Tuesday, May 05, 2009,5/05/2009 09:26:00 AM
Kisah lain sang Visa
Beberapa minggu lagi, perjalanan musim panas akan berlangsung. Sengaja akan saya kombinasikan agenda konferensi, kuliah umum, dan rencana untuk jalan2... semuanya bakal terjadi di Eropa Barat, di negara2 Schengen. Walaupun sudah puluhan kali melamar visa, tapi tetap saja malas.... rese!

Visa ajaib si O-1 saya di Amerika akan berakhir sudah masa berlakunya. Saya malas urus. Nanti sajalah, sekarang urus si perjalanan ke Eropa dulu deh. Dan harus melamar visa lewat konsulat Belanda.

Saya membuat janji hari Rabu kemarin. Jumpa perwakilan konsulat Belanda jam 2 sore. Karena saya ada rapat2 sebelumnya di ASU, jadi saya bermobil ria ke kampus (biasanya bersepeda ria). Eh, tahu2 saya lupa waktu... sampai jam 1:45pm saya malah masih membantu kolega saya mengoprek program komputernya. Begitu lihat jam, langsung kaget dan langsung ngacir ke tempat parkir. Eh, sampai di sana, saya lupa mobil-nya diparkir di mana, jadilah 10 menit habis hanya untuk cari mobil.

Perjalanan ke Scottsdale (tempat si konsul) dari kampus ya sekitar 20 menit-an lah. Tapi cukup ramai, jadi ya... sudah pasti terlambat. Saya menelepon si orang konsul bilang kalau saya akan terlambat dan katanya beliau ngga papa.

Saya sampai di kantor konsulat 20 menit terlambat! Malu, tapi ya mau gimana lagi. Untung dokumen2 saya rapi, jadi si mbak Konsul itu baik2 saja. Pas acara membayar, saya santai juga, soalnya saya yakin saya bawa uang cukup. Saya keluarkan lah uang tunai dari dompet. Beberapa lembar 20 dollar-an, 1 lembar 10 dollar... oh tak cukup.... sampai akhirnya saya keluarkan semua uang, termasuk yang kelipat-lipat di saku celana, ada 14 lembar uang 1 dollar-an! Masih ngga cukup.

Si mbak konsul mesem-mesem lihat uang 1 dollar-an yang keriput2 itu.

Saya panik karena uangnya ngga cukup. Saya spontan bilang, "Oh, this is all I have. I have no more money." Si mbak malah semakin senyum2. Dia berdiri saja ngga bilang apa2.

Langsung saya bilang, "Oh, sorry, sorry, is there any ATM machine nearby?" Ternyata di gedung itu tak ada ATM mesin tapi kalau bermobil sedikit ke luar ada. Dan si mbak ini bilang dia mau tunggu saya ambil uang di ATM.

Kantor konsul di Scottsdale ini cuma buka berdasarkan perjanjian. Jadi si mbak ini cuma datang ke kantor karena janjian dengan saya. Jadi saya merasa bersalah sekali. Sudah datang terlambat, uang kurang, terus suruh dia menunggu saya ambil uang pula. Tapi ya mau gimana lagi toh?

Jadilah saya ngacir ke ATM. Ketika saya kembali, si mbak Ibu konsul ini senyum penuh arti terus bilang,"I think I know you. You were here last year, right? I remember you well."

Haha, betul sekali.... setahun lalu saya melamar visa juga dan sempat membuat 'cerita' juga... eh sekarang bikin cerita lagi :) Ya ngga papa, jadi diingat oleh kantor konsulat penting :)

Labels: , ,

 
posted by mer
Permalink ¤ 7 comments
Sunday, March 01, 2009,3/01/2009 08:15:00 PM
Pesta.... hari ini?
Tempe, 7 Februari 2009

Siang ini saya bergegas menyetir Siang ini saya bergegas nyetir ke Taman Kiwanis. Sengaja singgah dulu di toko untuk beli kado untuk ulang tahun. Pesta ultah anak temanku.

Balik ke mobil, koq saya malah disorientasi. Saya bingung si taman itu letaknya dimana. Saya langsung aja telepon teman dekat yang malah kebingungan saya bisa bingung. Biar malu, ya ngga papa lah, pokoknya bisa sampai ke taman.

Sampai di sana saya ingat kalau kartunya bilang pestanya di Ramada 1, LakeShore. Langsung lah saya parkir di daerah itu. Eh saya cari2 gerombolan yang saya kenal, tak ada. Banyak orang tapi semuanya saya tak kenal. Akhirnya saya telepon teman2 yang kayaknya diundang. Si An tidak jawab. Ac juga tidak jawab. Ya sudah saya coba cari lagi. Tetap ngga ketemu. Saya telepon yang lain. Si F dan N. Juga ngga jawab. Saya pikir mereka ngga jawab karena ngga kedengeran. Maklum pesta di taman kan pasti rame. Jadi saya pikir saya salah tempat. Saya balik nyetir muterin taman yang gede banget itu. Sementara itu saya tetap coba2 telepon2 lagi. Akhirnya setelah lama banget, si N menjawab.

"N, ini pestanya A di mana sih?"

"Kiwanis Park."

"Ya, saya pikir juga gitu. Tapi di mananya ya?"

"Ramada 1, kalau ngga salah."

"Ya, bener. Saya pikir juga gitu. Tapi koq ngga ada orang sih? Ramada 1 itu yang waktu itu kan? Saya ini bener ngga ya di Ramada? Di mana sih, koq jadi bingung?"

"Hey, pestanya kan besok!"







 
posted by mer
Permalink ¤ 5 comments
Thursday, February 05, 2009,2/05/2009 01:31:00 AM
Kisah si Baki...
Akhirnya saya kembali ke peradaban, setelah jeda panjang. Minggu lalu saya makan di luar lagi untuk pertamakali-nya. Bukan makan yang asik, asoy, atau sehat. Teman2 yang waktu itu bersama saya ingin makan ayam goreng yang renyah garing dan berbumbu agak2 pedas, jadilah kami pergi ke restoran siap-saji ayam Church's. Walaupun sebetulnya saya ini jarang sekali makan makanan siap-saji. Tahun lalu rasanya saya cuma ke restoran begituan 3 kali saja.

Entah pengaruh dan akibat apa, setelah makan dan beranjak pulang, tahu2 saya menemukan diri saya duduk di dalam mobil memegang baki saji si Church's. Oh, baki plastik yang berdisain tak jelas itu! Apa-apaan sih????!?!? Mengapa oh mengapa saya lakukan semua itu???!?!?!

Labels:

 
posted by mer
Permalink ¤ 5 comments
Wednesday, February 04, 2009,2/04/2009 12:26:00 AM
Agak muncul.... dan masih hidup
Ya, sudah agak lama tak muncul di sini..... tepatnya satu bulan. Pada dasarnya saya 'agak' menghilang dari dunia Multiply, Facebook, dan juga blogs. Ada satu posting muncul di Merlyna.Org sesudah inaugurasi Obama, selain itu memang saya tidak muncul.

Mengapa? Entah ya... saya juga kurang mengerti. Eh, ya ada beberapa alasan yang kuat sebetulnya.... tapi ya biasanya saya suka 'keukeuh' (bersikeras) untuk muncul bahkan ketika saya memiliki alasan kuat untuk tidak online. Hanya kali ini saya tidak berusaha keras untuk online. Mengapa saya tidak berusaha... ya entah.... kombinasi dari berbagai hal, kayaknya.

Tapi ya begitulah.. pokoknya saya agak menghilang.... dan hari ini saya memutuskan bahwa saya akan berusaha agak muncul. Entah kapan saya bisa betul2 tidak menghilang atau betul2 muncul. Beberapa hari mendatang ini saya akan posting beberapa kisah yang terlewat. Tidak janji, tapi saya akan berusaha.

Terimakasih untuk teman2 yang sudah menanyakan kabar saya. Saya masih hidup.

salam kangen,
lady day
 
posted by mer
Permalink ¤ 2 comments
Friday, January 16, 2009,1/16/2009 09:10:00 AM
Belum kembali....
Saya belum akan kembali ngeblog secara rutin (memang pernah rutin? tidak juga sih :p). Karena berbagai hal, saya rehat ngeblog dulu, tapi masih berniat mengeposkan sketsa2 yang ceritanya bakal dibuat setiap minggu dan diposkan di blog yang berbahasa Inggris.

Tapi saya pikir tak adil kalau pembaca blog ini tidak kebagian melihat, jadi ya saya poskan juga di sini deh.


Sketsa minggu ke-1 tahun 2008 berjudul "Resolved" -- cerita lengkap kenapa dijuduli begitu ada di sini. Ini 'collage' yang kebetulan, korban kecelakaan. Yang pasti, kopi di sketsa ini asli lho, karena saya ngga sadar ternyata mencelupkan kuas ke kopi... Jadi ya begitulah... kopi di sketsa, cat air di lambung!






Sketsa minggu ke-2 juga berakhir dengan 'collage', walaupun tadinya tak berniat. Ini adalah potret diri pertama yang pernah saya buat, dan dibarengi puisi dengan judul "Contained, Uncontained"


Selamat menongkrongi.

Labels: ,

 
posted by mer
Permalink ¤ 3 comments
Thursday, January 01, 2009,1/01/2009 11:40:00 PM
Hari pertama di tahun yang baru......
Bukan kebetulan hari ini bertanggal 1 berbulan 1 pula. Ya, hari pertama di tahun yang baru, 2009.

Saya tak punya daftar resolusi. Dan saya tak hendak ber-refleksi atau ber-sentimentalisasi. Saya hanya ingin duduk sebentar dan tersenyum, merenung sedikit dan mengenang perjalanan hidup di tahun 2008 selama 3 menit dan 22 detik, dan mengajak teman-teman untuk menyusuri perjalanan tersebut lewat klip ini.



Ini adalah sebuah klip amatiran yang saya buat berdasarkan beberapa sketsa cepat dan hasil jeprat-jepret di berbagai tempat di 2008, yang diiringin aransemen dan rekaman spontan lagu Tanah Air, yang masih jadi pilihan saya untuk momentum seperti ini. Semuanya saya kerjakan pada saat ngalong sendirian di kamar belajar saya di Tempe :D

2008 adalah tahun yang ajaib, sangat menyenangkan, (sempat) menegangkan, (sangat) mengerikan, dan membahagiakan. Mengapa? Ah, terlalu panjang untuk dijelaskan. Saya hanya bisa bilang bahwa saya mengalami banyak sekali hal yang ekstrim dan saya belajar banyak.

Singkat kata, 2008 adalah tahun yang hebat!

Terimakasih sudah menjadi bagian dari hidup saya selama 2008. Mari sambut 2009 dengan harapan dan keinginan untuk menjadi manusia2 yang lebih baik, untuk dunia yang lebih baik.

Selamat Tahun Baru Masehi 2009 dan Selamat Tahun Baru Hijriah 1430!

Labels: ,

 
posted by mer
Permalink ¤ 8 comments
Thursday, December 25, 2008,12/25/2008 01:08:00 AM
Selamat berlibur, selamat natal, selamat tahun baru
Terimalah ucapan saya...
maaf... tidak ada versi bahasa Indonesia...

Labels: , ,

 
posted by mer
Permalink ¤ 1 comments
Sunday, November 30, 2008,11/30/2008 11:44:00 PM
[Big but not-too-big trip] 1511 & 1802
Malas sekali rasanya mau packing. Tapi ya harus lah ya. Akhirnya pagi-pagi tadi terpaksa laundry tidur bentar lalu packing. Sebelum laundry ketahuan kalau dompetku ngga ada, ternyata ketinggalan di rumah teman. Jadilah pagi ini harus nyetir ke rumah teman untuk ambil dompet.

Entah kenapa, packing koq ngga selesai2. Sampai akhirnya mau selesai... lho koq semua berkas tiket dll ngga ada, ternyata tertinggal di kantor. Ya sudah, nge-print lagi saja. Malas harus ke kantor. Semua beres maunya langsung manggil taksi, tapi ternyata dompet koq hilang lagi.

Sulit untuk pergi tanpa dompet, kartu2 kredit dan ID ada di sana. Jadi terpaksa dicarilah si dompet. Pas cari2 dompet, aku pikir lebih baik nelepon taksi dulu. Eh ternyata hp untuk menelepon tak ada. Bisa pakai telepon rumah sih, tapi nomor taksi yang biasa cepat adanya di hp. Lagian tak damai rasanya meninggalkan US tanpa bawa si HP. Kutelepon HP-ku, ternyata tak ada tanda2 kedengaran ringing di dalam rumah. Kucek di mobil, ternyata HP ketinggalan di mobil. HP ketemu, tak lama dompet pun ketemu, ada di bawah meja ternyata.

Jadilah semua ritual hilang-tak-jelas-lalu-ketemu itu membuat aku begitu terlambat. Jam 2pm baru berangkat ke airport untuk pesawat jam 3:11pm yang boarding sekitar jam 2:44pm. Aku juga harus drop by kunci rumah di rumah teman dekatku (untuk menghindari terkunci di luar kalau kunci serepku ketinggalan di luar negeri).

Aku sudah deg-degan sepanjang jalan. Hampir yakin bakal ketinggalan pesawat... lha baru sampai di airport jam 2:18pm. Padahal hari ini adalah hari sibuk. Airport penuh sekali dgn org2 balik habis thanksgiving. Wah, sudah pupus harapanku.

Sampai di meja check-in, ternyata dibilang pesawat jam 3:11pm itu ngga ada. Lho koq bisa? Setelah diperhatikan seksama ternyata nomor pesawatku memang 1511 (kebaca 3:11pm), tapi jadwal pesawatnya 18:02 (6:02pm)!

Sepanjang 2 minggu terakhir aku sudah mematri 15:11 itu di otakku!!! Oh la la..... so much for high adrenalin!!! Tapi ya walaupun baru clearing security gate jam 2:45 dan baru nyampe gate jam 2:52.....syukurlah, masih ada 2.5 jam untuk nongkrong.... !!!

Untung salah baca!!

Labels: , , , ,

 
posted by mer
Permalink ¤ 6 comments
Thursday, November 27, 2008,11/27/2008 07:07:00 PM
Akhirnya.... semester berakhir
Dua hari lalu adalah hari terakhir aku mengajar. Seharusnya sih masih dua minggu lagi semester berakhir, tapi karena aku diundang pergi ke 2 benua lain untuk ber-konferensi, jadilah aku menambah 5 sesi minggu lalu (dari 2 jadi 7), supaya semua selesai. Aku gempor tapi mahasiswaku senang.

Hari terakhir kami berpesta pizza, yang kusebut sebagai non-utilitarian pizzas -- sebagai antitesis utilitarianisme (ya aku sering menggunakan contoh gampang dari kehidupan sehari2 untuk menjelaskan konsep2 dalam kelas).... dan kemudian kami menggubah lirik bersama, sebagai cindera mata dari kelas ini. Kami menggunakan lagu "Somewhere Over the Rainbow" dan mengganti liriknya supaya pas dengan tema kelas ini, "Science, Tehnology & InEqualities", jadilah judulnya "InEqualities Resign!".

Sialnya, giliran bernyanyi bersama.... mahasiswa2 ku bandel, tak ada yang mau menyanyi, semua berkonspirasi untuk memaksa aku yang bernyanyi...... ya sudah, ngga papa deh.... sebagai hadiah untuk kelasku ini.

Seru deh.... mahasiswa2 mengangkat tangan, melambai2an, dan mencoba menyalakan lighter seraya mengangguk2... kadang2 juga bertepuk tangan. Sudah seperti konser aja... hehe...

Oh ya, aku juga menulis surat cinta sebagai tanda perpisahan.... Surat lengkapnya ada di sini.... bukan dalam bahasa Sunda tentunya :), sekaligus link rekaman konser di kelasnya, ada di situ juga... :)

Labels: , ,

 
posted by mer
Permalink ¤ 4 comments
Thursday, November 13, 2008,11/13/2008 05:11:00 AM
Saya dan dangdut
Tulisan ini diterbitkan di Majalah Madina edisi November 2008.
Versi bahasa Inggris-nya diterbitkan oleh Jakarta Post tgl 10 Nov 2008, sementara tulisan aslinya bisa dibaca di sini.

:::

Menemukan Dangdut di Pittsburgh

Saya orang Indonesia, jadi tentu saya kenal dangdut. Jujur, saya bukan penggemar musik dangdut. Keluarga saya bukan penikmat dangdut, tapi karena saya lahir dan dibesarkan di Dayeuhkolot, pinggiran kota Bandung alias Bandung coret, secara tidak sengaja saya tumbuh bersama musik yang dulu dinamakan irama Melayu ini. Saya mendengarkan musik dangdut mengalun dari rumah tetangga saya, Wak Haji Dodo (almarhum), dari radio tukang tahu di pasar, dan dari senandung bocah-bocah kampung sekitar.

Kenal dangdut berarti juga kenal Rhoma Irama si Raja Dangdut. Ya, tentu saja saya tahu Bang Haji Rhoma Irama. Saya mengenalnya dari berita-berita di koran dan liputan2 televisi. Saya mendengar lagu-lagu-nya dari kaset-kaset yang diputar di dalam ribuan angkot yang membawa saya pulang-pergi rumah-sekolah. Saya bahkan bisa menyanyikan beberapa lagu ciptaan beliau. Begadang, Terajana, dan Bujangan, misalnya.

Tapi apakah saya benar-benar kenal dan mengerti dangdut? Sejauh apa saya kenal Rhoma Irama?

Saya tak pernah menghadiri konser dangdut dan, tanpa pengalaman di Pittsburgh, rasanya seumur hidup saya tak akan pernah punya kesempatan menghadiri konser tokoh legendaris dangdut Rhoma Irama. Jika konser ini terjadi di Bandung, orang tua saya pasti akan melarang saya pergi. “Ngga aman.... banyak tukang becak, nanti kamu dicolek-colek,” mungkin begitu kata-kata ayah saya.

Yang saya tahu dangdut sering direpresentasikan sebagai musik ‘rakyat’. Dangdut dianggap merefleksikan semangat dan aspirasi rakyat, khususnya masyarakat kelas bawah -- orang kecil, rakyat jelata, kaum pinggiran, golongan bawah -- dan sering juga dianggap sebagai musik-nya orang kampung dan mereka yang kampungan.

Saya juga mengamati bahwa dalam konteks yang lain, dangdut kadang-kadang muncul di masyarakat yang lebih atas. Dalam acara-acara resmi, pejabat-pejabat tak sungkan ikut bergoyang dangdut, kadang sebagai simbol ‘merakyat’. Sekali-kali penyanyi-penyanyi pop melantunkan lagu dangdut sebagai tanda bahwa mereka juga bisa ‘merakyat’. Bagi pelajar-pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di negeri orang, dangdut adalah salah satu simbol ‘ke-Indonesia-an’ seperti sambal terasi, rendang, dan Indomie. Serta-merta, begitu sampai di luar negeri, cinta dangdut bukan lagi hal yang kampungan.

Beberapa tahun belakangan ini, saya mulai mengamati dunia perdangdutan dengan lebih seksama. Ini dimulai sejak munculnya kontroversi seputar goyang Inul. Lewat kasus Inul, dangdut muncul dalam diskusi seputar politik dan budaya, menarik para pengamat politik/budaya, aktivis, kaum feminis, peneliti untuk mencermati fenomena ini.

Kisruh seputar RUU-APP semakin mengangkat dangdut ke tataran elit, tapi hanya dalam wacana. Dangdut sebagai musik dan bentuk ekspresi tetap berkumandang di kalangan bawah.

Seorang Rhoma Irama muncul dalam wacana ini, dan hampir selalu digambarkan sebagai wajah yang muncul dari pihak yang berusaha memerangi ‘kebebasan berekspresi’ yang wakili oleh (goyang) Inul. “Perseteruan Inul-Rhoma Irama” menjadi simbol perang ideologis antara nilai-nilai keagamaan, pola-pola partriakal, konservatisme, dan fundamentalisme, melawan demokrasi, kebebasan individual, dan kesetaraan gender. Seorang Rhoma Irama direduksi menjadi tokoh dangdut yang berdimensi satu = konservatif fundamentalis.

Sebuah undangan untuk menyampaikan makalah di “Konferensi Internasional Islam dan Budaya Popular di Indonesia dan Malaysia” di Universitas Pittsburgh yang dilayangkan Profesor Andrew Weintraub membawa saya ke sebuah kenyataan yang tak pernah muncul dalam imajinasi saya. Pertemuan dengan seorang Rhoma Irama. Sebuah perasaan campur-aduk yang asing dan tak dikenal muncul. Ada perasaan bangga karena saya akan bertemu seorang tokoh legenda. Tapi juga ada perasaan yang tak genah yang muncul, bukan karena saya bukan penganut aliran dangdut, tapi mungkin karena saya tak sanggup menepis citra (dan prasangka) seputar Bang Haji Rhoma Irama yang muncul dari label-label yang mereduksi tadi.

Malam itu, hari kedua konferensi, sebelum konser dimulai saya masih bergumul dengan perasaan saya sendiri. Saya duduk di bangku paling depan, tepat di depan panggung, bersama pak Ishadi SK dan Bapak Duta Besar Indonesia. Bang Haji Rhoma dan kru Soneta berdiri begitu dekat. Sebuah pengalaman yang sureal. Hampir seperti mimpi. Konser dangdut pertama dalam hidup saya! Lagu pertama, berjudul “Dangdut”, berlalu. “Menarik,” saya pikir, tapi saya hanya bertepuk tangan dan duduk di bangku. Lagu ke-dua, ke-tiga, saya mulai ikut bergoyang kecil di tempat duduk saya. Lagu ke-empat, dan beberapa pelajar Amerika mulai bergoyang, hanay 4 orang. Pak Ishadi berbisik, “Merlyn, joged yuk?”. Saya ragu. Masih ada rasa gengsi. Tapi tak lama saya ikut bergabung dengan Pak Ishadi dan para mahasiswa lain, membentuk gerombolan goyang pertama! Lama-kelamaan akhirnya lebih dari setengah penonton, yang tadinya duduk, bergoyang di depan panggung. Pelajar, masyarakat sekitar, pejabat, dan profesor segala bangsa, semuanya bercampur-baur dalam goyang dangdut. Semakin lama bergoyang, rasa gengsi menipis, dan akhirnya goyang itu menjadi sebuah kenikmatan. Lirik dan musik dangdut Rhoma Irama menjadi terasa lebih nikmat.

Goyang saya kali ini berbeda dangan goyang2 dangdut yang saya luncurkan di banyak acara2 budaya Indonesia. Bukan bergoyang ala kadarnya! Ketika konser itu berakhir, tubuh dan jiwa saya masih dilanda dangdut, masih ingin menikmati dangdut.

Malam itu saya berkenalan dengan dangdut dalam arti yang sebenarnya. Merasakan dangdut dalam sebuah ritual kolektif yang menciptakan ‘dangdut moment’ bagi saya. “Hanya orang jaim saja yang ngga mau ikut goyang!” Momen yang membebaskan diri dari status, posisi, label, dari perasaan malu/gengsi! Momen yang membuat menyadari bahwa ada ‘dangdutness’ dalam diri saya. Ya, dangdut yang merakyat, pinggiran, dan kampungan!

Ketika konser ini berakhir, saya mulai lupa dengan perasaan awal saya terhadap Bang Rhoma Irama. Dan interaksi saya dengan beliau di belakang panggung -- bersama para pembicara/moderator konferensi lainnya -- membuat saya ingin mengenal tokoh dangdut ini lebih jauh. Tak sabar saya untuk menunggu beliau menyampaikan makalah di konferensi.

Keesokan harinya, Bang Haji menyampaikan makalah mengenai dakwah dan dangdut lewat perjalanan karir kelompok dangdut Soneta. Seorang tokoh legendaris dangdut, berpakaian hitam-hitam, berdiri di depan podium, di depan tokoh-tokoh intelektual. Dengan pengucapan yang sangat baik, beliau menyampaikan sepotong sejarah dangdut yang begitu menarik, dalam bahasa Inggris yang teratur. Saya terpana.

Lewat paparan sejarah yang disampaikan Bang Haji, saya belajar begitu banyak mengenai dangdut. Saya baru tahu bahwa beliau dan Soneta sempat dilarang tampil di publik selama 11 tahun. Saya juga baru menyelami bahwa setiap lagu diciptakan sebagai tanggapan terhadap berbagai fenomena sosial, budaya, politik. Saya menjadi mengerti mengapa bagi para penggemarnya, lagu-lagu Rhoma mewakili berbagai ekspresi yang ingin mereka ungkapan pada kekasih, teman, orang-tua, bangsa, dan negara.

Dalam wacana-wacana mengenai dangdut, ‘rakyat’ diposisikan sebagai ‘ketinggalan jaman’, ‘kampungan’, sebagai oposisi dari kemajuan dan pembangunan. Kaum intelektual sering menggunakan mereka untuk mengeritik modernitas. Padahal, lewat dangdut, dan dalam dangdut dan berdangdut, justru rakyat menemukan jati diri, eskpresi, dan aspirasi mereka serta menjadi diri mereka sendiri. Hal inilah yang saya temukan lewat perkenalan saya dengan Rhoma Irama.

Perjalanan dangdut ke Pittsburgh tidak mengkonversi saya menjadi penganut musik dangdut. Tapi di Pittsburgh, saya menemukan bahwa dangdut bukanlah ruang yang homogen. Dangdut tidak monolitis. Ia bukan lambang kemunduran maupun kemajuan. Dangdut adalah ruang dimana kontradiksi sosial, budaya, dan politik bertemu. Dangdut adalah ruang dimana nilai-nilai dikontestasikan. Dangdut adalah ruang dimana hal-hal keseharian bertemu dan berbenturan. Dalam dangdut dan lewat dangdut, saya menemukan sisi kampungan saya yang membuat saya nyaman, genah, dan bebas.

Sungguh ironis, butuh 21 tahun duduk di bangku sekolah dan sebuah karir di dunia akademis untuk mempertemukan saya secara pribadi dengan si ‘dangdut’.

:::

Rekaman lengkap presentasi Bang Haji, klik:

http://www.youtube.com/watch?v=UKf5anh1_xk (part 1)
http://www.youtube.com/watch?v=2RUIddcplFE (part 2)
http://www.youtube.com/watch?v=rinlkG3UO8c (part 3)

Labels: , , ,

 
posted by mer
Permalink ¤ 4 comments