Monday, February 28, 2005

Kampung kuring banjir....

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Kamis minggu lalu, aku dapat email dari 3 kawan yang memberitahukan bahwa Dayeuhkolot banjir besar, tergenang air sekitar 2-3 meter. Oh! Sebagai Lady Day(euh) aku tentunya langsung panik mendengar daerah kekuasaanku terserang bencana banjir! Serius, dua rius, tiga rius, aku betul-betul panik dan langsung menelepon ke Bandung. Pasalnya aku ini kan orang Dayeuhkolot asli. Tepatnya dari kampung Perbas/Cigereleng, desa Pasawahan, kecamatan Dayeuhkolot. Orang tuaku dan keluargaku masih bermukim di sana.

Setelah tersambung dengan ibuku, aku merasa sedikit lega mengetahui ternyata rumah ortu-ku tidak tergenang air. Untunglah, rumah ortu-ku baru direnovasi dan di-tinggi-kan 50 cm. Air hanya masuk sampai pekarangan saja, kata ibuku. Walaupun begitu, sedih juga mendengar daerah-daerah yg kukenal baik, tempat teman-temanku bermukim -- Kampung Bojong Citepus di Desa Cangkuang Wetan serta Kampung Citeureup, Palasari dan Babakan Sangkuriang di Desa Pasawahan -- semuanya tergenang air. Palasari itu hanya sekitar 5 menit dari rumahku dan termasuk daerah yang parah terkena banjir.

Ah, setiap musim hujan, orang-orang di Bandung Selatan inilah yang terkena bencana banjir. Sementara orang-orang kaya yang bermukim di 'daerah resapan' di Bandung Utara sana duduk-duduk dengan santai menikmati nyanyian hujan dari balik kaca jendela rumah mewah mereka.

Ini adalah alasan nomor satu mengapa aku meninggalkan pekerjaanku sebagai arsitek di salah satu developer besar di Bandung Utara (Dago tepatnya) beberapa tahun silam. Karena aku terlibat proyek besar yang membabat daerah resapan dan menyulap slop-slop curam yang tak boleh dibangun menjadi kawasan pemukiman mewah yang dijual di atas harga 500 juta per kapling. Karena aku melihat tetangga-tetanggaku di Dayeuhkolot menjadi semakin sengsara, kebanjiran paling tidak sekali setahun dengan tingkat banjir yang semakin parah, seiring dengan semakin menjamurnya kompleks hunian di Bandung Utara sana.

Semakin tak menyesal aku meninggalkan pekerjaan itu. Paling tidak aku tidak dihantui perasaan bersalah. Paling tidak aku tak merasa dilumuri dosa. Paling tidak telunjuk-ku tak menuding dadaku sendiri saat tetangga-tetangga di desaku kebanjiran. Ya... paling tidak.... Walaupun ke 'paling tidak' an ku ini, tak ada gunanya sama sekali.... mungkin. Ah...

5 comments:

mellyana said...

bukan sedia payung sebelum hujan, tapi sedia perahu sebeleum hujan kali ya :)

merlyna lim said...

belajar berenang sebelum hujan, mel...:P

yulian firdaus said...

aduh, neng lady day(euh) mani hawatos... mugi-mugi sing saralamet kulawargi sadayana

seja simpati ti sim kuring

merlyna lim said...

nuhun kang Jay, kanggo ungkara simpati -na.
alhamdulilah, kulawargi di dayeuh salamet sadayana.

Sulfikar Amir said...

bandung emang kacobalo dimana2. padahal ada ITB . ato malah orang2 ITB yang bikin berantakan.