beberapa hal.

Untungnya, keputusan petisi dari imigrasi malah keluar 6 hari lebih awal dari jadwal semula. Jadi walaupun panik dan ribet, hati dan kepala saya terasa ringan. Sangat gembira mendapat kabar bagus tentang petisi visa O-1 saya. Jadi walaupun banyak pekerjaan, yang pasti semangat saya cukup tinggi.

Sejak malam Jumat tanggal 28, saya sibuk beres-beres (packing) dan langsung mencari cara untuk mengosongkan apartemen. Saya rela untuk memberikan semua barang secara cuma-cuma pada yayasan-yayasan sosial, tapi nyata-nya mereka tidak bisa menjemput dan mengambil barang sembarangan. Mereka memiliki jadwal jemput (pick-up schedule) tertentu yang tak bisa diganggu gugat. Dapat dimaklumi, mengambil barang-barang besar seperti kasur, sofa, dll, membutuhkan truk pengangkut dan tenaga kerja yang tak murah. Jadi mereka harus mengatur untuk menjemput beberapa rumah sekalian dalam satu hari.

Akhirnya saya putuskan untuk mengiklankan di craigslist. Sejak Jumat malam sampai Minggu malam, saya mengiklankan barang-barang sampai lebih dari 20 kali. Dari beberapa iklan moving sales/garage sales, sampai iklan-iklan individual per barang, bahkan yang terakhir adalah iklan putus asa (yang bunyinya, "Please, I desperately want to get rid from my matress.... etc..). Alhamdulilah, rumah saya diserbu orang-orang. Alhasil Senin malam rumah sudah cukup kosong. Dan ternyata sang tuan-tanah memberi saya kemurahan untuk tinggal 1 malam lagi, jadi saya bisa keluar Selasa, tanggal 1 Agustus. Selasa pagi, rumah saya benar-benar kosong. Asli barang-barang tersebut saya jual dengan murah sekali, hampir gratis! Saya juga berhasil mengepak barang-barang. Hari Senin sore, petugas UPS datang, dan melayanglah 11 dus barang2 saya dari Los Angeles ke Tempe Arizona. Terimakasih untuk seorang temanku yang bantuin berburu dus dan juga menghibur dengan makan pempek bareng di saat-saat heboh-hebohnya ngepak (sayang temanku ini rumahnya jauh banget dari USC).

Setelah kosong, tiba saatnya untuk keluar (sudah diusir) dari apartemen itu dan memutuskan kemana saya akan pergi. Karena tidak sempat merencanakan, cukup sulit memutuskan akan kemana. Teman-teman saya (di Los Angeles saya bergaul cuma dengan teman2 kantor) sedang liburan musim panas, jadi tidak bisa dihubungi satupun kecuali satu orang yang memang sudah bersedia meminjamkan apartemennya terhitung tanggal 5 Agustus. Harga hotel di Los Angeles, bahkan untuk yang murah-meriah sekalipun, tetap terhitung mahal. Saya akhirnya menemukan di craigslist sebuah kamar di dalam rumah di Santa Monica yang menyewakan dengan hanya $37/day. Itu yang termurah yang saya bisa dapat. Saya menelepon sang pemilik, dan berdasarkan wawancara pendek (siapa saya, apa pekerjaan saya, kenapa, bagaimana), orang tersebut menerima saya untuk menjadi tamu-nya.

Tapi terus saya bingung, apa saya benar-benar mau ke tempat itu. Agak malas untuk tidur di rumah orang yang saya tidak kenal. Cowok pula. Tapi masalah utama sih karena katanya koneksi Internet di rumahnya tidak terjamin. Saya mungkin bisa mendapat signal dari wireless tetangga, tapi tidak dijamin. Lagian tempatnya ini jauh sekali dari kantor. Kalau ada apa-apa harus naik taksi... mahal... kalau naik bis, bisa-bisa 2 jam dihabiskan di jalan. Waaaaakkkkk..

Mau tidur di hotel terdekat....(atau di hotel manapun di LA)... mahal bo! Bisa 100 dollar per malam dengan semena-mena!

Terpikir juga bawa bantal dan menggelar tikar di kantor... hehe. Kantor saya cukup nyaman lho untuk tidur dan ada Internet akses!. Tapi masalahnya kantor sedang direnovasi dari tanggal 1 sampai 15 Agustus! Duh, koq kebetulan amat sih????!?!?!!!!!?

Atau saya bisa coba cari pengalaman menjadi homeless selama beberapa hari... terus Internetnya bisa nyambung dari koneksi kampus USC. Hihihi...

Saya juga terpikir untuk terbang saja ke Boston, mengikuti konferensi Wikimania, sekaligus ketemu teman dekat dari Singapura yang kebetulan datang ke Boston untuk konferensi tsb. Karena saja masih ada jatah bepergian dari kantor yang belum saya pakai. Tapi masalahnya saya cape sekali, hampir tidak tidur sama sekali 3 malam. Dan saya terlalu cape untuk terbang selama 10 jam (tak ada yang langsung, yang langsung sudah pada habis) dan ikut konferensi 3 hari penuh.

Atau langsung saja cabut ke Arizona? Tapi masalahnya minggu ini pejabat2 kampus masih belum ada di tempat (baru minggu depan mereka ada) dan saya harus ada di Los Angeles lagi hari Senin depan.

Saya tambah bingung..... mau kemana ya saya? Apa keputusan saya? Tunggu di tulisan saya berikutnya.

Saturday, July 29, 2006

Visa & Imigrasi (5): Hore.. hore!!

Teman-teman...... ternyata jawaban keputusan petisi sudah keluar hari ini! Hasilnya, pihak imigrasi Amerika Serikat ternyata sepakat bahwa saya ini memang mahluk asing dan juga tidak normal dan berhak mendapatkan visa O-1.

Dengan demikian, terhitung tgl 17 Agustus 1945.. eh 2006, saya sudah menjadi mahluk asing
tidak normal yang legal di Amerika....

Dengan begitu teman2 saya undang untuk makan-makan..... Yuk, makan2 yuk..... Mari makan2 sambil menyanyi.... I'm an alien... I am a legal alien....

Terimakasih ya untuk teman2 yang sudah mengirimkan dukungan, doa, komentar, jampi2, sesajen, karangan bunga dan cindera mata... :p

Wednesday, July 26, 2006

Panas, Lenteng Agung dan tank-top

Ternyata LA Los Angeles hari-hari ini tak beda panasnya dengan LA lainnya, Lenteng Agung. Tiga hari berturut-turut, Sabtu, Minggu dan Senin kemarin, temperatur di LA terhitung sangat tinggi, bahkan termasuk tertinggi dalam sejarah. Temperatur kemarin mencapai sekitar 98F dan dengan kelembaban yang cukup tinggi, temperatur yang terasa adalah sekitar 104-105F. Sebagai mojang priangan alias cewe Bandung coret alias Miss Dayeuh, jelas saya tidak terbiasa dengan udara sepanas itu. Untunglah hari ini temperatur mulai turun. Sore ini "cuma" 85F.

Karena di rumah tak ada AC, hari-hari panas cukup membuat saya sengsara. Air Condition tidak ada, Angin Cepoi-cepoi kurang, boro2 ada Angin Celebug. Alhasil saya berselonjor di rumah dengan 3 kipas angin besar (2 di lantai atas, 1 di lantai bawah) yang membuat saya serasa berada di pantai. Terimakasih untuk biang kerok yang sudah menyediakan kipas-kipas tersebut. Eh.. apa sih bahasa Indonesia-nya landlord? Biang keladi? Oh, induk semang.... ya, maaf.

Walaupun panasnya mirip, yang membedakan Lenteng Agung dengan Los Angeles adalah
kebebasan. Kalau di LA yang satu saya ngga bisa berpakaian super minim (takut didemo), nah di sini bisa. Kalau di dalam rumah malah bisa cuek2an ngga pake apa2. Well, di Lenteng Agung juga bisa kali ya, cuma ya repot banyak nyamuk.

Teman dekat saya bilang (dia cowo), "Mau telanjang keluar rumah juga ngga papa di sini, kalau laki-laki mungkin bisa dilaporkan ke polisi, tapi kalau perempuan sih silakan saja." Dasar!

Satu hal lain yang membedakan, kalau di Indonesia/Lenteng Agung, biar kata hari panas banget, saya ngga mungkin ke kantor pake celana pendek dan tank-top atau pake baju pantai. Bisa disetrap pak hansip. Tapi di sini, ya cuek-cuek aja, kayak saya hari ini... kemarin... dan hari2 lalu.... dan bulan2 lalu...:)

Ya, emang beda tempat beda kebiasaan. Lain ladang lain belalang (masa sih?), lain lubuk lain ikannya. Lain kota lain tank-top-nye....:))

Thursday, July 20, 2006

Visa & Imigrasi (4): Petisiku sudah dimasukkan

Hari Rabu kemarin sepucuk email tiba di kotak suratku. Surat itu dikirimkan oleh sang pengacara kepada para pejabat universitas. Begini isinya:

:::

Dear all,

I would like to let you know that we were able to file Merlyna's O-1 petition today. The process has been very smooth, in large part due to Merlyna's amazing assistance. Now that the petition has been filed, we will receive an answer from U.S. Customs and Immigration Services within the next 15 calendar days. We will update you as soon as we have any news. Thank you all for your help and please do not hesitate to contact me should you have any questions.

Best regards,

Rxxxxx Jxxxxxxxx

:::

Jadi, kita tunggu tanggal mainnya ya. Limabelas hari lagi dari hari H, kawan-kawan... (berarti sekitar tanggal 3 Agustus). Semoga bisa mendapatkan kabar gembira! Nanti kita makan-makan syukuran deh kalau berhasil..... :)

Sunday, July 16, 2006

Visa & Imigrasi..........dan Miss Indonesia!

Walaupun bukan blog akademis, dulu-dulu blog/website saya si Merlyna.Org itu saya anggap pantas dilihat siapa saja. Ya isinya dan komentar2nya aman-aman saja. Jadi saya cantumkan URL blog/website tersebut di CV saya. Lagian ada beberapa lowongan2 kerja tenure-track assistant professor (bidang komunikasi digital/media) yang meminta pelamar mencantumkan alamat URL website pribadi. Dari website itu pula, pengacara saya mempelajari tentang saya, mendownload tulisan2 saya, dll, supaya dia bisa menulis petisi yang pas untuk saya.

Nah, CV standard itu saya pakai untuk petisi visa O-1 yang akan diajukan ke USCIS (United States Citizen and Immigration Services) hari Jumat ini.

Kemarin pagi, tahu-tahu saya panik, karena sadar si Merlyna.Org itu sudah penuh dengan kehebohan Miss-Indonesia-Says-Indonesia-is-a-City, Wah, gimana kalau USCIS baca blog saya?

Saya langsung buru-buru berkata pada pengacara saya.. "Btw, one silly question, will you submit my full CV with the petition? If so, would you please take off my personal homepage from the CV? Uhm... It's just my...writing-for-fun....:) Don't want to it to be read by USCIS..hehe."

Respon dia: "Hahahahahahaha!!!.......... OK, no problem.

Waduh, reaksinya!!!....dia pasti sudah baca posting si Siti itu...!$!#$@%!

Visa & Imigrasi (3): Why I love Schiphol

Seperti yang saya ungkapkan di Visa & Imigrasi bag 1, saya punya banyak sekali kisah seputar daerah perbatasan. Baik suka maupun duka. Saking seringnya berpergian, saya sudah cukup ahli dalam menghadapi berbagai petugas. Kecuali di Turki, saya selalu bisa menghindari masalah di meja imigrasi. Bahkan ada juga beberapa pengalaman yang katanya mustahil malah terjadi pada saya. Salah satunya adalah pengalaman memasuki Belanda (negara Schengen) tanpa visa.

Ceritanya begini.....

Bulan September 2005, sesudah sidang tesis, saya terbang meninggalkan Belanda menuju Bahrain. Dari Bahrain saya melakukan perjalanan menuju Los Angeles via Schipol, Belanda. Karena 2 koper besar saya tinggal di Belanda (tidak bisa dibawa ke Bahrain karena jatah cuma 20kg sementara ke Amerika kan bisa 2 x 70lbs), saya harus keluar dari airport untuk mengambil koper. Lagian saya transit lebih dari 10 jam, jadi kan malas kalau cuma nangkring di dalam. Tapi masalahnya, saya tidak punya visa dan ID Belanda (verblijf) saya sudah kadaluarsa. Saya sebetulnya berusaha mendapatkan stiker return visa dari kantor imigrasi Belanda. Tapi, sewaktu saya berusaha membuat perjanjian lewat telepon, malah dibilang kalau saya tidak bisa mendapatkannya. Katanya, ada yang membatalkan aplikasi ID saya lewat telepon. Ajaib sekali. Masa ada orang yang tahu-tahu membatalkan aplikasi saya sih? Malah dibilang katanya saya sendiri yang batalkan. Gimana siiiih.. lha saya ngga pernah batalkan.. Tapi ya sudah, tak bisa berdebat dengan orang imigrasi lewat telepon. Lagian saya tidak punya banyak waktu untuk mengurus. Jadi saya tinggalkan Belanda begitu saja.

Orang-orang di departemen, profesor saya, beberapa teman terutama orang2 Belanda menyarankan saya untuk tidak berusaha keluar airport, karena tidak memiliki surat apapun. Cukup masuk akal. Resiko-nya kan di-deportasi. Mereka bilang, koper bisa saja diposkan ke Los Angeles. Tapi saya betul2 pingin bawa koper2 tersebut ke Amerika. Lagian jatah penggantian ongkos shipping saya sudah habis.

Setelah berpikir berulang kali, saya memutuskan untuk mencoba saja masuk. Mungkin saya bisa menjelaskan bahwa ada kesalahan dalam aplikasi ID Belanda saya sehingga saya tidak dapat return visa dan bahwa saya pernah tinggal di Belanda, dll, dll, dll.

Pesawat dari Bahrain tiba di Schiphol jam 6 pagi waktu Belanda. Saya, menenteng koper kecil carry-on, langsung berjalan menuju meja imigrasi. Saya merencanakan untuk berterus terang kepada petugas tentang ketiadaan dokumen. Namun saya melihat sebuah kejadian yang membuat saya mengurungkan niat saya tersebut. Di depan saya ada seorang perempuan berwajah Asia mengalami masalah karena dokumen2nya tidak lengkap, walaupun perempuan ini sepertinya sudah memiliki dokumen tertentu. Melihat hal itu, jantung saya langsung berdebar-debar. Saya hampir memutuskan untuk tidak berusaha keluar. Lagian saya sudah bertekad untuk masuk Belanda. Lha wong mustinya saya ini berhak masuk, cuma karena ketidakprofesionalan pihak Imigrasi saja toh saya tidak bisa masuk.

Nah, saya penasaran ingin coba masuk. Saya lalu menenangkan diri. Dan tiba-tiba sisi nekad saya muncul. Saya langsung pasang wajah kalem dan tenang. Saya keluarkan ID saya yang kadaluarsa dan memegang ID tersebut di tangan kanan sementara tangan kiri memegang passport. Begitu giliran saya tiba, saya taruh passport saya di atas meja petugas imigrasi dengan tangan kiri sementara tangan kanan saya menunjukkan ID. Saya tersenyum kepada sang petugas, seorang lelaki muda yang cukup gagah, sambil berkata, "Goede morgen. How are you doing today, Sir?" Si petugas tersebut membalas, "Goede morgen." Dia memandang wajah saya, tersenyum, mengecek passport saya sebentar dan kemudian sekilas melihat ID saya yang masih saya pegang. Hanya beberapa detik saja. Dia malah tidak memegang atau mengecek ID saya sama sekali. Boro-boro melihat tanggal expire-nya. Lalu dia meneruskan pembicaraan, "I am fine. How about you, young lady?" "I am great! Thanks!" sahut saya. Dia tersenyum lebar dan berkata, "That's great." Kemudian si petugas langsung membubuhkan stempel di passport saya, mengembalikan passport dan berbicang-bincang sedikit tentang saya. Dia bertanya tentang sekolah saya, kota asal saya, status, hobby, dll. Biasanya saya tidak menikmati bicara terlalu banyak di imigrasi, tapi kali ini saya layani saja. Kemudian pembicaran dia akhiri, "OK, all is set! Enjoy your stay in the Netherlands! It's really nice talking to you."

"Thank you so much.... Nice talking to you too, Sir, " saya tersenyum. Senyuman saya bukan untuk si petugas tapi untuk diri saya sendiri. Senyum kemenangan! Saya baru saja memasuki Belanda tanpa sepotong dokumen-pun yang masih berlaku. Hahaha....hohoho.... hehehe...

catatan: jangan meniru cara-cara ini dengan semena-mena. cara-cara ini bisa membahayakan diri anda, terutama bila dilakukan tanpa bekal latihan dan kenekadan yang cukup :D

Thursday, July 13, 2006

Mer's Bytes of Bites Tewas

Temen-temen, sekedar pemberitahuan, si Mer's Bytes of Bites sedang koma alias down karena kehabisan bandwidth.

Beberapa hari ini memang tamu-tamu yang diharapkan dan tidak diharapkan beramai-ramai mengunjungi blog saya yang satu itu, terutama melalui posting yang berjudul Miss Indonesia Says Indonesia is a City. Alhasil, trafik naik lebih dari 100 kali lipat dan terbunuhlah si blog itu.

Di blog tersebut, saya sekedar beropini dan menyediakan ruang untuk beropini. Walaupun akhirnya banyak opini yang keterlaluan sih. Ya, apa daya, begitulah ruang publik. Tidak selalu sopan dan beradab.

Begitulah pengumuman saya. Belum sempat saya apa-apakan blog tersebut, karena saya ngantuk, sudah hampir subuh.

Salam hangat untuk semuanya.
Selamat berjuang untuk Miss Indonesia.

m

UPDATE:
Atas kemurahan hati bang Gerry dari 101sitehostigcom, blog tersebut sudah aktif kembali sejak tanggal 13 Juli 2006, pukul 9:16 WIC.

Tuesday, July 11, 2006

Miss Indonesia bilang "Indonesia is......"

Malam ini temen dari Walanda ngasih sebuah link yang bikin aku cukup kaget. Karena konteks-nya adalah bahasa Inggris, aku posting komentar di blog satunya ya. Silakan menikmati.

Thursday, July 06, 2006

Kencan dengan polisi LA

Tanggal 4 Juli kemarin adalah hari libur besar di Amerika Serikat. Hari kemerdekaan Amerika yang ke 23, eh, salah itu sih umur saya :P.... maksudnya 230. Hari itu juga adalah hari piknik bagi keluarga2 Amerika. Mereka biasanya piknik di taman publik atau di pantai. Ada juga yang nekad piknik di lapangan parkir! Kasian banget yeee...

Malamnya, dimana-mana ada perayaan firework, alias kerjaan api.. hehe. Kembang api dinyalakan di mana-mana. Nah, malam kemarin itu saya juga ikutan rame-rame nonton kembang api. Sekitar jam 8:50 malam saya bergegas naik sepeda menuju Colloseum. Katanya jam 9 pesta kembang api bakal digelar di situ, sekitar 9 blok dari rumah saya.

Pas udah dekat, karena gelap, saya agak bingung, di mana sebenernya orang-orang bakal ngumpul. Saya lihat aja ke langit. Langit udah mulai dipenuhi mencrang-mencrongnya kembang api. Ternyata sebelum jam 9 pesta sudah dimulai. Saya mengayuh sepeda semakin kencang menuju arah suara ledakan dan mengikuti petunjuk gemerlap kembang api di langit. Semangat sekali mau mendekat ke Colloseum.

Saking semangatnya, saya tidak lihat2 sekitar. Lagian lampu2 dimatikan, jadi gelap sekali.
Tahu-tahu, lagi semangatnya mengayuh sepeda, terdengar orang ngomong, "Back off, back off!". Saya longok-longok kiri-kanan-depan-belakang. Siapa nih yang ngomong? Terus kedengar lagi, "Back off, back off!". Saya tetap mengayuh dengan santai. Lha orangnya ngga kelihatan. Lagian back-up ngapain? Oh back off ya.... Eh, terus ada suara lagi, kedengeran kayak suara dari toa, "Hey, you, back off!"

Tahu-tahu ada cahaya menerangi saya. Ternyata mobil polisi berhenti di depan saya. Terus saya tetep cuek. Dalam hati,"Ada apa sih nih polisi, paling-paling patroli!". Saya malah membelokkan sepeda mengambil jalan di samping mobil polisi. Eh, tahu-tahu satu polisi keluar dari mobil dan pake toa ngomong, "You, on the bike...." Nah, baru ngeh, ternyata dia manggil saya. Saya terus berhenti. Dia bilang, "You're not allowed to be here." Saya bilang, "Oh, really? But.. OK, I'll leave", dan langsung naek sepeda lagi meneruskan perjalanan. Eh, polisi bilang, "Oh, no, you should turn the other way around." Terus saya bilang, "But where? I want to see fireworks." Polisi kelihatan bingung, terus dia tunjuk ke sebrang jalan, "How about there?". Baru mataku terbuka, ternyata ratusan orang ngumpul di lapangan seberang jalan. Koq tadi ngga keliatan ya? Pura-pura bodoh, saya menyahut, "Ooooh, right! Thanks, I'll go there!". Saya kembali naik sepeda dan nyebrang jalan. Polisi geleng-geleng dan ratusan mata mengikuti gerak sepedaku mendekat ke arah mereka. Mungkin mereka pikir ini cewe buta ngga bisa liat orang ngumpul di sebrang jalan.... tapi koq bisa naek sepeda ya?

Ngga tau ah.... gelap... Emang gelap kog!

Monday, July 03, 2006

Siapa yang lebih popular?

Mau tahu siapa yang lebih popular? George Bush atau Britney Spears? SBY atau Inul?
Silakan lihat hasil keisengan saya di sini.

Monday, June 19, 2006

Visa & Imigrasi (2): Pengacara

Urusan visa & imigrasi telah jadi santapan saya sehari-hari sejak 2 bulan lalu dan kelihatannya masih akan jadi urusan sampai 1-2 bulan mendatang.

Menurut kawan-kawan, ada beberapa tindakan, perbuatan ataupun kenekadan yang bisa jadi jalan pintas untuk saya dapat ijin kerja di Amerika. Daftar-nya panjang juga. Dari bikin greencard palsu atau passport palsu sampai kawin sama salah satu aktor Hollywood. Sayangnya, setelah dipelajari, ternyata pilihan2 ini tidaklah memungkinkan. Dokumen2 Merlyna Lim udah kadung terdaftar di Immigration & Naturalization Services sebagai orang Dayeuh.. eh Indonesia. Dan ternyata, kawin sama warga negara Amerika juga secara legal ternyata ngga membantu. Sayang sekali saudara-saudara! Tak ada jalan pintas!

Satu-satunya cara yang bisa saya tempuh untuk mendapatkan petisi dan kemudian dapat dipakai untuk bikin visa kerja adalah punya anak! Tapi tentunya tidak bisa dilakukan secara kilat. Butuh 9 bulan untuk mengandung dan nanti harus bikin petisi "hardship" (terlalu berat bagi sang anak jika dipisahkan dari ibunya) yang bakal makan waktu sekitar 10-12 bulan. Alhasil, kerjaan keburu kelaut baru dapat itu petisi. Ini sih bukan jalan pintas jadinya, malah jalan berliku-liku.

Ok. Jadi saya lupakan lah semua ide-ide itu. Walaupun jalan penuh onak duri, tapi jalan ini memberikan secercah harapan.... ceileh. Ada satu visa yang masih bisa dikejar, si visa ajaib, alias O-1. Seandainya saya Nobel Prize winner, ini visa akan gampang di dapat. Karena visa ini tadinya emang dibuat untuk Nobel prize winner. Tapi saya mungkin baru bisa dapat Nobel Prize Winner sekitar 20-30 tahun lagi, itupun kalo kategori "Dangdut untuk perdamaian" diadakan. Jadi ya sangat sulit. Dulu, sebelum tahun 2001, visa ini agak mudah mendapatkannya. Tapi sejak 9-11 menjadi sulit dan tambah sulit lagi di term kedua kepemimpinan Bush (ini menurut pengacara saya lho). Saat ini saya sudah menyiapkan dokumen2 untuk petisi yang sampai saat ini sudah mencapai sekitar 130 halaman. More to go! Semangat.. semangat!

Tapi ada satu yang bikin saya senang dalam semua proses ini. Satu mimpi saya tercapai! Karena keseringan nonton TV, dari kecil saya suka memimpikan untuk punya pengacara! Kayaknya keren gitu. Bisa ngomong, "My lawyer says...." Nah, kali ini saya dapat 2 pengacara plus 1 asisten pengacara!!!

Kemarin saya telepon ibu di Bandung.... saya bilang, "Mamah.... Mer boga pangacara! Hebring teu mah? Kayak di pilem-pilem tea!!!" Ibu saya terkagum-kagum. Ibu berkomentar, "Wah, hebat geuning anak mamah. Neng geulis ti Dayeuhkolot gaduh pengacara!" :D Wah, hari ini kayaknya Ibu saya lagi keliling pasar Dayeuh dan kasih tahu semua tetangga tentang kabar ini... Huahahaha...

OK deh, benernya bisa aja dapat pengacara gara2 maling ayam. Jadi keren-nya sebenernya dimana? Tapi bodo amat...

Anyway....
The point is......yeah.... I got a lawyer, babe!
That's hebriiiiiiing.... hoaoiohoieoouioua....

Thursday, June 15, 2006

ITB........ duh

Orang2 ITB itu banyak yang bangga sekali akan almamater-nya. Biasanya ITB suka disebut sebagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Mahasiswa-mahasiswa ITB tahun pertama waktu masuk disambut dengan spanduk besar bertuliskan, "Selamat datang putra-putri terbaik bangsa". Narsis amat ya? Nah, begitulah orang ITB, suka pede berlebihan.

Orang/mahasiswa ITB juga selalu berasumsi bahwa semua orang di Indonesia tahu bahwa ITB itu paling hebat. Sudah biasa sih, begitu ditanya di jalan atau di angkot atau di mall, "Adik kuliahnya dimana ya?" Kalau jawab, "ITB", biasanya si penanya langsung berkomentar, "Oh, hebat ya, pinter sekali, bisa diterima di ITB!". Makanya anak-anak ITB cenderung arogan.

Nah, cerita saya baru akan dimulai di sini. Ceritanya begini. Adik saya yang laki-laki tidak diterima di ITB. Terus tahun berikutnya dia UMPTN lagi dan akhirnya masuk IKIP alias UPI Bandung. Di tahun ke-4 dia wajib ikut KKN (Kuliah Kerja Nyata). Dia kebagian KKN di desa kecil, kalo ngga salah dekat Garut atau dimana gitu. Di desa itu, dia dan kawan2 lain dari IKIP dan universitas-universitas lain dikagumi oleh penduduk desa.

Suatu hari, adik saya dan teman KKN-nya yg berasal dari ITB terlibat dalam sebuah percakapan dengan seorang ibu penduduk desa dalam bahasa Sunda.

Ibu (I): Cep, upami encep teh ti Bandung?
Adik ini asalnya dari Bandung?

Adikku (A): Muhun, Bu.
Betul, Bu.
I: Kuliahna di mana, Cep?
A: IKIP, Bu.
I: Oh, sae pisan IKIP mah, Cep.
Wah, IKIP sih bagus sekali.

Kemudian Ibu bertanya kepada teman yang dari ITB

I: Upami encep ieu ti mana? Sami-sami ti Bandung?
Kalau adik ini dari mana? Sama-sama dari Bandung?
Teman (T): Muhun, Bu.
Betul, Bu.
I: Ari encep kuliahna di mana? sami-sami di IKIP?
Adik kuliahnya di mana? Sama-sama di IKIP juga?
T: Sanes bu, abdi mah ti ITB
Bukan, saya sih dari ITB
I: Euleuh-euleuh... karunya teuing....teu katampi di IKIP, nya....
.....silakan yang ini terjemahkan sendiri.... (non Sundanese speakers, hayo tebak.. apa kata si Ibu?):P

Adikku mesem-mesem. Anak ITB #@$*&%$#@!???

p.s. saya anak ITB juga lho.

Thursday, June 08, 2006

Surat dari selebriti

Sejak tinggal di Los Angeles, saya jadi suka dapat surat dari salah seorang selebritis. Bukan selebriti gadungan lho, tapi selebriti beneran. Binatang pelem yang dah membintangi lebih dari 40 pilem. Ngga percaya? Percaya dong deh...

Tebak siapa selebriti-nya? Sebenernya doi bukan bintang favorit saya, soalnya ngomongnya kayak robot dan badan-nya kegedean. Akting apapun jadinya robot. Tapi ya sud lah.

Hehe, ketebak kayaknya. Iya, si Terminator alias Arnold Schwarzenegger. Surat-surat resmi semacam surat pengantar untuk Kartu Penduduk datangnya dari "The Office of Arnold Schwarzenegger" dan ditandatangani oleh Bapak Governator ini. Maklum doi gubernur sih. Sayang saya ngga bisa milih untuk dapat surat yang dari seleb lain. Kalau boleh milih sih mendingan dapat surat dari Brad Pitt atawa George Clooney deh :D

Omong-omong soal pak Governator, hari-hari ini, televisi penuh dengan kampanye2-nya Steve Westly dan Phil Angelides, 2 tokoh yang berebut kursi calon gubernur California dari partai Demokrat. Yang menang bakalan menantang calon dari partai Republik yang juga adalah gubernur yang sekarang, sang Terminator. Sebagai warganegara Indonesia, saya ngga terlalu peduli dengan pemilihan ini. Walaupun diam-diam saya mengharapkan Demokrat menang... Hehe.. maapin aye ya Bang Arnold!

Tuesday, June 06, 2006

Visa dan imigrasi (1)

Entah kenapa, saya langganan banget berurusan dengan pihak imigrasi.

Di paspor saya yang terdahulu (yang bikin di Indonesia), nama saya bermasalah, pihak imigrasi (Bandung) tidak mau mencantumkan nama asli saya "Merlyna Lim" dengan alasan Lim harus diganti. Alhasil paspor tsb selalu bikin saya "berpidato" dulu di meja imigrasi dimanapun.

Lalu waktu di Belanda dulu, karena ada kesalahpahaman, saya diancam dideportasi (dan saya tidak ada pilihan, akhirnya cabut meninggalkan Belanda). Salah satu alasan kenapa selama studi PhD saya di Belanda saya akhir cuma stay 2 tahun saja (itupun setiap stay paling panjang cuma 5 bulan).

Lalu di Turki malah masuk penjara dan dideportasi pula. Sampai sempat bergaul dengan para "Natasha" dari Moldova dan Rusia di penjara airport Istanbul.

Di Belanda kemudian bermasalah imigrasi lagi sampai saya baru tercatat sebagai mahasiswa PhD resmi tanggal 1 Desember 2004 (padahal lulus 1 September 2005, lho koq bisa?).

Sejauh ini saya tidak bermasalah memasuki Amerika. Tapi sekarang, dengan mendapatkan posisi tenure-track, langsung masalah imigrasi bermunculan. Saya tidak bisa mendapatkan H-1B (ijin kerja biasa) dan harus berusaha mendapatkan O-1 (visa outstanding professor/researcher) yang notabene sulit didapatkan untuk recent PhDs (begitu menurut kantor pengacara).

Jadi sekarang saya sedang sibuk dan pusing mengurus banyak sekali dokumen yang musti disiapkan (bisa 1 disertasi sendiri nih). Masih beruntung, universitas saya bersedia membayar pengacara untuk mengurus. Jadi, mudah2an berhasil. Semoga.

Tuesday, May 30, 2006

INFORMASI GEMPA JOGJA

Berikut ini adalah kompilasi pelbagai informasi, baik tentang korban/situasi, juga untuk memberikan bantuan (berupa barang/uang).

Silakan disebarkan kepada pihak yang memerlukan.

salam & terimakasih,
mer

nb 1. data ini akan diupdate terus.
nb 2. untuk yang berada di luar negeri, kompilasi dari ttg "how to help" bisa didapatkan di sini "Indonesian Earthquake: How to Help".

INFORMASI KONTAK u/ BANTUAN:

Berupa Uang

DONATION FOR YOGYAKARTA EARTH QUAKE
INDONESIAN RED CROSS (Palang Merah Indonesia)
Acct No : 070-008-901-2012
Bank : PMI Bank Mandiri Wisma Baja

Hotline Sumbangan AnTV on-air
Telpon: 021-522-9417, 522-9418
atau
Bank Mandiri Casablanca
No. Rekening: 123.009.601.0906

Dompet Kemanusiaan Yogya dan Jateng, Metro TV
- Bank Mandiri
No. Rekening: 101.000.2777.777
Nama Account: PT MEDIA TELEVISI INDONESIA

- Bank BCA
No. Rekening: 288.301.5959
Nama Account: PT MEDIA TELEVISI INDONESIA

Dompet Amal TransTV
- Bank BCA
No. Rekening: 766.012.1000
- Bank Mandiri
No. Rekening: 070.002.222.2223
- Bank BNI
No. Rekening: 001.358.1150
- Bank Mega
No. Rekening: 01.901.00.111.111.10

'Kita Peduli'-Indosiar
- Bank BCA Cab. Asemka
No. Rekening: 001.304.0009

Pundi Amal SCTV
- Bank BCA Wisma Asia
No. Rekening: 084.266.2000

Yayasan AirPutih
- Bank Mandiri Cab. Graha Irama
No. Rekening: 124.000.439.9482
Nama Account: Yayasan AirPutih

Jaringan Relawan Kemanusiaan Posko Bantul
Rumah Bapak Sumardi
Desa Bakalan, Cepit, Kelurahan Pendowoharjo, Kec Sewon, Jalan Raya
Bantul Km 9,2, Bantul. CP: Isnu 0816 787 635

Jaringan Relawan Kemanusiaan
BCA Matraman No Rek342.2575.755 a/n Sandyawan Sumardi atau Santi
Ermawati
Posko SOS Gempa: Pusat Pelayanan Krisis dan Rekonsiliasi KWI-Jalan
Cut Meutia No 10, Jakarta Pusat.
Kontak: Romo Beni Susetyo 0817 140021

Yayasan LAZ Portalinfaq http://www.portalinfaq.org (Kode : Portal)
Jl. Radio IV No. 8A Kebayoran Baru Jaksel
untuk dana ke rekening :
- Bank Syariah Mandiri Cab. Warung Buncit No.Rek.0030035790
- Bank Mandiri Cab. Kuningan No.Rek.124-0001079798
- BCA Cab. Arteri Pondok Indah No.Rek.291-300-5244
Semua atas nama Yayasan Portalinfaq

AKSI CEPAT TANGGAP http://www.aksicepattanggap.com (Kode : ACT)
- BCA No. 676.030.2021
- BSM No. 101.000.1114
- Bank Mandiri No. 128.000.459.3338
- BMI No. 304.002.3015
- BNI Syari’ah No. 009.611.0239

PKPU http://www.pkpu.or.id (Kode : PKPU)
- Bank Negara Indonesia (BNI) Tebet No. Rek. 117.85.951 (Rekening Dollar - SWIFT CODE = BNI NI DJA TEB)
- Bank Syariah Mandiri (BSM) Mampang No. Rek. 003.000.6216
- Bank Mandiri (BM) Pasar Minggu No. Rek. 126.000.1005.114
- Bank Muamalat Indonesia (BMI) Sudirman No. Rek. 301.00354.15
- Bank Central Asia (BCA) Soepomo No. Rek. 600.034.7777
- Bank Negara Indonesia (BNI) Tebet No. Rek. 117.85.917
Semua atas nama PKPU
Semua atas nama Aksi Cepat Tanggap

Posko UGM Peduli Bulaksumur A-11,Yogyakarta 55281, call center 0274-
5888688, Rek Bank Mandiri KK UGM R/C No 1370000006995 an UGM Peduli
Gempa DIY Koord Prof Dwiyanto Sofian.

Badan Eksekutif Mahasiswa - Keluarga Mahasiswa (BEM-KM) UGM,
Gelanggang Mahasiswa UGM, Bulaksumur, Rek Bank BNI Syariah Yogya,
No.9621380-3, an.Ira Amelia Atmanegara. Koordinator:Agung/Ka.BEM UGM,
No Hp 081316374711.

Posko KAMMI Peduli Bencana, Alamat: Masjid Mardhiyah UGM (Selatan
RSUP.Dr.Sardjito), Rek 9011314299,an.Junaindra.Contact Person Rizal,
HP.081328878043.

Posko UKM Univ. Atmajaya, Gedung Pusgiwa, Jl.Babarsari, 43
Yogyakarta. Rek.BNI Cab.Yogyakarta,No.96176358 a/n Susilo Tri
Prasetyo, Koordinator: P Susilo Tri Prasetyo,HP.085643200102

Tim Kerja Masyarakat Peduli Bencana Yogyakarta di Jakarta dengan
Komandan Operasi Rahman Toha [0818475777] ketua BEM UGM periode 2001-
2002, atau Maryadi (081383832021).

Yayasan Dompet Dhuafa Republika:
Bank Mandiri Cabang Pondok Indah 101-00-9830099-7
Bank BNI Cabang Fatmawati 000.5302291
BCA Cabang Pondok Indah 237.3004723

Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat Jakarta
Bank Mandiri Cabang Wisma Baja Jakarta
a.n. Palang Merah Indonesia, no rekening: 070.000.011.601.7

Bank Central Asia (BCA) Menara Bidakara Jakarta
a.n. Kantor Pusat PMI
no rekening: 450.37.7711.1
(Sumber Detik News)

Atau melalui
Rekan2 Sukarelawan Stapala di Bantul yang berada di dibawah kordinasi
Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Negeri Yogyakarta (Madawirna).
Kontak person Ari (Ketua) HP.081325542251 . atau Firman Parmin (STAN
Angkatan 97) Hp. 081310962395. Rekening Bank Mandiri Cabang Wonogiri
No. 1380003066391

Atau melalui
Tim Peduli Pajak 05 (TPP05)
No. Rekening 0027069840 Bank Syariah Mandiri an. Banu Wicaksono.
Kontak Person : Hilman 081572016638

Berupa Barang/Makanan/Logistik:

RS.Bethesda Yogyakarta
Cp.Esranamardiyah,Telpon.0274.586688-ext.1500
(baju bekas)

Posko Departemen Kesehatan
Telpon: 021-526-5043
Fax : 021-527-1111

Posko Kemanusiaan Metro TV
Jl. Pilar Mas Raya Kav. A-D Kedoya Kebon Jeruk
Telpon: 021-583-00077, ext 21014
atau 021-581-2088, ext 5555
Bantuan yang diutamakan: Bahan Makanan siap saji,
Tenda, Selimut, Obat-obatan.

Posko Gempa Jogja Yayasan AirPutih
http://www.airputih.or.id
Jl. Ampel 10, Papringan, Yogyakarta
Telpon: 0274-55-4444
SMS : 9731
Contact Person: Valens Riyadi

PMI Markas Daerah Yogyakarta
Jl. Brigjen Katamso, 55152
Telpon: 0274-376-812
HP : 0811-253-347

PMI Markas Cabang Yogyakarta
Jl. Tegalgendu No. 25, Kotagede 55172
Telpon: 0274-372-176
Fax : 0274-379-212

PMI Markas Cabang Bantul
Jl. Sudirman, Bantul 55711
Telpon: 0274-367-987

PMI Markas Cabang Gunung Kidul
Jl. Kol. Sugiyono Gg. Nusa Indah 3, 55812
Telpon: 0274-391-244

PMI Markas Cabang Sleman
Jl. Turgo Denggung Tridadi, Sleman, 55511
Telpon: 0274-868-900
Fax : 0274-515-307

PMI Markas Cabang Kulonprogo
Jl. Bhayangkara Watuluyu, Wates 55611
Telpon: 0274-773-244

PMI Markas Cabang Klaten
Jl. Veteran No. 80, Klaten 57431
Telpon: 0272-321-306
Fax : 0272-323-155

INFORMASI KORBAN/ORANG HILANG

RSU Sardjito, Yogyakarta: 0274-520410, 587-333
RS Bethesda : 0274-586-688
RS Panti Rapih : 0274-563-333
RS PKU Muhammadiyah : 0274-512-653
RSUD Bantul : 0274-367-381

Tim SAR Yogya : 0274-587-559
Satkorlak PBP DIY : 0274-563-231

Daftar korban HelpJogja: http://helpjogja.net/informasi-daftar-korban/

INFORMASI GEMPA & SITUASI


Pusat Gempa Nasional : 021-6586-6502
Polda DIY : 0274-563-494
Poltabes Yogyakarta : 0274-512-511
US Geological Survey : http://earthquake.usgs.gov
Informasi gempa Jogja: http://helpjogja.net/


Friday, May 26, 2006

Teks proklamasi

Ucok sepulang dari sekolah, nangis. Bapaknya heran dan bertanya-tanya apa gerangan penyebabnya.

Bapak : "Kenapa kau Cok?? Aku liat wajah kau kuzut kali..."
Ucok : "Aku diusir Bu Guru Pak..."
Bapak : "Woalaah! Kenapa??"
Ucok : "Bu Guru kan nanya.. siapa yang tandatangan teks proklamasi?"
Bapak : "Lantas kau jawab apa?"
Ucok : "Bukan aku Bu... Sumpah! Bukan aku, Bu!!"
Bapak : "Ah, zaalah kaulah itu! Ngaku aja kau, apa zalahnya.. Zekarang masuk sekolah zusah nak."
Ucok : "Iya.. ya Pak yaaa!"
Esoknya si Ucok pulang cepat.. dengan tampang yang lebih kusut lagi..
Bapak : "Macam manaa Cok??"
Ucok : "Aku diskors Pak.. 3 hari.. gara-gara aku ikuti omongan Bapak."
Bapak : "Hayoo... kita balek ke sekolah kau itu. Aku kaazi tahu Bu Guru kau yang zeebenarnya."

Di Sekolah
Bu Guru : "Wah.. selamat pagi Pak Ucok, ada perlu apa nih?"
Bapak (bicara pelan) : "Begini Bu Guru... aku kasih tahu Bu Guru tentang teks proklamasi itu.."
Bu Guru (bengong) : "Yah.. kenapa Pak Ucok??"
Bapak : "Sebenarnya Bu Guru rada salah juga. Masak si Ucok yang ditanya? Kan waktu itu dia belum lahir Bu?"
Bu Guru (makin bengong) : "Trus?"
Bapak : "Begini lho Bu, ini terus terang lho Bu.. Yang bener... yang tanda tangan teks Proklamasi itu... aku.. Bu.."
Bu Guru : "Yaa ampun.. Pulang! Bapak pulang aja deh!!"

Di Jalan
Bapak : "Macam mana ini Cok, kau nggak ngaku... zalah. Kau ngaku zalah pulak! Aku yang ngaku, zalah zuga....Puuzing kepala aku."
Tiba tiba mereka ketemu pak RT,
Pak RT : "Wah.. ada apa Pak Ucok sama anak ini. Kok kusut banget wajahnya.
Maka Pak Ucok pun mulai cerita sejak awal sampai mereka diusir Bu Guru... Pak RT langsung ketawa ngakak.
Pak RT : "Ha... Ha... Itu bukan masalah besar pak Ucok... Manaa... manaaa teksnya? Biar saya yang tandatangan."

Tuesday, May 23, 2006

Hari istimewa

Tepat setahun lalu, aku menulis ini, tepat pada hari aku menyelesaikan disertasiku (submitting). Hari itu juga adalah hari istimewa buatku. 23 Mei memang memiliki makna lebih bagiku di banding tanggal-tanggal lain. Bagiku, orangtuaku, keluargaku, dan orang-orang yang mengasihiku.

Hari ini, setahun kemudian, aku melewatkan hari istimewa itu, di akhir sebuah seminar di sebuah ranch. Seminar pertamaku
bersama institusi tempatku bekerja di masa mendatang. Kini aku berada di sebuah hotel, di downtown sebuah kota. Kota tempat universitas dimana aku akan mengajar. Kota yang akan kudiami selama 3, 6, atau 10 (atau lebih) tahun mendatang. Sebuah kebetulan yang menyenangkan.

Berada di sini pada hari-ku membuatku merasa sangat berterimakasih atas kehidupanku. Satu tahun telah berlalu. Penuh kenangan indah. Penuh berkat melimpah. Mendapatkan PhD, mendapatkan postdoc di LA, dan mendapatkan tenure-track professorship. Mendapatkan teman2 dan sahabat2 baru dan menemukan kembali teman2 dan sahabat2 lama yang telah hilang. Tahun yang penuh dengan pelajaran dan pengalaman tentang hidup, kehidupan, harapan, dan cinta kasih. Tahun dimana aku menabur dan menuai cinta kasih.

Rasa syukurku meluap. Aku tak punya kata untuk melukiskannya. Waktu dan kehidupan memberiku lebih dari apa yang aku harapkan, lebih dari yang aku layak terima. Tampaknya seseorang di atas sana begitu mengasihiku.

ps. A, thanks for sending the flowers on my b-day. they are lovely.

Monday, May 15, 2006

Sketsa-sketsa kota Belanda

Waktu ke Belanda bulan Maret yang lalu, saya lupa membawa charger baterai kamera. Alhasil, tidak seperti biasanya, hasil jeprat-jeprut terbatas sekali. Untung pas di Amsterdam ada teman yang sukarela jadi fotografer alias paparazi. Tetap, beberapa tempat terlewatkan dari kamera. Sebagai pengganti kamera, saya membuat beberapa sketsa. Ini dia oleh2 dari Belanda. Selamat meni'mati!
Catatan: Klik untuk melihat sketsa dalam ukuran yang lebih besar.


Pasar Albert Cuyp, Amsterdam


Tram kuning in Amsterdam



Tikungan Geldersekade, Amsterdam


Haarlem

Wednesday, May 10, 2006

Ngobrol sareng kang Gebot

Karena diminta menulis oleh Wanita Sunda Antar Benua, saya corat-coret pendek. Jadilah tulisan yg berjudul "Ngobrol sareng kang Gebot"... yang isinya begini:

Kawas poe-poe nu kalarung, wengi ieu abdi calik ngadekul payuneun komputer. Hoyong didamel tapi ieu mastaka teh rada nyut-nyutan. Hareeng sareng jangar.

Seterusnya? Baca di blog-nya WSAB aja deh, di sini: http://wsab.blogspot.com/2006/05/ngobrol-sareng-kang-gebot.html

... Kalau ngga ngerti basa Sunda.... ya paling2 jangar lah....

Monday, May 08, 2006

transMERmasi

Teman baikku, Tita, yang juga seorang kartunis, membuat sebuah sekuel yang dia namakan "transMERmation". Keren dan kocak banget ya?




Dia membuat kartun ini berdasarkan berbagai ekspresi-ku di kantor.
(Pura-pura) baca --> (pura-pura) kerja --> sutress bin manyun --> jangar bin blenger!

Friday, May 05, 2006

Jendela romantisme dan cinta

Seorang kawan penyair menuliskan puisi panjang tiga bagian untukku. Aku terkesima, karena beliau merangkai kata dari cerita-ceritaku dan gambar-gambarku. Indah. Jujur. Aku kehilangan kata. Terimakasih mas I.A.


JENDELA ROMANTISME DAN CINTA

PRELUDE
SECANGKIR PAGI YANG MENGGELIAT

setelah jeda waktu
aku selalu saja akhirnya mengenali pijak hangat bumi
dan belai tipis hangat mataharinya
keragaman suhu dan cuaca
adalah berbagai rona wajah
yang akhirnya selalu kukenali lagi
tatkala jeda waktu telah mendekapku sekejap
dan menyingkirkan keterasingan dari bahu
menggantikannya dengan panggilan mesin pembuat kopi
mengakhiri jumpa kontemplasiku
dan menanamkan caffein di nadiku
peluit hari di mulai
kembali ke pertarungan
kembali ke derap hari

sesisip cinta di saku
seayun diri di kancah pencarian
ayo

entah apakah jendela tadi sudah kukunci kembali
tapi apakah penting ?


BAGIAN II:
SEPEDA BAGI BENAK

Seperti sepeda besi itu
kabel kabel serat kaca
dan elektronika yang berkelip
telah menjadi sepeda bagi benak kita
memperlebar jelajah menyebrangi beda waktu belahan bumi
dan menyebrangi imajinasi dan siapa kita

Aku duduk di sini
di hadapan lautan selaksa sepeda sepeda tak wujud
yang berkitaran sekitar ku
membentuk lintasan saling berpotongan
jejaring garis menyelimuti langit jagad kecil

kring kring kring ada sepeda!!
sepedaku tak penting lagi roda berapa
kring kring kring ada sepeda!
sepedaku ruang publik
ku dapat dari interaksi agen perubahan
karena aku rajin lintas disiplin

seperti mimpi surealis
aku melihat pemandangan fantastis
sepeda sepeda warna warni yang belintasan
di garis lengkung di kubah pandang
berlintas ke sana kesini seperti rombongan kupu

sepeda sepeda itu menggandakan dirinya
dan bergelombang
seperti barisan para buruh di satu mei
sepeda itu kadang saling bercakap
kadang membesar mengecil kadang berganti warna
aku merangkul masa kanak ku
ke jaman menonton pawai sepeda
dan belajar naik sepeda

langit jawa barat yang mesra manis
kenangan masa kecil mengayunku
menggodai kantung air mataku
aku terlarut limbung
disihir pesta sepeda di langit
dipusar pentas metamorfosis
dan dengung lebah ceracau peradaban
yang merembes dan membuncah di langit sepeda
sementara aku mengejar polanya
memotreti peta-peta lintasnya
dengan terengah-engah

Berapa ribu kilometer persegi aku harus lari
dari titik pandang satu di sudut cakrawala sana
ke titik pandang lain di sudut sini

tahukah kau betapa romantisnya
mengemasi kopor dan barang-barang
dan berpindah seperti suku peladang
mengemasi hari-hari
dan mengarungi jagad

dan tahukah kau juga
di balik pagelaran surealis sepeda tak wujud ini
aku juga punya sepeda sungguhan
nyata dan kasat

kring! kring!

BAGIAN III:
JENDELA MEMBINGKAI CINTA
adalah yang kutemu di celah buka tiap bilah bidang waktu
yang bercabang hirarkis atau bahkan paralel
sementara memandangi langit yang tak pernah bertambah usia

mungkin cinta hanya jendela pada arung hidup
yang semakin tak terbatas jelajah panjang petanya
dan jendela itu sendiri merangkuli mesra
pada setiap ruas pendek terselip di bagan waktuku

aku tak akan bisa menjadwal semesta
yang memangkuku sejak aku bahkan belum ada

tapi aku bisa membingkai taman di jendela
meletakkan diriku di bingkai itu
lalu seperempat detik aku menyapa cinta
bukankah seperempat detik adalah harapan?

sudah, aku tutup jendela ini dulu
ada apel di meja, kau mau?

jendela jagad diri ini tak pernah tertutup

i. a.
thanks M!

Tuesday, May 02, 2006

Burungpun ikut demo

LA_MayDay053_2006.JPG
Sekawanan burung ikut berdemo hari ini, 1 Mei 2006, di taman Mac Arthur, Los Angeles.

Monday, May 01, 2006

May Day Protes -- di ruang cyber

Hari ini masih tanggal 1 Mei di sini (USA). Saya baru akan berangkat ke MacArthur Park untuk ikut dalam protes besar-besaran di Los Angeles, bagian dari program kampanye "Dunia Tanpa Batas", "Dunia dimana semua dunia kecil mendapatkan ruang".

Buat kawan-kawan yang ingin ikut mendukung gerakan ini, silakan ikut kampanye ini secara virtual. Bergabunglah dengan Electronic Theatre of Disturbance, untuk melakukan virtual sit-in.

Caranya? Klik saja link ini : http://www.thing.net/~rdom/ecd/MayDay2006/basta.htm
Dengan mengklik link tersebut, anda akan berpartisipasi dalam virtual sit-in, suatu gerakan massa untuk men-overload-kan beberapa situs dari gerakan/organisasi yang bersifat rasis. Situs-situs ini akan down sementara karena dikunjungi secara berlebihan. Walaupun bisa dikategorikan sebagai hactivism, virtual sit-in bersifat legal secara hukum. Ini merupakan salah satu bentuk protes virtual dengan cara damai. Anda tidak melanggar hukum manapun di dunia dengan melakukan hal ini.

Tentu saja anda tidak usah berpartisipasi jika anda tidak setuju dengan gerakan "Dunia Tanpa Batas" ini.

Salam dan terimakasih atas dukungannya.

Saturday, April 29, 2006

Berpendapat, berkomentar, dan RUU APP

Sebetulnya saya berencana untuk tidak menulis posting lain tentang RUU APP. Karena, pertama, walaupun saya membaca draft RUU tersebut, saya tidak merasa pakar dalam hal bahasa hukum, sehingga komentar2 saya adalah komentar orang awam. Kedua, sangat sulit untuk menuliskan pendapat tentang hal ini tanpa ada resiko disalahpahami. Masalah RUU APP adalah masalah yang sensitif sehingga banyak orang yang 'salah' membaca pesan yang saya sampaikan secara tulisan.

Namun, setelah saya amati, 2 posting saya terdahulu yang menyangkut RUU APP ternyata terus-menerus mendapatkan komentar. Bahkan sudah terjadi perang komentar di blog saya, tanpa saya terlibat langsung di dalam-nya. Beberapa kawan yang menolak RUU, seperti Myr dan Rini, adalah kawan lama saya, dan mereka jelas menunjukkan identitasnya. Pihak-pihak yang mengeritik penolak RUU, kebanyakan tidak menuliskan identitas (dengan pengecualian 1-2 orang).

Saya tidak keberatan blog saya dipakai untuk berdiskusi atau bahkan berdebat. Saya rasa itulah gunanya 'ruang publik'. Hanya saja, akhir-akhir ini beberapa komentar cenderung menyerang secara personal. Membuat saya sedih. Seandainya saya bisa cuek ketika diserang secara personal lewat komentar dari orang-orang yang tidak saya kenal, alangkah senangnya. Tapi saya ternyata masih juga emosional. Sedih pas dituduh yang tidak-tidak. Karena saya tidak bisa cuek, makanya saya menulis posting yang satu ini.

Saya sedih, karena saya merasa pesan saya 'salah' dibaca. Misalnya, saya tidak pernah merasa saya menyebutkan bahwa blog atau tulisan saya ilmiah (jelas-jelas kebanyakan posting saya disini adalah cerita2 spontan, malah ada yang cuma tentang mimpi belaka), dan saya juga tidak klaim bahwa tulisan saya paling benar. Saya hanya blogger yang menuliskan pendapat atau uneg-uneg saya di ruang virtual yang bersifat publik. Ada komentator yang mempermasalahkan tentang keberadaan saya yang di luar Indonesia dan soal pendidikan saya. Ini sangat personal. Walaupun kebetulan saya sekarang ada di luar negeri, saya tidak merasa lebih dari yang sekolah di dalam negeri. Saya juga tidak merasa saya lebih pintar cuma karena saya mendapat kesempatan untuk studi lanjut. Lagian dalam posting saya tentang RUU saya tidak menyangkut-pautkan pendapat saya dengan latar belakang pendidikan dan lokasi dimana saya berada. Memang ada komentar-komentar seputar itu, tapi jelas saya tidak ambil bagian dalam diskusi tentang itu (coba dilihat lagi, siapa yang komentar dan bagaimana isi komentarnya).

Dalam posting ini saya ingin menghimbau rekan-rekan untuk membaca dengan hati-hati. Saya memang tidak mendukung RUU APP. Cukup jelas bahwa saya menolak. Tapi menolak RUU APP bukan berarti mendukung pornografi/pornoaksi. Saya tentu saja menolak pornografi/pornoaksi. Saya juga tidak mendukung para perempuan untuk berpakaian semi-telanjang di jalanan. Saya tidak mendukung siapapun untuk berjualan VCD porno di jalanan. Masalahnya tidak sesederhana itu.

Saya tidak mendukung RUU APP karena saya tidak melihat RUU APP (setelah membaca dengan seksama draft-nya) sebagai alat yang efektif untuk memberantas pornografi/pornoaksi dan pada saat yang sama malah bisa disalahgunakan sebagai alat yang represif (sejarah membuktikan bagaimana negara bisa semena-mena dalam memakai hukum).

Ok. Begitu penjelasan saya. Ini akan jadi posting terakhir saya yang berkaitan dengan RUU APP. Saya menghargai semua pendapat. Yang mendukung atau menolak, semua berhak mengemukakan pendapat. Karena ini ruang publik, saya berhak mengemukakan pendapat saya. Dan saya mohon tidak ada serangan-serangan yang bersifat personal yang cuma berdasarkan asumsi dan dugaan-dugaan saja.

Salam.

catatan:
1. Soal puisi saya, itu kan satire. Membacanya ya harus dalam satire mode juga.
2. Bagi yang bermasalah dengan komentator yang lain, saya tidak akan mencampuri
3. Khusus buat Myr, gile deh..... gara-gara nickname elu mirip sama gue, jadi gue disangka ngomentarin diri sendiri! Duh! Tanggung jawab! (but you're still my friend, of course...:P).
4. Untuk kedua belah pihak, baik yang pro maupun yang anti, coba baca dulu draft-nya, baru komentar.

Friday, April 28, 2006

Hari ini, suratnya aku poskan

Akhirnya 4 amplop berisi surat yang isinya persis sama, walaupun ditujukan pada 4 orang yang berbeda, aku poskan sore ini. Sempat agak deg-degan juga pas berdiri di depan kotak pos. Jangan-jangan ada salah ketik. Jangan-jangan ada salah kata. Ah, peduli amat. Yang penting aku harus poskan hari ini. Toh sudah aku periksa berkali-kali.

Empat surat cinta, dengan amplop warna merah jambu, aku poskan pada cowo-cowo tercinta. Maklum, ngga bisa mutusin, yang mana yang aku terima lamaran-nya. Serakah ya aku? Hahaha...

Ok, I was kidding. Ya, hari ini aku memutuskan untuk menulis surat balasan untuk surat tertanggal 19 April 2006 yang kuterima beberapa hari lalu, yang isinya adalah sbb:

Dear Merlyna:

On behalf of the Cxxxxxxxxxxxxxxx, the School of xxxxxxxxxxx and the College of Liberal Arts and Science, we are pleased to offer you an appointment as AXXXXXXX PXXXXXXX at a salary of XXXXX for the academic year, which will begin August 16, 2006.

[...selebihnya aku potong...]

Setelah menimbang, mengukur, dan menggunting ....aku putuskan untuk menerima tawaran ini. Lega rasanya. Plong, plong, plong!

Paling tidak, walaupun masih harus ada urusan visa kerja dll, aku sudah terima kerjaan ini. Dan kalau sudah beres urusan tetek-bengeknya, karena ini jabatan tenure-track, selama 6 tahun kedepan aku bisa rada aman.

Teman-teman yang ngerti soal tenure-track pasti tahu, perjuangan-nya cukup berdarah-darah untuk dapat posisi ini. Jadi sekarang aku senang, lega, bersyukur, woaaah.... kayak mimpi.

Ok, gitu dulu ya. Aku mau mandi, terus tidur yang lelap! Mimpi indah.. bukan mimpi kemalingan laptop!

Wednesday, April 12, 2006

Laptopku... oh... my Powerbook!

Hari ini, subuh-subuh, sekitar jam 4, aku dengar suara langkah orang yang seperti bersumber dari lantai bawah apartemenku. Aku tidur di lantai atas, tapi void ruang tangga yang cukup besar membuat aku bisa mendengar apapun yang terjadi di lantai bawah. Karena aku masih sangat ngantuk, aku coba untuk tak menghiraukan suara-suara itu. "Ah, mungkin bukan dari lantai bawah, tapi dari luar." Kutarik selimutku dan kucoba untuk kembali tidur.

Beberapa menit kemudian, kudengar suara orang bercakap-cakap. "Let's do it now", kata seorang pria bersuara berat. "Ok, let's get this and that and get out from here", seorang pria lainnya menyahut. Sejenak aku tertegun. Tak lama jantungku mulai berdebar-debar. "Aduh, celaka! Dua laki-laki ini benar-benar sudah ada di apartemenku!".

Aku mulai panik. Terdengar suara orang menyeret-nyeret meja. "Ah, pasti mereka sedang berusaha mengangkat pesawat televisi dan dvd player ku," aku menebak-nebak. Aku tak begitu peduli dengan kedua benda itu, keduanya aku dapat hampir gratis. Aku berpikir dan berusaha mengingat-ingat barang berharga apa saja yang ada di lantai bawah. Hampir semuanya barang-barang yang aku dapat secara cuma-cuma. Beberapa barang berharga seperti lemari es dan stove/oven adalah milik induksemangku.

Anehnya aku tidak takut mereka naik ke lantai dua. Aku pikir aku bisa pukul kepala mereka dari atas pakai setrikaan atau radio-alarm kalau mereka berusaha naik.

"Arrrrrrgh, celaka!!!!!" tiba-tiba aku benar-benar panik. Aku teringat bahwa Mac kecilku, si laptop Apple Powerbook G4 mungil yang ukurannya lebih kecil dari kertas A4 itu, tergeletak di sofa di ruang duduk. Pikiranku mulai kalut. "Bagaimana kalau sampai si Mac kecil diambil kedua lelaki itu?" Si Mac kecil itu aku memang dapatkan tanpa mengeluarkan uang. Tapi dia adalah sebagian dari hidupku. Walaupun aku sudah menyimpan sebagian besar data dalam bentuk CD, DVD, dan juga di ruang virtual, data-data yang tersimpan dalam tubuh si Mac kecil sangat berharga. Aku hampir menangis memikirkan hal ini.

Sementara itu keributan di lantai bawah semakin menjadi. Srrttttt....srrrtttt.. suara orang mendorong-dorong meja dan lemari terdengar dengan jelas. Tak lama kudengar langkah berat menaiki tangga. Kudengar kedua laki-laki itu bercakap-cakap satu dengan yang lain. Aku membatu. Tak bisa kemana-mana. Hanya bersembunyi dibalik selimutku. Dag dig dug, jantungku berdegup kencang. "Ooooh, apa yang harus kulakukan??????????"

Tahu-tahu, tak lama kemudian semua suara itu hilang. Sunyi senyap. Tak ada lagi langkah orang. Tak ada suara percakapan. Apakah yang terjadi?

Aku terbangun. Tertegun sejenak. "Aih, mimpi sialan!!!!" Masih gemetar, aku langsung bangkit dari kasurku lalu lari menuruni tangga. Langsung menuju sofa di ruang duduk. Kulihat Mac si laptop kecil masih tergeletak di sana. Kuambil dan kudekap dia erat-erat. Oh, laptopku, alangkah bahagianya aku melihat dirimu!