Saya dan J mengucapkan Selamat Tahun Baru 2012!
Semoga anda semua ......... (click saja ke blog sebelah untuk membaca harapan2 kami :p)
Celoteh si Mer
cerita-cerita spontan, nyata, dan tak jelas.
Monday, January 02, 2012
Saturday, November 26, 2011
Telinga anti-imigrasi
Dua bulan lalu pas singgah di Jakarta, saya menyediakan waktu untuk ambil stiker visa di kedutaan Amerika. Sehari sebelumnya saya ke jalan Sabang untuk difoto khusus untuk visa US.
Saya sudah sadar bahwa telinga saya yg kecil dan cenderung menyamping alias kurang menyaplang atau menspok bakal mengalami modifikasi agar kedua telinga bisa kelihatan. Beberapa tahun lalu terpaksa harus diganjal styrofoam.
Tahun-tahun berikutnya saya pakai foto yang saya jepret sendiri dengan posisi agak menyamping sehingga salah satu telinga sangat terlihat dan kemudian saya photoshop telinga yang lain supaya sama2 kelihatan. Dipakai 2 tahun dan berhasil! Sayang hasil cetak foto tsb sudah habis dan saya ngga sempat nyetak lagi (file-nya lenyap bersama hilangnya laptop saya).
Kali ini, begitu masuk dan disuruh duduk, mas tukang foto ngga protes soal telinga. Dia sibuk mengomandoi... "kiri dikit...kanan dikit.... angkat dagu..." Tahu2 dia berhenti dan mengerutkan kening. "Wah, gelagatnya telinga saya bakal dimodifikasi lagi,"gerutu saya dalam hati. Benar saja, tak lama Mas-nya langsung berjalan ke meja kerja dia, mengambil kertas dan melipat2 lalu memotong selotip..... Diselipkanlah lipatan kertas itu di belakang telinga saya dan diselotip supaya nempel. Dengan tekun si Mas melakukan aksi yang sama untuk telinga yang lain.
"Nah, sekarang sudah pas!"
Jepret!!!
Aih, memang telinga saya anti-imigrasi.
Saya sudah sadar bahwa telinga saya yg kecil dan cenderung menyamping alias kurang menyaplang atau menspok bakal mengalami modifikasi agar kedua telinga bisa kelihatan. Beberapa tahun lalu terpaksa harus diganjal styrofoam.
Tahun-tahun berikutnya saya pakai foto yang saya jepret sendiri dengan posisi agak menyamping sehingga salah satu telinga sangat terlihat dan kemudian saya photoshop telinga yang lain supaya sama2 kelihatan. Dipakai 2 tahun dan berhasil! Sayang hasil cetak foto tsb sudah habis dan saya ngga sempat nyetak lagi (file-nya lenyap bersama hilangnya laptop saya).
Kali ini, begitu masuk dan disuruh duduk, mas tukang foto ngga protes soal telinga. Dia sibuk mengomandoi... "kiri dikit...kanan dikit.... angkat dagu..." Tahu2 dia berhenti dan mengerutkan kening. "Wah, gelagatnya telinga saya bakal dimodifikasi lagi,"gerutu saya dalam hati. Benar saja, tak lama Mas-nya langsung berjalan ke meja kerja dia, mengambil kertas dan melipat2 lalu memotong selotip..... Diselipkanlah lipatan kertas itu di belakang telinga saya dan diselotip supaya nempel. Dengan tekun si Mas melakukan aksi yang sama untuk telinga yang lain.
"Nah, sekarang sudah pas!"
Jepret!!!
Aih, memang telinga saya anti-imigrasi.
Wednesday, November 02, 2011
Mimikri palsu
Ini menyambung cerita mimikri 1 dan mimikri 2.
Jakarta, 5 Oktober 2011
Untuk menuju hotel dari bandara Sukarno-Hatta, saya memutuskan untuk memakai jasa taxi yang 'formal' yang ditawarkan di kios-kios di dalam bandara. Saya cape banget, kurang tidur selama 2 minggu, demam, dan merasa ngga keruan. Jadi ya jasa kayak gini lebih praktis. Lagian receipt-nya lebih ringkes, cuma 1 lembar saja sudah mencakup tol, tips, dll.
Dengan cepat transaksi dilakukan. Tentu saja saya melakukannya dalam bahasa Indonesia.
Mas yang menjaga loket menawarkan diri untuk mengantar saya sampai ke taxi-nya. Menuju ke taxi, mas-nya bertanya:
"Mbak, aslinya asalnya dari mana ya? Bahasa Indonesia-nya bagus."
Saya bengong, lalu menjawab,"Dayeuhkolot, mas."
Giliran mas-nya deh yang bengong :)
Friday, October 21, 2011
Mimikri atau untung!
Menyambung kisah miskin2 kaya yang lalu, berikut ini adalah kisah yang merupakan bukti lain dari kemampuan saya untuk mimikri :D atau sekedar untung aja sih :)
Jogja, 18 Sept 2011
Setibanya di Jogja (terbang dari Singapore), saya langsung mengantri di bagian imigrasi yang ternyata dibagi 3 baris/loket: Visa on arrival, Indonesian passports & foreign passports. Sebelnya, yang melayani Indonesian passports cuma 1 loket, padahal jumlah manusia yang mengantri panjang banget, mungkin 10x lebih banyak dari dua loket yang lain. Panjang antrian sampai keluar2 gedung. Ngga adil, pikirku.
Setelah agak lama mengantri dan bosan, saya terus pindah ke antrian foreign passports yang memang pendek banget. Yang antri sebelum saya semuanya bule, kecuali satu orang yang kulitnya coklat dan rambutnya hitam. Pas si mbak yang bukan bule ini kena giliran, dia ternyata ditegur mas jaga (yang menyuruh/memberi tanda orang2 untuk menuju loket).
Mas-nya bilang, "Mbak, koq antri di situ? Harusnya di sini"
Ternyata mas-nya pikir mbak ini orang Indonesia. Emang tampangnya mirip Indonesia sih.
Mbaknya bingung dan bilang, "Pardon?" Terus dia mengacungkan passport-nya.... ternyata buatan Pilipinas...!
Nah lho!!!
Setelah si mbak ini, terus ada bule... bule... bule...
Nah lho!!!
Setelah si mbak ini, terus ada bule... bule... bule...
Sementara itu saya agak deg-deg-an. Jangan2 si mas ini bakal nyuruh saya pindah. Tapi saya langsung bergaya cuek. Badan tegak santai, melihat cuma ke depan, dan pura2 ngga bisa dengar/ngerti percakapan2 sekitar (ngga bereaksi). Giliran saya..... mas-nya melihat gitu... dan saya ngga bilang apa-apa, cuma menganggukkan kepala.
Mas-nya terus membungkuk sedikit dan bilang, "Please" sambil mengarahkan saya ke loket foreign passport.
Saya mengangguk dan terus mengacungkan jempol tanda berterimakasih.
Selamat deh :) Menghemat waktu ngantri!
Mungkin mas-nya takut salah lagi kayak waktu si mbak Filipina :)
m
Sunday, September 18, 2011
Miskin2 kaya.... Kaya2 miskin...
Jaman dulu, waktu saya masih mahasiswa kalau saya ngantri di jalur ‘elite’ atau ‘preferred member’ pasti saya di cek, harus nunjukkin kartu. Mungkin karena tampangnya kurang elite, kurang kaya. Sekarang2 ini, dengan santainya saya lewat jalur2 ‘elite’ terutama kalau sedang buru2 dan hampir ketinggalan pesawat. Padahal kadang2 saya ngga qualified untuk pakai jalur tsb. Mungkin sekarang ini tampang saya meyakinkan. Tampang elite, tampang kaya, hahaha. Barusan aja, terbang dari Phoenix sampai Singapore, saya terus2an lewat jalur istimewa tanpa harus menunjukkan bukti (boarding pass atau kartu), padahal saya terbang pakai tiket ekonomi. Untunglah bisa lancar, soalnya hampir saja saya ketinggalan pesawat di LA.
Tapi saya juga bisa kelihatan miskin. Sering saya dimaafkan begitu saya kalau ngga punya duit untuk bayar makanan/kopi (biasanya sih karena lupa bawa dompet, seperti kisah kopi dan kisah ayam ini misalnya). Pagi ini misalnya. Saya transit di Changi dan beli roti kaya + yuan yang (kopi campur the) pakai kartu kredit yang ternyata ngga berhasil transaksinya (kayaknya diproteksi deh). Totalnya hanya $3.30 saja.
Saya bilang sama mas2 di konter, "No problem, I have cash" dan segera menggeladah tas untuk cari uang dollar Singapur yang kertas. Eh ternyata ngga ada…. Untung saya punya sekantung koin yang campuran antara Aus$, Rp & Sin$). Setelah taruh semua koin di atas meja…. ternyata ngga cukup untuk bayar. Waduh!
Si mas konter memandang saya dan berkata, “It's okay, it's okay... no worry... I take whatever you have..."
"Really?" saya membalas.
"Yes, it is okay..." si mas menjawab.
Saya beri dia semua koin… $3.00 dollar...
Saat berjalan ke meja saya, orang2 di kafe itu--yang kebanyakan adalah pegawai bandara (dari seragamnya kelihatannya begitu)—memandang saya dengan pandangan tertentu…. Mungkin saya kelihatan seperti turis gembel miskin hihi…
Ternyata saya memang memiliki 2 persona :D
Tuesday, April 12, 2011
Si Mobil Ancur
Udah lama banget ya ngga cerita2 di sini. Bukannya ngga ada cerita sih.... hanya ngga sempat!
Ya sudah... ini saya nyicil cerita satu ya :) Silakan dinikmati.
: : :
Malam itu suami saja si J masih belum pulang dari Pantai Timur America. Dia baru akan pulang keesokan harinya dan saya ingin menyiapkan makan malam istimewa untuk kami berdua. Jadi malam itu saya pergi ke super market, nyetir pake mobil suami, untuk beli bahan2.
Seperti biasa, saya pergi ke SunFlower, supermarket langganan, dan parkir di tempat biasa. Setelah sekitar 1 jam, belanja selesai dan saya mendorong kereta belanjaan ke mobil.
Klik, klik, saya buka pintu mobil. Saya coba buka pintu belakang tapi koq susah. Terus saya pindah ke pintu depan dan memang terbuka.
Ya ampun!!!!! Saya hampir teriak saking kagetnya melihat pemandangan interior mobil. Belatakan sekali. Beberapa kaleng bir kosong bergeletakan di lantai. Ada beberapa kaleng yang belum dibuka di jok mobil. Di dashboard ada 1 pak rokok yang sudah terbuka. Bau asap rokok gila-gilaan. Belum lagi banyak jejak rokok di sekujur jok mobil.
Saya langsung panik.
Mana mungkin si mobil langsung berubah jadi ancur begini hanya dalam 1 jam?
Apa ada orang yang begitu saja mabuk2an dan merokok gila2an di dalam mobil ketika saya belanja?
Apa saya kena amnesia?
Mungkinkah saya ini sebetulnya seorang alkoholik dan perokok yang tidak sadar?
Ya ampun!!!!
Saya berusaha menenangkan diri, menutup pintu mobil dan hanya menatap putus asa. Setelah beberapa saat, saya baru sadar kalau mobil itu, walaupun warnanya mirip, tapi tampak agak berbeda. Saya coba cek mereknya, "Oh, ternyata bukan Lincoln Continental!" Ternyata setelah dipikir-pikir lagi, kecuali warna-nya, si mobil ancur sama sekali ngga mirip sama mobilnya si J, hihihi.
Yah begitulah.... mobil yang sebetulnya dengan aman dan tentram memarkir diri di tempat bisa.... :D
Ya sudah... ini saya nyicil cerita satu ya :) Silakan dinikmati.
: : :
Malam itu suami saja si J masih belum pulang dari Pantai Timur America. Dia baru akan pulang keesokan harinya dan saya ingin menyiapkan makan malam istimewa untuk kami berdua. Jadi malam itu saya pergi ke super market, nyetir pake mobil suami, untuk beli bahan2.
Seperti biasa, saya pergi ke SunFlower, supermarket langganan, dan parkir di tempat biasa. Setelah sekitar 1 jam, belanja selesai dan saya mendorong kereta belanjaan ke mobil.
Klik, klik, saya buka pintu mobil. Saya coba buka pintu belakang tapi koq susah. Terus saya pindah ke pintu depan dan memang terbuka.
Ya ampun!!!!! Saya hampir teriak saking kagetnya melihat pemandangan interior mobil. Belatakan sekali. Beberapa kaleng bir kosong bergeletakan di lantai. Ada beberapa kaleng yang belum dibuka di jok mobil. Di dashboard ada 1 pak rokok yang sudah terbuka. Bau asap rokok gila-gilaan. Belum lagi banyak jejak rokok di sekujur jok mobil.
Saya langsung panik.
Mana mungkin si mobil langsung berubah jadi ancur begini hanya dalam 1 jam?
Apa ada orang yang begitu saja mabuk2an dan merokok gila2an di dalam mobil ketika saya belanja?
Apa saya kena amnesia?
Mungkinkah saya ini sebetulnya seorang alkoholik dan perokok yang tidak sadar?
Ya ampun!!!!
Saya berusaha menenangkan diri, menutup pintu mobil dan hanya menatap putus asa. Setelah beberapa saat, saya baru sadar kalau mobil itu, walaupun warnanya mirip, tapi tampak agak berbeda. Saya coba cek mereknya, "Oh, ternyata bukan Lincoln Continental!" Ternyata setelah dipikir-pikir lagi, kecuali warna-nya, si mobil ancur sama sekali ngga mirip sama mobilnya si J, hihihi.
Yah begitulah.... mobil yang sebetulnya dengan aman dan tentram memarkir diri di tempat bisa.... :D
Thursday, September 23, 2010
Visa & Imigrasi Edisi 2010 (Bag 3 - habis): Foto-foto dulu deh
Setelah sukses melewati sekuriti, saya harus melewati meja pengecekan dokumen. Kali ini untuk pertamakalinya saya apply visa US secara otomatis (electronically) dimana foto-nya sudah diupload dan dicek online sebelum datang ke konsulat. Sewaktu mengisi aplikasi online, foto saya yang diupload sudah dapat konfirmasi OK, jadi tidak diharuskan membawa pasfoto (yang untuk visa US ukurannya aneh, 5x5cm). Juga tidak ada hard-copy aplikasi yang musti dibawa. Semuanya sudah online.
Mbak di meja pengecekan cukup baik. Begitu dia konfirmasi jenis visa-nya, mbak-nya tambah baik. Tapi dia bilang, "I'm so sorry there's a problem according to database." Mbak-nya bilang kalau background foto yang saya submit online itu terlalu gelap, jadi dia tanya apakah saya bawa foto yang backgroundnya terang. Untung sekali ternyata di dalam dompet saya punya pasfoto yang saya pakai apply visa di Jakarta tahun lalu. Background terang (bukan putih sih) dan ukuran 5x5cm. Ini foto saya bikin dengan telinga yang kelihatan dua2nya, serupa dan sebangun (karena saya copy-paste pake photoshop :D). Mbak-nya puas dan dia bilang ini pasti diterima deh. Dia bilang akan coba masukkan dengan foto baru.
Saya duduk2 nunggu giliran. Satu gedung ternyata penuh orang India. Satpam India, mbak di cek dokumen juga India, pelamar visa juga kebanyakan India. Saya merasa saya berada di New Delhi deh (padahal belum pernah ke sana lho).
Ternyata cepat sekali bergeser dari satu nomor ke nomor lainnya. Begitu nomor 40-an muncul di layar, eh nomor saya dipanggil. 062! Saya pikir, koq cepat banget ya.
Ternyata mbak cek dokumen manggil. Dia minta maaf menyusahkan, karena ternyata foto dengan background agak terang pun dianggap kurang pas. Yaaaa…. Saya musti bikin foto dengan background yang terang banget. Tapi untung, ngga kayak di konsul US Jakarta yang mbak-nya nyuruh saya pergi ke jalan Sabang karena foto saya telinganya kurang kelihatan. Di sini saya tinggal pergi ke booth di ruang tunggu yang bisa moto sendiri dalam waktu 5 detik jadi. Harganya pun murah, lebih murah daripada harus bikin foto di toko biasa di Kanada.
Masuklah saya ke dalam booth yang sudah ada frame dan lingkaran muka-nya, supaya pas muka di tengah2. Susah ternyata untuk dapat foto yang pas. Kalau ngga meleng kiri, meleng kanan, atau telinganya kelihatan sebelah. Lagian telinga saya ini kan kecil dan minggir gitu posisinya jadi kalau dari depan kelihatan cuma dikit. Sampe-sampe dulu itu abang tukang potret di jalan Sabang harus ganjel telinga saya pake styrofoam, coba! Untunglah setelah coba 3 kali ada 1 yang lumayan. Ceklek-ceklek… akhirnya foto jadi. Dapat 6 biji. Background-nya memang terang sekali, putih creng deh.
Pas mbak-nya lihat, dia bilang, “Great, this one is good to go. I only need one, you can have the rest. Thank you very much for your help.”
Yaaa… lega deh.
Seterusnya sih lancar. Begitu giliran saya, ngga ada masalah. Wawancara lancar. Saya dapat pewawancara mbak Amerika yang ramah. Malah mbak-nya terkagum2 dengan visa saya, hehehe. Jadi cuma ditanya satu pertanyaan yaitu tentang spesialisasi yang bikin saya dapat O1. Udah gitu aja. Dan besok visa + passport saya bisa diambil jam 2 siang! Hore!!! Makan2 yuk??? :)
Wednesday, September 22, 2010
Visa & Imigrasi edisi 2010 (Bagian 2): Kisah sebuah HP
Pagi2 jam 9 kurang saya & J sudah mulai jalan kaki dari hotel menuju konsulat yang ternyata hanya 10-15 menit saja jaraknya. Untung ada J, kalau tidak saya bisa gempor bawa berkas petisi visa O-1 saya yang tebalnya lebih dari 1000 halaman. Walaupun di petunjuk visa application dibilang tak wajib dibawa, saya tidak mau ambil resiko mengingat waktu di Calgary staff konsulat si bapak Sangar berulah dan mau lihat seluruh berkas sebelum memberikan visa stamp.
Sampai di konsulat, antrian tak panjang. Mbak Filipina yang jaga counter cukup baik. J tidak boleh ikut masuk, karena yang boleh masuk cuma applicant saja. Di depan si mbak ini kami janjian jam berapa kami akan telepon2an untuk bertemu kembali. Si Mbak malah kasih tahu kalau proses-nya akan sekitar 1 jam 45 menit. Karena HP si J charge-nya dah hampir habis kami setuju kalau HP dia baru akan nyala sekitar 1.5-2 jam setelah saya masuk ruangan, untuk mengirit charge.
Setelah saying goodbye sama J, saya masuk ruang pemeriksaan. Satpam yang periksa ada 2. Satunya Filipino dan satunya India. Dua-duanya sebetulnya tidak sangar tapi berusaha sangar. Bapak India ngeyel. Dia tanya, "Where is your appointment letter?" Lalu saya tunjukkan confirmation letter -- ya tentu menunjukkan konfirmasi appointment saya. Dia bilang, "Don't you understand? I asked for appointment letter not confirmation letter." Padahal yang wajib dibawa di list-nya itu adalah appointment confirmation letter dan itulah yang saya tunjukkan. Dan jenisnya memang berbeda dari letter2 sebelumnya karena sejak 1 September sistem visa US di Kanada berubah menjadi seluruhnya electronic. Tapi daripada berdebat -- saya sudah sangat familiar dengan kelakuan orang2 di 'border area' yang tipikal -- saya tunjukkan berkas lain yang ada kata 'appointment' yang lebih besar dan si bapak ini puas.
Tapi lalu bapak satpam Filipina menemukan HP di tas saya. Bapak ini tadinya ramah karena dia pikir saya Filipina, tapi ternyata passport saya Indonesia, jadi berkuranglah keramahannya. Langsung pak India bilang, "No cellphone allowed, get out and come back without cellphone. Don't come back until you get rid out of it." Dan disuruhlah saya keluar dari situ.
Wah, puyeng saya musti lempar HP kemana. Saat saya keluar waktu sudah menunjukkan pukul 9:20 pagi. Cuma 10 menit lagi waktu saya. Kalau sampai tidak bisa kembali tepat waktu saya harus bikin janji lagi dan susah sekali untuk mendapatkan slot di sini. Saya bisa terjebak di Kanada.
Saya tanya si mbak Filipina dan dia bilang,”Not my problem, you should have known that cellphone isn’t allowed in the building.” Pengalaman saya di konsulat2 US yang lain (Jakarta, Amsterdam, Bangkok, Calgary, Saigon), hp memang tidak boleh dibawa masuk ke dalam tapi ada meja penitipan. Lagian tadi si mbak kan lihat kalau saya bawa2 HP ke dalam. Dia malah nimbrung pembicaraan saya soal telepon2an dengan J. Tapi ya sudahlah, saya tidak berminat untuk berdebat kusir.
Saya langsung coba telepon2 si J, tapi masuk mailbox terus. Aih, HP dia udah dimatikan. Saya sempat cari2 mungkin aja dia ada dekat2 konsulat. Ternyata sejauh saya memandang tak terlihat ada cowo tinggi besar pakai jaket kulit hitam. Aduh. Saya berpikir keras apa yang harus saya lakukan dengan HP ini. Ini HP bulukan yang sebetulnya tak berharga secara fisik. Hanya saja data2nya berharga toh. Sempat terlintas ide untuk gali lobang kecil di depan konsulat untuk mengubur HP saya selama 2 jam. Atau ditaruh di semak2 gitu. Sayangnya si mbak dan satpam bangunan konsulat memperhatikan gerak-gerik saya. Lagian nanti kalau dikencingin orang, atau anjing, gimana coba? Apa saya lempar ke tong sampah aja? Terus nanti korek2? Iiiih jijay ya. Saya juga kepikir untuk titip sama satpam bangunan lain. Tapi di dunia barat orang suspicious sekali soal titip menitip ini. Coba ada warung rokok, urusan pasti beres.
Tak lama ternyata ada seorang mas2 India yang juga memiliki masalah yang mirip. Dia harus kembali tanpa backpack. Dia sempat mau geletakan backpack-nya di teras tapi langsung dibentak bapak satpam India. “Don’t leave your stuff around here!!!”. Kami terus berdua lari ke Starbuck di sebelah dan orang2 situ tidak mau menerima titipan kami. Tapi satu orang barista memberikan kami informasi berharga. “Perhaps the guy at the smoke shop across the street will do it for you.”
Smoke shop! Warung rokok! Ya itu yang saya cari. Kami berdua menyebrang jalan dan sampai di sana saya langsung jelaskan permasalahan dan tanya apa saya bisa titip HP saya. Si mas di smoke shop itu, kayaknya sih orang China, langsung mau. Dia bilang, “Three dollars!” (Dan sempat protes karena saya salah kasih koin, yang ternyata cuma $2.25). Mas India sih kena charge $5 untuk backpack-nya.
Dengan lega kami kembali ke konsulat. Tentu saja kali ini boleh masuk dengan serta merta. Terimakasih untuk mas warung rokok! (Dia juga dapat duit semena2 ya).
Oh ya, waktu saya ngantri kembali, ada satu pelamar visa yang bawa backpack gede kebingungan. Dengan bangga saya bisiki dia, “Go to a smoke shop across the street, the guy there will take your backpack for five bucks.” Dia melihat saya dengan terheran2 & terkagum2, lalu bilang terimakasih. Mungkin dia pikir ini cewe preman banget sampai bergaul sama mas2 dari smoke shop segala. Hehehe….
Tuesday, September 21, 2010
Visa & Imigrasi edisi 2010 (Bagian 1): Kembali ke Kanada
Seperti de-javu deh rasanya berada di Kanada untuk urusan visa. Masih ingat 4 tahun lalu? Dengan kejadian Bapak Sangar, beli printer & kaus kaki bau yang berbaur dengan kejelimetan urusan visa? (Bisa di baca di "Calgary: Bukan hanya sekedar penantian" & "Calgary & akhir petualangan")
Nah, tahun ini saya kembali ke Kanada untuk urusan yang sama. Mengambil visa stamp u/ petisi perpanjangan visa O-1 (yang sudah disetujui). Sebetulnya untuk tinggal di US saya tak butuh si visa stamp ini, yang penting kan petisi-nya sudah disetuju. Cuma saya harus ke Jerman bulan November nanti, jadi saya butuh visa stamp US untuk keluar masuk US.
Yang jelimet si visa stamp ini cuma bisa diambil di Indonesia atau di Meksiko atau di Canada. Pas kemarin balik ke Indonesia sayangnya hasil petisi belum keluar, jadi terpaksa ambil di Kanada. Tapi masalahnya, untuk dapat visa Kanada (dari konsulat Kanada di US) butuh visa stamp US yang masih berlaku. Kalau tidak punya, saya harus apply dari home-country, Indonesia. Nah lho, gimana tuh? Kayak lingkaran setan ya?
Untunglah dengan kelihaian (cieee, hihihi) saya menulis surat pengantar (maklum dan puluhan kali apply visa di mana2, saya bisa buka konsultan imigrasi!), saya bisa dapat visa Kanada tanpa punya visa US yang valid :)
Nah sekarang saya ada di Vancouver untuk apply si visa O-1 tadi. Bedanya dengan kisah visa/imigrasi 2006, kali ini saya ditemani seseorang. Si Kang J ini menjabat sebagai body-guard, asisten, alarm, penghibur, teman makan, pendengar keluhan (ttg kejelimetan si visa), dan tentunya kekasih... duduiiiii.
Sejauh ini saya merasa beruntung. Dapat hotel asik yang ternyata dekat dengan segala macam keramaian dan juga cuma 10 menit jalan kaki dari Konsulat US. Kejadian agak seru terjadi kemarin malam ketika kami tidur tahu2 ada fire alarm bunyi. J & saya langsung pakai jeans & coat dan saya tak lupa menyambar backpack+laptop dan keluar. Di lorong hotel kami lihat nenek2 kakek2 pada pakai bathrobes dan piyama ... jalan pelan2 dengan tampang panik. Ternyata satu hotel ini isinya manula... Kasihan deh, subuh2 pada kebangun.... terseok2 cari jalan exit. Kami berdua lari cepat ke bawah (di lt 2) dan cek ke frontdesk. Ternyata false alarm. Langsung lah J balik ke lantai kami dan memberitahu nenek2/kakek2 yang pada panik tadi. Kalau sampai kebakaran beneran, gile deh, nenek2/kakek2 yang umurnya pada 100 tahun ini bakal sulit untuk dievakuasi.
Pagi ini appointment saya jam 9:30. Mudah2an lancar ya.
Begitu dulu ya, saya lanjut di post berikutnya untuk kisah selanjutnya.
Nah, tahun ini saya kembali ke Kanada untuk urusan yang sama. Mengambil visa stamp u/ petisi perpanjangan visa O-1 (yang sudah disetujui). Sebetulnya untuk tinggal di US saya tak butuh si visa stamp ini, yang penting kan petisi-nya sudah disetuju. Cuma saya harus ke Jerman bulan November nanti, jadi saya butuh visa stamp US untuk keluar masuk US.
Yang jelimet si visa stamp ini cuma bisa diambil di Indonesia atau di Meksiko atau di Canada. Pas kemarin balik ke Indonesia sayangnya hasil petisi belum keluar, jadi terpaksa ambil di Kanada. Tapi masalahnya, untuk dapat visa Kanada (dari konsulat Kanada di US) butuh visa stamp US yang masih berlaku. Kalau tidak punya, saya harus apply dari home-country, Indonesia. Nah lho, gimana tuh? Kayak lingkaran setan ya?
Untunglah dengan kelihaian (cieee, hihihi) saya menulis surat pengantar (maklum dan puluhan kali apply visa di mana2, saya bisa buka konsultan imigrasi!), saya bisa dapat visa Kanada tanpa punya visa US yang valid :)
Nah sekarang saya ada di Vancouver untuk apply si visa O-1 tadi. Bedanya dengan kisah visa/imigrasi 2006, kali ini saya ditemani seseorang. Si Kang J ini menjabat sebagai body-guard, asisten, alarm, penghibur, teman makan, pendengar keluhan (ttg kejelimetan si visa), dan tentunya kekasih... duduiiiii.
Sejauh ini saya merasa beruntung. Dapat hotel asik yang ternyata dekat dengan segala macam keramaian dan juga cuma 10 menit jalan kaki dari Konsulat US. Kejadian agak seru terjadi kemarin malam ketika kami tidur tahu2 ada fire alarm bunyi. J & saya langsung pakai jeans & coat dan saya tak lupa menyambar backpack+laptop dan keluar. Di lorong hotel kami lihat nenek2 kakek2 pada pakai bathrobes dan piyama ... jalan pelan2 dengan tampang panik. Ternyata satu hotel ini isinya manula... Kasihan deh, subuh2 pada kebangun.... terseok2 cari jalan exit. Kami berdua lari cepat ke bawah (di lt 2) dan cek ke frontdesk. Ternyata false alarm. Langsung lah J balik ke lantai kami dan memberitahu nenek2/kakek2 yang pada panik tadi. Kalau sampai kebakaran beneran, gile deh, nenek2/kakek2 yang umurnya pada 100 tahun ini bakal sulit untuk dievakuasi.
Pagi ini appointment saya jam 9:30. Mudah2an lancar ya.
Begitu dulu ya, saya lanjut di post berikutnya untuk kisah selanjutnya.
Saturday, August 28, 2010
Lambat2 jangan cepat2
Hari Rabu malam saya mengajar untuk pertama kalinya di semester ini. Kelas metologi lanjut dengan judul "Creative Methods". Ada 11 mahasiswa PhD yang berasal dari berbagai negara di dunia (US, Canada, Lebanon, Japan, and China). Kelas malam itu cukup menyenangkan. Satu2nya yang bikin saya agak menyesal adalah tertinggalnya kabel laptop yang masih tertancap di tembok.
Setelah berusaha mengingatkan diri saya berkali2, bahkan di dalam mimpi sekalipun, saya ingat untuk kembali ke kelas tsb pagi harinya. Ternyata ada kelas di dalamnya. Ada seorang professor agak sepuh dengan mahasiswa2 sekitar 20 orang. Mereka kayaknya asik berdiskusi. Jadinya saya canggung untuk masuk. Saya cuma berdiri saja di depan pintu kelas yang terbuka.
Ternyata si professor melihat saya, jadilah diskusipun terhenti. Tergagap-gagap saya bilang, "Ex...excuse me, for for, uhm.. interrupting. Ah...ah... I was.. I was teaching here yesterday evening... and... uh... I left some..something...uhm..a cord."
"Oh, sure, come in," dia menjawab. Saya cepat2 masuk. Karena gugup dan malu, saya berlari ke tempat dimana si kabel itu berada. Saya memang suka jadi clumsy & rusuh ngga jelas kalau sedang malu, gugup, atau takut. Lari ternyata adalah pilihan yang kurang tepat. Tahu2 saya tersandung sesuatu dan sukseslah jatuh ke lantai. Tapi ngga jatuh terjerembab sih, karena tangan saya berhasil menahan tubuh sebelum kandas di lantai. Tapi tetap malu dan saya dengar mahasiswa2 itu cekikikan menahan tawa.
Pak professor bertanya, "Is everything OK?" "Uhm... uh... Yes... yes... I found my cord. Sorry for bothering you all. I couldn't work without this cord." jawab saya sambil berusaha lempeng. Saya ambil si kabel dan langsung kabur tanpa memasukkan dia ke dalam tas.
"Thank you, thank you, and sorry again."
"No problem," kata pak Prof.
Saat saya melangkah keluar terdengarlah suara tawa yang riuh rendah!!! Sial dehhhhhhh...
p.s. Ketika saya cerita pada suami saya ttg kejadian itu, dia senyum2 dan memeluk saya sembari bilang, "Honey, when you are scared or nervous be slow, not fast!"
Setelah berusaha mengingatkan diri saya berkali2, bahkan di dalam mimpi sekalipun, saya ingat untuk kembali ke kelas tsb pagi harinya. Ternyata ada kelas di dalamnya. Ada seorang professor agak sepuh dengan mahasiswa2 sekitar 20 orang. Mereka kayaknya asik berdiskusi. Jadinya saya canggung untuk masuk. Saya cuma berdiri saja di depan pintu kelas yang terbuka.
Ternyata si professor melihat saya, jadilah diskusipun terhenti. Tergagap-gagap saya bilang, "Ex...excuse me, for for, uhm.. interrupting. Ah...ah... I was.. I was teaching here yesterday evening... and... uh... I left some..something...uhm..a cord."
"Oh, sure, come in," dia menjawab. Saya cepat2 masuk. Karena gugup dan malu, saya berlari ke tempat dimana si kabel itu berada. Saya memang suka jadi clumsy & rusuh ngga jelas kalau sedang malu, gugup, atau takut. Lari ternyata adalah pilihan yang kurang tepat. Tahu2 saya tersandung sesuatu dan sukseslah jatuh ke lantai. Tapi ngga jatuh terjerembab sih, karena tangan saya berhasil menahan tubuh sebelum kandas di lantai. Tapi tetap malu dan saya dengar mahasiswa2 itu cekikikan menahan tawa.
Pak professor bertanya, "Is everything OK?" "Uhm... uh... Yes... yes... I found my cord. Sorry for bothering you all. I couldn't work without this cord." jawab saya sambil berusaha lempeng. Saya ambil si kabel dan langsung kabur tanpa memasukkan dia ke dalam tas.
"Thank you, thank you, and sorry again."
"No problem," kata pak Prof.
Saat saya melangkah keluar terdengarlah suara tawa yang riuh rendah!!! Sial dehhhhhhh...
p.s. Ketika saya cerita pada suami saya ttg kejadian itu, dia senyum2 dan memeluk saya sembari bilang, "Honey, when you are scared or nervous be slow, not fast!"
Subscribe to:
Posts (Atom)
